iPad, filateli dan ulang tahun yang sama

Comments Off

engga sengaja!

hanya selisih tahun, persisnya, selisih 12 tahun.

tapi apa mau dikata. ini adalah perjalanan yang terbilang unik. saya bertemu dengan perempuan yang memiliki tanggal lahir yang sama, bulan yang sama, dan tahun yang berbeda. dengan selisih tahun yang ada, kami memiliki shio yang sama. ini adalah kebetulan, kalau tak hendak dibilang sudah terencanakan oleh Si Empunya Hidup.

kami berkereta ke jogja, untuk tujuan yang berbeda. seperti biasanya, saya selalu minta duduk di kursi A atau D. apesnya, ya B atau C yang mudah tersepak oleh tas besar pelancong, maupun pantat yang kemana-mana. tapi, kali ini saya mendapatkan kursi yang dekat jendela di kereta argolawu tambahan.

” … maaf, mengganggu sebentar. tapi, itu apa ya?” tanyanya, menunjuk iPad yang tengah saya mulai mainkan untuk menyingkirkan kebosanan. sumpah, terbangun dengan srengenge yang begitu terang dan ternyata masih di purwokerto, membikin bosan kian menumpuk.

namanya winda; ibu dua anak sekaligus karyawan di kawasan segitiga emas jakarta, di kuningan. usai saya bilang soal iPad dan aplikasi yang bisa diunduh secara gratis maupun berbayar, pertanyaan yang menggelikan muncul: “ada filateli juga?”

aih. filateli.

kesenangan lama saya yang terabai oleh kesibukan-kesibukan kecil yang menggunung; ditambah dengan kemudahan berjejalin melalui serat-serat elektronik. hingga, hanya menyisakan kiriman kartupos untuk kang kadal basi di singapura, indah di kota kembang, dan beberapa kolega di tebaran benua.

ia pun membeberkan koleksinya; dengan porsi terbanyak dari australia. ia juga menuturkan keluarganya; dua anak perempuan yang manis dan juga suami yang mahir beladiri. “ini perjalanan berkereta saya pertama setelah tahun … tahun 2000!” katanya, setengah terkejut dengan waktu-yang-ternyata-bergitu-lama. ow!

perjalanan berkereta yang harus tertunda sekitar 3 jam akibat ada kereta yang anjlok di stasiun manggarai, nyatanya tetap menyisakan perjalanan yang menyenangkan.

“… nomer belakangnya 4480 karena saya lahir pada 4 april 1980,” terang saya, sambil menunjuk nomer seluler yang saya bagikan untuknya.

ia hanya mengangguk sembari tersenyum. namun dalam hitungan detik, ia langsung terperanjat. “eh, apa? 4 april 80?” tanyanya, mendesak. ia mengulurkan tangan, menyalami saya. “saya 4 april tapi 12 tahun lebih awal,” katanya.

aduh. OMG!

Si Empunya Hidup begitu baiknya. mengantarkan saya pada begitu banyak orang yang menyenangkan dan membikin saya bisa menebalkan pengalaman.

dan satu lagi, Si Pemilik Hidup juga mengantarkan saya pada winda, ibu dua anak sekaligus kolektor perangko yang melajukan tubuhnya yang mungil dengan langkah yang begitu cepat dan malam itu ‘kesasar’ ikut KRL ke kota dalam perjalanannya ke jogja.

*nice to meet you!*

kumpul heboh, heboh kumpul

Comments Off

mulainya dari sini

ini bukan pertemuan pertama, tetapi kedua. tetapi, ini pertemuan pertama setelah sistem anyar ini menggelinding.

spaghetti, rogohan ponds yang bersembunyi entah dimana, hingga jendela yang dibuka sedikit; adalah pertanda keriangan dan semangat baru. yay, ini dunia baru kami. kami saling meraba. saling membuka. dan mencatatkan sejarah.

nyatanya, banyak yang dikeluhkan. soal ini-itu. soal ini-itu. juga, ada yang dibanggakan. soal ini-itu, soal ini-itu. disinilah saya tahu persis bagaimana belajar menunggu, bersabar dan berhitung.

tapi saya senang melihat mereka terlihat bersemangat; setidaknya mempertahankan semangat mereka untuk tetap terlihat bersemangat. di dalam sana, mereka harus mengubah pola hidup. menggeser kebiasaan. sekaligus mempercepat langkah.

tidak mudah memang; tapi entah darimana keyakinan itu datang, saya yakin mereka akan melampauinya. pun saya.

jika gelindingan hidup anyar yang kami alami saat ini nantinya berbuah bagus, ya berarti ini menjadi hal yang mengesankan dan menakjubkan. sebaliknya, bila nantinya berbuah jelek, ya berarti ini adalah pengalaman berharga yang bisa kami petik.

terimakasih untuk seluruh upaya dua minggu pertama ini.

kubikel L: dari kentang, pantyliners, minyak rantai, obeng sepeda hingga iPad

Comments Off

monggo, yang kumplit ada di kubikel femi

yes!

melce, kolega saya di pabrik kata-kata ini sudah mengabarkan sebelumnya: kubikel L saya baru. yay, tepatnya, kubikel L kami baru.

terima kasih, terima kasih. :)

akhirnya saya memiliki kubikel L ini kembali. yah, memang agak berbeda dengan kubikel lain di lantai dua. lebih pendek, lebih mini. tapi apapun itu, tetap harus disyukuri to?

saya memilih kubikel yang dekat dengan jendela. soalnya, biar bisa melihat dunia. :) yay, pencakar langit ada di sebelah sana, sana dan sana. sementara itu, saya menghuni lantai tertinggi di pabrik kata-kata ini: lantai tiga! :)

kepanikan sempat menyergap, saat saya terindikasi tidak menghuni pinggir jendela. usak-usek-usak-usek. yayh! akhirnya saya ada di sebelah sini, persis meja yang berseberangan dengan didi mengabdi, dan bersebelahan dengan alek marelek.

dan lagi-lagi, kubikel saya ini sarat dengan perkakas yang penting dan sangat penting: kunci L sepeda, obeng nomer 9 buat sepeda, mug starbucks, koleksi teh, kentang, kabel data, payung, jas hujan, selimut, alas tidur, saringan kopi dan teh, salib … ow ow ow …

eniwei, terima kasih untuk melce yang men-set up cpu untuk ada di bawah, sembunyi di kolong bersama sepatu merah saya. barusan, saya mengangkut beberapa perkakas kuliner saya yang lain: saringan teh, bandrek hanjuang, sekoteng. selebihnya, bantal gulung untuk meringkuk di kolong meja.

o ya, kubikel L anyar saya ini strategis. meski engga bisa sebentar tidur, tapi saya bisa sebentar ngolong, seperti yang jamak saya lakukan hingga tahun 2008 silam.

bagaimana, ada yang mau ngolong sama saya? :p

era kubikel pak camat sudah berakhir

Comments Off

ganti baru

saya ingat persis bagaimana kagetnya saya saat mendapati kubikel anyar saya mirip meja pak camat.

meja besar, berkaca, dengan laci di kanan dan kirinya. “haduh …” batin saya, saat itu. rupanya era kubikel L dengan locker besi sudah tamat. saatnya saya menyingkir dari masa-masa kenyamanan. :)

bersabar, dan bersabar. yaps, kepindahan saya ke divisi online adalah ‘command’. dus, apapun itu, saya harus menadahnya dengan suka cita. yay!

tapi tetap saja, kalau kubikel pak camat ini dibandingkan dengan kubikel L … kubikel L ini memang surganya kubikel. yah, setidanya, buat saya. kolong kubikel bisa untuk menggudangkan perkakas, bahkan sepeda lipat saya. selebihnya, bisa untuk me-recharge energi menghadapi tenggat berikutnya.

sejak 2003, saya mendapatkan kubikel L yang uenak. ada di sudut di dekat pintu keluar masuk. berjumpa dengan begitu banyak orang yang berlalu-lalang dan sering sebentar mampir untuk berbincang dengan saya. mulai bergosip soal kolega, berbagi rahasia, hingga sapuan isak tangis. what a great corner L cubicle! *berbincang dengan manusia, nyatanya tetap lebih menyenangkan ketimbang di dunia maya*

di tahun 2008, saya harus melepasnya untuk ucrit, sahabat saya di pabrik kata-kata ini, karena kepindahan saya ke divisi online; yang kemudian diteruskan kepada bleki, sahabat saya yang lain, pada pertengahan tahun 2009 lalu.

saya? terang saja, harus menikmati kubikel pak camat.  oouch!

tapi minggu depan masa berkubikel pak camat ini segera berakhir. tumpukan kubikel anyar sudah menggunung di bagian tengah ruangan ini. “nanti kubikelnya L, hanya sedikit berbeda dengan yang di bawah. engga tinggi, tetapi tetap ada pembatasnya,” kata mas ari, kolega saya di pabrik kata-kata ini.

saatnya berpose! ini histori. tahu kenapa? yomesyojel, era kubikel pak camat sudah berakhir.

holycow steak; steak hotel di radio dalam

Comments Off

sudah mampir kemari?

steak!

“pernah makan steak hotel?” tanyanya. lalu ia menyebut nama lain lagi: holycow.

saya cuma cligak-clinguk saja. steak hotel? yang saya tahu adalah tokio hotel, group band rock asal jerman. hihihi … apalagi holycow; yang saya tahu adalah kalimat dalam saban persimpuhan didepanNya: ” … holy spirit, amen”

dan kami menyambanginya, sore tadi.

ow! what a humble steak! tak bermewah-mewah, steak hotel hanya menghuni pekarangan sebuah bangunan kecil. penerangannya pun tak terlalu terang benderang. deretan bangku panjang yang saban bangkunya memuat dua orang, dengan meja yang hanya memuat total empat orang per meja. nyaris tak ada gang untuk bisa melenggang dengan bergaya.

“waiting list, menunggu tiga antrian. silakan tunggu di samping,” kata si mbak.

okey!

kami menunggu dengan sabar, dan dengan rasa penasaran yang menumpuk. apa yang bikin warung steak ini begitu larisnya. lebih dari sekadar popularitas di social networking, mestinya ada magnet jempolan yang membikin perut-perut lapar rela ngantri.

“speciality nya wagyu steak … ” kata si mas saat kami sudah duduk manis menimang kertas menu.

dan kami memesan dua australian sirloin dengan kematangan yang rare untuk saya, dan well done untuknya. ditambah, green tea re-fill. sedep mantep, pakde!

saat pesanan datang, rupanya penandanya adalah bendera kecil yang memuat pesanan, nama pemesan dan nomor meja. selebihnya adalah akun di twitter, email dan akun di facebook.

australian sirloin, dengan tingkat lemak yang super rendah, saos blackpeper dan dimaska rare … aih, holycow juara!  dan pesanan serupa miliknya dengan tingkat kematangan yang well done, steak hotel ini jempol naik dah!

muatan piring keramik (bukan hot plate)  bukan hanya daging saja, tetapi juga buncis, kentang goreng, setengah tomat baby, dan saus.

ya, saus nya yang agak encer diwadahkan dalam cawan kecil, dan si empunya rupanya tidak pelit dengan saus ini.

ya ya, sepertinya besok harus kembali kemari lagi. tentu saja, datang lebih pagi biar engga harus waiting list.

“psst, sepuluh bendera ini bisa ditukar dengan satu wagyu lo!” bisiknya. ah, gosip!