Content

when writing the story of your life, don't let anyone else hold the pen

Rp 348.000 = ongkos pipis di mall

Monday 8 November 2010 - Filed under kubikel + ragam cuatan

cukup sudah ...

kaget bener saya, klaim laboratorium saya ditolak dengan alasan: pemeriksaan ke laboratorium atas permintaan sendiri.

lalu, seharusnya atas permintaan siapa ya? bagian keuangan? bagian sirkulasi? bagian security? minta surat pengantar dari klinik? olala …

ongkos berlaborat itu memang tak terlalu mahal: Rp 348.000 untuk periksa urin dan darah untuk kadar gula darah, asam urat, BUN, lemak, hati, ginjal. usia 30 tahun, sudah semestinya cek darah rutin tahunan; dan saya sudah memulainya sejak tiga tahun silam.

barangkali harus menunggu sakit, opname, bahkan mati untuk bisa cek laboratorium gratis dan mendapat penggantian klaim. dus, yang sadar kesehatan engga perlu difasilitasi; bisa jadi, karena cek darah dan urin macam begini dianggap ‘iseng’ saja.

padahal, saya engga iseng lho. saya sadar betul sesadar-sadarnya, bahwa kesehatan ini aset. bukankah ada kalimat klise seklise-klise-nya: mencegah lebih baik ketimbang mengobati.

gilingan ah.

kalau harus sakit dulu, lantas berobat ke klinik, dan mendapat surat pengantar untuk ke laborat agar free of charge¬† …¬† waduh, siapa sih yang mau sakit dulu? biar dibayar, saya juga engga mau kok sakit.

dengan Rp 348.000, saya tahu benar kadar gula darah saya yang meningkat begitu tajamnya, sehingga saya bisa mengatur pola makan, kebiasaan, dan juga asupan gizi agar sesuai dengan hitungan ahli gizi, internis dan hasil laboratorium. dengan begini, saya mencegah pekerjaan saya yang menjadi berantakan akibat saya absen, dan saya juga mengantisipasi pengeluaran pabrik kata-kata yang lebih besar akibat gula darah saya terlalu tinggi karena telat mengantisipasi.

humpf. aneh, bener-bener aneh.

beruntung saya tahu betul bagaimana siklus tubuh saya. ini jauh lebih penting ketimbang penggantian atau fasilitas pabrik kata-kata untuk ongkos laboratorium itu. kalau begitu, saya akan menganggap Rp 348.000 sebagai ongkos pipis di mall saja; lebih lucu ketimbang menyebutnya sebagai ‘ongkos pipis di laboratorium’.

(ps: saking jengkelnya, saya menulis status di ym saya: klaim laboratorium ditolak karena “permintaan sendiri”. aneh. berharap mati saja, karena pasti itu “bukan permintaan sendiri”)

Tagged: » » » »

2010-11-08  »  Femi Adi