‘pertiwi’

4 Comments

saya menyebut kata ‘pertiwi’. dan prast, teman saya pun menggelak.

gombloh banget!!!” katanya. wah, kurang ajar.

kami memang sepasang teman yang sepadan untuk bertengkar. apalagi, dia sangat iconic untuk orang mbantul, sementara saya sangaaaat jogja. kendati sama-sama di wilayah daerah istimewa yogyakarta, nyatanya tak bisa membuat saya terima begitu saja bahwa dia ini adalah ‘orang jogja’. toh, ia selalu punya cara untuk mengelak dari tudingan apapun tentang ke-ndeso-nannya dan punya peluru untuk menyerang saya  balik.

awalnya adalah kebutuhan untuk mencari padanan kata ‘bumi’.

tesaurus milik eko endarmoko menyebutkan bahwa kata lain dari ‘bumi’ adalah adam, ardi, bentala, buana, butala, dunia, globe, jagat, darat, tanah dan … pertiwi. lantaran initesaurus  adalah gudang kata saya, ya jelas, kata-kata itu saya muntahkan lewat kabel telepon yang menciutkan jarak jakarta-jogja.

eh, lha kok malah menyebut nama gombloh. wah!

prast yang belum lama menghabiskan sebagor jagung rebus ini, kata ‘pertiwi’ mengundang memorinya pada musisi asal Surabaya nan legendaris itu. kata ‘pertiwi’ yang kerap menyiratkan kelokalan indonesia ini dekat di benaknya dengan lagi berita cuaca-nya gombloh.

dan saban saya meluncurkan kata ‘pertiwi’, gelaknya bisa saya kuping jelas, sembari mengumpat dengan serius, “Wah, ncen kowe ki guombloooh tenan …”

aih. tapi saya ingat persis, keluarga kami dulu sangat up-date dengan musik-musik pop. salah satu yang diangkut dari toko kaset, ya kasetnya gombloh ini.

jadi, bagaimana ‘mbloh prast? mau pinjam kaset gombloh saya?

sebotol wine yang tertunda

2 Comments

bahkan sampai sekarang, saya belum membalas surat elektroniknya.

ya, ya, ya. surat yang muncul lewat serat-serat elektronik sudah lama menggudang di kotak surat saya. aih, sudah lebih dari tiga minggu. tapi saya masih saja membiarkannya. selalu muncul dibenak, “iya, nanti balesemailnya …” toh, itu tidak pernah terjadi.

yang ada hanyalah penundaan untuk besok, dan besok.

padahal ajakannya cukup menyenangkan: menyesap sebotol wine.

iya, wine. saya menghitung mundur terakhir kali menggelontorkan wine merah ke kerongkongan ini. bisa jadi, empat bulan yang lalu. owh. lama sekali! kemana larinya addict of wine itu?

sebenarnya saya tak puasa alkohol. bir, juga jalan terus. barangkali, botolan bir itu yang menunda saya untuk mengiyakan ajakan minum wine.

sebenarnya masih ada beberapa botol anggur merah yang siap diseruput. hanya, masih mencari pasangan yang pas untuk menyeruputnya. bukan hanya pasangan secara ‘fisik’, tetapi juga perbincangan, gelak, dan juga kemelankolisan yang biasanya sering muncul.

rasanya minggu depan adalah waktu yang tepat. bukan, bukan pada hari-hari dimana saya berekreasi ke kubikel mungil saya. tetapi hari senggang. sabtu, atau minggu.

tapi maaf, saya tak bisa mengajak kalian. ini adalah pertemuan khusus dengan seorang teman. bukan, bukan, bukan pacar. hanya sahabat yang lama terabaikan.