femi, welcome back!

Comments Off

“femiii!” teriak suara yang sangat saya kenal.

taufik. whew! dan ia langsung memeluk saya hangat. sesudahnya, yang lain berlarian untuk mengerubungi saya, membenamkan kepalanya diantara bahu dan kepala mereka, dan membisikkan, “hope you’re fine … ” atau “hope you’re better …” atau “everything is ok? ya ya, everything will be ok!”

sedangkan yang lain memamerkan flyer yang dicetak dengan huruf sangat besar di kertas HVS. “femi, welcome back!” ow. rupanya mereka menyebar di setiap gerbong; lantaran tak tahu pasti saya berada di wagon nomer berapa.

saya terharu. sungguh, saya terharu. saya melepas kepergian mereka dari berlin dengan wajah murung; dan mereka sangat mengerti. sesudahnya, mereka tetap menyokong saya usai saya tiba di bonn.

seperti artis. seperti bintang.

mm … tidak, tidak. barangkali bintang yang lagi kesusahan. artis yang lagi  mengusung kemalangan.

terimakasih, anyway. terimakasih. pelukan kalian menghangatkan hati saya. pelukan kalian juga menggemukkan kembali semangat saya.

thanks, bastian!

Comments Off

you are my i, bastian! :) danke!

you are my 'i', bastian! :) danke!

dia tiba-tiba melotot ke arah saya. persis hanya berjarak 30 cm-an. “femi?” tanyanya.

ya. dan kami pun melekatkan tangannya pada saya. hangat. sebentar, kami berbincang tentang banyak hal. sembari menyeruput kopi pagi yang hangat ditengah dinginnya berlin. kami berbincang. dan terus berbincang.  tentang prostitusi di berlin, tentang pekerjaannya, tentang editing yang dilakukannya.

sesudahnya, kami beranjak untuk menuju kedutaan, membikinkan paspor sementara baru untuk saya. lucunya, bolak-balik kami menyeberang jalan, mencoba untuk menemukan jalur bus yang tepat. dan engga pernah tepat. ;) alhasil, jalan kaki meski terasa agak jauh untuk bahu yang menenteng dua laptop di punggung.

“saya pernah ke sini saat kuliah dulu; saat itu ada gamelan performance dan saya melihatnya. kamu pasti engga percaya kalau saya belajar bahasa indonesia … ” katanya. ow …

geli juga, ia mendapatkan pelajaran bahasa indonesia; dan tidak ada satu pun yang tertinggal di kepala. jangankan saya, dia sendiri pun geli.

dan semuanya berjalan dengan mulus. thanks gosh.

pengajuan paspor anyar, laporan kehilangan, foto, dan … saya mendaptkan paspor anyar untuk saya.  swnyum ramah petugas di KBRI nyatanya membuat hati saya menjadi lebih adem.

hingga saya dan bastian menikmati masakan jerman di potsdamer platy, sembari berbincang tentang natal di indonesia dan jerman, juga bagaimana kekuatan muslim ada di negara kami. whew … perbincangan yang menarik ditengah-tengah makan siang di musim dingin! ;p

berlin. berlin. berlin.

“keep this, bastian …” kata saya, sembari mengulurkan dasi silk untuknya. terima kasih. terima kasih.

saya memeluknya hangat, dan langsung meloncat ke kereta menuju bonn.

(ps: lots of fun with you, bastian. with the lost-direction to embassy, things that remind you of bahasa indonesia lesson years ago, elephant otw to potsdamer platz, and the delicious food. danke schoon!)

makan, makan, makan

Comments Off

porsi yang sangat besar!

bisa jadi, saya tidak begitu memahami porsi makanan yang begitu besar di jerman saat saya menyambangi negeri ini, 2007 silam. pasalnya, adanya pantry di apartment membikin saya ikhlas untuk memasak. :)

sekarang? engga bisa masak. hotel yang saya huni engga menyediakan pantry. dus, saya harus membungkus pork, pork dan pork di kantin casino, deutsche welle.

dan porsinya sungguh sangat besar. :p fortunately, saya mengasupnya setiap hari! whew!

ehm ehm. tapi saya menyukainya kok. menu di kantin casino berganti setiap hari. tetapi, saya selalu menyurungkan piring saya pada petugas yang meladeni meat, meat, meat. :p jika ada pork, saya memilih untuk antri di barisan meja dengan paket pork di dalamnya. dengan kentang atau kartoffeln, sayuran dan pork!

sekali saya menjajal untuk menyantap ayam (atau kelinci ya?) tapi kok rasanya susah dan engga sedap. porsinya terlalu besar; setengah ayam untuk seorang. whew! engga ada irisan yang lebih kecil untuk perut asia, rupanya. :)

tapi saya menikmatinya. ya, sungguh menikmatinya.

dan urutannya selalu sama: ambil nampan dengan tisue, pisau, sendok dan garpu. sesudahnya mengantri dengan manis di barisan menu paketan. :) untuk kentang dan sayuran, boleh ambil sendiri. namun untuk mendapatkan irisan daging, saya harus menyurungkan piring ke arah petugas daging.

antrian yang panjang, saya selalu mengasumsikan ‘pasti enak’. nyatanya, itu ada di urutan pork maupun beef. dan seberapapun porsinya, saya selalu berhasil menghabiskannya; meski mendapatkan dua iris pork yang supertebal untuk perut saya.

terima kasih. terima kasih.

coca cola light plus

Comments Off

sinting ah.

setiap hari usai makan siang saya selalu menempelkan kartu sakti deutsche-welle untuk mengunduh satu botol coca cola plus lemon. whew. ya, sebenernya saya bukan penyuka cola. hanya saja ini seperti berbeda. nyegraknya cola engga terlalu nyegrak lantaran tersamarkan oleh rasa lemon di dalamnya.

saya menyukainya sejak kedatangan saya di deutsche welle. minuman yang nyentrik; sepertinya layak coba. soalnya, saya engga ingin membuyarkan makan siang saya dengan mengasup bier sebagai penggelontor pork maupun beef yang saya bungkus untuk perut saya.

minuman ini hanya tersedia di sejumlah negara. sayangnya, engga termasuk indonesia. mereka yang memiliki peluang untuk mengguyurkan cola plus lemon ke tenggorokannya diantaranya american samoa, HK, macau, austria, belgia, brazil, china, denmark, china, bosnia herzegovina, finlandia, france, jerman, malaysia, mongolia, portugal, korea, belanda, swiss, tunisia dan singapura.

namun, minuman ini sudah mandek beredar di norwegia, australia, meksiko, NZ dan UK.

ada yang mau?

ada kambing di kontan

Comments Off

saya tergelak saat membuka halaman koran di pabrik kata-kata tempat saya bekerja. soalnya, ada kambingnya euy!

ya, ini memang mulai menjadi ritual pabrik saya sejak ketambahan satu desainer untuk memperkuat tim webmaster/webdeveloper. pabrik saya menjadi lebih lucu, lebih menarik dan lebih cihuy tanpa mengurangi kualitas taburan huruf dan angka.

setelah batik pada hari batik, dan kepalan tangan di hari sumpah pemuda; saya menemukan kambing untuk memperingati hari idul adha. saat lutut bersimpuh, takbir digemakan dan kambing maupun sapi dikurbankan;  pabrik kata-kata tempat saya bekerja pun turut meryakannya. :)

saya, tak selalu merayakannya. idul adha usai setelah ayah dan ibu pindah ke rumah mereka yang baru. tak ada kambing, tak ada sapi. mm … tak apa.

tapi keriaan lain tetap muncul seiring dengan kambing yang nangkring di pekarangan pabrik saya. :) )  well, selamat hari raya idul adha.