Sep 01
Femi Adikegemaran, media, web 2.0 blog, blogger, blogging, pb2008, wordpress
kemeriahannya tiada tara.
pesta blogger 2007, pestanya para blogger. dan pesta blogger 2008, tetap saja menjadi pestanya para blogger.
saya masih ingat persis, riuhnya blogger yang meriung di blitz, tahun lalu. bukan hanya blogger jakarta saja, tapi indonesia. aih, ini dia reriungan yang sama-sama suka blogging. kopdaran, tapi se-indonesia.
dan pesta blogger akan digelar kembali oktober nanti. persisnya, 25 oktober 2008 yang akan diawali dengan roadshow dari bali, malang, jogja, bandung dan berakhir di jakarta. sedap?
monggo lho meramaikan pb2008. info selengkapnya bisa diintip di sini.
Sep 01
Femi Adicerita cinta, renanda jepang, renanda, tokiko onose

surat cinta buat dia
jantung saya terasa berhenti berdetak sejenak saat saya memegang buku itu.
ya, the wednesday letters, the new york times bestseller. surat-surat cinta yang dituliskan oleh jack untuk istrinya, laurel setiap tahun, selama perkawinannya 39 tahun.
surat-surat cinta.
saya pernah menuliskannya. sebaris kalimat rindu. sebaris ungkapan sebal. sebaris keinginan untuk berjumpa. saya tuliskan untuknya. ya, untuk laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah. dalam secarik kartu pos tak berperangko.
empat tahun. ya, empat tahun lamanya. tak bisa menandingi surat yang ditulis jack. tapi, empat tahun adalah masa yang tak sebentar untuk menggeser siang menjadi malam. 1.460 hari.
saya tahu, saya begitu mencintainya. hingga kini. dan kartu pos selalu mengingatkan saya padanya. pada hangatnya perbincangan saban ujung minggu tiba. pada gelak yang berjejaring lewat kecanggihan ponsel antara indonesia dan jepang.
surat-surat cinta. saya pernah menuliskannya.
Sep 01
Femi Adikegemaran, pit-pitan dahon, sepeda, sepeda lipat
saya barusan menutup pembicaraan dengan arun, teman saya.
saya memamerkan gelang bersepeda untuk dilingkarkan di bagian pergelangan kaki maupun tangan. mereknya trek. ah, tapi tak soal trek atau bukan, tetapi ini sungguh ‘mainan baru’ buat saya. ada tombol kecil yang bisa ditekan untuk menghidupkan lampu. biar bisa menyala terang. biar saya tak tertabrak jika bersepeda.
“ada yang berbaik hati memberi ini buatku, run,” kata saya. ah, dia semakin sirik saja. ini cerita kesekian kali usai pemberian-pemberian sejenis untuk saya.
*terima kasih abang*
saya bersyukur, dikelilingi oleh orang-orang yang begitu murah hati pada saya. hal biasa, sederhana, sepele. namun tetap saja menakjubkan buat saya.
terimakasih. saya jadi ingin segera pulang ke jogja, dan bersepeda. tentu saja, dengan lampu trek ini.