New baby has born!

2 Comments

saya mendengar langkah kaki yang bergegas.

langkah itu menuju empat kubikel yang tersusun rapi dan membentuk bujursangkar. kubikel itu ada di tengah ruang redaksi. “ddbumm …” ada suara, seperti barang yang dijatuhkan ke lantai.  ”New baby has born!” cetus si pemilik langkah kaki yang bergegas itu. dalam sekedip mata, si pemilik suara itu hilang di balik kubikel, kemudian muncul kembali dengan selembar koran di tangan. “huejbu3684b&*6ghJSBNIEK&896521)-l:’LhY7hb … ” kemudian dia berkata-kata dalam bahasa yang tak saya mengerti.

koran KONTAN.

ada tanda di kening. sebuah koin jaman baheula, tertancap di keningnya. dua alisnya tebal dan tertata rapi di kanan dan kiri. bayi mungil nan cantik ini tidak gemuk, tetapi juga tidak kurus. saya tahu persis, selama dalam kandungan sang ibu, bayi ini mendapat asupan gizi yang seimbang. yaitu, kerja keras, sentuhan lembut, pemeriksaan yang rutin setiap pukul 23.00, kening yang berkerut, senyum sang ayah, kecupan tengah hari, meja besar di ruang tengah untuk reriungan sekeluarga, dan mimpi indah. o iya, ada tambahan lagi, yaitu bahasa “jduehdfyrnckso*765VedJ”lkbR$3dfv …” yang tak saya mengerti.

besok, bayi mungil ini akan mulai menantang bola raksasa di perempatan jalan di ibukota untuk mencelotehkan merger perusahaan anu dan anu, kinerja perusahaan pelat merah, industri kelapa sawit, dan masih banyak lagi. ia akan bertutur dalam bahasa yang mudah ditangkap oleh semua orang yang mencubit gemas dan mencium harum aroma-bayi nya.

tantangan bayi kecil ini bukan pada ruang tuturnya yang sempit, dan jauuh lebih sempit ketimbang abangnya, tetapi juga jam tidurnya, yaitu deadline. 7.000 karakter, atau 11.000 karakter, bisa amblas hingga tersisa 3.000 atau 4000 karakter saja. deadline yang ‘besok-besok’, harus nanti malam pukul 11.00.

“dikit banget …”

“mestinya di bikin bersambung empat seri!”

“sudah hijau nih, hijauuuu!”

nanti, bakal ada ribuan karakter dan kisah yang dicelotehkan oleh bayi yang baru lahir ini. ratusan tulisan setiap hari akan muncul dengan sinergi para penulisnya. tapi, tahukah kamu, bayi kecil ini hanya butuh 21 karakter untuk membuat bayi kecil ini tumbuh dan berkembang sempurna: s-e-m-a-n-g-a-t—d-a-n—k-e-r-j-a-k-e-r-a-s. tentu saja, bayi ini masih membutuhkan polesan dari hangatnya bola raksasa dengan langit kemerah-merahan, kecupan tengah hari, bisikan kasih, kelingking yang saling mengamit dan sebuah mimpi kecil.

Selingkuh dengan abang

2 Comments

Semalam saya ’selingkuh’ sama abang.

Hahahahaha … abisnya abang bilang kalo tempat makan ini cocok banget buat selingkuh. Jauh dari pemukiman. Jauh dari perkantoran. “Cocok buat selingkuh!” hahahaha … saya lihat di sekitarnya, tempat makan yang kami tuju semalam tak memiliki tetangga kanan-kiri. Halaman parkirnya luas dan tampak teduh. Seperti di pinggir pantai yang banyak pohon nyiur tertancap. Rumput di divider menghijau tebal. Asri. Di dalam rumah makan itu, sorotan lampu tak begitu tajam. Hanya lampu remang-remang, plus lilin kecil di atas meja. Romantis. Barangkali, itu sebabnya abang menyebut tempat ini cocok buat selingkuh.

Abang membuang energy negatifnya. Bukan, bukan kekesalannya. Hanya menumpahkan nukilan cerita yang selama ini ia gudangkan. Otak atik gathuk. Saya mengenali nukuilan ceritanya. Saya tahu. Lebih dari itu, saya mengerti. Saya memahami.

“Ooo … yang waktu itu bla bla bla … ”

Atau,

“Ya ampun, jadi waktu itu kamu blab la blab la … ”

Atau,

“Lho, kejadian pas itu, kamu blab la blab la …”

Dan kami tergelak. Bukan, bukan karena cerita itu konyol. Atau, bukan karena ia menjadi orang yang supertahan menyimpan semuanya. Tetapi, karena abang telah menggudangkan harta karun itu, sementara saya hanya tahu sepotong dalam satu-dua tahun terakhir, dan saya kini tahu bagaimana sambungan ceritanya.

Gosh.

Ternyata ada banyak hal terjadi bersamaan dengan masuknya tahun 2007, usia yang sudah mencapai ’separo hidup’. Usai berputar di dalam labirin dan lupa memberi tanda silang pada batang pohon serta meletakkan batu dibawahnya, ia sudah mengambil keputusan.

Abang mulai melarung sedih. Abang mulai melangkah. Menata hari. Ia adalah pemilik kisah tentang sebuah jejalin hati yang sejenak terkoyak. Mimpi yang harus dipupus. Revisi cetak biru. Hidup yang tak boleh jalan ditempat. Kalender yang selalu menunjukkan ‘hari esok’.

Agaknya abang tahu betul, hidup ini memang tidak statis.

 

(ps: lain kali, jangan ke-pedean mengajak adiknya ‘berselingkuh’ di outlet wine yang belum buka. masih ditata. lantainya pun masih diplester dengan kardus. Semua orang juga masih mencopot sandalnya untuk masuk ke sana. Lemarinya belum well done. Plang di bagian depan juga baru dipasang kemarin. Bisa jadi, wine nya masih ada di tanjung priok sana. Hahaha … Untung saja, abang kencan dengan saya, bukan dengan yang lainnya. Kalau dengan yang lainnya, bisa-bisa abang sudah habis karcis daaah …)

Hati saya terbawa puting beliung

1 Comment

Kalian pernah kehabisan hati?

Mmm … atau, hati kalian hilang? Eh, atau, hati kalian terbang entah kemana? Yak. Ya, tepat begitu, hati kalian terbang entah kemana?

Saya pernah. Kemarin sore, hingga semalaman sampai saya jatuh tertidur. Hati saya terbang entah kemana. Barangkali, terbawa bersama angin putting beliung di Jogja. Tiba-tiba saya hati saya bersayap, dan mengepak dengan bebas. Itu terjadi kurang satu menit setelah kaki saya menginjak stasiun lempuyangan.

Awalnya adalah guyuran air dari langit dari si pemilik hidup. Aih. Rupanya si pemilik hidup terlampau bersemangat menyirami tanaman-tanaman yang ada di bumi. Dus, air seperti diterjunkan seperti si pemilik hidup tengah membuang hajat dengan leluasa. Plus, tiupan angin super dahsyat. BagiNya, bisa jadi tak begitu dahsyat. Tapi bagi tanaman yang ada di bumi ini. Wow.

Saya terus mandi. Saya mencuci. Saya beberes rumah. Menyiapkan diri untuk pulang ke Jakarta.

Reriungan saya lihat dari kejauhan. Macet. Mungkin razia. Mungkin kecelakaan. Sementara, sopir ambulans giat menginjakkan pedal gasnya.

“Saya harus segera kembali ke Jakarta, pak. Saya harus memarkirkan kendaraan saya di seberang stasiun!”

“Nggak bisa jalan. Pohon jatuh. Tiang listrik jatuh. Jalan ditutup! Kalau maksa masuk, cari jalan lain!”

Bah.

Dari pertigaan stasiun, saya melihat bagaimana pohon yang diameter batangnya satu pelukan orang dewasa, bergelimpangan di jalan. Gosh.

Saya kemudian bermetamorfosis seketika menjadi perempuan kerdil yang superpanik. Kepanikan pertama, saya gagal kembali ke jakarta. Kepanikan kedua, what the hell is this in Jogja?

Saya memutarkan kendaraan. Saya gas kencang ke arah Bintaran. Persis di perempatan, saya menjumpai pintu UGD RS Bethesda Lempuyangan padat dengan rerubungan orang.

“Ndut, Joko mana? Anterin ke stasiun! Eh, ini ada apa sih, semua pohon jatuh …?

“Ada di dalam. tadi ada angin besar, fem. Angin putting beliung … besar banget … bla bla bla …”

Saya menggeret Joko dari dapur dan menyurungkan kendaraan saya. Saya harus kembali ke jakarta. Saya tak ingat dan tak mencatat dalam ingatan apa yang diceletukkan Yani, sahabat superbaik itu.

Dan saya sampai di stasiun dengan diantar Joko.

Saya masuk.

Gelap.

Tak ada penjaga peron seperti biasanya.

Nyaris tak ada pedagang.

Beberapa sibuk berkemas.

Beberapa membereskan lantai dan stasiun yang (ternyata) porak poranda.

Saya menengadahkan kepala ke atas. Alamak. Atap stasiun entah pergi ke mana. Bolong. Saya buru-buru menghampiri pedagang yang sedang mengepak dagangannya. Kelihatannya dia mau pulang. Helm sudah tertancap di kepala.

Perempuan setengah baya yang wajahnya nyaris tak bisa saya lihat itu bilang ada angin besar yang ngosak-asik stasiun Lempuyangan. Lebih dari itu, sang bayu bahkan mengangkat atap stasiun yang terbikin dari seng yang cukup tebal. Beberapa besi juga tampak terangkut oleh kekuatan angin itu. Bagian kayu patah. Menurutnya, beberapa bagian atap sudah menjatuhi penumpang dan pedagang yang kemudian dilarikan di rumah sakit bethesda lempuyangan.

Hingga kereta yang saya tunggu itu datang.

Kereta Bengawan.

Saya bergegas masuk. Pemandangan dari dalam kereta sungguh tak sedaap. Sepasang mata saya mencatat atap mushola stasiun Lempuyangan nyaris habis. Tinggal beberapa genteng yang masih nyangkut beserta kayu-kayunya saja. Mushola sebelah timur itu sepi dan gelap. Kelihatan juga atap tempat parkir orang-orang yang suka menginapkan kendaraannya di stasiun. Atapnya terkikis bayu. Hilang. Habis. Tinggal rangka yang terbikin dari besi saja. Sebuah rumah magrong-magrong di seberang stasiun hanya menyisakan rangka kayu saja. Gosh.

Itu sebabnya satu-satunya hati yang saya miliki mengepak terbang. Bisa jadi, terbawa angin dahsyat yang bernama putting beliung.

Menabung rindu untuk ayah dan ibu

7 Comments

Tabungan rindu untuk ayah dan ibu sudah penuh.

Satu.

Dua.

Dan … sepertinya tiga.

Iya, hampir tiga minggu ini saya belum menjenguk mereka.

Membasuh kaki ibu dan ayah dengan lap dengan air hangat dan sabun wangi. Memerciki badan mereka dengan asap wewangian yang keluar dari dupa panjang. Meletakkan seikat kembang aster atau mawar persis di sebelah mereka. Kemudian, mereka akan tersenyum dan berucap terimakasih untuk kunjungan si bungsu. Mereka kemudian duduk sebelah menyebelah, sementara saya menyesaki ditengahnya. Dan saya memulai cerita dengan ujaran, “Dad, mom … You know … bla bla bla …”

Saya berbicara. Dan saya terus berbicara. Seolah mereka sungguh ada ditengah saya. Dan menyingsingkan kuping mereka untuk cerita-cerita saya.

Tentang tulisan yang harus saya kerjakan di gudang kata-kata tempat saya bekerja. Senja yang bundar dari balik pancuran minyak Shell di bilangan Pancoran. Dilmah tea rasa nyentrik yang saya angkut dari Sogo. Rasa malas yang hinggap saat mbak jum tak mendagangkan sayurnya. Ipod shuffle yang belakangan sering tersangkut di kuping saya. Gelak tawa Esti yang saya simpan dari jejaring kabel telepon. ‘Antep’ di pantat saat kaki ini terpeleset di kamar mandi. Gudang tanaman yang bersih di kebun ayah.

Bayangkan.

Mereka menyimak.

Mereka mendengarkan.

Ayah akan mengerenyitkan dahinya saat mendengar cerita tentang si bungsu yang sakit. Atau, menggeleng-gelengkan kepalanya saat cerita kemalasan itu mampir ke telinganya. Aduh. Sementara, ibu hanya diam, dan sesekali tersenyum. Setelahnya, sejumlah nasihat muncul dari bibir tipisnya. Hingga butiran bening ini menetes dari sudut mata. Tanpa terencana. “Ayah dan ibu pasti sangat tahu, betapa si bungsu yang bandel ini kangen sekali berjumpa dengan kalian!” ujar saya kemudian, selalu.

Kisah tentang rasa rindu dan kangen ini tak ada habisnya. Barangkali, karena sejak dulu sesuatu di dalam hati saya selalu berkata bahwa usia 20 tahun dan 26 tahun bukanlah usia yang ‘cukup dewasa’ untuk ditinggal orang tua. Rasa ‘masih terlalu kecil’ selalu melasak-lasak saat tabungan rindu ini mulai penuh.

Tiga minggu. Bukan waktu yang pendek untuk absen mengunjungi ayah dan ibu. Kalian tahu tidak seperti apa rasanya saat meninggalkan rumah mereka setelah kunjungan itu dan menoleh ke belakang sejenak? Ada rasa bahagia yang tinggal. Dan, ‘amunisi bahagia’ itu hanya cukup untuk seminggu, bukan tiga minggu.

 

 

 

Semuanya tak sama

2 Comments

Hari ini saya dipenuhi dengan kejutan yang tak saya inginkan.

Iya, rasanya April Mop datang terlalu pagi. Ini kan baru bulan Februari. Kejutan itu tiba persis di meja saya tanpa pita warna-warni. Tanpa paper bag berbentuk kepik merah berbintik hitam. Tanpa ciuman di pipi dan ucapan atas ulangtahun-kelahiran-selamatlulus.

Siang tadi.

Yang ada, “Gue minta maaf … gue nggak membela (diri) …”

Ia berujar lirih begitu.

Bayangkan. Tubuhnya membungkuk berlurusan dengan meja saya. Wajahnya persis di samping wajah saya.

Saya menangis.

Saya menangis lagi.

Dan saya terus menangis.

Kamu tahu, ‘Patah hati’ kali ini bukan seperti bilahan bambu yang terbagi dua. Bukan. Bukan juga puzzle mickey mouse dan donal bebek berukuran 20 x 30 cm yang tersenggol dan jatuh ke lantai berserakan. Bukan. Bukan pula chocolate bar yang sudah terbagi per bagian sesuai dengan ukurannya sendiri-sendiri. Bukan.

Ini seperti celengan ayam yang terbikin dari tanah liat yang sengaja dihentakkan ke lantai. Pecah. Menjadi puing halus. Kembali menjadi tanah. Kecil-kecil. Butuh waktu yang tak sebentar untuk merekatkannya dan menjadikannya utuh seperti celengan ayam. Memilih remahan jengger. Memasangkan cucuk ayam. Menggabungkan badan ayam yang gemuk. Menghimpun semua serpihan itu menjadi celengan ayam seperti semula.

Celengan itu isinya rindu. Cerita. Rasa-ingin-bertemu. Hangat. Sandaran bahu. Senja sore yang mengkilat. Fajar di Kuta. Frapucinno Java Chips Venti. Rokok esse mentol dan Marlboro merah. Semringet. Gelak tawa. Sumringah bahagia. Rencana masa depan.

“one last chance … ” ujarnya, masih lirih.

Bukan takut terdengar yang lain.

Hanya ingin membicarakannya berdua.

Karena yang lain tak berhak tahu.

Tentang persaudaraan-persahabatan yang terjadi diantara kami.

“kita kan pernah mengalami seperti ini, pas gue sampe ngejar-ngejar elu di taksi dulu, pas kita di mobilnya ulin …”

Iya. Kita dulu pernah mengalami ‘masa sulit’ seperti ini. masa dimana kepala ini begitu keras. A adalah A, dan B bukanlah N. butuh waktu yang tak sebentar untuk membuat hati ini sedikit lebih longgar, menyejukkan napas dan membikin hati lumer. Rasanya pengen berlari ke atas bukit, dan berteriak lepas, “Gue cuma punya lo disini! Nggak ada siapa-siapa lagi, kecuali lo!” sayangnya, tidak bisa. Bahkan dia pun tak lagi saya punya.

Sejak sore tadi saya mencoba untuk lebih biasa dan kembali pada masa sebelum hari rabu lalu. Sulit. Dan pasti tak sama. Besok, pasti juga tetap tak sama. Setidaknya, gudang pasir itu kini mulai terayaki lagi. siapa tahu, bila digosok akan menjadi tambang berlian.