Feb 28
Femi Adifriends from heaven, plesiran, weekend escape bali, denpasar, esti, femi, piggy, ubud
saya menyambanginya.
ya, bertandang menjumpai piggy, teman masa sekolah dulu di kediamannya di ubud. ke bali rasanya belum ke bali jika tak bertemu dengannya. tawaran untuk plesiran ke sana dan ke mari rasanya tak bisa dibandingkan dengan serunya berbincang dengan piggy.
dan kami membincangkan banyak hal. tentang laki-laki diantara kami. tentang pertemanan. tentang hidup kami. tentang pernikahan. tentang pekerjaan. tentang ide-ide liar. tentang petikan gitar. tentang makanan. tentang bungallow. tentang olahan babi. tentang cita-cita tentang banyak hal.
“aku malah kepikiran begini fem. besok kalo married, enggak usah kasih undangan married, tapi pemberitahuan. jadi, bukan “mengundang anda untuk datang pada pernikahan kami bla bla bla …” tapi “telah menikah …” bagaimana menurutmu fem?” selorohnya.
kontan, saya tak bisa menahan gelak saja. cerdas juga piggy.
kami berbincang hingga larut malam. hingga kantuk melemahkan kelopak mata kami.
Feb 28
Femi Adikuliner, plesiran, weekend escape bali, denpasar, esti, femi, liburan, warung made, warung made legian
bus yang saya tumpangi menuju ubud belum datang.
saya masih harus menunggu sekitar tiga jam. lumayan, bisa jalan-jalan di sekitar legian. tapi, opsi yang paling menarik memang makan siang di warung made. bosan sih, soalnya kemarin juga makan di warung made seminyak. masa sih sekarang makan lagi di warung made legian. tapi ketimbang berpanas-panas, lebih baik meletakkan pantat sejenak di tempat yang teduh sembari menyeruput es jeruk. sedap.

"nasi campur, 55.000 ..." kata si pelayan. shoot!
“nasi campur satu, es jeruk satu,” kata saya pada pelayan di warung made legian. ini adalah menu kesukaan saya. porsinya besar dengan nasi kecil namun berlauk banyak. muantabs kan?
si pelayan masih belum beranjak, malah membuka buku menu yang berukuran superjumbo itu sembari menuding menu nasi campur. “nasi campur, Rp 55.000 …” katanya.
saya tersinggung.
“fine! nggak masalah! 55.000 is ok! harga, nggak masalah buat saya!” kata saya, setengah berteriak.
kesel juga. dipikirnya saya belum pernah makan di sini apa ya. padahal sudah jelas saya menunjuk satu menu yang ada di warung ini. means, saya sudah tahu berapa kerugian yang harus saya tanggung di warung ini untuk pesanan saya. atau, wajah saya yang terlalu memelas dan terlihat miskin sehingga nggak bisa disejajarkan dengan para turis asing yang makan siang di sini.
mimpi apa saya semalam, kok siang ini mendadak terlihat miskin di warung made legian.
Feb 28
Femi Adicerita bumijo, friends from heaven amerika, bali, bandara, esti, ngurahrai
ternyata saya masih femi yang dulu. yang selalu cengeng, dan mudah menangis. humh. tak banyak yang tahu.
saya ingat persis masa kecil dulu saat esti kerap dipukuli ayah karena bandel dan suka bikin saya ngak-ngek alias merengek sebal. kakak semata wayang saya itu memang sangat usil dan jahil. esti yang dipukul, malah saya yang menangis. esti sih cuek-cuek saja.
tapi begitulah saya, dan begitulah esti.
dan, saya tak menyukai perpisahan yang selalu membikin saya mewek alias menangis. sialnya, kali ini saya harus berpisah dengan esti. punggung yang berbalik, lambaian tangan, cium perpisahan … sepertinya menyedihkan dan sangat dramatis. apalagi, kali ini saya berpisah dengan satu-satunya keluarga saya! gosh …
early warning sudah dibeberkan esti, soal rencana hidupnya. soal tahun-tahun kepulangannya yang akan datang. soal pekerjaannya. soal kehidupan pribadinya. saat sesi curhat berlangsung, ya biasa saja. jam-jam terakhir bersama esti pun biasa saja. bahkan, saat esti meninggalkan saya di bagian luar bandara ngurah rai untuk check in barang-barangnya, ya tetap biasa saja.
eng ing eng …
butiran bening muncul dari sudut mata saat esti keluar dari bagian check in, dan mengatakan, “lancar … dan cepet … ” yaaaaahh! eits, bukannya saya pengen proses check in esti tidak lancar dan tidak cepet. tapi …
dan saya menangis. duh.
i love u, sist …
Feb 26
Femi Adicerita bumijo, friends from heaven ayah, femi, hidup, jakarta, jogja
1.000 hari sudah selesai. saya siap berkemas, melanjutkan hidup saya.
saat ini saya merasa masuh di dalam labirin, terus berputar dan berusaha mencari jalan keluar. pun, tak saya temukan jalan keluar itu. pfuih.
hidup yang sederhana ini nyatanya tak sederhana saat ayah dan ibu pergi. pun, esti kembali ke amerika. saya sendirian. yaps, si bungsu sendirian. seperti tak punya pegangan. pun pijakan tak juga kokoh.
meski cetak biru sering saya desain saban tahun, tapi entah, saya merasa kembali pada titik nol lagi. kembali pada kehampaan yang pernah saya cecap bulan akhir mei, tiga tahun silam.
jarum jam terus bergerak ke kanan. saya harus melanjutkan hidup saya.
Feb 25
Femi Adicerita bumijo, friends from heaven amerika, bumijo, esti, jogja, USA
esti selalu memiliki kejutan yang membikin saya geleng-geleng kepala.
kali ini adalah rambut tambalan untuk kucirannya yang sangat pendek. bentuknya karet, namun yang mengitari karet itu adalah helai rambut yang menyerupai rambut asli. sehingga, kalau esti kuciran, dan mengareti dengan karet berambut tambalan itu, sepertinya rambut esti seperti dikonde dengan jeprikan-jeprikan rambut yang mengesankan. duh.
lucu juga, dan inspiratif. karet berambut tambalan itu dibungkusnya dari centro.
yang bikin geli adalah karet itu sering sekali dikaitkan di pergelangan tangannya. waah. jadinya seperti ada rambut yang mengitari pergelangan tangan esti. iiiih ..
lebih lagi, esti sering meletakkan di sebelah kasur, atau di sembarang tempat. terlihat seperti ada segenggam rambut yang mengumpul namun bercecer di sebelah kasur, di kursi, di meja …. iiiih !!!
Older Entries