bye, dad

Comments Off

19.15
may he rest in peace
paulus soempeno
wednesday, may 31, 2006

gemuruh di pagi itu, 27 mei 2006

Comments Off

bumi menari; dan pasien RS panti rapih jogja mengungsi ke area parkiran.

+ be, femi pulang ya

- ya, pulang aja …

Saya bergegas memberesi lemari, meja dan mengangkut beberapa pakaian kotor untuk dibawa pulang ke rumah. Sampah-sampah mulai dari tissue bekas hingga remah-remah makanan, saya masukkan dalam tas kresek hitam bergaris abu-abu. Tak lama, saya mencemplungkan plastik itu ke dalam kotak sampah. Saya lihat, ayah masih tenang menanti pagi tiba. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 6 pagi.

Tiba-tiba …

Lantai yang saya pijak bergoyang. Saya membalikkan badan, di luar, pepohonan juga bergoyang disertai angin yang cukup kencang. Gemuruh menderu. Mirip suara elikopter atau pesawat besar yang mendesing di pinggir kuping. Lampu menari ke kanan dan ke kiri. Isi gelas berhamburan dari wadahnya. Tak lama, saya mendengar semua orang di lantai ini menjerit, menangis dan mulai berlarian keluar gedung. Beberapa bagian saya dengar berguguran, mm, seperti suara bagunan yang mulai menjatuhkan serpihan demi serpihan. Ini adalah gempa.

Saya menarik bantal yang cukup tebal, saya telungkupkan diatas kepala saya dan ayah saya. Butiran 50 rosario dan madah bakti saya pegang. “Tuhan, apa yang terjadi dengan pagi ini. Ampuni kesalahan kami …” pinta saya dalam doa. Saya melanjutkan komat-kamit saya dengan doa salam maria dan bapa kami. Sementara, bumi masih terus bergoncang, seirama degup jantung saya yang juga terus berpacu.

Saya lihat, raut muka ayah saya sangat tenang. Tak tergambar dalam wajahnya rasa panik dan ketakutan yang mencekam. Saat bumi berhenti berguncang, selarik doa saya selipkan. “Terima kasih, masih melindungi kami ..” saya mencoba menulis sms. Begini bunyinya: barusan ada gempa besar. Aku takut …  tetapi sayang, tak satupun bisa terkirim dengan sukses, baik itu pada kakak di jakarta, magelang atau di jogja.

Tak lama, bumi menari kembali. Ah, Tuhan tengah bercanda. Iya, Tuhan mencandai seisi bumi ini. Kembali saya mendekap ayah, dengan sesekali menatap plafon yang diatasnya masih ada lantai tiga dan empat. “Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu …” Semua keluar, tetapi saya tak ingin keluar. Bagaimana ayah kalau saya keluar? Bila harus mati, ya mati saja. Bila harus tertimbun gedung berlantai empat, ya tertimbun saja. Bersama ayah.

Semua menangis. Semua panik. Semua menjerit. Semua bergegas. “Siapa yang mau turun?” ujar seorang suster yang usianya sudah separo baya. “Saya! Saya mau keluar! … Be, keluar dari sini ya!” kata saya, pada suster dan ayah saya. Segera, dua orang perawat menarik infus, dan bergegas mengeluarkan ayah dari gedung lantai dua. Jantung saya masih belum berhenti dengan detak yang terus cepat.

Beberapa barang saya kemasi, masuk dalam ransel merah. Pakaian. Beberapa gelas aqua. Kipas. Minyak

kayu putih. Boneka. Sarung. Radio. Jam tangan. Tissue. Gigi palsu ayah. Nyawa ini rasanya menguap sepertiga saat melihat jembatan bangsal elisabet dan carolus retak cukup parah, dengan beberapa bagian yang sudah jatuh mupruli. Antri lift. Ketakutan terus mendera, jangan-jangan ada gempa yang lebih dahsyat setelah gempa kedua.

+ Mbak, disini saja ya!

- Boleh di sebelah sana, suster? (sambil menunjuk ke tempat yang agak jauh dari himitan gedung tinggi)

+ Boleh …

Ayah diusung mendekati pintu keluar. Saya melihat kepanikan di setiap raut wajah. Takut. Mereka membicarakan gunung merapi yang meletus. Mereka membicarakan gedung tinggi yang mungkin rubuh dalam sekejab. Mereka membicarakan rasa sakit yang mereka rasakan. Mereka membicarakan kepanikan yang tiada terkira dan kekhawatiran gempa lain yang lebih dahsyat ketimbang pagi ini. Saya pun mencari tahu dari abang yang juga wartawan.

+ Mas, ada dimana?

- ada di jalan, dik. Bagaimana?

+ Mas, ini merapi meletus ya?

- sepertinya enggak. Soalnya ada kabar ini datang dari selatan.

+ selatan? Tsunami?

- nggak tahu. Ini aku lagi mau ngecek. Nanti kukabari ya dik …

+ oke. Aku disini lagi dievakuasi, sama ayah. Hati-hati ya.

Saya lihat, ayah berusaha mencari frekuensi radio yang bertahan dari amukan gempa. Tak satupun

mengudara, kecuali radio swaragama. Fuih! Satu per satu suster mulai menguping dari radio SONY milik ayah. Sau per satu pula, keluarga pasien ikut mencuri dengar informasi yang serba terbatas di radio kampus itu. “Eh, eyang … sempat-sempatnya nyahut radio …” celetuk seorang suster.

Rasanya ingin menangis melihat ayah. Terlantar di belakang kapel. Tak ada payung yang bakal meneduhinya pagi itu. Tak ada pakaian hangat yang melindunginya dari angin yang menggiggit. Yang ada adalah catatan angka tekanan darah yang melonjak mencapai 150/90.

Saya mencuri lihat sekitar. Seorang nenek renta yang diasuh oleh anak laki-lakinya. Sepertinya nenek itu kesakitan. Ada juga seorang ibu yang ditemani anaknya yang berseragam stella duce. Juga ada pasien yang tanpa keluarga, berusaha ngereh-reh dirinya sendiri sembari memegangi tongkat yang tergantung infus diatasnya. Ada beberapa perempuan yang saya kenali sebagai suster, masih berseragam preman atau sipil. Tak berseragam putih, mereka tetap menarik pasien demi pasien, membagikan minuman dan makanan. “Be, tenang ya. Femi masih disini. Everything will be ok!” bisik saya pada ayah saya.

Mentari sudah memamerkan sinarnya. Ayah diusung bersama pasien sebangsal. Bersama dengan seorang lelaki berusia 79 tahun yang jatuh dari kamarmandi. Juga dengan lelaki berusia 60-an yang tengah menderita sakit ginjal. Dan seorang lelaki usia 55 yang barusaja operasi empedunya. Bersama dengan pasien yang sakit itu, ada anak dan famili yang menjagai. Bukan hanya seorang saja seperti saya …

selamat tidur di luar!

Comments Off

jumat, 26 mei 2006
+ tolong jagain ayah ya hari senin-selasa. mmm … kalau pekerjaanku selesai, aku akan pulang senin malam, aku usahakan akan naik pesawat!
- (bilang pada istrinya) jo, nanti kalau jaga ayah, aku tidur di luar ya!

percakapan itu sangat pendek, antara saya dan seorang kakak saya. disana terdapat ayah dan istrinya yang menyimak apa yang diucapkannya. menurut pengakuannya, dia punya nyali yang kecil, sehingga dia nggak kuat bila harus berlama-lama berada di rumah sakit. untuk itulah dia memilih akan tidur diluar. saya menangis. saya sedih. mengapa dia sperti itu.

rasanya malam itu saya ingin membisikinya, “berkacalah, kakak. kamu sudah besar. kamu sudah dewasa. lihat, anakmu sudah sebesar saya. kenapa nyalimu masih ciut juga. lihat, yang sakit ini bukan orang lain. dia ayahmu sendiri. kenapa takut? jangan berhitung soal ketakutan dan jangan mengkalkulasi soal besar-kecilnya nyali. jika ditimbang-timbang, saya lebih ciut dari kamu, dan saya lebih muda/kecil dari kamu. maka wajar bila saya takut.”

sabtu, 27 mei 2006
sebuah pesan pendek masuk di ponsel saya, mengabarkan bahwa rumah kakak saya rusak berat, nyaris roboh akibat guncangan dari selatan jogja. tak lagi bisa dihuni. tak lagi nyaman untuk ditinggali. yang mampu meneduhinya dan seisi keluarganya hanyalah tenda. mereka sekeluarga, termasuk anak dan istri kakak saya, harus berkemah, entah sampai kapan.

bukankah itu keinginan nya? tidur di luar, seperti yang dia utarakan di depan ayah? bukankah tidur di luar adalah keinginannya?

rasanya saat menerima pesan pendek itu, saya ingin menelponnya dan bilang, “kak, tahu tidak kalau emosi saya adalah emosi ayah. setiap yang kamu goreskan pada saya, sama artinya kamu melukai hati ayah. namamu juga tidak disebut sebagai ‘anak yang sudah menjalankan perannya sebagaimana layaknya seorang anak’ oleh ayah. tahu kenapa? karena ayah terluka sebab kamu jarang mengunjunginya. see, jarak tak terlalu jauh antara rumah mu dan rumah ayah.  belajarlah. dewasalah. jangan sperti anak kecil. berkacalah. berteduhlah di tenda. jangan mengeluh kedinginan. jangan mengeluh kegerahan. terimalah apa yang sudah Dia gariskan yang sesuai dengan keinginanmu. barangkali, ini adlaah karmamu.”

o iya, maaf, saya tak menawari rumah ayah untukmu.

“I feel better … awakku kroso enteng …”

Comments Off

sore kemarin, saya sempat cemas.

soalnya, ayah merasa jantungnya berdegup lebih kencang ketimbang biasanya. catatan terakhir menunjukkan, tensi ayah 150-70. suster bilang, yang atas terlalu tinggi. tapi rasa panik saya belum hilang. sontak rasa kantuk yang mampir beberapa menit sebelumnya, hilang. saya masih terus bertanya pada suster yang datang lagi untuk memasang termometer di ketiak ayah.

pada suster yang sedang memeriksa bilik sebelah, saya juga bertanya terus. juga, pada suster yang tengah membuang kencing pasien di kamar ayah, saya nggak berhenti bertanya. “sus, kok detak jantung ayah kenceng banget? kok lebih cepat dari biasanya? kok …. ” dan 1001 kok-kok yang lain. kalau mereka sebal dengan kepanikan saya, saya nggak peduli. raut ayah juga murung sesiangan.

lalu oksigen dipasang. ayah bilang, nggak berasa. hingga akhirnya waktu kunjung tiba. satu per satu kerabat menjenguk. kemudian suster menghitung detak jantung ayah. dia bilang 84 per menit, dan itu normal. lalu degup jantung bapak perlahan surut seiring dengan teman-teman yang datang.

hmmhm, mungkin benar kata mas toti, jantung ayah bekerja lebih keras saat melihat suster-suster yang cantik. memang, mereka berseliweran terus di ruang pasien. dan suster yang paling buruk wajahnya itu sedang tak tampak. iya, mungkin itu sebabnya.

saya senang melihat kantong yang menjulur ke bawah. kantong itu adalah pembuangan dari selang yang disedot dari lambung babe. warnanya hitam. sesekali, menggelembung. kalau sudah menggelembung dan seperti mau meledak, harus segera dibuang. baunya nggak enak. saya sempat mencium aromanya saat bapak muntah. nggak enak banget. seperti coca cola yang kadaluarsa itu.

dan pagi ini saya menemukan selang ayah yang lebih bersih. tetapi saya nggak yakin ayah sudah bersih banget. nanti seperti kemarinnn … dilihat dari selang sudah bersih, lalu selang di copot, dan ayah muntah lagi.

makanya, sampai hari ini ayah masih terus puasa. pada dokter sri (dokter kandungan yang temennya mas yanto dan kadang menengok ayah), ayah  protes, “dokter, aku wes mbayar larang, ning kok ora dikei pangan ki piye … malah dikon poso … ” hahaha …

dua hari ini memang ayah tidak boleh minum air putih. sama sekali puasa. di mejanya, ada tulisan ‘PUASA’.

baru kemarin sore dokter membolehkan ayah minum. tapi sedikit2 aja, 4 sendok dalam 1 jam. bapak yang semula mensugesti bahwa air aqua lebih baik ketimbang air dari riumah sakit yang diambil dari ledeng dan mengandung tawas, kini mulai berubah. “bapak nek ngombe seko banyu runah sakit ae, sopo ngerti kuwi tambane. kowe rasah tuku aqua …” weh … dan bapak giat minum karena kerongkongan terasa kering walau nggak berasa haus. hampir setiap jam, bapak minum. semalam, bapak sudah ngabani, “aku saben jam meh ngguggah kowe, bapak meh mimik …”

nah, untuk mewujudkan itu, agak kesulitan soalnya kalau malam karena saya tidur di bawah dan jauh dari bed ayah yang tinggi. ayah minta diambilkan penggaris panjang di rumah kecil di rumah, yang biasa buat ayah mengajar. tapi repot juga kalau malam2 harus mencari penggaris yang saya sendiri nggak tahu bentuknya dan panjangnya. sedangkan ayah bilang, “garisane nang … nek ra kleru nang omah cilik …” wah, kalau sudah pakai kalimat “nek ra kleru …” itu artinya perut saya akan mengeras karena susah menemukan barang-barang yang primpen disimpen ayah.

maka, sebagai gantinya, saya memilih membawa teken/tongkat bapak yang dulu dibeli sama mbak yayuk di mirota. hahahahaha … saya selalu ingat dengan cerita esti yang ayah pura-pura berjalan tertatih dengan teken, kemudian begitu dipanggil esti, langsung lari ngibrit dan lupa bahwa ia tengah berjalan dengan teken. hallah … hahahahaha …

dan pagi tadi saya dibangunkan ayah jam 4 pagi dengan teken itu. useful, kan? setidaknya, bukan buat jalan, tetapi buat mbangunkan anaknya yang kalo tidur kayak kebo.

tapi pagi tadi setelah minum, bapak kemudian punya niat kecil, “sesuk bapak nek mlaku meh nganggo teken …” hallah … wong jalannya yo masih jejeg, dan bugar, kok ya pake teken …

hmmh … ayah nggak kecil hati dengan dubur buatannya. “sesuk nek bapak lagi sembayangan, mlaku dhewe nang gowongan, terus ono begal, bapak wis duwe senjata. iki, kantong isi pup-e bapak … mengko gari diuncalke wae karo begal-e …” hahahaha …

imajinasi itu cukup menghiburnya. dan pada setiap kerabat yang datang dan bertanya dimana bapak mengeluarkan pup besok, bapak kemudian bercerita tentang imajinasinya itu.

pagi tadi sebelum saya pulang, ayah bilang begini, “I feel better … awakku kroso enteng …” hehe … syukurlah. jadi inget laginya james brown yang i feel good itu.

I feel good, I knew that I would, now
I feel good, I knew that I would, now
So good, so good, I got you

Whoa! I feel nice, like sugar and spice
I feel nice, like sugar and spice
So nice, so nice, I got you

you’ve got a friend

Comments Off

When you’re down and troubled
and you need a helping hand
and nothing, whoa nothing is going right.
Close your eyes and think of me
and soon I will be there
to brighten up even your darkest nights.

You just call out my name,
and you know wherever I am
I’ll come running, oh yeah baby
to see you again.
Winter, spring, summer, or fall,
all you have to do is call
and I’ll be there, yeah, yeah, yeah.
You’ve got a friend.

If the sky above you
should turn dark and full of clouds
and that old north wind should begin to blow
Keep your head together and call my name out loud
and soon I will be knocking upon your door.

You just call out my name and you know wherever I am
I’ll come running to see you again.
Winter, spring, summer or fall
all you got to do is call
and I’ll be there, yeah, yeah, yeah.

Hey, ain’t it good to know that you’ve got a friend?
People can be so cold.
They’ll hurt you and desert you.
Well they’ll take your soul if you let them.
Oh yeah, but don’t you let them.

You just call out my name and you know wherever I am
I’ll come running to see you again.
Oh babe, don’t you know that,
Winter spring summer or fall,
Hey now, all you’ve got to do is call.
Lord, I’ll be there, yes I will.
You’ve got a friend.
You’ve got a friend.
Ain’t it good to know you’ve got a friend.
Ain’t it good to know you’ve got a friend.

You’ve got a friend.

hey,kamu yang disana! iya, kamu semuanya. bukan hanya yang bernbajukotak-kotak, tapi semuanyaaa! barusaja saya mendengarkan lagu ini. hmm… saya jadi ingat kalian. terimakasih untuk pucuk kasih yang kalianbagikan untuk saja, juga untuk potret hitam-putih yang tersimpan dialbum kita, dan untuk bilur-bilur rindu yang kita tabung bersama.