Apr 21
Femi Adifriends from heaven atmajaya, bangsat, gudeg fatmawati, jogja, kuliah, teman
saya mengenalnya sepuluh tahun belakangan.
ya, sepuluh tahun. lama ya? sayangnya itu tak bisa membuat saya mengenalnya sepenuh hati. mengenalnya sepenuh-penuhnya tentangnya. saya hanya mengenalnya dari anggukan untuk melajukan roda dua di jejalanan jogja. dari senyum hangat dan rasa terimakasih untuk secangkir teh manis di pagi hari. dari lembaran rupiah yang ditukarkan dengan dua buah tiket film di TIM atau Jakarta Theatre. dari cuilan tahu yang kami cecap di pinggiran Harmoni.
sungguhpun, saya tak pernah bisa menyentuh hatinya. meyakinkan diri bahwa ia adalah ia. dan kepercayaan itu tak pernah terbentuk.
“menikah yuk!” ajaknya.
seperti main-main. seperti mengajak berbelanja sayur-mayur di pasar kranggan. seperti hendak piknik menghabiskan ujung minggu. seperti obrolan di ujung sabtu yang hanya basa-basi. iya, seperti main-main. seperti tidak serius.
baginya, menikah adalah urusan pelukan yang hangat saat malam sudah merapat. menikah adalah mengantar pagi hari ke kantor, dan menjemput sore hari. menikah adalah memiliki empat anak dan membesarkannya. menikah adalah sebuah umbaran janji, “aku jamin kamu bahagia.”
tapi tidak demikian buat saya.
menikah dengannya adalah menghapuskan rekaman hitam atas apa yang ia lakukan pada saya kemarin.
di sebuah senja, saya harus bergegas pulang dan menyiapkan makanan untuk ayah di rumah. “kok buru-buru pulang? nanti saja. kan ayah bisa makan sendiri dirumah. ayah kan bukan anak kecil lagi.”
atau, peristiwa lain.
sore yang pedih, kami duduk berempat, merundingkan perasaan, dan mencoba berkompromi dengan situasi. ya, saya tak pernah bisa melupakan sore itu. saat perempuan itu berkata sambil meliriknya, “gue cinta sama dia … “
atau, peristiwa lain lagi.
temu janji dibikin untuk menonton film. di ujung waktu, sebuah pesan pendek masuk dan menjelaskan kalau agenda itu harus dibatalkan karena ia baru masuk rumah untuk istirahat. lelah. tapi beberapa hari kemudian, dalam sebuah perbincangan, “tempo hari aku kan masih liputan …”
saya menumpuk lelah. saya menumpuk amarah. saya menumpuk rasa kesal.
ya, saya enggan berjibaku lagi dengan segala omong besarnya. untuk kehidupan yang menyenangkan paska menikah dengannya. pun saya tak bisa menjamin akan menyenangkan hidup dengannya. dan, kali ini saya tengah tak ingin berpetualang dan ‘mencoba-coba’ hidup dengannya. ini bukan sebuah percobaan atau acara main-main. ini adalah tentang kehidupan.
sepuluh tahun mengenalnya, dan cukup.
mengiyakan tawaran pernikahan dengannya, sepertinya itu adalah judi besar dalam kehidupan saya.
Apr 19
Femi Adifriends from heaven jakarta, sahabat, teman

selalu ingat popeye
berapa lama saya tak menjumpainya ya.
saya enggan menghitungnya. terasa lama, dan sudah pasti saya menumpuk rindu hingga menggudang. saya juga enggan berpikir hal buruk tentangnya. ya, semoga dia baik-baik saja.
gara-gara menyeruput dilmah tea, saya mengingatnya: popeye.
harusnya saya tak memilih dilmah tea dari sogo tadi. harusnya saya memilih teh lain. bukan dilmah tea.
membenamkan teh dalam cangkir dan menyeduhnya dengan air panas, seperti menggerojokkan rasa kesal karena ia tak pernah berkabar.
say hi? tidak pernah.
ya, tapi saya rindu dengannya. rindu dengan gelaknya. popeye, kolega di ujung minggu yang selalu membikin saya membubuhkan catatan dalam halaman putih ini.
*semoga kamu masih hidup ya popeye!*
Apr 19
Femi Adifriends from heaven, weekend escape jogja, mas sarujuk
andai saya bisa menghitung berapa kali jantung saya berdetak.
bukan, bukan. saya sedang tak jatuh cinta. bahkan, saya tak sedang mengagendakan jatuh cinta dalam waktu dekat ini. tapi sungguh, kekakuan ini mendera saya. seperti enggan tersenyum, tapi harus tersenyum. seperti enggan berbincang, tapi harus berbincang.
saya tahu, saya tidak bisa tersenyum lagi untuknya. untuk sebuat jejalin hangat yang pernah kami lalui sejenak dan untuk jemari yang sebentar mengamit.
entah, kenapa bisa begini.
mas sarujuk, maafkan saya.
Apr 18
Femi Adikegemaran, kuliner, weekend escape jogja, makan, makanan
kami berbincang, duduk bertiga.
menikmati aura hangat (plus sumuk) dari bangunan besar di omah dhuwur di bilangan kotagede. juga semilir angin yang enggan merangsek ke arah kami. ya, kami hanya bisa mengibaskan tangan, atau meniup kecil ke arah diri kami sendiri. seperti meyakinkan, bahwa bangunan besar tak selalu menjanjikan kenyamanan dan rasa dingin.
“mau makan apa?” tanya saya pada mereka. mobag dan mokun.
kami memilih dari deretan menu yang tercatat di buku besar. kakap bumbu kuning. ayam goreng sere. sop buntut ala omah dhuwur.
saya terpaku melihat satu nama menu. gurameh grontol.
wacks. gurameh grontol? lutju bener namanya. kami tak bisa berhenti terbahak. gurameh grontol.
saya tak mencobanya, ngeri rasanya membayangkan ada grontol ditaburkan diatas gurameh. saya memilih sop buntut goreng ala omah dhuwur, sementara mokun mencoba ayam goreng sere, dan mobag menjajal kakap bumbu kuning.
dessert-nya, kami menjajal omah dhuwur palm banana. “ini banana split model jawa …” sergah mobag. sepertinya, pisang dibakar, dan dicelupkan dalam gula jawa. lantas, ada pancake tipis yang menutupinya, dan bubuhan es krim di atasnya.
sedap.
terima kasih untuk malam yang menyenangkan. terima kasih. terima kasih.
Apr 04
Femi Adicerita bumijo, friends from heaven esti, femi, ultah
kini saya bergerak menuju usia 30.
perasaan saya sama persis saat saya berusia 19 tahun, dan merasa sebentar lagi akan mengancik usia 20. gosh. saya hampir melewati satu dekade.

Tumpeng dari keluarga mas offy. So thanks!
usia 20, saat saya kehilangan ibu. usia 21, saat saya harus berjibaku menyusun portofolio untuk curriculum vitae saya. usia 22, saat saya mencoba pacaran, selingkuh, bekerja dan kuliah dalam waktu yang bersamaan. usia 23, saat saya mulai bekerja di pabrik kata-kata. usia 24, saat saya merasakan jatuh cinta dengan begitu banyak laki-laki di waktu yang bersamaan (oops!) dan lolos untuk menjadi pekerja tetap di pabrik ini. selebihnya, esti harus berangkat ke chicago dan saya harus mulai berkendara ke jogja saban minggu untuk menjenguk ayah. usia 25, saya mulai bersahabat dan berjejalin dengan abang, tetap menghormatinya sebagai atasan sekaligus membuatnya sebagai teman yang menyenangkan. usia 26, saya kehilangan ayah. usia 27, saya belajar di jerman dan mulai mempertebal portofolio kembali. usia 28, saya harus mengakhiri jejalin dengan tokiko onose.
usia 29, …
kini saya punya segalanya. pekerjaan yang baik dan menyenangkan, teman-teman yang tak pernah membuat saya kesepian, aktivitas yang rutin dan mengasyikkan, rumah di jogja yang bikin adem, esti yang selalu bisa menjadi rekan, dan halaman putih sebagai catatan kehidupan. selebihnya, saya punya mimpi tentang tokiko onose dan mimpi untuk mempelajari hal baru dalam hidup ini.
saya bersyukur, ada begitu banyak keajaiban yang saya dapatkan dalam perjalanan setahun menuju usia 29 ini. tentang relasi, tentang kolaborasi, tentang memaafkan, tentang rencana hidup. saya juga bersyukur, ada esti yang selalu mendorong hidup saya untuk menjadi lebih baik.