Aug 02
Femi Adicerita pjka, kuliner gajayana, gambir, jakarta, jogja, kereta api, kereta gajayana, pjka, PTKA, stasiun, stasiun tugu

yummy!
sarapan!
saya nyaris tak pernah membungkus makanan dalam perjalanan berkereta. mm …. kadang dibikin asal-asalan lantas dilepas dengan harga yang tidak wajar.
tapi, pagi ini saya butuh makan. alhasil, saya membungkus nasi goreng yang ditawarkan di sepanjang gang gerbong. telur mata sapinya itu lo, kok sepertinya ngawe-awe.
porsinya sepertinya didesain untuk sarapan pagi. engga terlalu banyak, tapi juga engga terlalu sedikit. ada irisian mntimun, acar. tomat, telur ceplok, ayam goreng dan kerupuk super mini.
saya geli dengan kerupuknya. kecil bener. :p
saya melahapnya. lumayan lah. nasi goreng-nya berasa nasi goreng. bukan hanya nuansa nasi goreng.
sepiring nasi goreng ini saya tebus Rp 20.000.
buru-buru saya menarik selimut; dan tidur lagi. perjalanan ke jakarta masih agak panjang.
Aug 02
Femi Adicerita bumijo, cerita pjka jakarta, jogja, kadal basi, munggur, sahabat, singapura, stasiun tugu, teman

thanks kang kb!
saya terharu.
kang kadal basi mengantarkan dan menemani saya hingga ular besi ini berarak meninggalkan jogja. hayyyy … hati saya rasanya kemrenyes. duh duh duh …
tidak ada yang pernah mengantarkan saya pada tempat yang selalu bikin hati saya campuraduk ini, ya, stasiun ini. mungkin lima tahun lalu, atau enam tahun lalu, saat laki-laki dengan genggaman yang hangat itu mengecup hangat pipi dan kening saya di stasiun, dan sesudahnya menghilang tak ketahuan rimbanya.
dan saya tak pernah meminta siapapun untuk mengantarkan saya pada stasiun yang selalu mengeduk memori buruk itu.
tapi janji temu dibikin sejak sabtu kemarin, dengan kang kadal basi. kami bakal bertemu di stasiun tugu ini, tepat jam 10 malam. “aku pakai jaket ungu ya …” katanya. aduh, seperti blind date!
seorang laki-laki muda sempat memanggil saya, dan membikin saya ketakutan setengah mati. meski ini ‘hanya’ jogja, tetapi tempat publik dan panggilan yang tak ketahuan juntrungnya selalu membikin saya paranoid. More
Jul 31
Femi Adicerita pjka, friends from heaven jakarta, jogja, kereta, pjka, PT KAI, teman, travelling, weekend, winda

engga sengaja!
hanya selisih tahun, persisnya, selisih 12 tahun.
tapi apa mau dikata. ini adalah perjalanan yang terbilang unik. saya bertemu dengan perempuan yang memiliki tanggal lahir yang sama, bulan yang sama, dan tahun yang berbeda. dengan selisih tahun yang ada, kami memiliki shio yang sama. ini adalah kebetulan, kalau tak hendak dibilang sudah terencanakan oleh Si Empunya Hidup.
kami berkereta ke jogja, untuk tujuan yang berbeda. seperti biasanya, saya selalu minta duduk di kursi A atau D. apesnya, ya B atau C yang mudah tersepak oleh tas besar pelancong, maupun pantat yang kemana-mana. tapi, kali ini saya mendapatkan kursi yang dekat jendela di kereta argolawu tambahan.
” … maaf, mengganggu sebentar. tapi, itu apa ya?” tanyanya, menunjuk iPad yang tengah saya mulai mainkan untuk menyingkirkan kebosanan. sumpah, terbangun dengan srengenge yang begitu terang dan ternyata masih di purwokerto, membikin bosan kian menumpuk.
namanya winda; ibu dua anak sekaligus karyawan di kawasan segitiga emas jakarta, di kuningan. usai saya bilang soal iPad dan aplikasi yang bisa diunduh secara gratis maupun berbayar, pertanyaan yang menggelikan muncul: “ada filateli juga?”
aih. filateli.
kesenangan lama saya yang terabai oleh kesibukan-kesibukan kecil yang menggunung; ditambah dengan kemudahan berjejalin melalui serat-serat elektronik. hingga, hanya menyisakan kiriman kartupos untuk kang kadal basi di singapura, indah di kota kembang, dan beberapa kolega di tebaran benua.
ia pun membeberkan koleksinya; dengan porsi terbanyak dari australia. ia juga menuturkan keluarganya; dua anak perempuan yang manis dan juga suami yang mahir beladiri. “ini perjalanan berkereta saya pertama setelah tahun … tahun 2000!” katanya, setengah terkejut dengan waktu-yang-ternyata-bergitu-lama. ow!
perjalanan berkereta yang harus tertunda sekitar 3 jam akibat ada kereta yang anjlok di stasiun manggarai, nyatanya tetap menyisakan perjalanan yang menyenangkan.
“… nomer belakangnya 4480 karena saya lahir pada 4 april 1980,” terang saya, sambil menunjuk nomer seluler yang saya bagikan untuknya.
ia hanya mengangguk sembari tersenyum. namun dalam hitungan detik, ia langsung terperanjat. “eh, apa? 4 april 80?” tanyanya, mendesak. ia mengulurkan tangan, menyalami saya. “saya 4 april tapi 12 tahun lebih awal,” katanya.
aduh. OMG!
Si Empunya Hidup begitu baiknya. mengantarkan saya pada begitu banyak orang yang menyenangkan dan membikin saya bisa menebalkan pengalaman.
dan satu lagi, Si Pemilik Hidup juga mengantarkan saya pada winda, ibu dua anak sekaligus kolektor perangko yang melajukan tubuhnya yang mungil dengan langkah yang begitu cepat dan malam itu ‘kesasar’ ikut KRL ke kota dalam perjalanannya ke jogja.
*nice to meet you!*
Mar 18
Femi Adicerita bumijo, cerita pjka ayah, bumijo, ibu, jogja, pulang

tiket usang
saya kangen dengan suara kereta.
saya kangen dengan peluit petugas PPKA yang bertopi merah. saya kangen dengan jajanan pecel kembang kecombrang yang jamak saya asup di kereta tahun-tahun yang lalu.
kepulangan ke jogja, kini menjadi hal yang sangat mewah. ya, m-e-w-a-h. kini, tak selalu bisa melegakan punggung di kasur empuk semalaman dengan sangat nyenyak. kini, tak selalu bisa membincang dengan keriuhan yang ada dalam sepanjang perjalanan jakarta-jogja-jakarta.
tapi, saya tetap harus mensyukuri apa yang ada pada saya saat ini: perjalanan ke jogja yang begitu pendek, dan perjumpaan dengan kerabat yang begitu singkat. tak apa. pun, saya harus mensyukuri, saya masih tetap bisa berseliweran ke jogja lebih sering ketimbang kolega saya yang lain.
dan saya akan segera memburu suara itu: suara kereta.
saya sudah mengantongi tiket. yaps, saya akan pulang ke jogja ujung minggu ini. tentu saja, dengan naik kereta.
Oct 24
Femi Adicerita pjka gambir, jakarta, kereta, kereta api, PT KAI, stasiun
Saya tengah menunggu antrian tiket kereta saat perbincangan kecil itu saya kuping.
“… Minta yang tempat duduknya muka belakang ya …” Pinta laki-laki muda di sebelah loket.
“Muka belakang? Berhadapan … ” Kata si mbak penjaga tiket.
“Iya, muka belakang … ” Tegas si pembeli tiket.
“Berhadapan, mas … Bahasa indonesianya ‘berhadapan’. Bahasa indonesianya (mas nya gimana sih …)” Tandas si mbak loket.
Saya pun mulai mengeduk kekayaan kata dalam benak saya. Muka belakang, atau berhadapan ya?
Older Entries