roti kolmbeng

Comments Off

siap-siap bawa air untuk menggelontorkan si kolmbeng

siap-siap bawa air untuk menggelontorkan si kolmbeng

prast membawakan saya roti yang pernah saya cecap di masa kecil saya.

roti kolmbeng.

saya tak pernah tahu namanya roti kolmbeng. ya, hanya ‘roti’ saja, begitu saya menyebutnya. saya ingat persis, saya biasa membelinya di warung dua bersaudara mbok ik dan mbok ju, saat saya masih kanak-kanak.

biasanya dibungkus secara massal, dalam jumlah yang banyak, dalam satu tas plastik bening yaang tak lagi terlihat bersih dan mulus. sebaliknya, sudah acak-acakan. barangkali tas plastiknya bekas. atau, memang sudah dibuka-tutup berulang kali.

saya menyantapnya secuil. selebihnya, untuk teman perjalanan di kereta. masih ada sisa, untuk teman minum kopi susu pagi ini.

roti kolmbeng, ya, roti kolmbeng.

saya harus menyiapkan air untuk menggelontorkan roti ini. maklum, roti ini rupanya gemar tinggal berlama-lama di tenggorokan. jadinya: seret.:)

akhirnya saya menemukannya!

1 Comment

perusahaan kerajinan tangan, alat peraga taman kanak-kanak “Mataram Indah”

kadipaten kulon Kp I/308 yogyakarta, ph: 0274 – 374189/418507

ini adalah gerai mainan anak-anak yang saya cari. sudah lama sekali saya memburunya. ya, saya memburu beberapa keriangan untuk beberapa keponakan. mainan yang seperti saya mainkan dulu, saat saya masih TK.

terakhir saya menyambangi gerai ini … mmm … barangkali lebih dari lima tahun silam, untuk sebuah reportase kecil tentang industri rumahan yang ikut andil dalam mencerdaskan bangsa. *halah, bahasanya*

ada apa disana? banyak! mulai dari puzzle edukatif, mencocok dan bantal mencocok, cetakan untuk was (malam), rambu-rambu lalu lintas … duh, enggak tahu nama-namanya. persisnya, semua barang untuk si kecil dijual di sini dengan banderol yang terjangkau. mau beli satuan hingga lusinan, juga bisa kok.

saya bersyukur menemukannya. ya, akhirnya saya tak salah belok lagi. sederhana saja, untuk mengantarkan keceriaan untuk para keponakan.

kembang buat ayah dan ibu

Comments Off

seperti biasa, tak pernah berubah. ya, selalu begini: dua buket kembang buat ayah dan ibu.

rumah mereka tampak kotor. tak seperti menjelang lebaran yang selalu bersih. kali ini, daun-daun bambu yang mengelinting mengering, menutupi tanah yang menghijau lumut, licin. saya jadi tak khawatir melangkah. beberapa rumah tetangga ayah dan ibu, juga sama kotornya.

dari kejauhan, saya sudah bisa melihat rumah mereka. mungil. dan sedikit kotor oleh dedaunan yang membaur bersama pekarangan yang basah.

buru-buru saya menjumput daun bambu yang mengering itu. saya juga menyeka pekarangan ibu dengan koran pembungkus dua buket bunga ini.

pada mereka saya bercerita tentang semua kelelahan hidup. tentu saja, dengan penuh syukur. saya yakin, mereka sudah melampauinya. mereka sudah melaluinya. saya juga bercerita tentang secuil mimpi yang kian menggelembung dari hari ke hari. ya, saya tahu, saya tak boleh berhenti bermimpi.

saya meletakkan buket bunga, persis di pekarangan mereka.

saya duduk, dan mendaraskan doa buat keduanya.

(ps: saya bersyukur pada si pemilik hidup yang mengantarkan saya pada sore yang adem di rumah ayah dan ibu. belakangan, saya kerap memimpikannya)

bersih-bersih sampai pagi

Comments Off

namanya juga nggak pernah pulang. debu di lantai menebal. dan kian menebal.

saya harus mensyukuri, lantai di rumah kering, ring. tidak lengket oleh lembap. yah, hanya debu saja yang merata membubuhi lantai di rumah saya. tiga minggu. ya, tinga minggu butiran halus ini menebal.

saya tak menyangka, ada begitu banyak yang harus dibereskan. mulai dari ruang belajar, ruang tengah, kamar. tak cukup itu saja, masih butuh  membersihkan kamar mandi, dapur dan kebon kecil milik ayah.

hmmpff.

saya jadi ingat ayah. yah, saya jadi kangen padanya.

ayah tak pernah mengeluh untuk membereskan rumah. melihatnya wira-wiri kesana-kemari, saya selalu bilang, “sudah, istirahat dulu …” nyatanya, ayah tak pernah berhenti. ada saja yang dibereskannya. kecil-kecil, sedikit-sedikit, tapi banyak!

dan semalam, saya membereskan rumah sampai pagi. ya, sampai pagi.

sungguh, saya kehabisan energi menulis

1 Comment

bagaimana cara meyakinkan dia ya.

iya, meyakinkan bahwa saya tak sedang mencandu menulis saat ini. dua belas jam menghadapi komputer, sekarang terasa letih. selebihnya, lelah yang tak berkesudahan.

saya ingin meramu kata, meraciknya menjadi sebuah jamuan yang menyenangkan. seperti pizza, saya ingin membikinnya dengan dengan topping irisan daging sapi, cacahan paprika dan keju mozarella.

tapi saya sedang tak bisa. saya capek.