memindahkan memori dari locker

Comments Off

selamat tinggal kubikel hangat

kunci saya berkurang dua. yaitu, kunci dua locker saya.

awal minggu ini, saya sengaja menepikan tubuh di kantor. memberesi dua locker yang penuh dengan kotak-kotak kenangan. perjalanan ke eropa. perjumpaan dengan lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah. beberapa bon kunjungan ke luar kota. segepok kartu pos. pakaian, termasuk kutang dan kancut. tagihan halo-halo selama setahun terakhir ini. kalung-kalung dari Bali. pembalut. dan masih banyak lagi.

lewat tengah malam, saya memburu dua kardus besar. semuanya saya atur dengan rapi dalam kardus, serapi gudangan memori ini tersimpan di benak saya. saya harus segera mengirimkan ke jogja.

saya pun buru-buru mengabarkan pada teman saya, yang kini menghuni kubikel saya, novrida. padanya saya bilang, locker sudah bisa dia gunakan. hanya saja, kolongnya yang masih saya pinjam.

kolong itu hangat, menemani saya selama lebih dari lima tahun. dengan gelaran sleeping bag merah dan dua tumpuk bantal mungil, saya mengasup energi.

saya sudah menguras dua locker saya. bahkan kuncinya sudah saya gantungkan di locker tersebut. terima kasih, sudah bersedia menyimpankan catatan-catatan benak selama lima tahun ini.

berbondong-bondong ke jogja

Comments Off

saya mengantongi empat ratus ribu rupiah untuk membeli tiket kereta eksekutif ke jogja, kereta taksaka, untuk keberangkatan lusa, jumat (31/10).

antrian sudah mengular di tiga loket yang dibuka di gambir. aih, rupanya ada begitu banyak orang yang hendak melakukan perjalanan ke ‘jawa’. pulpen yang sengaja saya bawa sendiri, sudah beredar ke beberapa tangan pengantri. mengganti hari perjalanan, mengganti kereta, mengganti jumlah penumpang.

“mbak, taksaka habis, mau pakai argolawu tambahan? tapi berangkatnya setengah jam lebih malam daripada taksaka,” kata si penjaga loket pada saya. saya tertegun sejenak.

berangkat, tidak, berangkat, tidak.

tapi, mengingat badan yang ‘takut capek’, lebih baik mengiyakan tawaran si penjaga loket ini. “satu, minta nomer D atau A!”

whoops. satu tiket sudah saya kantongi untuk pulang ke rumah, weekend ini! cihuy!

begitu banyaknya orang yang hendak ke jogja. acara pernikahan? liburan? weekend? minggu pertama bulanan? barangkali itu yang membikin tiket habis. bisa juga, karena sudah dipegang calo.

done, seloyang izzi pizza

1 Comment

air menggerojok bumi. ah, jakarta menjadi adem.

sangarnya bola raksasa tak lagi tampak. jakarta sungguh padat oleh roda dua yang meneduh, mencoba mengindari rintik ritmis yang menyentuh kulit. sementara, kendaraan lain tak mengurangi kecepatannya, seolah mencoba menyangi kecepatan rintikan dengan gelindingan roda kendaraan.

ah, tapi saya lebih peduli dengan perut saya yang bergemerincing. saya lapar.

saat mata tertumbuk pada tulisan izzi pizza … yaps! saya rasa cukup setimpal membalas rasa lapar ini dengan seloyang pizza. jadilah saya memesan pizza dengan topping udang berukuran reguler, plus bola-bola pizza. selebihnya, es lemon tea.

diluar masih hujan, dan perlahan saya menghabiskan seporsi pizza yang bertabur udang. enam slices. habis. sementara orang terus berlarian, berusaha menantang hujan. beberapa diantaranya berusaha menghalau hujan dengan jas hujan dan payung yang kokoh.

done, pizza di izzi pizza. sungguh, saya menikmati santapan siang ini. sendirian, di pinggir jendela. menatap hujan.

‘pertiwi’

4 Comments

saya menyebut kata ‘pertiwi’. dan prast, teman saya pun menggelak.

gombloh banget!!!” katanya. wah, kurang ajar.

kami memang sepasang teman yang sepadan untuk bertengkar. apalagi, dia sangat iconic untuk orang mbantul, sementara saya sangaaaat jogja. kendati sama-sama di wilayah daerah istimewa yogyakarta, nyatanya tak bisa membuat saya terima begitu saja bahwa dia ini adalah ‘orang jogja’. toh, ia selalu punya cara untuk mengelak dari tudingan apapun tentang ke-ndeso-nannya dan punya peluru untuk menyerang saya  balik.

awalnya adalah kebutuhan untuk mencari padanan kata ‘bumi’.

tesaurus milik eko endarmoko menyebutkan bahwa kata lain dari ‘bumi’ adalah adam, ardi, bentala, buana, butala, dunia, globe, jagat, darat, tanah dan … pertiwi. lantaran initesaurus  adalah gudang kata saya, ya jelas, kata-kata itu saya muntahkan lewat kabel telepon yang menciutkan jarak jakarta-jogja.

eh, lha kok malah menyebut nama gombloh. wah!

prast yang belum lama menghabiskan sebagor jagung rebus ini, kata ‘pertiwi’ mengundang memorinya pada musisi asal Surabaya nan legendaris itu. kata ‘pertiwi’ yang kerap menyiratkan kelokalan indonesia ini dekat di benaknya dengan lagi berita cuaca-nya gombloh.

dan saban saya meluncurkan kata ‘pertiwi’, gelaknya bisa saya kuping jelas, sembari mengumpat dengan serius, “Wah, ncen kowe ki guombloooh tenan …”

aih. tapi saya ingat persis, keluarga kami dulu sangat up-date dengan musik-musik pop. salah satu yang diangkut dari toko kaset, ya kasetnya gombloh ini.

jadi, bagaimana ‘mbloh prast? mau pinjam kaset gombloh saya?

sebotol wine yang tertunda

2 Comments

bahkan sampai sekarang, saya belum membalas surat elektroniknya.

ya, ya, ya. surat yang muncul lewat serat-serat elektronik sudah lama menggudang di kotak surat saya. aih, sudah lebih dari tiga minggu. tapi saya masih saja membiarkannya. selalu muncul dibenak, “iya, nanti balesemailnya …” toh, itu tidak pernah terjadi.

yang ada hanyalah penundaan untuk besok, dan besok.

padahal ajakannya cukup menyenangkan: menyesap sebotol wine.

iya, wine. saya menghitung mundur terakhir kali menggelontorkan wine merah ke kerongkongan ini. bisa jadi, empat bulan yang lalu. owh. lama sekali! kemana larinya addict of wine itu?

sebenarnya saya tak puasa alkohol. bir, juga jalan terus. barangkali, botolan bir itu yang menunda saya untuk mengiyakan ajakan minum wine.

sebenarnya masih ada beberapa botol anggur merah yang siap diseruput. hanya, masih mencari pasangan yang pas untuk menyeruputnya. bukan hanya pasangan secara ‘fisik’, tetapi juga perbincangan, gelak, dan juga kemelankolisan yang biasanya sering muncul.

rasanya minggu depan adalah waktu yang tepat. bukan, bukan pada hari-hari dimana saya berekreasi ke kubikel mungil saya. tetapi hari senggang. sabtu, atau minggu.

tapi maaf, saya tak bisa mengajak kalian. ini adalah pertemuan khusus dengan seorang teman. bukan, bukan, bukan pacar. hanya sahabat yang lama terabaikan.