May 27
femi adi soempenofriends from heaven, isu indonesia, kegemaran, kuliner bumijo, jogja, makan, makan-makan, makanan, pete, teman
Pete. Petai.
Saya tidak suka pete. Tapi Tiwi dan mas Julius suka. Esti, ibu dan ayah juga suka pete. Saya tidak suka pete.
Hummm …
Ruangan tengah yang setengah terbuka itu ingar-bingar oleh tawa Maya, Tiwi dan celoteh katro Lisa. Juga, suara mas Amir. Pras dan mas Islah tidak kelihatan. Sedangkan mas Julius menebar senyum dan sesekali olokan kecil untuk Lisa.
Sabtu kemarin kami mensyukuri berkat dariNya. Tiga puluh bungkus ayam pak Kromo yang diangkut Kunto dari belakang Ambarukmo, tiga puluh minuman kaleng, dua boks puding dan segerobak celoteh riang.
Semuanya senang. Semuanya lapar. Semuanya kenyang.
Kami tak membicarakan buku. Capek. Kami justru dihibur Lisa yang terus saja membadut setiap hari. Sembari satu suapan ayam mengasup energi. Satu gigitan peyek kacang. Satu jumputan oseng-oseng pete.
Saya meminggirkan pete. Saya juga meminggirkan 80% porsi nasi. Dan Lisa terus menghibur kami. Tentang nama Lisa Klentik yang dia percaya sebagai nama suci, hingga hisapan sebatang rokok yang tak bakal habis saat melewati kotanya di pucuk Sumatera.
Lebih dari keriangan di Sabtu yang menggembirakan itu, ada sesuatu yang kian menggaris di benak saya. Iya, soal kebersamaan. Terdengar klise? Tidak juga.
“Femi, mbak ini sudah bersusah payah mencetak buku kita dan menepati deadline cetak.” kata Kunto. Atau, “Femi, kalau nggak ada mas ini, spanduk besar kita nggak muncul di perempatan Gramedia.” Atau, “Tanpa dia, Femi, buku kita tidak akan terdistribusi dengan baik.”
Humm … adem.
Bandingkan kalau yang terdengar di kuping saya ini, “Femi, dia ini bagian percetakan, nah, kalau mas ini yang masang-masang spanduk, dan mbak ini bagian distibusi dan sirkulasi …”
Terimakasih. Jejalin dan reriungan ini begitu sederhana. Sepertinya, sesederhana kita semua memaknai arti pertemanan-bawahan dan atasan, bos dan karyawan.
Eh, tapi tetap saja lo, saya nggak suka pete.
May 26
femi adi soempenocerita cinta, friends from heaven, isu indonesia, kegemaran jazz, JGTC, jogja, musik
Saya berkabar pada abang, saya lagi nonton jazz dan duduk di kelas VVIP. Persisnya, duduk di barisan nomor 4 dari depan.
“Liat dimana? Ikuut …
( ” jawab abang lewat pesan pendeknya.
Wah, rasanya saya ingin buru-buru bercerita tentang Grandfather Bubi Chen yang berkolaborasi dengan Oele Pattiselanno (gitar) dan Benny Likumahuwa (trombon).
Bubi Chen dan Virtuoso mengawal senja yang kian menggulita. Jemarinya lincah menari diatas tuts berwarna putih dan hitam. Padahal, jalannya tertatih, dengan tongkat panjang sebagai penyangga sekaligus penyeimbang tubuhnya. Di depan dan belakang, maestro jazz Indonesia ini masih dikawal satu-dua orang.
Bubi Chen, pianis jazz yang ditempeli gelar Art Tatum from Asia oleh Downbeat Magazine itu tetap bermain luwes meski usianya nyaris menginjak 70 tahun. Malam itu, atas permintaan Tony Prasetyantono, dia membawakan Somewhere Over The Rainbow, bersama dengan saxofonis Didiek SSS.
Ruth Sahanaya menutup malam. Andaikan kau datang kembali. Jawaban apa yang kan kuberi. Adakah cara yang kautemui. Untuk kita kembali lagi.
Humm …
(ps; mbakyu, terimakasih ya tiket gretongannya. lebih baik dari JGTC di UI, bukan!)
May 26
Femi Adicerita bumijo, ragam cuatan femi, rok
Pernah melihat saya pakai rok?
Rok sekolah, barangkali. Terakhir saya mengenakan rok batik dan kaos hitam adalah Desember 2005 saat ayah dan saya membikin peringatan 5 tahun meninggalnya ibu, di rumah. Waktu itu banyak orang yang tidak menyangka itu adalah Femi (*aduh, please deh!*) Jadi, saat mereka datang dan menyalami saya, mereka masih bertanay, “Femi mana?” gedubraaak …
Tapi saat ini saya punya rok.
Jumlahnya dua, dibikin oleh nenek saya di desa. Rok satin berwarna emas dan hitam. Bahannya jatuh, mengkilap, dengan dibubuhi asesoris yang saya angkut dari toko Enam Sembilan di bilangan pingit. Hore! Saya punya rok!
Jahitan nenek saya rapi sekali. Kalian juga pasti tak akan menyangka itu adalah rok yang dibikin oleh nenek-nenek usia lebih dari 70 tahun. Saya meras abersyukur punya nenek yang masih bisa membikinkan saya rok. Dan … ini jarang sekali terjadi dalam hidup saya: Femi pake rok!
Hitamnya mengkilap. Bisa jadi, lebih gelap dari gulita. Kilauannya datang dari sulur benang yang indah. Manik payet mendekap dada saya, persis di belahan bagian depan yang membentuk huruf V. Emasnya juga begitu. Cokelat renda menggaris horisontal di bagian perut dan bentuk leher.
Iya, Femi pake rok!
May 18
femi adi soempenocerita bumijo ayah, babe, bumijo, esti, ibu, jogja

Maut telah merenggut hidupnya. Ia tidak bernapas lagi, seakan semuanya hilang lenyap.Tapi kami sadar bahwa Engkau sungguh baik hati dan bijaksana. Kasih setiaMu tak ada habisnya. Syukur atas keselamatan dan kemenangan (Wahyu 11: 13)
Sudah setahun, ayah. Iya, sudah setahun.
Nggak terasa ya, begitu cepat setahun berlalu. Rabu yang menegangkan itu sudah lewat, persis pada 31 Mei 2006 lalu saat siangnya ibu sudah menjemput ayah. Esti datang untuk mengantarkan ayah, kemudian kembali ke US. Sementara si bungsu terus bekerja di Jakarta.
Perjalanan setahun juga belum berhenti, 52 minggu terus pulang dengan kereta Bengawan. Menjadi setia itu tidak mudah. Menata kerikil yang bergelimpangan diluar kotak semen rumah ayah. Menyingkirkan daun bambu cokelat yang kian mengering. membasuh palang kayu milik ayah. Meletakkan bunga Crysant sebagai peninggal jejak.
Semuanya untuk ayah, dan juga ibu.
Beberapa orang mencemooh, menuding dinasti keluarga Soempeno sudah usai. Belum, belum. Perjalanan ini masih begitu panjang. Beberapa orangmengerenyitkan dahi untuk kepulangan setiap minggu. “Ngapain pulang ke Jogja, kan di rumah nggak ada siapa-siapa?” Uwh, sebuah pertanyaan mendebarkan yang sering mampir ke telinga.
Si bungsu tahu, ini hanya riak kecil sepeninggal ayah.
Lebaran pertama tanpa ayah yang sepi. Natal pertama tanpa ayah yang sepi. Tahun baru pertama tanpa ayah yang sepi. Ada yang bisa menggantikannya? Tidak. Hanya ayah yang lahap mengunyah ketupat bikinan ibu. Hanya ibu yang menyiapkan roti-roti natal yang enak. Hanya Esti yang selalu ceria di rumah.
Rasanya seperti … ingin ikut ayah.
Dua perempuan muda penerus keluaerga Soempeno mencari jalan hidup. Bukan, bukan mencari kesempurnaan. Hanya mencari jalan terang sepeninggal dua orang tua tercinta. Bekalnya: kemandirian didikan keluarga Soempeno.
May 17
femi adi soempenocerita cinta, renanda cerita cinta, jepang, kangen, renanda, rindu, sahabat, teman
Saya heran, orang begitu banyak yang datang, dan begitu banyak yang pergi …
kamu, iya, kamu … hummm … nggak usah noleh kanan kiri, iya kamu saja, yang disitu, yak! kamu memilih untuk tinggal, atau pergi?
Older Entries