Oct 31
femi adi soempenokubikel, kuliner jakarta, kuliner, makan, makanan
saya meminta bantuan OB untuk membungkus satu porsi makanan untuk saya santap siang ini. pesanananya gampang: nasi setengah, sayur krecek, tempe tahu, krupuk, ati ampela atau telur. pesanan ini sama dengan pesanan makanan mas bagus, teman saya.
blaik …
yang terhidang di meja adalah nasi dengan ikan bakar (atau goreng ya?).
uuuuwwwh! gggrrrhhhhh!
%^&*^%$#@ … %$#&*()_)(&!
bagaimana siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiihhhhh ….
Oct 31
femi adi soempenopal224 jakarta, kos-kosan, pal224, palmerah, palmerah224, rumah sewa, teman
sudah sejak tanggal 18 oktober lalu, simbok mudik ke jawa timur.
sudah sejak tiga hari sebelumnya, cucian saya menumpuk, hingga tanggal 18. saya hitung, ada sekitar 8 potong kaos dan celana panjang. ditambah, sejak sabtu lalu saya sudah tiba di Jakarta. artinya, ada sekitar 11 potong tambahan baju kotor yang siap cuci. semuanya, belum termasuk pakaian dalam. wah … saya memang terbilang boros berpakaian. saban mandi, pasti mengganti pakaian.
yang bikin repot kalau simbok nggak pulang-pulang. pakaian semakin menumpuk, stok pakaian di lemari menipis, terpaksalah membongkar stok pakaian di gudang. mencuci? ehm … suka main airnya, nggak suka setrikanya. bagaimana dooong! berkecipak di tengah ember yang terisi penuh air, mencermati gemericik airnya, menepuk-nepuk air di permukaan … adalah kegembiraan masa kecil yang tersangkut hingga usia 26 seperti sekarang ini.
mbok, pulang. cucian anak kos semakin menumpuk.
Oct 30
femi adi soempenokubikel
jalanan sudah sibuk saat saya keluar dari mulut gang.
hari ini hari pertama bekerja usai mengasup nutrisi jiwa selama kurang lebih satu minggu. selamat bekerja. selamat memulai hari senin dengan mood yang tersisa selepas libur panjang.
yeah … thanks god, its monday!
Oct 30
femi adi soempenocerita cinta, friends from heaven jakarta, jatuh cinta, sahabat, teman

Pak, saya dapat bunga mawar! –seru saya pada seorang petugas keamanan
Wah iya, bagus …
Pak … lihat nih, saya dapat bunga! –seru saya pada dua orang pedagang rokok pinggir jalan
Udah … bunganya tinggal disini aja!
Mas … saya dikasih bunga mawar … –kata saya pada lelaki yang tengah melintas di bahu jalan
Owh ya … bagus tuh!
Sementara itu, lelaki yang membungkuskan bunga untuk saya berjalan semakin menjauh, malu.
Dia adalah lelaki dengan huruf L. ya, benar. Lelaki dengan huruf L itu membungkus tiga tangkai bunga mawar berwarna salem (dia menyebutnya ‘peach’) untuk saya usai srengenge di timur pudar.
Kami memiliki janji temu di bilangan Barito, Jakarta Selatan. Sop kambing Ichwan sejatinya mengundang kami, tapi ternyata kambingnya urung dimasak. Jadinya, saya dan lelaki dengan huruf L mencuil malam bersama sepuluh tusuk sate kambing dan semangkok sop kambing tegal, plus dua teh poci. Rasanya? Tak lebih sedap ketimbang buncah bahagia saya atas tiga tangkai bunga mawar berwarna salem.
Biasanya, setiap satu porsi nasi yang disuguhkan oleh si empunya warung, biasa saya kurangi separo. Tapi, tidak kemarin sore. Satu porsi nasi, utuh saya lahap. Hmmh … agaknya bukan karena rasa lapar, tapi karena desiran itu datang kembali. Iya, desiran saat saya menadah bunga mawar berwarna salem itu. Desiran yang memuat kalimat, “Owh … begini ya rasanya bertemu belahan jiwa?” Atau jangan-jangan, makan banyak dan jatuh cinta memang sudah berkawan sejak lama.
Ah, tidak, tidak. Beberapa teman saya mengaku tak bisa makan saat jatuh cinta. Kenapa saya sebaliknya? —mmmmm … emang gue pikirin!
Mmm … saya merasakannya. Ya, saya kini merasakan bagaimana berjejalin dengan lelaki dengan huruf L itu. Seperti ada bor yang berpindah ke jantung saya saat bunga dengan kain dan pita kuning pucat itu diulurkannya, masih dengan tas kresek berwarna hitam. Rasa ini terus tumbuh seiring dengan teriakan saya pada teman-teman yang mengerubungi saya, “Waaa … aku dapat sms!” atau, ungkapan pamer saya pada teman-teman saya, “Eeeh, ada yang nelepon!” atau, “Denger tuh, hp gue bunyi … ada yang mau ngecek BTS!”
Rasa itu kian menebal seiring dengan perjumpaan kami belakangan ini.
Seperti pulasan awan biru. Bulu biri-biri seperti menghiasi langit. Memudar, menggantinya dengan awan biru nan tipis, menebal … menebal … dan terus menebal. Biru. Indah. Atau, seperti menimang mobil-mobilan polisi berwarna merah saat saya kecil dulu. Saya mendekapnya erat, ingin mendekapnya terus dan saya mendekapnya sepanjang waktu. Saya merasa tak ingin kehilangan, meski saya tahu akan kehilangan dan saya tahu bagaimana rasanya kehilangan itu.
Lelaki dengan huruf L, mengapa datang? Pesan pendeknya mengoreksi kerenyit di dahi saya menjadi seutas senyum dan gelengan kecil kepala. Sapa hangatnya lewat kabel telepon maupun jejaring di dunia maya (nyaris) membuat saya tak bisa tidur dengan nyenyak. Lelaki dengan huruf L memulas guratan baru dalam hidup saya. terekam sempurna. Beberapa ‘peristiwa pertama’ ini –saya yakin—akan lebih lama tinggal di dalam ingatan.
Rasanya seperti sudah mengenal lelaki dengan huruf L ini bertahun-tahun lamanya. Saya bisa bercerita dengan leluasa, apa adanya. Saya bisa bertanya banyak hal dengan gurauan konyol nan tak penting. Ia menyediakan waktu dan telinga untuk hal serius maupun tak serius. Ia mengiriskan sebagian waktunya untuk saya. Tapi … apa mungkin karena ini adalah masa-masa pertama.
Saya masih ingat betul pertanyaanya tempo hari, “Nggak takut patah hati? Bagaimana kalau aku menghilang?” Owh … direncana atau tidak direncana, barangkali masa itu akan datang. Ya, bisa jadi, suatu hari nanti lelaki dengan huruf L ini tiba-tiba menghilang, seperti yang lainnya. Menguap. Tak berbekas. Tak berjejak. Meninggalkan sejumput kenangan yang senantiasa menggelitik di ingatan: slot pintu, makan-makan, bunga mawar. “Bilang-bilang ya kalau mau menghilang … setidaknya pamitan,” kata saya.
Owh … saya sedang tak ingin membicarakan hilang-kehilangan-menghilang. Saya hanya ingin membagikan buncah bahagia saya atas tiga tangkai bunga mawar berwarna salem dan desiran yang datang.
“Terima kasih. Ya, terima kasih ya untuk tiga tangkai bunga mawar berwarna salem ini. Bunganya indah …” bisik saya. Mawar ini adalah padanan dari senyum, sapa, tawa, ujaran, gelak dan kecupan tengah hari lelaki dengan huruf L. Bisa jadi, ini juga penanda musim merah jambu sudah tiba kembali.
Oct 29
femi adi soempenocerita bumijo
bahu saya pegel pegal banget.
barangkali, karena terlalu berat menyandang beban hidup. bayangkan. satu ransel besar berisi notebook plus perangkatnya, beberapa buku dan pakaian, boneka teddy bear dan cemilan. selebihnya di tangan menjinjing satu tas kresek berisi oleh-oleh dan empat botol air mineral masing-masing berukuran 1 liter. whush … capeknya!
belum lagi perjalanan dari jogja ke jakarta yang makan waktu sekitar 13 jam naik kereta, menggenapi letih dan capai di badan. naik transjakarta dari atrium senen ke harmoni, nyambung ke olimo dan mbalik ke arah blok m, ngadem di plasa semanggi dan beberes kamar kos … rasanya membuat hari saya kian berkeringat saja.
perjumpaan saya dengan beberapa teman usai kedatangan saya kembali ke jakarta sabtu lalu, juga menguras tenaga saya. berbagi senja di kamar 4 x 4 m, menyiangi malam dan menjemput tengah hari di circle K, cukup menggerus tenaga saya.
saya jadi ingat mbah kariyo.
dulu dia adalah tukang pijit langganan keluarga saya. perempuan tua berkain kebaya, tangan kokoh menjejak punggung dan mencubit tulang. “dia sudah lama meninggal …” ujar om joko, adik ibu. owh. konon, kepiawainnya memijit menitis pada salah satu anaknya.
minyak kampak, balsem, benggol recehan … adalah beberapa perangkat memijat yang biasanya kami sediakan bila mbak kariyo datang. sebagai alas, kain sprei atau jarik saja. mbah kariyo datang, mengusap punggung, mengolesi dengan minyak kampak dan mulai menajamkan sentuhannya.
biasanya ibu menyediakan beberapa penganan dan air teh manis hangat untuk menjamu mbah kariyo. tentu saja, beberapa lembar ribuan kami selipkan ditangannya bila mbah kariyo hendak pulang.
duh, kalau badan saya pegal begini, saya jadi kangen pijatan mbah kariyo.