kami berjalan begitu cepat. memburu restoran vietnam. sialan, kemana sih itu restoran?
drunken master diberitahu osang, bahwa ada resto vietnam anyar yang letaknya engga jauh dari hotel. ya, kalau berjalan kaki paling hanya 10 menit saja. tapi kami berjalan, dan terus berjalan, nyatanya tidak juga mendapatkan resto vietnam anyar itu. owh!
kaki sudah kribo. perut sudah meraung. wajah sudah pucat. kaki sudah gemetar. mana restoran vietnamnya? manaaa?
sonam dan shang heng sudah cemberut. menandakan perjalanan untuk berburu makanan vietnam ini terlalu jauh, dan susah dilalui. sementara, angin 4 derajat makin membikin kulit keriput.
hingga ada satu restoran dengan label vietnam. ya, itu restoran vietnam, tetapi engga baru. sialan. setelah sembilan mulut berdebat kecil, kemudian kami memutuskan untuk masuk, duduk, memesan makanan, makan, dan pulang.
tetapi masalah muncul lagi. pelayan di resto vietnam itu engga bisa bahasa inggris. duh, repotnya. kami harus bicara dengan bahasa tarzan untuk menjelaskan chicken, rice, dan makanan yang sebenarnya sangat jamak dijumpai di resto manapun.
bahkan, taufik pun harus menjelaskan dengan cara menirukan kokok-ayam untuk menjelaskan bagaimana rupa chicken itu. ow!
dan saya pesan bebek yang dipasangkan dengan bitburger bier. menakjubkan. bebek dengan saus mm … saus apa ya namanya. yang penting enak. bahkan saya dengan lahap memakannya sampai tuntas. super! *pinjam sebentar istilah yang selalu digunakan oleh thotsten* pema, master dan saya yang makan bebek, harus berbagi mangkuk untuk berbagi nasi. saya … mmm, ya, makan nasi juga; sedikit.
dan acara tarzan kembali terulang. soalnya, kami harus menunjuk piring kosong dengan tipe gelas yang kami gunakan. humh. ajaib.
Visiting Berlin as a Capital City of Germany means meeting with the bears. Yaps, The Standing Bear become a quite common in Berlin region. Lots of bears around Berlin; including in the pathway to the toilet! Whoops!
Tried to get the connection between Berlin and the bears, owh, I didn’t find it. The origins of the city name “Berlin” has no relation with the bears. “Berlin” seems to derive from an older Slavic word, “Brl”, means marsh or very damp place. Ow!
But, the bear become a mascot of Berlin and it’s present on a flag of Berlin. And the prize of famous Berlin International Film Festival is Golden Bear statue. Moreover, the Berlin bear first appeared on the seal of an official document in 1280.
"Everytime I visit Bonn, I always have Bonnsch ..." said the consumer.
saya beruntung berada di jerman; bukan haya mengeduk ilmu tetapi juga menyedot bier langsung dari breweries-nya.
dengan drunken master dari cambodia, kami memiliki waktu-waktu yang menggembirakan di bonnsch bar di bonn untuk mencicipi bonnsch bier. mulai dari memburu informasi mengenai bonnsch, satu-satunya brewery yang tersisa dari 44 breweries yang ada, bersama dengan sonam dari bhutan. selebihnya, mencuatkan keriaan bersama dengan shangheng, pema, raksmey, sonam dan juga master di bar yang sama.
kami berbagi cerita tentang bir dari cambodia; yang bakal saya nikmati april tahun depan. (ow, raksmey menjanjikan ini untuk saya!) juga tentang rumitnya sistem organisasi jurnalistik di negara-negara kami. selebihnya, soal bir yang hanya mampir sebentar di bibir sonam; dan pertanyaan, “femi, kamu nambah bier lagi?” ow ow ow …
dortmund memories
di restoran vietnam di berlin, hanya saya dan drunken master yang memesan bier. yang lain pesan coke, apfelschorle, apfel juice dan juga orange juice. yang kami angkut adalah hanoi bier. lebih ringan dari kolsch, bonnsch dan juga tier dan berliner kindl. saya berharap bisa mencicipinya kembali esok.
bitburger menjadi pilihan saya dan drunken master di restoran vietnam di bonn. disitulah si master bilang, jenis huruf atau font label bier di jerman memiliki tipikal yang sama. kami setuju untuk lebih meunyukai hanoi bier ketimbang bitburger. tapi, bitburger tetap saja enak.
lelah usai menelanjangi potsdam, saya memilih untuk mengguyur kerongkongan dengan franziskaner bier dari munich. cenderung manis, dan sepertinya hanya ada dalam porsi tanggung.
dengan lola devung di dortmund, kami menepi dari dinginnya angin yang mencubit kulit di bar milik thier. sebenarnya, ini adalah kekeliruan kecil lantaran awalnya kami berniat memburu gluhwein. whoops. engga jual gluhwein rupanya. :p alhasil thier bier pun kami cecap.
berlin beer or hanoi beer?
duduk di bar, dengan suasana yang semuanya serba-bule meninggalkan catatan di benak yang berbeda saat saya mencecapnya di jakarta, jogja, maupun bali. keramahan orang jerman, kesediaan untuk memotretkan kami berdua, mencelotehkan kenangan masa muda, menjadi warna yang menarik di sore yang dingin di dortmund.
dan gaffel kolsch. yeyyyy! pelayan yang berbaik hati mengantarkan gelas-gelas kolsch bier untuk saya. ini bir yang sudah saya tunggu sejak saya masih ada di jakarta. kolsch. ow. so light! dan kehangatan bar gaffel kolsch di sekitar katedral-hauptbahnhof menjejakkan cerita lain tentang bier khas jerman bagi saya. so thanks untuk mba tuti yang menemani saya disini!
bier memang menjadi salah satu ikon untuk jerman, disamping bratwurst. tapi merujuk pada data yang dirilis di weisbaden awal tahun ini, konsumsi bier di jerman anjlok 0,9% tahun lalu menjadi 8,7 miliar liter dan ekspor bier juga mengkerut. ekspor ke wilayah EU hanya 1,1 miliar liter atau turun 1,2% , sementara itu ekspor ke wilayah non-EU terkikis 4,1% menjadi 0,3 miliar liter.
ya, bier. bier. bier. thanks for being a good friend for me.