Apr 28
Femi Adifriends from heaven, pal224 kos-kosan, pal224, palmerah, pamerah224, rumah sewa
kasur saya baru.
maksutnya, barusan ngambil dari gudang. itu adalah kasur busa. empuk. tapi kalau sedang galak, wah, itu kasur bisa bikin gerah. maklum, namanya juga busa. sedikit berhawa panas saja, busa juga ikutan hot.
kasur saya itu sudah ‘ikut’ saya sejak juli 2003 lalu. pak kos meminjaminya untuk saya sewa setiap bulannya. waktu itu kamar saya ada di ujung. saat saya berpindah kamar di tengah, tentu saja kasurnya saya bawa serta.
sekarang, kasur itu sudah agak kempis di bagian tengahnya. soalnya pada bagian itu lebih sering tertimpa puluhan kilo badan saya. bayangkan, pasti akan tergerus, saling berhimpitan … dan kasur busa itu akhirnya rada lepek di bagian tengahnya saja, sedangkan bagian ujung kaki dan ujung kepala masih tebal dan gagah.
ada 3 kamar anyar yang dibuka pak kos untuk disewakan. dulunya, itu adalah gudang. ada 4 kasur nganggur numpuk disana. mumpung belum diserobot sama penghuni baru, jadilah kasur saya dikamar saya tukar dengan salah satu kasur dari gudang.
memang, kasur yang ‘baru’ ini sama kempisnya di bagian tengah, namun saya kok merasa nyaman dengan kasur yang terakhir ini. semoga tidak semakin mengempis dan terus mengempis, seiring dengan pertumbuhan dan bobot badan saya yang semakin berat dan terus berat. hehehehe …
Apr 28
Femi Adiragam cuatan KONTAN, kubikel, rejeki, wartawan

menghitung hari gajian
jika tanggal sudah mendekati senja, kadang saya merasa miskin.
saya masih bersyukur karena saya punya pekerjaan tetap, dengan penghasilan tetap pula. saya juga bersyukur karena saya masih bisa menyisihkan pendapatan saya untuk membeli barang yang tidak perlu, seperti boneka teddy bear. saya harus tetap bersyukur, berapapun recehan yang ada di rekening saya, plus di dompet saya.
bayangkan kalau saya tidak punya pekerjaan tetap, dan tidak punya penghasilan tetap pula. saya juga ngeri membayangkan tidak bisa menyisihkan pendapatan saya, bukan untuk membeli barang yang tidak perlu, seperti boneka teddy bear, tetapi untuk makan. saya takut membayangkan recehan yang ada di rekening saya menipis, plus di dompet saya juga amblas.
berapapun kocek yang kita punya, kan harus kita syukuri to?
tapi jika tanggal sudah mendekati tanggal 20-an, bahkan menjurus ke tanggal 30-an, dan duit di dompet sudah sangat tipis, saya tak jarang merasa menjadi orang yang sangat miskin secara finansial. mau makan, harus berpikir 3-4 kali dulu. mau keluar, apalagi … biaya angkutan di jakarta kan tidak murah.
maka, solusi yang rada pas adalah membeli telur mentah. tak harus beli telur kampung, cukup telur lehor saja. seperempat kilo, saya bisa mendapatkan 4-5 butir, tergantung besar-kecilnya. dengan bobot segitu, saya cukup menggelontorkan Rp 2000 saja. itu bisa buat makan 4-5 kali, tergantung jumlah telur setengah kilo yang didapat.
saya sangat suka telur ceplok setengah matang. dimakan dengan nasi panas, tak jauh berbeda rasanya dengan makan ‘dikala bisa makan enak’. gurihnya telur bagian kuning nya membuat lidah ini serasa digoyang dan perut senantiasa kenyang. murah-meriah … dan lumayan gizinya.
ini pula yang membuat rika dan fin, teman sekantor saya, mentertawai saya ketika saya bercerita soal kemiskinan dan telur ceplok setengah matang ini. tak apalah, toh saya bersyukur makan dengan telur ceplok setengah matang saja. mungkin di belahan jakarta lainnya, malah ada yang tak bisa makan, tak bisa membeli telur seperempat kilo yang ‘hanya’ Rp 2000 saja. dengan demikian, mereka lebih miskin ketimbang saya.
thanks gosh!
Apr 28
Femi Adifriends from heaven, ragam cuatan jakarta, makan, makanan, nasi gila, situlembang

tante? please dah ...
saya sedang melahap beberapa suap nasi gila ketika segerombolan bocah itu datang.
saya demen nasi gila. lebih-lebih yang ada di kawasan danau situlembang, menteng, jakarta pusat. bukan hanya karena nasinya yang ‘lucu’ karena oplosan sosis, bakso dan daging yang ditumis menjadi satu, tetapi karena saya mengenal tempat itu ‘darinya’.
tapi saya tidak mau bercerita tentang dia yang sudah mengajak saya kesana. saya mau bercerita tentang beberapa bocah abg yang tiba-tiba menodong saya sumbangan. begini ceritanya.
semalam saya makan nasi gila bersama seorang teman di taman situlembang. saya makan sendirian, sedangkan teman saya tidak. saya memilih duduk di tempat yang rada gelap, karena memang itu satu-satunya bangku yang nganggur. baru ngobrol asik sambil memulai lahapan demi lahapan nasi gila, tiba-tiba suara bocah-bocah abg mengejutkan saya.
“selamat malam tante, oom … maaf kami mengganggu. kami dari smu 72 mau bikin pentas seni, hanya saja kami masih kekurangan dana. kalau tidak keberatan, kami minta sumbangan pada oom dan tante …”
buru-buru saya merogoh saku celana saya. saya ingat, disana ada 2 lembar 10 ribuan yang bia disumbangkan. “tante, kalau nggak percaya, kami bawa proposalnya, kalau tante mau baca,” ujar seorang anak perempuan. mungkin karena melihat saya diam saja, hanya merogoh kantong celana, dia nyeletuk begitu. menggelikan juga. lalu teman saya itu bertanya-tanya soal kegiatan yang mau mereka bikin.
mereka mau bikin semacam pentas seni bulan agustus 2005 depan. nanti ada acara musik-musik begitu. “semua aliran musik ada,” promosi seorang perempuan lainnya. diantara 6 orang itu, hanya 1 yang laki-laki.
saya lalu memasukkan recehan puluhan ribu yang saya punya di kantong. tapi, hanya separonya yang saya berikan, karena yang separinya lagi untuk membayar nasi gila yang saya beli. hihihi …
mmm … saya tidak pernah melakukan seperti itu. setidaknya, saat saya sma dulu, saya dan teman-teman di sekolah nggak bikin acara pentas seni. mungkin saat itu memang bukan jamannya, dan sekarang tengah booming bikin pentas seni. atau, mungkin juga saat itu kami nggak kreatif. mmm … yah, mungkin karena kami terlalu sibuk dengan sekolah. lagian sekolah kami waktu itu sekolah perempuan semuanya, lebih enak bikin acara demo masak ketimbang pentas seni.
hihihi … bukan … semuanya itu salah. yang jelas, dulu memang suster kepala sekolah rada rewel, jadi kalau bikin acara yang aneh-aneh, sudah pasti di cut di tengah jalan. ya soal dana lah, soal hingar bingar yang tidak perlu lah, ya soal sekolah perempuan haus jaga etika lah … beragam banget deh.
saya jadi geli. bocah-bocah itu bersemangat sekali menggenapi kekurangan dana buat acara pentas seni itu. lebih geli lagi, saya dipanggil ‘tante’ …
Apr 26
Femi Adicerita bumijo, tokoh jogja, KONTAN, kubikel, liputan, wartawan
Mbak Femi,
pabrik ubin masih terus berproduksi. Kapan Mbak perlu ubin? Nanti saya bikinin.
Salam Phönix, Bernie
namanya bernie liem. seorang perempuan yang sudah berumur dengan guratan garis lembut di wajahnya. tampak, dia bukan seorang bersuku jawa. mmm … tapi saya tak ingin menuliskan soal suku atau sesuatu yang berbau ras lainnya. saya hanya ingin bercerita soal pertemuan saya dengan ibu bernie.
beliau cukup ramah. senyumnya selalu mengembang dalam setiap sapanya. sepertinya, semua orang yang lebih muda yang ditemuinya, dianggapnya seperti anaknya sendiri. tutur katanya halus, menunjukkan bahwa dia adalah ‘orang jawa’. bahkan, bahasa jawa krama hinggal saya mungkin kalah hinggil dengan beliau. bisa dibayangkan, bagaimana sosok perempuan itu.
dulu, saya selalu mengamati rumahnya. maklum, rumahnya cukup ‘nyolok moto’. ada di jalur utama ruas jalan di Jogja, di jalan jendral sudirman. rumahnya tergolong rumah tua. di bagian atas dinding bagian depa rumahnya,tertera tulisan ‘phoenix’. tak bisa disangkal, ia adalah si empunya hotel phoenix di jogja.
hingga saya punya kesempatan untuk mengintip bagian dalam rumahnya yang lapang. nyaris, tak ada yang ‘baru’ disana. perabotnya juga lawas. saat itu ada acara pertemuan untuk mempersiapkan hajatan besar acara konservasi bangunan lawas di jogja. kebetulan, acara ngobrol ngalor-ngidulnya di rumah ibu bernie. semua yang datang adalah anak muda, dan dengan leluasa bisa menilik setiap detil rumah di bangunan itu.
kemudian saya baru mengetahui bahwa keluarga ibu bernie juga pemilik pabrik ubin ‘kunci’ di jogja. pabriknya ada di daerah pathok. saya mengetahuinya saat menggarap film mengenai arsitektur indis. tak diragukan lagi besarnya kontribusi pabrik tegel kunci itu terhadai sejarah arsitektur indonesia dan belanda pada masa itu.
ini pula yang membawa kaki saya menuju rumahnya dan berniat untuk menulis mengenai pabrik tegelnya. (ada di tulisan lain yah!)
dan serat elektronik pun menghubungkan saya dengan ibu bernie dua tahun terakhir ini, sejak tahun november 2003 silam terakhir bertemu dengan beliau. tentu saja, saya masih mengingatnya sebagai seorang ibu yang ramah, baik, bersahaja dan … peduli terhadap bangunan lawas di indonesia.
Apr 25
Femi Adicerita cinta, friends from heaven atmajaya, jogja, sahabat, teman

jogja dan kenangan yang menggudang
saya pernah tak bisa berheti memikirkannya.
sosoknya sederhana. jauh dari mewah, malah. dia tidak gagah secara fisik. dia biasa saja. tinggi badannya bukan idola saya. kekar otot tubuhnya juga bukan idaman saya. tapi dia sangat kaya: kaya pengalaman, kaya pengetahuan. saya pernah tak bisa berhenti memikirkannya.
perjumpaan dengannya hanya sebentar. itu saja sudah dulu, dan duluuu sekali, jauh sebelum saya akhirnya mengenalnya lebih dekat. bahkan, saya hampir lupa bagaimana dia saat saya pertama kali bertemu dengannya.
dan perbincangan itu terjadi. keluarga, kampus, pers mahasiswa … hingga saya jatuh hati dengannya. sayangnya, hatinya sudah dititipkan pada yang lain. jadinya saya hanya bisa senyum, senyum, dan senyum saja. selebihnya, tidak. berharap pun ogah. rasanya, seperti bukan hak saya sekalipun ‘hanya’ mengharapkannya.
dia pula yang mengenalkan saya pada serat-serat elektronik, yang membuat jarak menjadi lebih dekat, mempersempit ruang dan waktu.
tapi dia pergi. saya ingat betul rupa bus yang mengaraknya pulang ke tanah kelahirannya. dia tak pernah berjanji untuk kembali. kami hanya berjanji untuk bertemu tahun 2010. mungkin di tahun itu dia sudah berbuntut 3 bocah. mungkin saya juga.
tapi bungkusan itu masih ada di sana. amplop coklat berbalut isolasi plastik yang membungkusnya rapat. di dalamnya, kalau tidak salah ingat, adalah catatan harian bagaimana bungahnya hati ini ketika bertemu dengannya, atau saat menangis ketika dia bilang “selamat tinggal”. sampai saya membukanya kembali, tahun 2010 nanti.
Older Entries