Jan 25
Femi Adikegemaran, media, web 2.0 blueprint, catatan harian, cetak biru, diary, rekam jejak, sejarah

rajin ngeblog yuk!
gue berusaha tertib mengunjungi blog gue ini koq susahnya minta ampun yah. kadang lupa kalau punya blog, kadang inget tapi sayangnya ga sempet. duh, kayak pejabat aja gue yah, sok sibuk banget dan ga menyambangi ‘rumah’ sendiri.
dulu, gue juga bukan orang yang dispilin ngisi buku harian. hehehehe … rasanya ‘ngeri’ aja dengan aktivitas day to day yang direkam dalam satu buku. awalnya,pasti gue rajinnnn banget. tapi setelah keasikan dan ngerasa nggak punya waktu yang longgar, ya wes … gut bay sejarah gue!
sesungguhnya gue takut menjadi orang yang kehilangan sejarah. apapun yang ditulis, kecil-kecil sekalipun, mestinya bisa menjadi penggalan cerita hidup yang menyejarah. sepeti foto keluarga yang disimpan di sudut ruangan, indah untuk ditengok kembali.
but time goes by. ada masanya gue males banget, dan kini saatnya gue sadar dengan sejarah yang mesti gue bikin sendiri. jadi, mari mencipta sejarah!
Jan 25
Femi Adikegemaran, kuliner favorit, makan, makan-makan, makanan, pizza

yummy banget ya!
aduh, gue pengen makan pizza neh. uh … ngebayangin pizza aja udah ngiler, apalagi kalau sudah ada satu pizza medium di depan mata!
gue nge-ping epi di yahoo messangernya, dia temen kos yang biasanya menjadi temen tandem makan pizza. biasanya kami makan di pizza hut dengan porsi pizza medium yang kami habiskan berdua. waktu dia gendut, dia lahap banget menjejalkan 3 slices pizza di mulutnya. sekarang? “duh … dodol lo, gue lagi ga makan berat neh!” tangkisnya.
biar ga terasa seperti dodol, gue ping selvi, temen kos juga. biasanya kami bertiga yang paling doyan melek sampai pagi, cuman gue blum pernah mengajak beliau menyalurkan libido di pizza hut. “aduh, jangan sekarang, andre mau datang neh!” kilahnya.
well … lobby punya lobby, nanti malam bakal ada hajatan besar. hihihi … hajatan itu adalah pesta pizza bertiga. ga ada alasan ga mau. hajatan ini judulnya ‘arisan ibu-ibu palmerah’. uh, ya ampun, gue ngetik ini juga sambil ngiler-ngiler neh, pizza sudah membayang di pelupuk mata.
tunggu cerita lezatnya slices demi slices pizza yang mendesak rongga mulut gue yah!
Jan 21
femi adi soempenofriends from heaven, kegemaran, kubikel, kuliner jakarta, lounge, minum, minuman, sahabat, teman, wine

wine, teman dan memori kecil
ruangan itu hanya berisi kami berempat.
padahal ruangannya cukup lebar dengan kaca di kanan kiri yang membuat ruangan tampak menjadi seperti lorong ajaib. banyak dan berlengkung cokelat. bukan, bukan, namanya bukan aula. juga bukan hall. aduh … sebutannya bukan tempat nongkrong meski fungsinya adalah untuk nongkrong. bukan balai. hhhh … yah, ketemu: namanya wine lounge. saya duduk di kursi sebelah paling pojok, bersama seorang teman yang kemarin datang, seorang perempuan berkebaya matahari. ia hanya singgah untuk beberapa malam saja. besok ia pulang. dan ia hanya singgah beberapa jam saja dengan saya, dan beberapa botol wine, tentunya!
ya, hanya kami berempat di wine lounge itu. saya, perempuan berkebaya matahari, sahabat yang bersorban gulita, dan lelaki yang menelikung senja. tak lelah saya menggoda. “wah, sudah siap-siap potong rambut niyh!” atau, “tumben sudah wangi dan pake kaos rapi!” atau, “biasanya pake sandal jepit, ini pake sepatu sandal!” atau, “tumben kerjaannya sudah kelar,” atau … banyak!
ada kisah disana. asa. rindu. persahabatan. profesionalisme. cemburu. harap. sedih. bahagia. letih. saling menggoda. cinta. dan tentu saja: ‘gumbira’. bagaimana tidak. musik jazz mengantar kami pada pembicaraan yang serius, hingga tidak bermutu. saat berada di puncak gumbira, justru tembang ‘teman tapi mesra’ itu terlantun. perempuan yang berkebaya matahari, dengan lelaki yang menelikung senja saling bertatapan, dan tergelak memecah kelam.
seteguk. dua teguk. tiga teguk. satu botol. dua botol. empat botol. saya membayangkan perasan air jeruk berpindah ke perut dan kepala saya. pasti rasanya adem. pasti membikin kepala tidak pening. pasti membikin saya bisa berdiri dengan tegak. saya juga memindahkan kentang goreng, onion ring, chicken wing ke pikiran saya. sepertinya enak juga. saya lihat, lelaki yang menelikung senja mencoba berdiri, dan menjajal untuk menapak. melangkah. berjalan. uwh! masih sehat!
kami meracik nostalgi. saya melihat, ada cinta dari mata lelaki yang menelikung senja itu, pada perempuan berkebaya matahari. mengingat, apa yang pernah tertoreh. berharap, apa yang ingin terjadi.
terima kasih untuk pertemuan yang sejenak. kecil. sepele. namun berarti. seperti teman lama. seperti sebuah keluarga. saya berharap, duduk disana kembali, bersama lelaki yang bersorban gulita, perempuan berkebaya matahari dan lelaki yang menelikung senja. semoga.