boros pakaian

1 Comment

Saya tahu persis, saya cukup boros berpakaian.

Setiap kali mandi, semua pakaian yang melekat di tubuh harus ganti. Mulai dari kutang, kancut, celana pendek, kaos. Celana panjang juga hanya awet digunakan dua hari saja. selebihnya, harus masuk kantong cucian.

Entah, sejak dulu ayah dan ibu mewajibkan saya untuk mengganti pakaian dengan yang bersih saban kali mandi. Tidak mandi pun, pakaian harus ditanggalkan dan diganti yang bersih. Alhasil, pakaian cepat mengempis dari tumpukan di lemari. Sebaliknya, kantong cucian menggemuk seketika.

Tidak di Jogja, tidak di Jakarta, sama saja. untung ada yang bisa saya andalkan: simbok wati di jakarta, dan laundry twinis di Jogja.

Sebenarnya, ‘bermain air’ adalah hal yang menyenangkan. Di rumah sewa di palmerah, mencuci pakain sembari bergosip adalah aktivitas yang ditunggu-tunggu. Hanya saja, saya masih enggan ribet dengan urusan kegundahan bila hujan tiba, dan juga menyapukan setrika ke kanan dan ke kiri.

Terima kasih, kalian membuat segala sesuatu menjadi mungkin: saya selalu punya pakaian bersih!

disorientasi sop buntut

1 Comment

Dari kejauhan, kakak saya mentertawakan saya. Sialan.

Awalnya adalah godaan buntut sapi di superindo. Sepertinya menakjubkan membikin sop buntut di rumah. Bumbunya? Beli saja yang instan. Bamboe menyediakan bumbu oxtail soup. Dan saya mengangkut beberapa irisan buntut sapi. Sedap!

Tapi, olala, ternyata sedang tidak tersedia bumbu instan Bamboe untuk sop buntut. Kalau begitu, barangkali bisa diganti rawon saja. isinya, ya buntut sapi ini. selain buntut, saya mengangkut daging sapi untuk dibikin kaldu.

Sampai di rumah, karena tidak makan nasi, ya saya mengiris dua gelundung kentang. Ada empat irisan daging berukuran sedang, dan juga buntut sapi. Bumbu saya masukkan dalam panci dengan kuah kaldu. Plus irisan kentang. Plus daging dan buntut. Plus telur kampung rebus.

Hasilnya? Duh, entah, sop buntut bukan, rawon juga bukan. Merem sebentar, rasa kuahnya adalan rawon dengan komposisi bumbu dan air yang tidak seimbang. Terang saja, asin mendominasi kuah rawon. Sementara, daging dan buntut serta telur rebus nya baik-baik saja.

Tidak lagi ah. Sop buntut harus untuk sop buntut, bukan untuk rawon begini. Sungguh disorientasi sop buntut!

saya hanya bisa memangkasnya saja

2 Comments

Saya sudah membiarkannya lebih dari seminggu sejak kedatangan saya ke Jogja.

Tanaman tetean itu menggondrong. Pucuk daun yang muda menghijau kian matang dan menunjukkan kekokohannya sebagai tanaman pagar. Makin liar. Makin menggeliat dengan kasar. Dan saya belum juga memotongnya meski saya sudah punya pemotong tetean yang baru yang saya angkut dari Jakarta.

Gunting pemotong ini bermerek dagang Green Land. Mestinya, ini adalah pemotong rumput. Dari bungkusnya sudah tertera jelas: Grass Shears dengan putaran hingga 90 derajat. Warnanya merah muda dengan kombinasi merah tua. Desain pemotong ini sangat nyaman untuk dipegang.

Sebelumnya, saya sudah menggunakan Green Land yang lebih kecil, pruning shears. Yaitu, yang bisa memangkas dahan diameter yang lebih tebal. Misalnya, dahan tetean yang sudah mengeras dan menebal. Pemotong yang lebih kecil dengan mata pisau yang lebih pendek memudahkan segalanya.

Ingin rasanya berkebun lagi. Sungguh-sungguh berkebun. Memastikan bahwa ada begitu banyak hijau-hijauan di sepetak tanah di rumah. Seperti yang dilakukan ayah dulu, menyingkirkan fajar dan menyambut senja dengan mengoprek pupuk, dahan kering, pucuk yang menghijau dan cipratan air segar untuk membasuhi tanaman.  

Mungkin tidak saat ini. Tapi nanti, pasti cuilan tanah di rumah akan kembali menghijau. Pasti. Saat ini hanya bisa pangkas memangkas saja.