gombal ah

4 Comments

hari ini saya berjumpa dengan dua sahabat dekat.

seperti saudara sendiri, nyaris perbincangan kami tanpa portal. semuanya menggelinding begitu saja. dan perbincangan kami berujung pada ujaran saya pada salah satu sahabat saya, “ah, kamu pasti sama saja dengan dia (sembari menunjuk satu sahabat lain). bedanya, kamu hanya diam dan tak membeberkannya.”

obrolan kami adalah tentang gombalan laki-laki. tentang selorohan yang muncrat begitu saja, memberi angin segar pada perempuan, namun semu. juga, permainan hati yang hanya sesaat, sekadar menghibur dikala hati sedang longgar.

wah.

istri dan anak memang utama. hanya saja, ‘mainan baru’ tetap saja menyenangkan. itu bagi satu sahabat saya. sementara, bagi satu sahabat saya yang lain, ya sama saja. pacar memang hanya satu. tetapi, satu unit ponsel berbicara: disediakan satu ponsel sebagai tools berjejalin dengan perempuan lain. kampret.

keduanya pintar menggombali perempuan dengan buaian kalimat yang membikin hati berbunga-bunga. bila perlu, sampai bunganya berbuah. “… kelak kalau aku atau kamu dalam perjalanan menuju kematian (sakratul maut), ada kamu di sisiku, atau, ada aku di sisimu …” kata satu sahabat.

hoek.

saya bersyukur, ia adalah potret laki-laki yang sungguh nyata dan manusiawi yang ada di sekitar saya. dan saya tahu persis, itu hanya kesenangan sesaat, pada sebuah kenangan di masa lalu. pada sebuah memori yang menjejak dalam nukilan kehidupan.

” … entah, Tuhan mungkin mempertemukan kami. aku di jogja, dia pas di jogja. aku pas di semarang, dia ada. pas dia ke jakarta, ya dia pasti sama aku disini …” beber satu sahabat yang lain.

cuih.

tapi, apapun yang muntah dari bibir kedua sahabat saya ini, keduanya tetap sahabat saya. yang selalu memberi alert pada saya akan beragamnya model laki-laki. thanks gosh!

sapaan hangat, pagi ini

Comments Off

saya nyaris tak mengenalnya

ponsel saya berdering pagi ini, memaksa mata agar terbuka untuk meraih ponsel, dan memencet ikon hijau, atau malah merah.

nomor tak dikenal. +81 XXXXX dan dua kali ponsel berdering, dua kali saya memencet ikon merah. kemudian, saya meneruskan tidur pagi saya yang terganggu. dan ponsel berdering lagi. mau tak mau, saya mengangkatnya.

“Halo …”

jantung saya rasanya seperti berhenti. suara ini saya kenal. saya pernah mengenalnya dengan sangat dekat. sangat dekat. suara hangat dari laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah.

“siapa ya?”

“sudah lupa ya?”

ah, sebenarnya tidak lupa. hanya saja, nomor yak tak dikenal membuat saya menendang dering ponsel. dan, bagaimana mungkin saya lupa dengan laki-laki yang rajin mengangguk saban berbicara itu. laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah. laki-laki dengan senyum seringan kapas.

hari raya lebaran membuatnya teringat pada saya, yang berada terpisah 5768 km jauhnya.

maret, april, mei, juni, juli, agustus, september, oktober. delapan bulan.

saya sudah berusaha menepis keinginan untuk menghubunginya selama delapan bulan ini. satu surat elektronik saya layangkan, dan kembali kepada saya. gagal. ah, apa lacur.

dan lelaki dengan pjamas kotak-kotak itu menyapa saya pagi ini. hangat.

terimakasih. terimakasih.

kamu membikin saya kangen. sungguh.