<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Femi Adi Soempeno &#187; kegemaran</title>
	<atom:link href="http://femiadi.com/category/kegemaran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://femiadi.com</link>
	<description>when writing the story of your life, don&#039;t let anyone else hold the pen</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 09:03:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>dari im2 ke flexi speedup</title>
		<link>http://femiadi.com/2012/02/04/dari-im2-ke-flexi-speedup/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2012/02/04/dari-im2-ke-flexi-speedup/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 04:31:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita cidodol residence]]></category>
		<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kegemaran]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>
		<category><![CDATA[tingtingndut]]></category>
		<category><![CDATA[flexi]]></category>
		<category><![CDATA[im2]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6923</guid>
		<description><![CDATA[laki-laki yang selalu membagikan pelukan hangat itu memamerkan kebisaan flexi mobile broadband di hunian mungil saya. wah, lumayan cepat; begitu pikir saya waktu itu. janji kecil pun dibikin: jangan lupa beli modem anyar flexi kalau mampir di ambasador. hanya saja, janji itu tak pernah terpenuhi. saya hampir tidak pernah ke ambasador. selama ini saya menggunakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>laki-laki yang selalu membagikan pelukan hangat itu memamerkan kebisaan flexi mobile broadband di hunian mungil saya.</p>
<p>wah, lumayan cepat; begitu pikir saya waktu itu. janji kecil pun dibikin: jangan lupa beli modem anyar flexi kalau mampir di ambasador.</p>
<p>hanya saja, janji itu tak pernah terpenuhi. saya hampir tidak pernah ke ambasador.</p>
<p>selama ini saya menggunakan indosat m2 untuk wifi device saya, yang menawarkan akses internet yang lumayan kencang di jam-jam tertentu di dinihari. owh my gosh; bahkan saya jarang berselancar di dunia maya pada dinihari saat ini.</p>
<p>setelah menghanguskan satu im2, lebih dari 4 bulan saya tak membiarkan diri saya tenggelam dengan internet di rumah, akhirnya saya membungkus im2 lain yang sejenis, dengan ongkos internet setengah dari yang saya pernah bayar. lumayan, dulu yang bayarnya 200,000 sebulan, kini hanya 100,000.</p>
<p>hanya saja, saya masih terus penasaran dengan flexi. laki-laki yang selalu membagikan pelukan hangat itu menancapkan modem speedup flexi di komputer supermini saya, dan was-wis-wus, internet melaju cukup kencang di siang hari, sore hari.bukan di dini hari saja.</p>
<p>dan saya sudah membungkusnya kemarin. postingan di blog ini adalah postingan pertama dengan menggunakan flexi speedup fun, yang hanya berbiaya 50,000 per bulannya.</p>
<p>sedap.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2012/02/04/dari-im2-ke-flexi-speedup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>jahe merah, obat batuk mujarab</title>
		<link>http://femiadi.com/2012/02/01/jahe-merah-obat-batuk-mujarab/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2012/02/01/jahe-merah-obat-batuk-mujarab/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 06:37:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita cidodol residence]]></category>
		<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kegemaran]]></category>
		<category><![CDATA[batuk]]></category>
		<category><![CDATA[jahe merah]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[serambi botani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6937</guid>
		<description><![CDATA[tenggorokan saya terasa sakit, dan juga perut dan dada menyesak saat badan ini terguncang, berjibaku dengan virus yang ada di tenggorokan. saya batuk. dan terbatuk-batuk. batuk terus. &#8220;minum jahe merah mbak. dari batuknya sih kendengerannya batuk angin ya. minum jahe merah, direbus, pakai gula jawa lebih baik &#8230;&#8221; begitu kata ibu-ibu yang meladeni saya di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>tenggorokan saya terasa sakit, dan juga perut dan dada menyesak saat badan ini terguncang, berjibaku dengan virus yang ada di tenggorokan.</p>
<p>saya batuk. dan terbatuk-batuk. batuk terus.</p>
<p>&#8220;minum jahe merah mbak. dari batuknya sih kendengerannya batuk angin ya. minum jahe merah, direbus, pakai gula jawa lebih baik &#8230;&#8221; begitu kata ibu-ibu yang meladeni saya di tiki, tak jauh dari rumah saya. beberapa kali saya terbatuk di depannya, saat menunggu paket saya dicetakkan receipt-nya.</p>
<p>jahe merah? saya tak pernah tahu khasiat jahe itu.</p>
<p>&#8220;jahe merah itu lebih kuat pedesnya daripada jahe yang biasanya &#8230; itu pasti manjur deh. lebih cepet ketimbang pakai obat &#8230;&#8221; katanya lagi.</p>
<p>oke. saya mencatatnya.</p>
<p>kebetulan, laki-laki yang selalu membikin saya ingin mencubitnya, juga batuk. enam sachet jahe merah pun dia bungkuskan untuk saya. wow, adayang instan! bentuknya bubuk atau butiran halus, ditambah dengan sejumlah rempah-rempah. saya hanya butuh menyeduhnya dengan air panas mendidih saja. owh, rasanya &#8216;nylekit&#8217;.</p>
<p>saya meminumnya sampai habis. much much much much better!</p>
<p>ketagihan, saya mencoba membeli jahe merah di serambi botani, di gandaria. kali ini berbeda dari jahe instan yang dibungkuskan oleh laki-laki yang selalu membikin saya ingin mencubitnya. kali ini, jahe merah dari serambi botani dicetak seperti gula jawa: bundar, pipih dengan ketebalan sekitar 0,5 centimeter.  jahe merah ini bergula jawa merah. saya hanya perlu menyeduhnya dengan air panas mendidih dari ketel bunyi milik saya.</p>
<p>sama panasnya, meski tidak senylekit jahe merah instan bubuk.</p>
<p>thanks. saya menyukai jahe merah sekarang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2012/02/01/jahe-merah-obat-batuk-mujarab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>menyerah mencari maxim cook</title>
		<link>http://femiadi.com/2012/01/28/menyerah-mencari-maxim-cook/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2012/01/28/menyerah-mencari-maxim-cook/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 08:43:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita cidodol residence]]></category>
		<category><![CDATA[kegemaran]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>
		<category><![CDATA[happy-call]]></category>
		<category><![CDATA[maxim]]></category>
		<category><![CDATA[panci]]></category>
		<category><![CDATA[wajan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6944</guid>
		<description><![CDATA[saya menyerah mencari maxim cook. itu, wajan buka-tutup seperti happy-call. bedanya, harganya sepertiga dari harga happy-call, dan ini dibikin oleh maxim. not bad. esti, kakak saya, membelinya di hypermart di thamrin city. saya yang agak malas ke thamrin city, akhirnya memburunya ke sejumlah tempat, mulai dari sogo, lotte, giant, hero. hasilnya, nihil. rupanya saya memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya menyerah mencari maxim cook. itu, wajan buka-tutup seperti happy-call. bedanya, harganya sepertiga dari harga happy-call, dan ini dibikin oleh maxim. not bad.</p>
<p>esti, kakak saya, membelinya di hypermart di thamrin city. saya yang agak malas ke thamrin city, akhirnya memburunya ke sejumlah tempat, mulai dari sogo, lotte, giant, hero. hasilnya, nihil.</p>
<p>rupanya saya memang harus mencarinya di hypermart.</p>
<p>tapi, ah tidak. setelah pencarian panjang itu, saya jadi agak malas berburu maxim cook. sudah, biar saja begini. begini saja, pakai yang ada. kelak, kalau mood saya sudah kembali lagi, saya akan mencarinya kembali, sudah pasti di hypermart.</p>
<p>kali ini, saya sudah menyerah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2012/01/28/menyerah-mencari-maxim-cook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>saya tetap tertinggal jauh di belakang</title>
		<link>http://femiadi.com/2012/01/07/saya-tetap-tertinggal-jauh-di-belakang/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2012/01/07/saya-tetap-tertinggal-jauh-di-belakang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 15:40:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[kegemaran]]></category>
		<category><![CDATA[pit-pitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6903</guid>
		<description><![CDATA[kekuatan dengkul ini masih sama saja: payah. perjalanan gowes ke bali tak menyisakan kekuatan yang berarti buat dengkul saya. saya masih saja tertinggal di belakang saat gowes di sekitaran cibubur/cimanggis/cikeas. dengan napas terengah. dengan anggukan tanpa ada kata-kata yang mencuat dari bibir saya.  bahkan tersenyum pun saya butuh tenaga ekstra. om heru dan sejumlah teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://tinypic.com?ref=2uqnqqx" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" src="http://i44.tinypic.com/2uqnqqx.jpg" alt="Image and video hosting by TinyPic" width="298" height="223" border="0" /></a><p class="wp-caption-text">si dengkul letoy</p></div>
<p>kekuatan dengkul ini masih sama saja: payah.</p>
<p>perjalanan gowes ke bali tak menyisakan kekuatan yang berarti buat dengkul saya. saya masih saja tertinggal di belakang saat gowes di sekitaran cibubur/cimanggis/cikeas. dengan napas terengah. dengan anggukan tanpa ada kata-kata yang mencuat dari bibir saya.  bahkan tersenyum pun saya butuh tenaga ekstra.</p>
<p>om heru dan sejumlah teman gowes yang lain sudah bolak-balik memberi kursus tidak singkat mengenai cara gowes yang tepat dan tak memboroskan napas. mulai dari pijakan kaki yang harus terus konsisten, genjotan yang harus ditenagai dengan kaki, hingga permainan tangan maupun bokong saat mengayuh sepeda. satu-dua berhasil saya serap, sementara saya masih harus mengusahakan sisanya.</p>
<p>saya masih saja tertinggal di belakang. ambil shortcut. sedikit curang. <img src='http://femiadi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2012/01/07/saya-tetap-tertinggal-jauh-di-belakang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>blackberry saya baru</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/12/02/blackberry-saya-baru/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/12/02/blackberry-saya-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 06:35:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kegemaran]]></category>
		<category><![CDATA[kubikel]]></category>
		<category><![CDATA[blackberry]]></category>
		<category><![CDATA[teman jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6860</guid>
		<description><![CDATA[saya menyerah dengan trackball yang sudah sangat payah di blackberry bold generasi pertama yang saya pakai saat ini. hampir setiap hari saya harus menyekanya dengan minyak kayu putih, dan harus terus membawa minyak kayu putih kemanapun saya pergi. bukan untuk menghangatkan tubuh, tapi untuk membersihkan trackball yang sudah sangat payah. dan saya mendapatkan blackberry yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya menyerah dengan trackball yang sudah sangat payah di blackberry bold generasi pertama yang saya pakai saat ini.</p>
<p>hampir setiap hari saya harus menyekanya dengan minyak kayu putih, dan harus terus membawa minyak kayu putih kemanapun saya pergi. bukan untuk menghangatkan tubuh, tapi untuk membersihkan trackball yang sudah sangat payah.</p>
<p>dan saya mendapatkan blackberry yang baru minggu ini. yah, blackberry curve. tapi tak apa, setidaknya membuat saya bisa lebih nyaman bekerja, berkirim kabar kepada kolega dan meninggalkan jejak di akun twitter.</p>
<p>terimakasih untuk blackberry baru untuk saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/12/02/blackberry-saya-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>selle royal plugin ergogel, gel yang hilang</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/11/21/selle-royal-plugin-ergogel-gel-yang-hilang/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/11/21/selle-royal-plugin-ergogel-gel-yang-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 06:50:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[kegemaran]]></category>
		<category><![CDATA[pit-pitan]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[plugin ergogel]]></category>
		<category><![CDATA[RC3]]></category>
		<category><![CDATA[selle royal]]></category>
		<category><![CDATA[sepeda]]></category>
		<category><![CDATA[sepedahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6863</guid>
		<description><![CDATA[saya masih ingat betul alasan saya membungkus sadel anyar dari toko sepeda beberapa waktu lalu: karena itu adalah sadel buat perempuan, dan ada gel nya. promosi di bungkus sadel itu bunyinya begini: ANATOMICALLY DESIGNED FOR WOMAN. PLUGIN SUPERIOR ROYALGEL COMFORT IN THE GENITAL AREA. yah, bahkan sadel saja mengenal jenis kelamin. tapi saya justru kehilangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya masih ingat betul alasan saya membungkus sadel anyar dari toko sepeda beberapa waktu lalu: karena itu adalah sadel buat perempuan, dan ada gel nya.</p>
<p>promosi di bungkus sadel itu bunyinya begini: ANATOMICALLY DESIGNED FOR WOMAN. PLUGIN SUPERIOR ROYALGEL COMFORT IN THE GENITAL AREA. yah, bahkan sadel saja mengenal jenis kelamin.</p>
<p>tapi saya justru kehilangan gel itu. entah kemana. perjalanan di gunung tangkub/abang merontokkan gel dari sadel saya. entah kemana.</p>
<p>mungkin terjatuh saat saya membalikkan sepeda. mungkin tersangkut dedahanan saat saya menyandarkan sepeda.</p>
<p>&#8220;mas, gel nya hilang &#8230; &#8221; kata saya pada abang.</p>
<p>&#8220;oowh &#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;itu dia nempel disitu &#8230;&#8221; kata om swastika, sambil menunjuk pantat saya. saya pun langsung memegangnya. engga ada.  &#8220;yah, dipegang lagi &#8230; &#8221; katanya, sambil tergelak.</p>
<p>ya sudahlah.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/11/21/selle-royal-plugin-ergogel-gel-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RC3 Menjajal Eksotisme Gowes di Bali</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/11/21/rc3-menjajal-eksotisme-gowes-di-bali/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/11/21/rc3-menjajal-eksotisme-gowes-di-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 05:10:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[kegemaran]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[pit-pitan]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[gowes]]></category>
		<category><![CDATA[RC3]]></category>
		<category><![CDATA[sepedahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6852</guid>
		<description><![CDATA[Bali bukan cuma pantai. Gunung, hutan, desa-desa adat dan area persawahan dengan SUBAK-nya menyimpan eksotisme tersendiri. Sungguh kenikmatan tersendiri menggowes sepeda di Bali. &#8211;Christiantoko Akhirnya waktu yang kami tunggu-tunggu itu pun tiba. Jumat, 18 November 2011, satu persatu anggota Rajawali Corpora Cycling Community (RC3) yang ikut acara “RC3 Gowes Bali 2011” mulai berdatangan di Bandara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bali bukan cuma pantai. Gunung, hutan, desa-desa adat dan area persawahan dengan SUBAK-nya menyimpan eksotisme tersendiri. Sungguh kenikmatan tersendiri menggowes sepeda di Bali.</em> &#8211;Christiantoko</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 305px"><a href="http://tinypic.com?ref=a4wzna" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" src="http://i44.tinypic.com/a4wzna.jpg" alt="Image and video hosting by TinyPic" width="295" height="196" border="0" /></a><p class="wp-caption-text">memamerkan kekuatan dengkul</p></div>
<p>Akhirnya waktu yang kami tunggu-tunggu itu pun tiba. Jumat, 18 November 2011, satu persatu anggota Rajawali Corpora Cycling Community (RC3) yang ikut acara “RC3 Gowes Bali 2011” mulai berdatangan di Bandara Ngurah Rai, Bali. Patut diketahui, hajatan RC3 untuk gowes bareng di Bali kali ini sudah direncanakan sejak acara gowes Merapi bulan Juli silam. Seperti biasa, setiap kali acara gowes ke luar kota berakhir, kami langsung menentukan destinasi gowes berikutnya.</p>
<p>Namun karena acara kali ini hamper berbarengan dengan KTT Asean yang juga diadakan di Bali, jadwal penerbangan sedikit kacau. Beberapa peserta gowes pun terpaksa menanggung sial karena jadwal pesawatnya delay. Jadwal kedatangan dan keberangkatan di bandara yang kacau pun membuat bandara yang tengah direnovasi itu terasa makin sesak, penuh antrean panjang pengambilan bagasi maupun menunggu jemputan. Namun salah satu peserta gowes, yaitu Femi yang notabene adalah wartawan Bloomberg, sempat mengambil hikmah. “Aku sempat memotret Air Force One, pesawat kepresidenan Obama,” katanya.</p>
<p>Malam itu, sebagian besar peserta menginap di rumah Darjoto Setyawan, salah seorang Managing Director RC di daerah Tanjung Benoa. Sehari sebelumnya, truk pengangkut sepeda telah tiba dan sepeda sudah di setting oleh salah seorang panitia, yaitu Om Swastika. Selain mekanik professional, Om Swastika adalah authorized dealer sepeda titanium merek berlogo merah-putih, PITTS. Hingga pukul 24.00 WIT di mana kami memutuskan untuk beristirahat, masih ada dua dari 16 anggota RC3 yang belum tiba, yaitu Mia (PML) dan Nur Rachman (PDS).<span id="more-6852"></span></p>
<p><em>H-1, Berbasah-Basah di Trek Berpasir</em></p>
<p>Jam 6 pagi, peserta sudah mulai bangun. Dari cerita teman-teman, dua orang yang datang terakhir baru tiba di rumah sekitar jam 1.30 dinihari. Walau demikian, tak ada waktu untuk bangun siang. Semua harus sudah siap sebelum jam 7.00 WIT karena waktu itulah yang kami tentukan untuk berangkat menuju Gn. Abang, di sekitar Danau Batur, daerah bagian atas Kintamani. Bermodal sarapan nasi kucing –nasi bungkus dengan lauk tempe orek, abon dan sambal—akhirnya kami berangkat 15 menit lebih lambat.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 307px"><a href="http://tinypic.com?ref=1zz1bwi" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" src="http://i44.tinypic.com/1zz1bwi.jpg" alt="Image and video hosting by TinyPic" width="297" height="222" border="0" /></a><p class="wp-caption-text">rute lorong naga</p></div>
<p>Jam 9.20 WIT kami tiba di tempat start. Beberapa orang tak sabar menurunkan sepeda dari truk dan mulai melakukan pemanasan bersama sepedanya. Sebagian lainnya sibuk memasang body protector,  memkai sarung tangan, mengencangkan tali sepatu, meng-adjust ketinggian sadel hingga mencari tempat untuk buang air kecil. Satu hal yang pasti, kami sudah disuguhi pemandangan indah begitu turun dari mobil karena letak start yang berada di atas Danau Batur. Oleh sebab itu kami mahfum saat sebagian besar peserta langsung memulai sesi narsis alias foto-foto tanpa diberi komando.</p>
<p>Setelah briefing dan berdoa, etape pertama pun dimulai. Marshall sudah memberi tahu, tanjakan-tanjakan ringan akan mendominasi etape pertama. Oleh sebab itu, kendati diawali dengan jalan menurun, kami tidak mau terburu-buru. Dan benar saja, begitu selesai turunan pendek, kami disambut tanjakan. Karena tak mau menghabiskan tenaga di awal, kami pun menuntun sepeda bersama-sama untuk melibas tanjakan pertama. Setelah tanjakan pertama, rombongan masih segar dan segera melibas turunan yang cukup tajam. Beberapa senior RC3 masih rajin memberi instruksi teknis kepada beberapa newbie. Satu-dua orang masih terlihat ragu menghadapi turunan yang tajam, tapi berkat bimbingan yang baik, mereka bisa melewatinya tanpa hambatan berarti. Setelah melewati beberapa kali turunan tajam, peserta mulai menikmati gowes dengan rute Gn. Abang-Tangkub ini.</p>
<p>Satu per satu goweser mulai tune in dengan rute yang cenderung berpasir. Rombongan besar yang semula bergerak bersama, mulai terbagi dua. Rombongan pertama adalah mereka yang tak kuat menahan libido untuk menikmati turunan yang memicu adrenalin. Kami menyebutnya kelompok FSA (full speed ahead) Sementara rombongan kedua yang lebih besar, dapat dibagi menjadi empat, yaitu para instruktur yang rajin mendampingi newbie, para safety player, para newbie dan penganut aliran narsis.</p>
<p>Kami disodori pemandangan indah di rute H1 ini. Di sebelah kiri tampak Gn. Agung (3.142 mdpl) berdiri megah. Sementara di sebelah kanan adalah area hutan dan kebun di lereng Gn. Abang. Sayang, cuaca cerah saat start berubah dengan cepat menjadi mendung dan kemudian hujan deras sepanjang perjalanan. Walau demikian, toh banyak peserta yang merasa beruntung, dengan hujan yang turun cukup deras, track berpasir menjadi tidak licin dan stamina tidak terkuras.</p>
<p>Etape kedua, yang oleh para marshall disebut lorong naga merupakan jalan sempit berpasir di antara dua tebing. Keindahan alam Bali makin terasa ketika kam mendekati garis finish etape kedua. Terpampang batu-batu besar seukuran city car yang tampak menggantung di tebing. Sungguh keindahan yang hanya bisa kami rasakan dan nikmati dalam hati namun sulit untuk diceritkan. Apalagi kami tidak dapat mengabadikan pemandangan ini lantara hujan yang mengguyur semakin deras sehingga kami tidak berani mengeluarkan kamera. Pitstop etape kedua adalah warung kecil di pinggir jalan di mana kami menikmati teh panas yang terasa nikmat diminum di tengah hujan deras dan badan yang basah kuyub. Kenikmatan makin bertambah karena kami sempat menyantap durian Bali yang legit di warung kecil ini.</p>
<p>Gowes hari pertama akhirnya ditutup di sebuah restoran bernama “Lereng Agung” yang terletak di tebing, di mana di bawahnya terdapat sawah nan hijau dan berlatar belakang Gn. Agung. Setelah berganti pakaian, kami menyantap menu prasmanan nan sederhana namun terasa seperti makan di hotel bintang lima. Adapun malamnya, kami beramai-ramai makan seafood di Jimbaran.</p>
<p><em>H-2, Menjaga Keseimbangan di Pematang Sawah</em></p>
<p>Hari kedua diawali dari Ubud. Setelah berfoto-foto sebelum start, etape pertama adalah melewati singletrack area persawahan nan eksotis karena ada satu-dua galeri lukisan yang terletak di tengah sawah. Asal tahu saja, Julia Robert juga pernah singgah di salah satu galeri ini dalam filmnya yang kondang, Eat, Pray and Love.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 308px"><a href="http://tinypic.com?ref=adond4" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" src="http://i42.tinypic.com/adond4.jpg" alt="Image and video hosting by TinyPic" width="298" height="224" border="0" /></a><p class="wp-caption-text">rute menggosongkan kulit</p></div>
<p>Setelah melewati kelak-kelok sawah, kami menuju sebuah pura. Di sekitar pura, masih banyak penduduk –laki-perempuan—yang memanfaatkan sungai untuk mandi setiap hari. Bahkan, bukan hal yang aneh kalau penduduk di sekitar sini laki-perempuan mandi bersama di satu area. “Untung kita kesiangan sehingga ngga pengen mandi di sungai,” kata Heru Prijono (HHM) berkelakar.</p>
<p>Di sini kami sempat berfoto-foto dan melihat-lihat pemandangan di sekitar pura, lalu melanjutkan perjalanan melewati pinggir monkey forest. Tak lupa, beberapa peserta gowes sempat menyapa saudara tua yang banyak terlihat di atas pohon.</p>
<p>Keindahan desa adat Bali yang tertata dengan rapi menjadi pemandangan berikutnya. Area ini juga sempat menjadi bagian film Eat, Pray and Love. Celakanya, matahari yang semakin terik serta begitu banyaknya spot foto yang bagus membuat kami tak berlama-lama melewati desa adat ini. Apalagi, perjalanan masih jauh dan stamina mulai menurun.</p>
<p>Perjalan masih dilanjutkan dengan melewati singletrack pematang sawah yang panjang. Kendati bukan rute yang ekstrem, namun keseimbangan dan penguasaan sepeda diuji untuk dapat melewati rute ini dengan baik. Kami sempat mampir di warung kecil di tengah sawah sebelum menutup etape kedua di sebuah warung untuk memborong minuman dan makanan kecil. Warung Wardani di Denpasar adalah pilihan kami menyantap makan siang di hari kedua.. Nyaris tak ada yang tersisa di piring karena kami makan bak orang kelaparan..</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/11/21/rc3-menjajal-eksotisme-gowes-di-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>lumpia semarang dan siomay super theresia, ngawe-awe</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/10/23/lumpia-semarang-dan-siomay-super-theresia-ngawe-awe/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/10/23/lumpia-semarang-dan-siomay-super-theresia-ngawe-awe/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 05:04:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita cidodol residence]]></category>
		<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[kegemaran]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[pit-pitan]]></category>
		<category><![CDATA[csl]]></category>
		<category><![CDATA[dahon]]></category>
		<category><![CDATA[gereja theresia]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[lumpia]]></category>
		<category><![CDATA[lumpia semarang]]></category>
		<category><![CDATA[makan-makan]]></category>
		<category><![CDATA[seli sepeda lempit]]></category>
		<category><![CDATA[sepeda lipat]]></category>
		<category><![CDATA[sepedahan]]></category>
		<category><![CDATA[siomay super]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[theresia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6773</guid>
		<description><![CDATA[lumpia semarang dan siomay super di depan theresia kok ngawe-awe (melambai-lambai), saat saya berencana menuju kopitiam oey di sabang, pagi ini. owh, dem. saya pun memarkirkan sepeda mungil saya di depan keduanya. siomay super seporsi saya pesan, minus pare. setelah saya mendapatkannya, saya pun tenggelam dalam kelezatan potongan siomay, sambil mengumpat kecil lantaran saya tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>lumpia semarang dan siomay super di depan theresia kok ngawe-awe (melambai-lambai), saat saya berencana menuju kopitiam oey di sabang, pagi ini.</p>
<p>owh, dem. saya pun memarkirkan sepeda mungil saya di depan keduanya.</p>
<p>siomay super seporsi saya pesan, minus pare. setelah saya mendapatkannya, saya pun tenggelam dalam kelezatan potongan siomay, sambil mengumpat kecil lantaran saya tak bisa mendapati kerabat yang mengajak saya untuk temu janji pagi ini. ya sudahlah, mungkin dia membutuhkan istirahat yang lebih panjang dari hari biasanya. mungkin mimpinya tak cukup melegakan untuk dihentikan jam 6 pagi di hari minggu. mungkin seseorang tengah memeluknya dengan hangat, tak ingin dilepasnya.</p>
<p>dan seporsi siomay super terus mememenuhi mulut saya.</p>
<p>siomay theresia ini bersisian dengan lumpia semarang, yang gerobaknya tak cukup kompak untuk sama-sama berada pada posisi vertikal maupun horisontal. ya, sementara gerobak si lumpia itu menjejer horisontal, si siomay vertikal. hanya saja, keduanya cukup akur untuk memiliki satu bangku yang sama untuk berbagi.</p>
<p>&#8220;lumpia basah, lima, bungkus ya pak &#8230;&#8221; pesan saya.</p>
<p>sesudahnya, saya berbincang dengan bapak penjual lumpia. tentang kulit lumpia yang dibikinnya saban pagi sebanyak 300-400 lembar sehari, tentang kulit lumpia yang tak boleh kena angin, tentang kulit lumpia yang tak bisa menggunakan kulit lumpia bikinan &#8216;kemarin&#8217;. entah, kenapa saya banyak bertanya tentang kulit lumpia saja, dan tak bertanya soal isinya.</p>
<p>saatnya pulang. entah, ada perasaan bahagia membuncah setelah memenuhi lambaian siomay super dan lumpia semarang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/10/23/lumpia-semarang-dan-siomay-super-theresia-ngawe-awe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>bike trip: tangkuban perahu, wangi hutan pinus dan hujan romantis</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/10/09/bike-trip-tangkuban-perahu-wangi-hutan-pinus-dan-hujan-romantis/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/10/09/bike-trip-tangkuban-perahu-wangi-hutan-pinus-dan-hujan-romantis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 10:44:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kegemaran]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[pit-pitan]]></category>
		<category><![CDATA[plesiran]]></category>
		<category><![CDATA[bike trip]]></category>
		<category><![CDATA[gowes]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas sepeda]]></category>
		<category><![CDATA[rajawali corporation]]></category>
		<category><![CDATA[RC3]]></category>
		<category><![CDATA[sepeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6791</guid>
		<description><![CDATA[terimakasih untuk abang yang menebalkan portfolio bersepeda saya di jalur yang tak biasa: tangkuban perahu. setelah jogja-borobudur yang membikin saya mandek di tanjakan juminten, dan niteride di cibubur-cibinong, saya kembali ikut gowes dengan abang dan koleganya. saya tak pernah tahu medan di kawasan ini. tapi saya bersyukur, ketidaktahuan ini justru membikin nyali saya tidak ciut. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>terimakasih untuk abang yang menebalkan portfolio bersepeda saya di jalur yang tak biasa: <a href="http://femiadi.com/2011/10/09/terlanjur-basah-ya-sudah-gowes-sekalian%E2%80%A6/" target="_blank">tangkuban perahu</a>.</p>
<p>setelah jogja-borobudur yang membikin saya mandek di tanjakan juminten, dan niteride di cibubur-cibinong, saya kembali ikut gowes dengan abang dan koleganya.</p>
<p>saya tak pernah tahu medan di kawasan ini. tapi saya bersyukur, ketidaktahuan ini justru membikin nyali saya tidak ciut. dus, saya mengiyakan saja tawaran abang. &#8220;ga usah dibayangin track-nya. liat besok aja. pokoknya asik dah,&#8221; katanya, sesaat sebelum kami berangkat ke bandung.</p>
<p>ya, sepertinya itu lebih baik. jauh lebih baik.</p>
<p>hanya tiga dari kami yang perempuan, termasuk saya. sementara yang lainnya adalah laki-laki dengan jam terbang yang sudah mencapai level FSA alias full speed ahead. owh, dem. dan dari ketiga perempuan ini, tentu saja hanya saya yang selalu ada di barisan paling belakang, dan paling sering dibantu marshall. <img src='http://femiadi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>wangi hutan pinus. teman-teman baru. gelak tawa.</p>
<p>adakah yang lebih asik ketimbang itu? saya rasa tidak ada.</p>
<p>kelengkapan perkakas bersepeda seperti bodi protektor yang dipakai pegowes, sempat membikin saya jiper. wah, saya engga pake. saya hanya komat-kamit, ya, cuma doa saja yang akan menopang siku, lutut, kaki, tangan dan tubuh agar tidak lecet-yang-berlebihan. huwashawusblahblahblah, terjadilah padaku menurut kehendakMU, amin-amin-amin.</p>
<p>lagu yang diperdengarkan dari blackberry, seperti kata abang, membuat gowesan kami terasa seperti naik odong-odong. haduh. di sela itu, saya bersyukur, ada begitu banyak orang baik yang berbagi teknik bagaimana bersepeda dengan tepat: bagaimana mengendalikan sepeda di turunan, bagaimana menggowes di tanjakan, bagaimana menyelinap diantara akar-akar pohon dan juga batang-batang pohon yang berusia puluhan, bahkan ratusan tahun. aih.</p>
<p>&#8220;trek &#8230; trek &#8230; trek &#8230;&#8221; begitu teriak om heru, saat saya menggowes di depannya. haduh, sial. saya langsung menepi, dan kapok berada di depannya. cilaka kalau menghadapi pegowes-tangguh-berusia-diatas-limapuluh. <img src='http://femiadi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />   tak cuma diajari, saya juga dikerjai.</p>
<p>sekitar 98% tanjakan yang saya lalui, saya memilih untuk menuntun sepeda saya. <img src='http://femiadi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  kalau mas rufus bilang, &#8220;saya engga cocok di tanjakan &#8230;&#8221; oops. &#8216;engga cocok&#8217; itu sebenernya dibaca &#8216;engga mampu&#8217;, dalam istilah yang lebih cool. baiklah. saya pun mengiyakan, dengan anggukan yang begitu mantapnya.</p>
<p>hujan membikin hutan di tangkuban perahu terasa lebih romantis. **uhuy** wangi tanah dan hutan terasa lebih tajam, dan gelap terasa lebih menyandera.  **ehm**</p>
<p>kecelakaan terjadi saat medekati jayagiri. sayang, saya tak menjadi saksi matanya. pak darjoto terpeleset saat menggelinding di turunan di tanah yang basah. ah, saya yakin, kecelakaan ini tak akan menyurutkan niat dan nyalinya untuk bersepeda, setelah enam sepeda plus satu double cab dia bungkus untuk memuaskan rasa penasarannya.  **semoga lekas sembuh**</p>
<p>terimakasih untuk dua marshall dari tangkuban perahu, yang menyurung sepeda dan menemani saya di garis paling belakang. juga, terimakasih untuk mas erry yang menantang, &#8220;di bali, ikut kan?&#8221;</p>
<p>ya, saya pasti ikut. saya akan ikut di bike trip selanjutnya, di bali.</p>
<p>terimakasih untuk om ijay, yang sudah memberikan tumpangan pp jakarta-bandung-jakarta dan menginspirasi saya mengangkut 100 ml spray ethylchloride untuk kram saat menggowes. sudah pasti, terimakasih untuk abang yang mengajak saya ke tangkuban perahu, dan rekaman tertulisnya untuk fun-trip ini.</p>
<p>sampai ri</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/10/09/bike-trip-tangkuban-perahu-wangi-hutan-pinus-dan-hujan-romantis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terlanjur Basah, Ya Sudah Gowes Sekalian…</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/10/09/terlanjur-basah-ya-sudah-gowes-sekalian%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/10/09/terlanjur-basah-ya-sudah-gowes-sekalian%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 10:36:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[kegemaran]]></category>
		<category><![CDATA[pit-pitan]]></category>
		<category><![CDATA[plesiran]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[offroad]]></category>
		<category><![CDATA[sepeda]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[xc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6787</guid>
		<description><![CDATA[FunBike RC3 di Tangkuban Perahu seri kedua Hujan deras masih mengguyur kota Bandung sore itu (Sabtu, 7/10). Udara dingin terasa menusuk kulit, sementara kabut mulai turun. Mungkin sebagian besar orang memilih tinggal di dalam rumah, membungkus rapat dirinya dengan jaket atau sweater untuk mengusir hawa dingin, sambil minum teh hangat atau menonton teve. Tapi tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>FunBike RC3 di Tangkuban Perahu seri kedua</p>
<p>Hujan deras masih mengguyur kota Bandung sore itu (Sabtu, 7/10). Udara dingin terasa menusuk kulit, sementara kabut mulai turun. Mungkin sebagian besar orang memilih tinggal di dalam rumah, membungkus rapat dirinya dengan jaket atau sweater untuk mengusir hawa dingin, sambil minum teh hangat atau menonton teve.</p>
<p>Tapi tidak buat kami, RC3’ers (anggota Rajawali Cycling Community). Sore itu, kami menembus kota Bandung bermodal sepeda MTB plus sisa tenaga, menempuh perjalanan tak kurang dari 18 km –menurut Paman GoogleMaps&#8211;  dari Punclut di Bandung Utara, menuju perumahan Batununggal, di daerah Buah Batu, Bandung Selatan. Namun cuaca berkabut dalam terjangan hujan justru menjadikan suasana kota Bandung begitu syahdu sekaligus mistis. Sungguh kesempatan yang takkan terulang, gowes di Bandung dalam hujan menghabiskan sisa tenaga setelah seharian gowes di Tangkuban Perahu.</p>
<p>Hari itu, RC3 memang sedang punya hajat penting. Salah seorang anggota BOD, Darjoto Setyawan ikut dalam acara gowes offroad menempuh rute Tangkuban Perahu- hutan Jayagiri &#8211; Lembang dan finish di Punclut. Bukan cuma anggota BOD, CEO business unit Bukit Asam Transpacific Railway (BATR) Rudiantara juga turut serta. Jadilah gowes kali ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan komunitas pesepeda RC.</p>
<p>Memori hutan pinus</p>
<p>Gowes melintasi kota Bandung sebenernya cuma partai pamungkas. Setelah malam hari sebelumnya kami harus berjibaku melawan kemacetan Jakarta pada hari Jumat sore. Berangkat dari kantor jam 7 malam sehabis kerja seharian, kami baru tiba di Batununggal lewat tengah malam. Untungnya, perut sudah diganjal nasi padang Sederhana di rest area km.57 tol Cipularang. Tanpa banyak membuang waktu, malam itu kami cepat-cepat naik ke peraduan untuk menyimpan tenaga.</p>
<p>Sabtu pagi jam 5.00, beberapa teman sudah bangun untuk sholat subuh. Keruan yang lain ikut bangun tak lama kemudian. Setelah membersihkan diri, kami mulai menurunkan sepeda dari mobil, merangkai dan melakukan setting. Pagi itu kami cukup cemas karena matahari sedikit tertutup awan dan bahkan sempat gerimis sebentar. Jam 6.30, saat setting tengah dilakukan, datanglah sarapan yang tak mungkin kami tolak, sate sapi, sate ayam dan sate susu plus lontong. Kami tahu, perut harus diisi sebelum aktifitas fisik yang akan kami lakukan sepanjang pagi hingga siang itu.</p>
<p><span id="more-6787"></span></p>
<p>Jam 7.30; 11 sepeda sudah siap di atas mobil bak terbuka L300.  Pendekar pemetik bunga – Jai hwa cat / JHC (Fahizal), Pendekar muda –PM (Miko), PFu (Rufus) dan PJS (Indra Jaya) memilih naik di mobil bak terbuka bersama sepeda, sementara tiga orang srikandi, PCS (Darjoto), Pendekar Atlet Punclut / PAP (Hendi)  dan PLC (Chris) diantar dua mobil lainnya. Kami sudah janjian dengan HHM (Heru Prijono) dan PKB (Rudiantara) bertemu di parkiran taman wisata Tangkuban Perahu jam 8.30.</p>
<p>Jarak Batununggal-Tangkuban Perahu ternyata tidak dekat. Di tengah jalan, kami melewati beberapa rombongan penggemar jalur nanjak alias uphiller. Bahkan, salah satu rombongan beranggotakan kakek-kakek karena rambut dan kumis para goweser tersebut sudah putih semua. “Gilaaaa….,” cuma itu yang bisa terucap dari mulut kami sebagai ungkapan decak kagum atas semangat dan nafas yang keluar-masuk dari setiap tarikan otot betis yang mereka lakukan.</p>
<p>Jam 8.40 akhirnya kami tiba di parkiran taman wisata Tangkuban Perahu. HHM, PKB dan rombongan marshall sudah menunggu. Tanpa ba-bi-bu, kami segera menurunkan sepeda, memakai perlengkapan dan men-test sepeda masing-masing. Ada sedikit masalah, beberapa sepeda lupa diberi pelumas dan terpaksa menggunakan pelumas darurat, membeli minyak goreng dari warung di sekitar parkiran.</p>
<p>Briefing dan Doa adalah agenda rutin berikutnya. Setelah itu, kami rombongan ber-15 segera meluncur melewati jalan aspal yang sudah rusak, melewati portal masuk ke arah hutan jayagiri. Sebelum sampai di ujung jalan aspal yang rusak, kami berpapasan dengan beberapa down hiller karena di situ juga terletak trek mini down hill untuk mereka yang gemar meloncat-loncat bersama sepeda dengan fork minimal 180 mm.</p>
<p>Jam 9.30, kami sampai di tepi hutan pinus. Di situ ada spot yang ciamik untuk melepas hobi narsis karena memiliki background pemandangan hutan pinus berbukit-bukit. Kami pun tak ingin ketinggalan. “Foto keluarga…foto keluarga….,” demikian teriak marshall memberi komando agar semua rombongan berhenti sejenak dan berfoto bersama-sama. Foto seluruh rombongan ini penting karena setelah memasuki trek, biasanya kami tercecer, tercerai berai menurut kekuatan fisik dan nafas masing-masing. Selain dengan kamera, beberapa teman tak lupa minta difoto dengan blackberry nya agar bisa langsung mengubah profil picture ataupun memposting perjalanan ini di grup bbm.</p>
<p>Dan perjalanan yang sesungguhnya pun dimulai. Trek awal memasuki hutan pinus harus kami tempuh melewati single trek yang telah rusak akibat sering dilewati oleh motorcross. Akibatnya tanah di tengah menjadi lebih dalam dan pedal sulit dikayuh. “Gimana caranya? Ngga bisa digowes neh sepedanya,” begitu celoteh Darjoto di tengah etape pertama ini. Kami pun bingung memberi resep. Beruntung PFu tak lama kemudian memberi jawaban cerdas, “Ini cuma part of the game, Pak.”</p>
<p>Etape pertama akhirnya kami lewati. Keringat mulai mengucur. Bahkan sebagian perserta harus mengeluarkan tekhnik tertinggi yang dimiliki, menuntun sepedanya untuk dapat melewati satu-dua tanjakan curam. Etape berikutnya adalah melewati hutan pinus Jayagiri dengan satu-dua drop off menantang karena harus melewati akar-akar pinus yang menonjol nan licin.</p>
<p>Di awal etape kedua ini, kami justru bersyukur karena gerimis membasahi tanah sehingga debu tak mengganggu. Beberapa teman mulai berteriak di tengah hutan, melepas keasyikannya menikmati suasana hutan pinus Jayagiri yang berpemandangan indah. Sementara, beberapa lainnya, mulai menghitung sisa nafas dan otot paha, berapa lama lagi mereka mampu bertahan agar tidak mengalami kram. “Butuh waktu satu tahun buat kita melewati drop off hutan Jayagiri,” kata PJS. Ya, waktu kami pertama kali mengunjungi trek Tangkuban Perahu bulan Juli 2010, lebih setahun yang lalu, banyak dari kami yang masih menuntun sepeda karena nyali dan kemahiran mengendalikan sepeda masih belum cukup.</p>
<p>Naik-turun di jalan beraspal</p>
<p>Di tengah keasyikan menikmati single trek dan drop off kecil-kecil, hujan gerimis yang sudah reda berganti dengan hujan deras. Kami mulai khawatir. Jas hujan seadanya yang dibeli dengan harga Rp 6.000 dikeluarkan. Cuma beberapa yang siap dengan jas hujan khusus untuk sepeda. Namun kecemasan kami bukan soal basah akibat hujan, namun trek yang menjadi licin akibat basah.</p>
<p>Dan benar saja. Menjelang akhir etape kedua, di sebuah turunan lebar yang sebenarnya sangat mudah dan tidak berbahaya, PCS terjatuh. Sebabnya, tak lain karena tanah yang basah sehingga roda belakang meleset saat rem ditarik. Bukan jatuh yang keras akibat kehilangan control, “Tapi saya jatuh terakhir tahun 1969. Setelah 42 tahun jatuh lagi dari sepeda, ya lumayan,” ungkap Darjoto. Kami memang sangat was-was. Sebab gowes kali ini adalah gowes perdana off road buat Pak Darjoto. Bila sukses, kami yakin makin banyak trek yang akan dijajal. Sebaliknya bila gagal, kami tidak tahu harus bagaimana agar semangatnya tidak patah.</p>
<p>Evakuasi pun dilakukan. Setelah berjalan 500 meter, kami berhenti di warung kecil di tengah hutan Jayagiri. Warung The Iis namanya, merujuk pada nama si empunya warung. Di situ kami makan gorengan dan minum teh panas hangat sepuasnya. Walau di warung kecil, rasa teh panasnya sungguh mengalahkan rasa earl grey di hotel berbintang lima. Apalagi saat harus membayar. Cuma Rp 57.000 untuk kami ber-15 makan dan minum.</p>
<p>Setelah PCS diangkut dengan mobil dan langsung menuju finish di Punclut, kami melanjutkan gowes. Kewaspadaan dan kehati-hatian jauh berkurang karena etape terakhir adalah jalan aspal dari Lembang ke Punclut. Tapi bukan berarti kami bersantai. Sebab, jalan yang harus kami tempuh adalah jalan beraspal dengan tanjakan dan turunan yang curam dan panjang. Mobil evakuasi sempat dipanggil untuk menjemput srikandi, tapi semangat yang menyala tak menyurutkan para srikandi untuk meneruskan perjalanan, kendati harus menuntun sepeda di tanjakan.</p>
<p>Dan akhirnya sekitar jam 14.00 kami tiba di rumah PCS di punclut. Rumah Djoglo dengan hamparan pemandangan kota Bandung. Sungguh indah. Kami pun bercanda-ria melepas kelelahan. Sebagian mengganti pakaian yang basah dengan pakaian kering. Dan semakin lengkaplah kenikmatan hari itu ketika kami disodori nasi timbel lengkap dengan tahu-tempe dan ayam goring plus tambahan lauk mulai dari iga bakar, gurame hingga semur jengkol.</p>
<p>Dan saat semuanya selesai, kami punya masalah. Mobil untuk mengangkut orang dan sepeda ternyata tidak cukup. Sebab satu mobil harus tinggal di rumah Punclut menunggu PCS diurut. Dan jadilah, sebagian pendekar kembali hujan-hujanan dari Bandung Utara ke Bandung Selatan. Terlanjur basah, ya sudah gowes saja sekalian sebagai gowes pamungkas. Dan kami bukan mengumpat, tapi justru bersyukur tiada tara beroleh kesempatan menikmati kota Bandung di sore hari dalam siraman air hujan. Sungguh suatu berkah kami boleh sehat dan menikmati kebersamaan menunggangi kereta angin.</p>
<p>Sampai ketemu di trip berikutnya yang pasti akan lebih seru….</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/10/09/terlanjur-basah-ya-sudah-gowes-sekalian%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>saya belum makan angry birds itu</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/09/29/saya-belum-makan-angry-birds-itu/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/09/29/saya-belum-makan-angry-birds-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 12:07:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[kegemaran]]></category>
		<category><![CDATA[kubikel]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[angry birds]]></category>
		<category><![CDATA[cupcake]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6746</guid>
		<description><![CDATA[angry birds itu masih ada di atas meja. saya belum memakannya. rasanya kasihan. rasanya sayang. rasanya eman. duh. padahal harusnya sudah saya habiskan selasa kemarin. itu hari kadaluarsanya! **lirik hari, hari ini sudah hari kamis!** terimakasih untuk fin harini yang sudah menyisihkan dua cupcake karakter angry birds untuk saya. katanya, sudah ada yang mau minta. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 301px"><a href="http://tinypic.com?ref=24cyzyo" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" src="http://i55.tinypic.com/24cyzyo.jpg" alt="Image and video hosting by TinyPic" width="291" height="218" border="0" /></a><p class="wp-caption-text">angry birds cupcake</p></div>
<p>angry birds itu masih ada di atas meja.</p>
<p>saya belum memakannya. rasanya kasihan. rasanya sayang. rasanya eman. duh. padahal harusnya sudah saya habiskan selasa kemarin. itu hari kadaluarsanya! **lirik hari, hari ini sudah hari kamis!**</p>
<p>terimakasih untuk fin harini yang sudah menyisihkan dua cupcake karakter angry birds untuk saya.</p>
<p>katanya, sudah ada yang mau minta. &#8220;kubilang aja, itu buat anaknya temanku &#8230;&#8221; katanya.</p>
<p>hah, sejak kapan fin kenal ibu? hahahaha &#8230;</p>
<p>ah, terimakasih. bahkan saya menyukainya. menyukai game-nya. menyukai cupcake nya.</p>
<p>bohong kalau saya bilang bikin beginian gampang. nyatanya, sampai saya menghabiskan si babi mata juling saja saya belum punya niat untuk belajar bikin cupcake!</p>
<p>bahkan, saya belum memakannya sampai sekarang, saking eman-eman-nya.</p>
<p>ah, terimakasih fin!</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/09/29/saya-belum-makan-angry-birds-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>craft project: wadah remote</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/08/29/craft-project-wadah-remote/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/08/29/craft-project-wadah-remote/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Aug 2011 17:55:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita cidodol residence]]></category>
		<category><![CDATA[craft]]></category>
		<category><![CDATA[kegemaran]]></category>
		<category><![CDATA[remote]]></category>
		<category><![CDATA[wadah remote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6681</guid>
		<description><![CDATA[remote teve toshiba. remote dvd player philips. remote indovision. blackberry. iphone. sudah lama sekali saya sebal dengan gadget yang cukup berantakan di kasur saat malam hari. semua-muanya, rasanya mengganggu kenyamanan berkasur di malam hari. dengan adanya satu tambahan remote, membuat saya makin yakin bahwa saya membutuhkan wadah remote. dengan ditemani tingtingndut membeli kain-kain ke pasar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 309px"><a href="http://tinypic.com?ref=bgse42" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" src="http://i54.tinypic.com/bgse42.jpg" alt="Image and video hosting by TinyPic" width="299" height="224" border="0" /></a><p class="wp-caption-text">minus iphone</p></div>
<p>remote teve toshiba. remote dvd player philips. remote indovision. blackberry. iphone.</p>
<p>sudah lama sekali saya sebal dengan gadget yang cukup berantakan di kasur saat malam hari. semua-muanya, rasanya mengganggu kenyamanan berkasur di malam hari. <img src='http://femiadi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>dengan adanya satu tambahan remote, membuat saya makin yakin bahwa saya membutuhkan wadah remote. dengan ditemani tingtingndut membeli kain-kain ke pasar mayestik di sore hari, jadilah saya membikin wadah remote ini.</p>
<p>ah, kalau sudah agak njlimet begini, saya merindukan mesin jahit! semuanya ini masih saya bikin dengan jahitan tangan sendiri. nanak-nunuk, harus sabar membikin jahitan ala back-stitch.</p>
<p>saya membikin alasnya terlebih dahulu, yang terbikin dari dua lapis kain blacu. sesudahnya, meletakkan semua devices di atas blacu, dan menindihkan kain di atasnya. sesudahnya, saya memasangkan jarum sebagai penanda.</p>
<p>lalu mulailah saya menjahit dengan tangan.</p>
<p>karena mulai kelelahan yang amat sangat di tengah malam yang sudah nyaris pagi, saya akhirnya membubuhkan lem di bagian belakang, yang menempelkan kain biru bintik putih pada blacu, saya mengelemnya dengan power glue! hahahahahahahahahahaha &#8230;</p>
<p>biar biar. yang penting semuanya tetap pada jalurnya: saya membutuhkan mesin jahit! <img src='http://femiadi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/08/29/craft-project-wadah-remote/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

