dadah-dadah di stasiun

Comments Off

thanks kang kb!

saya terharu.

kang kadal basi mengantarkan dan menemani saya hingga ular besi ini berarak meninggalkan jogja. hayyyy …  hati saya rasanya kemrenyes. duh duh duh …

tidak ada yang pernah mengantarkan saya pada tempat yang selalu bikin hati saya campuraduk ini, ya, stasiun ini. mungkin lima tahun lalu, atau enam tahun lalu, saat laki-laki dengan genggaman yang hangat itu mengecup hangat pipi dan kening saya di stasiun, dan sesudahnya menghilang tak ketahuan rimbanya.

dan saya tak pernah meminta siapapun untuk mengantarkan saya pada stasiun yang selalu mengeduk memori buruk itu.

tapi janji temu dibikin sejak sabtu kemarin, dengan kang kadal basi. kami bakal bertemu di stasiun tugu ini, tepat jam 10 malam. “aku pakai jaket ungu ya …” katanya. aduh, seperti blind date!

seorang laki-laki muda sempat memanggil saya, dan membikin saya ketakutan setengah mati. meski ini ‘hanya’ jogja, tetapi tempat publik dan panggilan yang tak ketahuan juntrungnya selalu membikin saya paranoid. More

nyadran, menaklikkan doa untuk ayah dan ibu

Comments Off

see you soon, mom, dad!

ini bukanlah upaya ekstra. tetapi sebuah kewajiban.

ya, saya dan esti, kakak saya, menyambangi rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.

pekarangan dengan tumpukan dedaunan kering. dinding yang melumut. aih, ini rupanya rupa rumah mereka setelah tak kami sambangi lebih dari sebulan.

“ini bener-bener nyadran …” seloroh esti.

bukan hanya bunga khusus yang kami siapkan untuk mereka; bunga anggrek dengan rerimbunan crysant dan juga sedap malam. lebih dari itu, tangan kami berselancar untuk meminggirkan hijaunya lumut yang membubuhi dinding rumah mereka.

dan sore tak menciutkan nyali kami untuk tetap disini. di rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.

saya rindu mereka.

selaksa peristiwa selalu membayang saban acara kunjungan ini datang. taburan bunga ibu di rumah simbah kakung dan simbah buyut; hingga penyesalan ayah soal ketidakhadiran ibu mengiringi kehidupan kami yang mengancik kedewasaan.

saya rindu mereka.

kini menjadi lebih hangat

Comments Off

terasa lebih huangat ...

minggu lalu, kunjungan ke hunian ini terasa anyep.

minim perkakas, bahkan boleh saya bilang: sangat minim. gelas-sendok-piring seadanya. beberapa makanan dan kertas-kertas membaur berserakan di meja besar. sementara itu, sabun mandi, bayclin, sabun wajah dan sikat gigi berbaris rapi diatas toilet.

duh!

tapi ya biar saja. saya tak bisa berkomentar banyak. maklum, suara ini keburu tercekat di tenggorokan karena terhadang oleh suaranya yang lebih banter, lebih cepat dan lebih nge-klaim. :) jadinya, saya hanya diam dan iya-iya saja.

tapi, tidak hari ini. kunjungan malam ini terasa lebih menyenangkan. ada televisi besar dan flat. ada lemari makan. ada lemari perkakas. ada rak piring. “maaf ya, aku udah beli lemari, dan lebih murah dari punyamu,” katanya. kami pun terbahak. tidak, tidak. lebih murah, tapi tentu tidak lebih bagus! *engga mau kalah*

apapun itu, saya merasa lebih berasa ‘ada di rumah’ disini. tentu saja, dengan esti, kakak saya.

sesudahnya, kami berguling di kasur, mengunduh keceriaan dari hiburan televisi maupun teh manis dingin.

sate ayam datang dengan porsi super mini

Comments Off

first round: mengecewakan

rasa lapar membikin langkah ini terasa berat; bahkan menggemetar.

tapi permitaannya sungguh engga mudah untuk dicari di plasa semanggi: sate ayam dengan lontong. usai perburuan cukup melelahkan, kami mendapatkannya di warung pojok; warung dengan desain jadol dan masakan lawas pula.

sate dan lontong pesanannya datang. sementara itu, pesanan saya pun datang: tahu telur.

kami menggelak, dan tak berhenti terbahak. kami tertawa bahkan nyaris seperti menangis. ya ampyun, porsinya super mini! sudah mini, super lagi! duh duh duh … lima tusuk sate ayam, dengan irisan lontong yang tipis dan dalam hitungan yang engga lebih dari dua tangan.

porsi yang memenuhi perut kami biasanya besar. iya, besar. yaaah … kalau engga besar, minimal normal lah. dan yang ini engga normal! ow ow ow!

acara bayar-membayar kemudian menjadi kian tidak enak: sudah mahal, porsinya kecil pulak! :)

bagaimana kalau second round!?? tak letih memburu sate ayam, kami pun merangsek ke pejompongan. yaps, sate djono jogja!

“dua sate kambing, satu sate ayam, tiga lontong, dua es teh tawar!” katanya, kalap.

sembari menunggu pesanan, kami membincang soal bungkusan sate ayam podomoro di jogja, soal rasa shock makan sate ayam di warung pojok, juga soal terakhir kalinya makan sate djono di jogja. yay, sate djono adalah kenangan bersama ayah. aihs, tak berasa, sembari berbincang, sajian tahu sumedang berisi sepuluh tahu pun ludes kami lalap.

pesanan datang!

dua sate kambing, satu sate ayam, tiga lontong, dua es teh tawar. dan semuanya habis kami lahap. :)

today is that ’someday’

Comments Off

where have you been, dear?

saya pernah berkirim pesan pendek pada si beb: see you someday.

maksutnya: entah kapan. bisa besok, bisa tahun depan, bisa lima setengah tahun lagi … entah! gara-garanya sepele saja: ia mbikin janji palsu.

dan saya juga tak pernah menghitung kapan bertemu dengannya lagi.  pendeknya, ketemu syukur, engga juga engga masalah. :)

tapi masa itu rupanya datang. ya, ’someday’ itu rupanya telah tiba: hari ini, sabtu 10 juli 2010, setelah lama tak berjejalin sejak 19 januari 2010. dem.

dan saya memeluknya hangat. welcome home, beb. it seems that today is that ’someday’.

perempuan di sebelahnya barangkali pacarnya. ah, siapa peduli? si beb tetaplah si beb. laki-laki yang memenuhi ujung minggu saya di jogja; yang belakangan selalu datang dan pergi dengan keterburu-buruan.