bali, dan jatuh cinta itu

1 Comment

tidak tahu, tapi saya merasa cukup hommy setiap kali liburan di bali.

“banyak orang merasa seperti itu juga, mungkin karena kami banyak sembahnyang dan mendoakan hal-hal baik dalam setiap sesajian kami …” kata piggy, teman saya.

pasti, ada begitu banyak faktor yang mendukungnya. mulai dari pasangan liburan. area yang dituju untuk liburan. lamanya liburan. ekspektasi menghabiskan hari libur. dan, masih banyak lagi. dan, selalu saja, bali menjadi kawasan yang menarik untuk dikunjungi.

piggy kemudian memamerkan keunikan ubud yang juga layak dikunjungi. tidak begitu sesak seperti kuta. “olahan ribs terenak ada di ubud. babi gulingnya juga! babi guling yang paling enak itu hanya ada di ubud …” selorohnya. ah. dia paling tahu sisi sensitif saya: pancaindera. begitu mendengar babi guling, kuping ini sudah mancung saja. rasanya ingin segera beranjak ke ubud dan meludeskan seporsi babi guling.

babi guling. pantai dreamland. hatten aga red wine. keriuhan kuta dan legian. gamelan bali. perjumpaan dengan piggy. kalian membuat saya makin jatuh cinta dengan bali.

next destination, bukan kuta, tapi ubud!

(ps: saya dan si kadal basi sudah bersepakat, memang masih lebih enak jogja untuk dihuni, ketimbang bali. bisa jadi, karena kami orang jogja.)

faktor U

Comments Off

awalnya saya bingung apa yang dimaksud piggy, teman saya, dengan istilah ‘faktor u’.

aih. ternyata … Umur. Usia. Uzur. *halah*

kami berjumpa saat sama-sama duduk di bangku SMU di muntilan. reriungan kami cukup hangat. berbincang soal kehidupan berasrama. berbincang soal mading sekolah. bicara soal komitmen. apapun! beberapa ruang membikin kami sering bersama. terlebih, agaknya, karena kami punya karakter yang serupa: tak suka dandan, suka menuruti keinginan sendiri, berpikir realistis dan simpel.

hingga kami mengancik pada jenjang sekolah yang lebih tinggi. hingga kami menyudahi pendidikan formal di ruangan tertutup. kami bekerja.

aih. ternyata, sudah sebelas tahun sejak perpisahan di sekolah menengah itu. perbincangan kecil di ruang maya maupun jejaring ponsel mengabarkan bahwa kami tak lagi ‘piggy yang kemarin’ maupun ‘femi yang kemarin’. kami bertumbuh.

minggu lalu, kabar bahagia itu tiba-tiba mencuat: piggy mulai membenahi diri. eits. ini soal percaya diri dan tuntutan pekerjaan. vicky dandan. aiih!

“ini faktor u fem … usia. umur. uzur …” katanya.

sungguh, perempuan bali ini sering memberikan saya kejutan kecil. salah satunya, ya sebuat reminder soal faktor u ini.

mmm … tapi saya tak harus dandan kan?

kembali terpisah

Comments Off

kami akan berjumpa lagi.

rasanya baru kemarin saya melambaikan tangan dari balik pagar di arrival hall ngurah rai. saya melihatnya berjalan pelan, menggeret trolley dengan ukuran koper yang sangat besar. kini, saya melihatnya serupa. menyurung trolley dan menghilang di balik pintu check in.

esti. ya, dia kakak saya.

tapi kali ini saya tak menangis. mungkin besok. saat saya kembali bekerja dan menyadari bahwa ruang kami terpisah jauh, sangat jauh. betapa jarak kembali menebalkan persinggungan kami. jakarta/jogja-DC, uwh, jauhnya!

as long as I live, I will consider the closeness we share to be one of the most precious gifts I could ever receive.