bahkan, baunya pun masih ada!

2 Comments

saya ingat sekotak cokelat yang kamu hadiahkan untuk saya

saya terkesiap memasuki sogo food hall plasa indonesia.

ah. seharusnya saya tak ke sini. seharusnya saya tak usah punya niat untuk beli kiwi dan apel washington. harusnya tadi langsung pulang saja. belum masanya bertandang ke pusat perbelanjaan ini. tapi, langkah saya kadung terpaku di lantai dasar. saya seperti tersesat belantara memori yang sangat saya kenali.

saya hanya terdiam. saya tahu persis dimana langkah kaki ini terhenti, dan terpaku tanpa bisa berlari meninggalkannya. cokelat. iya, rak yang menjejerkan cokelat dari beragam rupa, bentuk, asal, kemasan dan harga.

“enaknya beli cokelat apa ya untuk oleh-oleh?” pertanyaan lainnya, “kamu suka cokelat apa hun?” pertanyaan lainnya, “selain ini, apa lagi yang kamu suka? bilang saja …”

lindt swiss thins. jaquot chocolatier depuis 1920.

saya penyuka coklat. dan lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah itu tahu persis saya suka cokelat. tawaran parfum atau baju saya tolak. dia juga tahu persis itu. saya suka cokelat. dan, dua kotak cokelat ia bungkuskan untuk saya, disamping satu kaleng cokelat lain yang ia usung dari jepang.

humh.

saya masih ingat dimana ia berdiri. disitu, iya, disitu. didepan cokelat-cokelaat yang menderet rapi, menunggu pengunjung untuk menjumputnya. saya masih ingat persis kemeja hitam yang dikenakannya. saya masih ingat persis caranya membawa keranjang. menjinjingnya dan mengisinya dengan kotak-kotak cokelat. dan terakhir, menawari saya kembali, “mau apa lagi?”

hun, bahkan baumu pun masih ada di sini.


kenapa harus ketemu lagi

1 Comment

kapan ke jepang?

nagoya. padang. ah!

saya tak habis pikir. browsing di ruang maya, saya justru bertemu artikel travelling yang membikin saya menarik napas panjang. mencoba membaca. tidak menyelesaikan membaca. menutupnya cepat. tulisan itu tentang travelling di nagoya plus padang. cocok.

laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah, apa kabar?

rasanya ingin memencet BB dan menyapa hangat seperti kemarin, “apa kabar?” tapi tidak. tidak bisa. keputusan sudah dibikin dan saya harus menghargainya. tidak ada lagi surat elektronik. tidak ada lagi telepon cinta.

sementara, hati yang kian frozen ini hanya bisa mencair saat menghadapi halaman putih dan menulisinya dengan pelangi yang menderetkan rindu. hey, tak tahukah kalau aku sangat rindu kamu?

dan, saya harus menemukan tulisan tentang nagoya dan padang dari jari saya yang menjelajah ruang maya. aih. garuda indonesia membikinnya dengan sangat apik. perjalanan singkat. promosi awal tahun. dan, cerita cinta yang akan mengusang.

kenapa bukan new zealand. kenapa bukan palembang.

uwh!