nasi goreng di kereta api gajayana

Comments Off

yummy!

sarapan!

saya nyaris tak pernah membungkus makanan dalam perjalanan berkereta. mm …. kadang dibikin asal-asalan lantas dilepas dengan harga yang tidak wajar.

tapi, pagi ini saya butuh makan. alhasil, saya membungkus nasi goreng yang ditawarkan di sepanjang gang gerbong. telur mata sapinya itu lo, kok sepertinya ngawe-awe. :)

porsinya sepertinya didesain untuk sarapan pagi. engga terlalu banyak, tapi juga engga terlalu sedikit. ada irisian mntimun, acar. tomat, telur ceplok, ayam goreng dan kerupuk super mini.

saya geli dengan kerupuknya. kecil bener. :p

saya melahapnya. lumayan lah. nasi goreng-nya berasa nasi goreng. bukan hanya nuansa nasi goreng.

sepiring nasi goreng ini saya tebus Rp 20.000.

buru-buru saya menarik selimut; dan tidur lagi. perjalanan ke jakarta masih agak panjang.

dadah-dadah di stasiun

Comments Off

thanks kang kb!

saya terharu.

kang kadal basi mengantarkan dan menemani saya hingga ular besi ini berarak meninggalkan jogja. hayyyy …  hati saya rasanya kemrenyes. duh duh duh …

tidak ada yang pernah mengantarkan saya pada tempat yang selalu bikin hati saya campuraduk ini, ya, stasiun ini. mungkin lima tahun lalu, atau enam tahun lalu, saat laki-laki dengan genggaman yang hangat itu mengecup hangat pipi dan kening saya di stasiun, dan sesudahnya menghilang tak ketahuan rimbanya.

dan saya tak pernah meminta siapapun untuk mengantarkan saya pada stasiun yang selalu mengeduk memori buruk itu.

tapi janji temu dibikin sejak sabtu kemarin, dengan kang kadal basi. kami bakal bertemu di stasiun tugu ini, tepat jam 10 malam. “aku pakai jaket ungu ya …” katanya. aduh, seperti blind date!

seorang laki-laki muda sempat memanggil saya, dan membikin saya ketakutan setengah mati. meski ini ‘hanya’ jogja, tetapi tempat publik dan panggilan yang tak ketahuan juntrungnya selalu membikin saya paranoid. More

nyadran, menaklikkan doa untuk ayah dan ibu

Comments Off

see you soon, mom, dad!

ini bukanlah upaya ekstra. tetapi sebuah kewajiban.

ya, saya dan esti, kakak saya, menyambangi rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.

pekarangan dengan tumpukan dedaunan kering. dinding yang melumut. aih, ini rupanya rupa rumah mereka setelah tak kami sambangi lebih dari sebulan.

“ini bener-bener nyadran …” seloroh esti.

bukan hanya bunga khusus yang kami siapkan untuk mereka; bunga anggrek dengan rerimbunan crysant dan juga sedap malam. lebih dari itu, tangan kami berselancar untuk meminggirkan hijaunya lumut yang membubuhi dinding rumah mereka.

dan sore tak menciutkan nyali kami untuk tetap disini. di rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.

saya rindu mereka.

selaksa peristiwa selalu membayang saban acara kunjungan ini datang. taburan bunga ibu di rumah simbah kakung dan simbah buyut; hingga penyesalan ayah soal ketidakhadiran ibu mengiringi kehidupan kami yang mengancik kedewasaan.

saya rindu mereka.

iPad, filateli dan ulang tahun yang sama

Comments Off

engga sengaja!

hanya selisih tahun, persisnya, selisih 12 tahun.

tapi apa mau dikata. ini adalah perjalanan yang terbilang unik. saya bertemu dengan perempuan yang memiliki tanggal lahir yang sama, bulan yang sama, dan tahun yang berbeda. dengan selisih tahun yang ada, kami memiliki shio yang sama. ini adalah kebetulan, kalau tak hendak dibilang sudah terencanakan oleh Si Empunya Hidup.

kami berkereta ke jogja, untuk tujuan yang berbeda. seperti biasanya, saya selalu minta duduk di kursi A atau D. apesnya, ya B atau C yang mudah tersepak oleh tas besar pelancong, maupun pantat yang kemana-mana. tapi, kali ini saya mendapatkan kursi yang dekat jendela di kereta argolawu tambahan.

” … maaf, mengganggu sebentar. tapi, itu apa ya?” tanyanya, menunjuk iPad yang tengah saya mulai mainkan untuk menyingkirkan kebosanan. sumpah, terbangun dengan srengenge yang begitu terang dan ternyata masih di purwokerto, membikin bosan kian menumpuk.

namanya winda; ibu dua anak sekaligus karyawan di kawasan segitiga emas jakarta, di kuningan. usai saya bilang soal iPad dan aplikasi yang bisa diunduh secara gratis maupun berbayar, pertanyaan yang menggelikan muncul: “ada filateli juga?”

aih. filateli.

kesenangan lama saya yang terabai oleh kesibukan-kesibukan kecil yang menggunung; ditambah dengan kemudahan berjejalin melalui serat-serat elektronik. hingga, hanya menyisakan kiriman kartupos untuk kang kadal basi di singapura, indah di kota kembang, dan beberapa kolega di tebaran benua.

ia pun membeberkan koleksinya; dengan porsi terbanyak dari australia. ia juga menuturkan keluarganya; dua anak perempuan yang manis dan juga suami yang mahir beladiri. “ini perjalanan berkereta saya pertama setelah tahun … tahun 2000!” katanya, setengah terkejut dengan waktu-yang-ternyata-bergitu-lama. ow!

perjalanan berkereta yang harus tertunda sekitar 3 jam akibat ada kereta yang anjlok di stasiun manggarai, nyatanya tetap menyisakan perjalanan yang menyenangkan.

“… nomer belakangnya 4480 karena saya lahir pada 4 april 1980,” terang saya, sambil menunjuk nomer seluler yang saya bagikan untuknya.

ia hanya mengangguk sembari tersenyum. namun dalam hitungan detik, ia langsung terperanjat. “eh, apa? 4 april 80?” tanyanya, mendesak. ia mengulurkan tangan, menyalami saya. “saya 4 april tapi 12 tahun lebih awal,” katanya.

aduh. OMG!

Si Empunya Hidup begitu baiknya. mengantarkan saya pada begitu banyak orang yang menyenangkan dan membikin saya bisa menebalkan pengalaman.

dan satu lagi, Si Pemilik Hidup juga mengantarkan saya pada winda, ibu dua anak sekaligus kolektor perangko yang melajukan tubuhnya yang mungil dengan langkah yang begitu cepat dan malam itu ‘kesasar’ ikut KRL ke kota dalam perjalanannya ke jogja.

*nice to meet you!*

kangen aja, engga pakai banget!

Comments Off

k.a.n.g.e.n

“I hate to turn off the phone and waiting for another calls in the next 2 weeks … ” tulis saya untuknya.

perasaan ini selalu saja sama saban menutup telpon usai berbincang dengannya. mencuatkan ini itu. ngakak sana sini. membual dan merayu yang engga penting. yay … perasaan saya selalu saja tersara bara alias berantakan; antara hepi sekaligus melankolis.

aih. laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah.

saya senang mendengar gelaknya yang begitu lepas. mulai dari bualannya tentang ukuran celana sesuai standar jepang hingga acara mencerling perempuan manis di kantornya. “masih ingat ya punya hitang motretin ukuran celana panjang? disini ukuranku 76,” katanya; usai saya menyebut angka 80 untuk ukuran levi’s saya.  sial. tak mau kalah, saya langsung menyebut, “ow, kalo nomermu 76, berarti nomerku 70!”

keriangan dan gelak yang terurai itu selalu membikin hati saya lega. perbincangan berjarak 5782 km ini sebentar, tetapi selalu meninggalkan cacahan ingatan yang menggembirakan untuk dicatat dan diintip kembali kelak.

“aku kangen banget,” katanya. yay, amsal ini jamak tercuat saban perjumpaan kami melalui sesulur ponsel.

“aku juga kangen, tapi engga pakai banget!” seloroh saya. lagi, tawanya menderai. ah, saya suka dengan buncahan gelaknya; rasanya seperti ditenggelamkan diantara tetumpukan bantal dan tubuhnya yang hangat.

hanya saja, kesibukannya belakangan justru lebih menenggelamkan dirinya pada ketidakmampuan-membalas-email. aiyh. barangkali, ditambah dengan sedikit kemalasan dan keinginan-untuk-membalasnya-nanti-saja. hum.

ya, saya bisa memahaminya. sangat bisa memahaminya. tak ubahnya dengan ia yang memahami saya yang menggemari sepeda dan rasa letih yang amat sangat yang saya derita sejak pagi tadi.

“kamu sih mainan sepeda aja …” katanya.

“ya iya dong, abisnya engga ada yang lain yang bisa dimainin … ” seloroh saya.  dan kami menggelak bersama. blah-blah-blah ledekan jorok pun mencuat sesudahnya. *terimakasih untuk menemani selonjoran saya kemarin; usai bersepeda 15 km gowes bareng kompas*

dan tidak mudah untuk menutup telepon sesudah perbincangan yang hangat ini. sungguh.