nasi goreng di kereta api gajayana

Comments Off

yummy!

sarapan!

saya nyaris tak pernah membungkus makanan dalam perjalanan berkereta. mm …. kadang dibikin asal-asalan lantas dilepas dengan harga yang tidak wajar.

tapi, pagi ini saya butuh makan. alhasil, saya membungkus nasi goreng yang ditawarkan di sepanjang gang gerbong. telur mata sapinya itu lo, kok sepertinya ngawe-awe. :)

porsinya sepertinya didesain untuk sarapan pagi. engga terlalu banyak, tapi juga engga terlalu sedikit. ada irisian mntimun, acar. tomat, telur ceplok, ayam goreng dan kerupuk super mini.

saya geli dengan kerupuknya. kecil bener. :p

saya melahapnya. lumayan lah. nasi goreng-nya berasa nasi goreng. bukan hanya nuansa nasi goreng.

sepiring nasi goreng ini saya tebus Rp 20.000.

buru-buru saya menarik selimut; dan tidur lagi. perjalanan ke jakarta masih agak panjang.

sate ayam datang dengan porsi super mini

Comments Off

first round: mengecewakan

rasa lapar membikin langkah ini terasa berat; bahkan menggemetar.

tapi permitaannya sungguh engga mudah untuk dicari di plasa semanggi: sate ayam dengan lontong. usai perburuan cukup melelahkan, kami mendapatkannya di warung pojok; warung dengan desain jadol dan masakan lawas pula.

sate dan lontong pesanannya datang. sementara itu, pesanan saya pun datang: tahu telur.

kami menggelak, dan tak berhenti terbahak. kami tertawa bahkan nyaris seperti menangis. ya ampyun, porsinya super mini! sudah mini, super lagi! duh duh duh … lima tusuk sate ayam, dengan irisan lontong yang tipis dan dalam hitungan yang engga lebih dari dua tangan.

porsi yang memenuhi perut kami biasanya besar. iya, besar. yaaah … kalau engga besar, minimal normal lah. dan yang ini engga normal! ow ow ow!

acara bayar-membayar kemudian menjadi kian tidak enak: sudah mahal, porsinya kecil pulak! :)

bagaimana kalau second round!?? tak letih memburu sate ayam, kami pun merangsek ke pejompongan. yaps, sate djono jogja!

“dua sate kambing, satu sate ayam, tiga lontong, dua es teh tawar!” katanya, kalap.

sembari menunggu pesanan, kami membincang soal bungkusan sate ayam podomoro di jogja, soal rasa shock makan sate ayam di warung pojok, juga soal terakhir kalinya makan sate djono di jogja. yay, sate djono adalah kenangan bersama ayah. aihs, tak berasa, sembari berbincang, sajian tahu sumedang berisi sepuluh tahu pun ludes kami lalap.

pesanan datang!

dua sate kambing, satu sate ayam, tiga lontong, dua es teh tawar. dan semuanya habis kami lahap. :)

holycow steak; steak hotel di radio dalam

Comments Off

sudah mampir kemari?

steak!

“pernah makan steak hotel?” tanyanya. lalu ia menyebut nama lain lagi: holycow.

saya cuma cligak-clinguk saja. steak hotel? yang saya tahu adalah tokio hotel, group band rock asal jerman. hihihi … apalagi holycow; yang saya tahu adalah kalimat dalam saban persimpuhan didepanNya: ” … holy spirit, amen”

dan kami menyambanginya, sore tadi.

ow! what a humble steak! tak bermewah-mewah, steak hotel hanya menghuni pekarangan sebuah bangunan kecil. penerangannya pun tak terlalu terang benderang. deretan bangku panjang yang saban bangkunya memuat dua orang, dengan meja yang hanya memuat total empat orang per meja. nyaris tak ada gang untuk bisa melenggang dengan bergaya.

“waiting list, menunggu tiga antrian. silakan tunggu di samping,” kata si mbak.

okey!

kami menunggu dengan sabar, dan dengan rasa penasaran yang menumpuk. apa yang bikin warung steak ini begitu larisnya. lebih dari sekadar popularitas di social networking, mestinya ada magnet jempolan yang membikin perut-perut lapar rela ngantri.

“speciality nya wagyu steak … ” kata si mas saat kami sudah duduk manis menimang kertas menu.

dan kami memesan dua australian sirloin dengan kematangan yang rare untuk saya, dan well done untuknya. ditambah, green tea re-fill. sedep mantep, pakde!

saat pesanan datang, rupanya penandanya adalah bendera kecil yang memuat pesanan, nama pemesan dan nomor meja. selebihnya adalah akun di twitter, email dan akun di facebook.

australian sirloin, dengan tingkat lemak yang super rendah, saos blackpeper dan dimaska rare … aih, holycow juara!  dan pesanan serupa miliknya dengan tingkat kematangan yang well done, steak hotel ini jempol naik dah!

muatan piring keramik (bukan hot plate)  bukan hanya daging saja, tetapi juga buncis, kentang goreng, setengah tomat baby, dan saus.

ya, saus nya yang agak encer diwadahkan dalam cawan kecil, dan si empunya rupanya tidak pelit dengan saus ini.

ya ya, sepertinya besok harus kembali kemari lagi. tentu saja, datang lebih pagi biar engga harus waiting list.

“psst, sepuluh bendera ini bisa ditukar dengan satu wagyu lo!” bisiknya. ah, gosip!

#poster: beer

Comments Off

saya harus berterima kasih pada bir, yang mengantarkan saya pada gelak yang riang dan canda yang tak ada habisnya setelah tenggat usai. sudut bangunan pabrik kata-kata ini, kubikel pojok milik kolega, bekas kubikel yang mungil, kolong kubikel, nyatanya mencatatkan beragam cerita soal hidup.

ya, poster yang saya temukan itu membikin ujung bibir tertarik ke atas.

“all right brain. I don’t like you and you don’t like me. so, let’s just do this and I’ll get back to killing you with beer,” kata homer simpson.

mendoan barito dan kenangan yang menggudang

Comments Off

mengundang ingatan

di seberang bubur ayam barito, mendoan mencatatkan segudang kenangan.

tentu saja, dengan sejumlah kolega dekat. ah, tak terhitung banyaknya. memesan mendoan lima ribu, menunggu dengan sabar sembari  menikmati pemandangan di sekitar, dan sesudahnya menyantapnya dengan riang.

si mas penjualnya juga terlihat cihuy. dandannya tak kalah necis dengan ABG jaman sekarang. sneakers, colorful t-shirt dan topi. tak heran, saban bertandang ke sana dan berpakaian apa adanya, sering keki sendiri dengan dandanan si mas penjualnya. :)

di sebuah sore, sigit menjemput. kami bertemu janji untuk mengunjungi mendoan barito. di sore yang lain, saya juga punya janji kecil dengan xaxa. saat bola raksasa mulai tenggelam di lain hari, mendoan ini saya lahap dengan si soe. gerimis hujan yang merintik juga menyeret saya ke barito dengan abang, atau juga mbakyu.

aih.

“gimana, mau mendoan barito?” tawar abang, semalam, sambil tersenyum mengundang ingatan. ya, ya, ya. saya tahu persis, kami sama-sama mengeduk ingatan pada sebuah malam yang membawa kami ke mendoan barito; dan sesudahnya mencuatlah ujaran, “dulu mbakyumu sering bawa ini …” katanya.

dan lagi, kami menggelak semalam. tanpa harus secara verbal menegaskan memorinya yang tetap saja tertinggal.

ya, mendoan barito, dan kenangan yang menggudang.