bersiap pulang untuk pijet

Comments Off

saya suka pijet.

di jogja, saya melanggani nakamura di amplas dan martha tilaar di gejayan untuk melegakan kembali tulang dan otot saya yang saya pekerjakan hampir 20 jam setiap hari.

keduanya, nakamura dan martha tilaar, menawarkan gaya pijet yang berbeda. di nakamura, saya tak perlu ucul-ucul alias copot baju, dan tanpa minyak pijet. dus, tinggal menggeletak begitu saja dan mbak menur akan mengurus tulang dan otot saya. sedangkan di martha tilaar, saya memulainya dengan ucul-ucul, steam, pijet dan mandi.  saya selalu minta dipijet mbak tari di martha tilaar.

yah, saya suka keduanya.

saya lebih suka pijet ketimbang kerokan; persis dengan ayah saya yang doyan pijetan ketimbang kerokan. sementara itu, ibu dan kakak saya suka keduanya.

saya harus berkemas. mengepak baranng untuk pulang ke jogja, untuk pijet. selebihnya, mencacah hari bersama dengan si beb,  dan menjumpai ayah dan ibu di rumah mereka yang baru.

ada yang mau ikut?

hujan-hujan saban pagi

Comments Off

mensyukuri apa adanya musim

belakangan,jakarta diguyur hujan tiap pagi, tiap hari.

sudah sampai depan pagar rumah sewa, eeh, gerimis. mau engga mau, saya harus kembali untuk mengambil payung. usai keluar lagi, eeh, engga gerimis. duh.

ya beginilah. hujan datang engga diundang. secara engga sadar, saya sering mengeluh, kenapa mesti hujan. tapi kalau engga hujan,pun saya sering mengeluh kepanasan.

humh. saya mesti bersyukur dengan apa yang ada. mau hujan atau engga, setidaknya saya punya tempat berteduh dan menepi dari keduanya. saya juga masih bisa menyicipi kasur empuk di rumah sewa maupun sleeping bag hangat di kolong kubikel.

dan saya juga mesti bersyukur, saya punya penangkal hujan alias payung dan jaket. dus, tidak ada alasan untuk ogah keluar karena gerimis atau tidak punya peneduh mobile.

dan saya menikmatinya. menikmati hujan tanpa ketakutan. menantang angin tanpa kekhawatiran.

tengah malam bersama dengan soe, menyusuri jalanan utama di jakarta setelah dua setengah jam meriung di bubur kwangtung pecenongan.

juga membelah selatan jakarta bersama dengan mbak ika demi seporsi bitterballen di kedai hema.

humh. tidak takut tidak takut tidak takut … :) )

image courtesy: flickr