Sep 30
Femi Adicerita bumijo, friends from heaven babi, dokter gigi, makan, makanan, panti rapih, rumah sakit
ah, ini gara-gara babi!
saya membungkus daging babi seperempat kilo di pasar tradisional (seperti anjuran prabowo subianto). dan saya masak dirumah. babi kecap. rendang babi. sop babi.
hasilnya, gigi saya di bagian ujung sakitnya minta ampun.
untung dokter stella masih berbaik hati menunggui saya di rumah sakit panti rapih. sekalian menambal yang lawas dan gigi yang sudah merapuh. juga, membersihkan karang gigi.
besok saya siap makan babi kembali.
Sep 28
Femi Adikegemaran antik, bumijo, furnitur, kasur, perkakas
Sepeninggal ayah, hidup bertetangga menjadi tidak mudah.
Dulu, tetangga-tetangga saya dengan segan dan sungkannya datang ke rumah, berbincang dengan ayah. Bisa jadi, karena ayah memang generasi yang cukup tua di daerah tempt saya tinggal. Ayah juga cukup ramah dan terbuka pada siapa saja yang datang, meski ayah tak pernah ‘nangga’.
Semuanya berubah saat ini. saya bikin manuver sedikit saja, misalnya mengeluarkan beberapa perkakas di rumah untuk dibereskan, orang-orang akan datang untuk ngobrol, melihat-lihat, sembari clingkukan mengintip isi rumah. Ah, rumah kami memang isinya hanya buku. Tidak lebih. Itu harta terbesar dan termahal yang kami punya. Ribuan buku menggudang di dalam rumah, di ruang tengah.
Hal ini membikin saya tidak nyaman. Sungguh.
Sejak kecil, memang saya tak cukup biasa untuk bermain dengan anak-anak seusia saya di daerah tempat saya tinggal. Melihat jathilan, tetapi tidak sampai tinggal lebih lama untuk bermain-main dengan mereka. Maklum, anak-anak kecil yang sebaya saya dulu, sudah biasa misuh dan membentak-bentak orang yang lebih tua. Dan ayah saya tidak ingin saya pulang kerumah usai tertular kebiasan mereka.
Dan semuanya jadi serba tidak enak. Apalagi setahun terakhir ini saya giat membuang perkakas dan menggantinya dengan yang baru. Membeli perkakas baru, misalnya, orang-orang di sepanjang gang akan melihat, mencermati, mengamati. Barangkali, membincangkan saya sesudahnya. Semoga saja perbincangan yang penuh rasa syukur.
Mestinya tidak ada yang perlu dirisaukan dengan perkakas yang belakangan sering saya buang dan saya ganti dengan yang lebih ringkas. Semuanya terangkut dengan lembaran rupiah yang saya kumpulkan dengan investasi yang cukup besar dan butiran keringat. Investasinya, ya keprihatinan ayah dan ibu saya agar saya bisa bersekolah setinggi mungkin. Selebihnya, menukarkan butiran keringat dengan lembaran mata uang indonesia.
Semoga saja, perkakas anyar ini tidak dilihat sebagai kesombongan.
Sep 27
Femi Adiasupan gizi, cerita bumijo, friends from heaven, kegemaran adhok, antik, furnitur, jadoel, kapstok, kursi, lawas, peti
Adhok Art & Antique
Jl. Ring Road Utara 14 B
Mancasan Kidul, Condong Caturm Depok, Sleman
Yogyakarta
Ph: 0274-4333914, 0812-2702-2121
Tak kurangnya saya bersyukur karena abang mengajak saya untuk menyambangi gerai antik Adhok di Jogja.
Dari situ saya mengenal barang-barang antik dengan segala kejujurannya. Tidak ada barang yang saya tunjuk dalam keadaan yang sudah kinyis-kinyis alias langsung siap angkut saat itu juga. Tidak. Saya masih melihat bentuk aslinya. Yang berlubang. Yang tanpa engsel. Yang warna kayunya memudar. Yang pegangannya sudah berkarat.
Dan begitu saya pilih dan saya bayar, dalam hitungan 2 x 24 jam, datang dalam kondisi yang bagus dan tetap terlihat lawas. Gerobok, kursi panjang dan cermin. “Kalau bosan, boleh ditukar kembali,” kata Adhok. Weleh.
Saban saya menyambangi workshopnya, selalu saja ada barang yang menarik untuk dibawa pulang. Harganya pun sangat masuk akal. Selisihnya bisa hampir dua kali lipatnya dengan yang dijual di gerai besar di Jogja. Misalnya, cermin di Adhok harganya Rp 300 ribu, di gerai besar lain bisa mencapai dua kali lipat lebih mahal.
Dan saya bertandang lagi ke workshop Adhok kemarin. Dan ujung-ujungnya, saya membawa pulang dua peti, kapstok, dan kursi single. Bonusnya: wadah kinangan dan wadah gelas di meja. Sudah lama saya jatuh cinta dengan peti itu, berukuran sedang untuk saya letakkan di sisi tempat tidur. Di dalamnya, bisa untuk menyembunyikan kenangan yang sudah lama tersapu waktu. *wah, dalem banget* Kayu jati, dan engselnya masih utuh. “Ambil dua peti itu, dan garap sekarang ya,” kata Adhok. Hari ini, barang akan terkirim sempurna. Waduh. Hanya 1 x 24 jam saja!
Terima kasih. Adhok membuat rumah saya menjadi lebih ringkas, dan nyaman tentunya.
Sep 27
Femi Adicerita bumijo, kegemaran, kuliner kentang, makan, makanan, mashed potatoes
Terbayang di pelupuk mata saya, seporsi mashed potatoes lembut dengan daging babi yang saya cecap di koln, jerman. Aih.
Saya selalu menebak-nebak ramuan yang membikin mashed potatoes ini terasa yummy. Ada rasa bawang yang samar-samar. Juga ada rasa asin dari garam dan merica yang menyeruak pelan. Capek menebak, saya pun googling. Nyatanya saya menemukan seribu satu racikan yang membikin mashed potatoes terasa menendang dengan lembut di lidah dan kerongkongan.
Dan hari ini saya membuat mashed potatoes dengan bumbu a la femi. Yaps, seadanya saja, asal tetap lembut dan nikmat. Usai merebus kentang dengan kaldu sapi, saya menyisihkannya untuk saya gerus dengan mesin penggerus kentang secara manual. Bukan, bukan ditumbuk, tetapi diperas. Humh. Bagaimana menjelaskan alatnya ya. yang jelas, saya mengangkut alat penggerus kentang itu dari ace hardware.
Agar kentangnya berasa nendang, saya memanaskan margarin di wajan antilengket. Usai lumer, saya membubuhinya dengan bawang putih yang saya rajang dengan halus, blackpepper, whitepepper, garam dan susu beruang. Sesudah berkolaborasi semuanya, saya mengangkatnya dan memasukkannya dalam kentang yang sudah tergerus dengan sempurna. Saya mengaduknya, dan yummy!
Pagi tadi saya memasangkan mashed potatoes dengan tumis ampela-sosis-pakcoy-gambas-wortel. Sementara siang ini saya menjodohkannya dengan daging sapi kecap.
Ada yang mau mashed potatoes bikinan saya?
Saya amat-amati, mashed potatoes ini kalau dicelupkan dalam telur kocok kemudian digoreng, kok mirip perkedel kentang. Tapi enggak ah. Saya suka mashed potatoes ini. begini saja. barangkali bisa disebut sebagai calon perkedel kentang. Bagaimana?
Sep 26
Femi Adicerita bumijo, friends from heaven kasur, pegas, tidur
Masalahnya adalah cekungan yang muncul saban pagi di kasur busa.
Akibatnya, di bagian kaki dan pinggiran kasur busa, sedikit terangkat ke atas lantaran tertarik oleh cekungan yang mencubit gravitasi kasur busa. Akhirnya saya harus sedikit mengeluarkan tenaga agar bisa beranjak dan memulai aktivitas. Tentu saja, kalau sudah begini, muncul kejengkelan yang menumpuk saban pagi. Membikin ujung bibir ini tidak lagi tertarik ke atas.
Awalnya adalah kasur dan dipan besi yang disingkirkan kakak saya ke rumah mbahti (simbah putri). Sebagai gantinya, dipan kayu dan kasur busa yang panas. Tidur semalam saja, tak masalah jika cekungan itu muncul. Malah, cekungan itu tak muncul saat kyle tinggal di rumah. Cekungan itu hanya ada pada kasur busa saya.
Tapi belakangan saya tinggal untuk lebih dari seminggu. Hasilnya, ya itu tadi. Harus krengkangan untuk bangun menyambut pagi.
Mengadu pada kakak saya, esti, akhirnya ia menyetujui agar saya membeli kasur baru. dan pilihan saya jatuh pada kasur pegas. Karena sebuah kasur pegas harus ditukar dengan beberapa lembar ratusan ribu, maka saya memilih untuk nglarik. Dan saya menemukan kasur pegas dengan merek dan ukuran yang sama berlabel harga berbeda. Selisihnya bahkan mencapai ratusan ribu. Wah.
Saya memutuskan untuk membeli kasur pegas Elite dengan ukuran 100 x 200 cm dengan harga Rp 720 ribu. Di gerai lain, seperti Liman, dengan ukuran yang sama dan merek yang sama, harganya bisa mencapai Rp 1,5 juta dengan diskon 30%, jadinya Rp 1,05 juta.
Dan semalam saya tidur dengan begitu pulasnya, dan bangun tanpa cekungan lagi. Barangkali, seperti promosinya, hanya Elite yang menggunakan pegas paling banyak. *halah*
Older Entries