<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Femi Adi Soempeno &#187; ayah</title>
	<atom:link href="http://femiadi.com/tag/ayah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://femiadi.com</link>
	<description>remah-remah dari kubikel berantakan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Aug 2010 10:25:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>nyadran, menaklikkan doa untuk ayah dan ibu</title>
		<link>http://femiadi.com/2010/08/01/nyadran-menaklikkan-doa-untuk-ayah-dan-ibu/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2010/08/01/nyadran-menaklikkan-doa-untuk-ayah-dan-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 05:36:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kembang arum]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>
		<category><![CDATA[makam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=5931</guid>
		<description><![CDATA[ini bukanlah upaya ekstra. tetapi sebuah kewajiban.
ya, saya dan esti, kakak saya, menyambangi rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.
pekarangan dengan tumpukan dedaunan kering. dinding yang melumut. aih, ini rupanya rupa rumah mereka setelah tak kami sambangi lebih dari sebulan.
&#8220;ini bener-bener nyadran &#8230;&#8221; seloroh esti.
bukan hanya bunga khusus yang kami siapkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a title="ImageShack - Image And Video Hosting" href="http://img197.imageshack.us/i/nyadran.jpg/" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" src="http://img197.imageshack.us/img197/716/nyadran.jpg" border="0" alt="" width="320" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">see you soon, mom, dad!</p></div>
<p>ini bukanlah upaya ekstra. tetapi sebuah kewajiban.</p>
<p>ya, saya dan esti, kakak saya, menyambangi rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.</p>
<p>pekarangan dengan tumpukan dedaunan kering. dinding yang melumut. aih, ini rupanya rupa rumah mereka setelah tak kami sambangi lebih dari sebulan.</p>
<p>&#8220;ini bener-bener nyadran &#8230;&#8221; seloroh esti.</p>
<p>bukan hanya bunga khusus yang kami siapkan untuk mereka; bunga anggrek dengan rerimbunan crysant dan juga sedap malam. lebih dari itu, tangan kami berselancar untuk meminggirkan hijaunya lumut yang membubuhi dinding rumah mereka.</p>
<p>dan sore tak menciutkan nyali kami untuk tetap disini. di rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.</p>
<p>saya rindu mereka.</p>
<p>selaksa peristiwa selalu membayang saban acara kunjungan ini datang. taburan bunga ibu di rumah simbah kakung dan simbah buyut; hingga penyesalan ayah soal ketidakhadiran ibu mengiringi kehidupan kami yang mengancik kedewasaan.</p>
<p>saya rindu mereka.</p>
 <img src="http://femiadi.com/wp-content/plugins/wordpress-feed-statistics/feed-statistics.php?view=1&post_id=5931" width="1" height="1" style="display: none;" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2010/08/01/nyadran-menaklikkan-doa-untuk-ayah-dan-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ibo dan tongkang</title>
		<link>http://femiadi.com/2010/06/04/ibo-dan-tongkang/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2010/06/04/ibo-dan-tongkang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 16:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[esti]]></category>
		<category><![CDATA[femi]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=5764</guid>
		<description><![CDATA[begitu kami saling memanggil:  ibo dan tongkang.
saya selalu terbahak bila mendapati teleponnya. tanpa hallo, tanpa hai, tanpa femiiiiiiiii. yang ada adalah suara dari seberang yang berteriak dengan tanpa tanda koma: &#8220;ibo, ibo, ibo, ibo &#8230; &#8221;
saya menggelak. sial. lidah dan bibir saya kelu, seolah tak bisa spontan menyebut: &#8220;tongkaaaang &#8230; &#8221; speechles, saya hanya menderai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a title="ImageShack - Image And Video Hosting" href="http://img265.imageshack.us/i/alfabetz.jpg/" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" title="image courtesy: flickr" src="http://img265.imageshack.us/img265/2435/alfabetz.jpg" border="0" alt="" width="320" height="264" /></a><p class="wp-caption-text">ada nama untuk kami</p></div>
<p>begitu kami saling memanggil:  ibo dan tongkang.</p>
<p>saya selalu terbahak bila mendapati teleponnya. tanpa hallo, tanpa hai, tanpa femiiiiiiiii. yang ada adalah suara dari seberang yang berteriak dengan tanpa tanda koma: &#8220;ibo, ibo, ibo, ibo &#8230; &#8221;</p>
<p>saya menggelak. sial. lidah dan bibir saya kelu, seolah tak bisa spontan menyebut: &#8220;tongkaaaang &#8230; &#8221; speechles, saya hanya menderai tawa saja.</p>
<p>akhirnya saya menemukan nama itu. ya, nama yang mas untuknya: tongkang. <img src='http://femiadi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>sama saja kok dengan ibo. keduanya berangkat dari realita yang sama. dari basis masa lalu yang memang menjadi jejak rekam seumur hidup. dan hanya kami yang tahu.</p>
<p>andai saja ayah dan ibu masih hidup. tentu keduanya tertawa hingga menangis kegelian melihat bagaimana kami bercanda.</p>
 <img src="http://femiadi.com/wp-content/plugins/wordpress-feed-statistics/feed-statistics.php?view=1&post_id=5764" width="1" height="1" style="display: none;" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2010/06/04/ibo-dan-tongkang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>saya akan pulang naik kereta</title>
		<link>http://femiadi.com/2010/03/18/saya-akan-pulang-naik-kereta/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2010/03/18/saya-akan-pulang-naik-kereta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 18:16:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pjka]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[pulang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=5477</guid>
		<description><![CDATA[saya kangen dengan suara kereta.
saya kangen dengan peluit petugas PPKA yang bertopi merah. saya  kangen dengan jajanan pecel kembang kecombrang yang jamak saya asup di  kereta tahun-tahun yang lalu.
kepulangan ke jogja, kini menjadi hal yang sangat mewah. ya,  m-e-w-a-h. kini, tak selalu bisa melegakan punggung di kasur empuk  semalaman dengan sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a title="ImageShack - Image And Video Hosting" href="http://img233.imageshack.us/i/tiket27.jpg/" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" src="http://img233.imageshack.us/img233/1196/tiket27.jpg" border="0" alt="" width="320" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">tiket usang </p></div>
<p>saya kangen dengan suara kereta.</p>
<p>saya kangen dengan peluit petugas PPKA yang bertopi merah. saya  kangen dengan jajanan pecel kembang kecombrang yang jamak saya asup di  kereta tahun-tahun yang lalu.</p>
<p>kepulangan ke jogja, kini menjadi hal yang sangat mewah. ya,  m-e-w-a-h. kini, tak selalu bisa melegakan punggung di kasur empuk  semalaman dengan sangat nyenyak. kini, tak selalu bisa membincang dengan  keriuhan yang ada dalam sepanjang perjalanan jakarta-jogja-jakarta.</p>
<p>tapi, saya tetap harus mensyukuri apa yang ada pada saya saat ini:  perjalanan ke jogja yang begitu pendek, dan perjumpaan dengan kerabat  yang begitu singkat. tak apa. pun, saya harus mensyukuri, saya masih  tetap bisa berseliweran ke jogja lebih sering ketimbang kolega saya yang  lain.</p>
<p>dan saya akan segera memburu suara itu: suara kereta.</p>
<p>saya sudah mengantongi tiket. yaps, saya akan pulang ke jogja ujung  minggu ini. tentu saja, dengan naik kereta.</p>
 <img src="http://femiadi.com/wp-content/plugins/wordpress-feed-statistics/feed-statistics.php?view=1&post_id=5477" width="1" height="1" style="display: none;" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2010/03/18/saya-akan-pulang-naik-kereta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>yang tidak bisa diucapkan ayah</title>
		<link>http://femiadi.com/2010/02/20/yang-tidak-bisa-diucapkan-ayah/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2010/02/20/yang-tidak-bisa-diucapkan-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 19:35:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[asupan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ragam cuatan]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=5431</guid>
		<description><![CDATA[saya mendapatkan sebuah cuilan kisah tentang seorang ayah. ya, saya menangis dibuatnya:
&#8220;YANG TIDAK BISA DIUCAPKAN AYAH&#8221;
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya&#8230;..
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya..
Lalu bagaimana dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a title="ImageShack - Image And Video Hosting" href="http://img85.imageshack.us/i/timew.png/" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" title="image courtesy: flickr" src="http://img85.imageshack.us/img85/1855/timew.png" border="0" alt="" width="320" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">posisi ayah tidak pernah tergantikan</p></div>
<p>saya mendapatkan sebuah cuilan kisah tentang seorang ayah. ya, saya menangis dibuatnya:</p>
<p>&#8220;YANG TIDAK BISA DIUCAPKAN AYAH&#8221;</p>
<p>Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya&#8230;..</p>
<p>Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya..<br />
Lalu bagaimana dengan Papa?</p>
<p>Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?<br />
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?<span id="more-5431"></span></p>
<p>Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil&#8230;&#8230;.<br />
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.<br />
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu&#8230;<br />
Kemudian Mama bilang : &#8220;Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya&#8221; ,<br />
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka&#8230;.</p>
<p>Tapi sadarkah kamu?<br />
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.</p>
<p>Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.<br />
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : &#8220;Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang&#8221;<br />
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?</p>
<p>Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : &#8220;Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!&#8221;.<br />
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.<br />
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.</p>
<p>Ketika kamu sudah beranjak remaja&#8230;..<br />
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: &#8220;Tidak boleh!&#8221;.<br />
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?<br />
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat &#8211; sangat luar biasa berharga..<br />
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu&#8230;<br />
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama&#8230;.<br />
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,<br />
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?</p>
<p>Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia&#8230;. :&#8217;)<br />
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..<br />
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?</p>
<p>Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.<br />
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir&#8230;<br />
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut &#8211; larut&#8230;<br />
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .</p>
<p>Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?<br />
&#8220;Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa&#8221;</p>
<p>Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.<br />
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata &#8211; mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti&#8230;<br />
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa</p>
<p>Ketika kamu menjadi gadis dewasa&#8230;..<br />
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain&#8230;<br />
Papa harus melepasmu di bandara.<br />
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?<br />
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini &#8211; itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .<br />
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.<br />
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata &#8220;Jaga dirimu baik-baik ya sayang&#8221;&#8230;<br />
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT&#8230;.kuat untuk pergi dan menjadi dewasa..</p>
<p>Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.<br />
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.<br />
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan&#8230;</p>
<p>Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : &#8220;Tidak&#8230;. Tidak bisa!&#8221;<br />
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan &#8220;Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu&#8221;.<br />
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?</p>
<p>Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.<br />
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.<br />
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat &#8220;putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang&#8221;</p>
<p>Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.<br />
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..<br />
Karena Papa tahu&#8230;&#8230;.<br />
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.</p>
<p>Dan akhirnya&#8230;. .</p>
<p>Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia&#8230;.<br />
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?<br />
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa&#8230;..<br />
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: &#8220;Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik&#8230;.<br />
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik&#8230;.<br />
Bahagiakanlah ia bersama suaminya&#8230;&#8221;</p>
<p>Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk&#8230;<br />
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih&#8230;.<br />
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya&#8230;.<br />
Papa telah menyelesaikan tugasnya&#8230;.</p>
<p>Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita&#8230;<br />
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat&#8230;<br />
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis&#8230;<br />
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .<br />
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa &#8220;KAMU BISA&#8221; dalam segala hal..</p>
<p>Saya mendapatkan notes ini dari seorang teman, dan mungkin ada baiknya jika aku kembali membagikannya kepada teman-teman ku yang lain.</p>
<p>Tulisan ini aku dedikasikan kepada teman-teman wanita ku yang cantik, yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa serta ANGGUN, dan juga untuk teman-teman pria ku yang sudah ataupun akan menjadi ayah yang HEBAT !</p>
<p>Yup, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Romo / Papa / Papi kita&#8230; tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya.</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;"><span style="font-family: arial,sans-serif; border-collapse: collapse;"><strong><span style="font-size: 10pt;">&#8220;YANG TIDAK BISA DIUCAPKAN AYAH&#8221;</span></strong><br />
<strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya&#8230;..</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya..</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Lalu bagaimana dengan Papa?</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil&#8230;&#8230;.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Papa biasanya  mengajari putri kecilnya naik sepeda.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu&#8230;</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Kemudian Mama bilang : &#8220;Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya&#8221; ,</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka&#8230;.</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Tapi sadarkah kamu?</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : &#8220;Boleh, kita beli nanti,  tapi tidak sekarang&#8221;</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : &#8220;Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!&#8221;.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Ketika kamu sudah beranjak remaja&#8230;..</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: &#8220;Tidak boleh!&#8221;.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat &#8211; sangat luar biasa berharga..</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu&#8230;</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dan yang  datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama&#8230;.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia&#8230;. :&#8217;)</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir&#8230;</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut &#8211; larut&#8230;</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Sadarkah  kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
&#8220;Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa&#8221;</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata &#8211; mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti&#8230;</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Ketika kamu menjadi gadis dewasa&#8230;..</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain&#8230;</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Papa harus melepasmu di  bandara.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini &#8211; itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata &#8220;Jaga dirimu baik-baik ya sayang&#8221;&#8230;</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT&#8230;.kuat untuk pergi dan menjadi dewasa..</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Papa  pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan&#8230;</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : &#8220;Tidak&#8230;. Tidak bisa!&#8221;</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan &#8220;Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu&#8221;.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat &#8220;putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang&#8221;</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Karena Papa tahu&#8230;&#8230;.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dan akhirnya&#8230;. .</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia&#8230;.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Apakah kamu  mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa&#8230;..</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: &#8220;Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik&#8230;.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik&#8230;.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Bahagiakanlah ia bersama suaminya&#8230;&#8221;</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk&#8230;</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih&#8230;.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk  menjagamu dari bahaya&#8230;.</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Papa telah menyelesaikan tugasnya&#8230;.</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita&#8230;</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat&#8230;</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis&#8230;</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .</span> </strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa &#8220;KAMU BISA&#8221; dalam segala hal..</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Saya mendapatkan notes ini dari seorang teman, dan mungkin ada baiknya jika aku kembali membagikannya kepada teman-teman ku yang lain.</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Tulisan ini aku dedikasikan kepada teman-teman wanita ku yang cantik, yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa serta ANGGUN, dan juga untuk teman-teman pria ku yang sudah ataupun akan menjadi ayah yang HEBAT !</span><br />
</strong><strong><span style="font-size: 10pt;"><br />
Yup, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Romo / Papa / Papi kita&#8230; tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya.</span></strong></span></div>
 <img src="http://femiadi.com/wp-content/plugins/wordpress-feed-statistics/feed-statistics.php?view=1&post_id=5431" width="1" height="1" style="display: none;" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2010/02/20/yang-tidak-bisa-diucapkan-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kangen ayah dan ibu</title>
		<link>http://femiadi.com/2010/02/08/kangen-ayah-dan-ibu/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2010/02/08/kangen-ayah-dan-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 18:32:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ragam cuatan]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=5178</guid>
		<description><![CDATA[agnes yohana dan paulus soempeno.
ya, saya begitu menyayangi keduanya. setiap lantunan syukur, adalah rasa terima kasih padaNya atas kehadiran mereka dalam hidup saya. dan mengganti bunga lawas dengan bunga yang segar, adalah salah satu alasan mengapa saya harus menyambangi rumah bumijo.
andai ayah dan ibu tahu, betapa saya bosan menjawab pertanyaan atas pertanyaan yang itu-itu saja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a title="ImageShack - Image And Video Hosting" href="http://img39.imageshack.us/i/canon2278.jpg/" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" src="http://img39.imageshack.us/img39/2949/canon2278.jpg" border="0" alt="" width="320" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">bunga pengantar doa</p></div>
<p>agnes yohana dan paulus soempeno.</p>
<p>ya, saya begitu menyayangi keduanya. setiap lantunan syukur, adalah rasa terima kasih padaNya atas kehadiran mereka dalam hidup saya. dan mengganti bunga lawas dengan bunga yang segar, adalah salah satu alasan mengapa saya harus menyambangi rumah bumijo.</p>
<p>andai ayah dan ibu tahu, betapa saya bosan menjawab pertanyaan atas pertanyaan yang itu-itu saja, &#8220;ngapain pulang sih, kan udah engga ada siapa-siapa di rumah?!&#8221; ya, <em><strong>saya sangat benci pertanyaan itu. </strong></em></p>
<p>pulang ke bumijo, bukan hanya perkara ingin pijat di nakamura atau martha tilaar; atau membabati tanaman tetehan ayah. lebih dari itu, saya butuh duduk bersimpuh, berjejeran dengan mereka, di rumah mereka yang baru; mensyukuri hidup yang begitu menggembirakan dan membahagiakan, semata-mata karena mereka.</p>
<p>barangkali yang bertanya &#8220;ngapain pulang sih, kan udah engga ada siapa-siapa di rumah?!&#8221; adalah orang yang engga pernah dekat atau terlibat secara emosional dengan kedua orang tuanya. atau, barangkali terlalu sibuk sehingga hanya sekali setahun mendaraskan doa untuk kedua orang tuanya. atau, barangkali memang jalan pikirnya terlalu modern. atau, barangkali memang belum meninggal. <img src='http://femiadi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>tapi saya benci pertanyaan itu. ribuan kali saya mendengarnya, dan ribuan kali pula saya menjawabnya: mengunjungi ayah dan ibu di rumah mereka yang baru.</p>
<p>ya, saya begitu menyayangi keduanya. ayah dan ibu saya. setiap lantunan syukur, adalah rasa terima kasih padaNya atas kehadiran mereka dalam hidup saya. dan mengganti bunga lawas dengan bunga yang segar, adalah salah satu alasan mengapa saya harus menyambangi rumah bumijo.</p>
 <img src="http://femiadi.com/wp-content/plugins/wordpress-feed-statistics/feed-statistics.php?view=1&post_id=5178" width="1" height="1" style="display: none;" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2010/02/08/kangen-ayah-dan-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>menanti summer 2011</title>
		<link>http://femiadi.com/2010/01/25/summer-2011/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2010/01/25/summer-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 14:19:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[esti]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[pulang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=5082</guid>
		<description><![CDATA[summer 2011. &#8220;aku akan pulang &#8230;&#8221; kata esti, kakak saya.
ya. perbincangan panjang mencacah malam saya di ujung minggu ini. saya senang mendengarnya. ya, saya senang mendengarnya. ia membeberkan rencananya yang bakal ia lakukan dalam satu-dua tahun ke depan. ini memang share yang sering kami bagikan tentang hidup yang kami pulas diatas kertas.
tidak ada alasan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a title="ImageShack - Image And Video Hosting" href="http://img686.imageshack.us/i/2077639110d365752468.jpg/" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" src="http://img686.imageshack.us/img686/3136/2077639110d365752468.jpg" border="0" alt="" width="320" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">welcome home, sist!</p></div>
<p>summer 2011. &#8220;aku akan pulang &#8230;&#8221; kata esti, kakak saya.</p>
<p>ya. perbincangan panjang mencacah malam saya di ujung minggu ini. saya senang mendengarnya. ya, saya senang mendengarnya. ia membeberkan rencananya yang bakal ia lakukan dalam satu-dua tahun ke depan. ini memang share yang sering kami bagikan tentang hidup yang kami pulas diatas kertas.</p>
<p>tidak ada alasan untuk berlama-lama lagi di amrik. indonesia adalah periuk nasi dan kehidupan yang sesungguhnya. indonesia adalah rancangan untuk masa tua setelah menggudangkan setumpuk pengalaman.</p>
<p>saya senang mendengarnya.</p>
<p>&#8220;engga tahu mau tinggal dimana. tapi yang jelas di kota yang ada bandaranya,&#8221; katanya.</p>
<p>yewwwww! saya tergelak. sial. penentuan kota-nya lucu bener. bukan berdasarkan kota-kota besar yang ada uni-nya, tetapi yang ada bandaranya. alasannya, biar saya dan esti bisa bertemu untuk liburan tanpa harus bersusah-payah mlantrang naik feeder selama satu, dua atau tiga jam.</p>
<p>saya menunggunya pulang.</p>
<p>nyatanya tumpukan dolar AS tak bisa meminggirkan keinginan untuk mengaktualisasikan diri. &#8220;aku pengen mengajar &#8230;&#8221; katanya. ia mencoba membeberkan bagaimana keinginan-mengajar itu jauh lebih berharga ketimbang hal lain dalam hidupnya saat ini.  &#8220;seperti kamu yang dulu pengen jadi wartawan, kan saat ini cita-cita itu sungguh-sungguh sudah tercapai &#8230; &#8221; katanya, mencari analogi.</p>
<p>saya mengerti bagaimana ia-sangat-ingin-kembali-mengajar. bahkan, meski dengan gaji mini sekalipun!</p>
 <img src="http://femiadi.com/wp-content/plugins/wordpress-feed-statistics/feed-statistics.php?view=1&post_id=5082" width="1" height="1" style="display: none;" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2010/01/25/summer-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>menenggelam diantara bantal-bantal</title>
		<link>http://femiadi.com/2010/01/19/menenggelam-diantara-bantal-bantal/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2010/01/19/menenggelam-diantara-bantal-bantal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 00:42:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=5071</guid>
		<description><![CDATA[saya sangat menikmati empuknya kasur di rumah bumijo. hangat, menyenangkan, nyaman.
rasanya engga ada yang lebih nyaman dari berlama-lama di kasur, menenggelam diantara bantal-bantal, dan menikmati rumah sehhangat-hangatnya rumah.
saya ingin lebih lama bermalas-malasan di kasur hangat ini. sebentar melepas lelah dari layar mungil iPod, blackberry, laptop dan PC. saya hanya ingin memejamkan mata, dan enggan memikirkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya sangat menikmati empuknya kasur di rumah bumijo. hangat, menyenangkan, nyaman.</p>
<p>rasanya engga ada yang lebih nyaman dari berlama-lama di kasur, menenggelam diantara bantal-bantal, dan menikmati rumah sehhangat-hangatnya rumah.</p>
<p>saya ingin lebih lama bermalas-malasan di kasur hangat ini. sebentar melepas lelah dari layar mungil iPod, blackberry, laptop dan PC. saya hanya ingin memejamkan mata, dan enggan memikirkan bagaimana akurasi membidik sapi dengan ketapel, maupun berhahahihi di chatroom.</p>
<p>saya ingin lebih lama bermalas-malasan di kasur hangat ini. sebentar meninggalkan tarian jemari diatas papan kunci. menyembunyikan telapak tangan diantara kasur dan bantal, sangat hangat.</p>
<p>senang berada di rumah lagi. tanpa kekhawatiran. tanpa rasa cemas. tanpa ketakutan.</p>
<p><em>ps: kenyamanan ini harusnya juga diusung oleh ibu. tapi &#8230; humh, ibu pasti lebih nyaman di rumahNya yang baru. </em></p>
 <img src="http://femiadi.com/wp-content/plugins/wordpress-feed-statistics/feed-statistics.php?view=1&post_id=5071" width="1" height="1" style="display: none;" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2010/01/19/menenggelam-diantara-bantal-bantal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kursi malas yang bikin malas semalas-malasnya!</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/12/25/kursi-malas-yang-bikin-malas-semalas-malasnya/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/12/25/kursi-malas-yang-bikin-malas-semalas-malasnya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 16:39:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[makan]]></category>
		<category><![CDATA[makan-makan]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=4930</guid>
		<description><![CDATA[saya ingin beranjak dari kursi ini, tetapi malas.
kursi panjang yang dibikin dari jalinan karet/pentil, ini awalnya didesain untuk ibu yang saat itu sedang sakit. hanya saja, ibu juga tidak bisa menggunakan kursi ini lantaran kelenturan karet membikin ibu sulit berdiri. alhasil, ibu jarang mennggunakannya. sementara itu, ayah juga enggan menduduki kursi ini.
jadinya, saya yang betah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://img94.imageshack.us/img94/3328/1222498puff.jpg" alt="" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Stay at home and enjoy the day!</p></div>
<p>saya ingin beranjak dari kursi ini, tetapi malas.</p>
<p>kursi panjang yang dibikin dari jalinan karet/pentil, ini awalnya didesain untuk ibu yang saat itu sedang sakit. hanya saja, ibu juga tidak bisa menggunakan kursi ini lantaran kelenturan karet membikin ibu sulit berdiri. alhasil, ibu jarang mennggunakannya. sementara itu, ayah juga enggan menduduki kursi ini.</p>
<p>jadinya, saya yang betah berlama-lama di kursi karet ini.</p>
<p>seperti hari ini, seharian saya menghabiskan hari natal di kursi. menonton tayangan yang layak tonton di televisi, sambil sesekali mandek untuk menyeruput kopi dan membaca donal bebek. malas. saya sungguh malas.</p>
<p>hingga saya menyerah pada perut yang mengkeriuk kelaparan. membuat saya bergegas beranjak memburu makan malam hasil gabungan sarapan, makan siang dan makan malam di kedai tiga nyonya: rijstaffel. nasi kuning dengan lauk oseng tempe, scrambbled eggs, daging sapi, emping/krupuk dan lauk lain. juga, seteko teh poci.</p>
<p>dan saya ngiri lihat sebelah meja yang membeludak dengan anggota keluarga dari yang paling tua hingga bayi. sekeluarga merayakan makan malam bersama di hari natal. sementara, satu meja besar milik saya, hanya saya habiskan sendiri.</p>
<p>sesudahnya, saya bergegas pulang. kembali ke kursi karet. ya, saya tidak akan beranjak dari kursi ini. saya akan menikmati kemalasan ini.</p>
 <img src="http://femiadi.com/wp-content/plugins/wordpress-feed-statistics/feed-statistics.php?view=1&post_id=4930" width="1" height="1" style="display: none;" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/12/25/kursi-malas-yang-bikin-malas-semalas-malasnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>saya berharap mereka ada di sini</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/12/24/saya-berharap-mereka-ada-di-sini/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/12/24/saya-berharap-mereka-ada-di-sini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 16:29:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=4928</guid>
		<description><![CDATA[keriangan natal? tentu!
saya menunggu natal setiap natal sebelumnya usai. lebih dari sekadar memasang pohon natal dengan beragam perniknya, natal adalah bongkaran kerinduan akan pergi ke gereja bersama keluarga, makan bersama keluarga, dan juga chit-chat  tentang banyak hal bersama-sama.
saya merindukannya. sungguh, saya merindukannya.semata-mata, karena saya tak lagi memilikinya saat ini.
dan menapaki gereja ini, rasanya sepi. sepi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 222px"><img src="http://img268.imageshack.us/img268/1918/kaoskaki.jpg" alt="ayah dan ibu nyemplungin kado buatku engga ya? " width="212" height="320" /><p class="wp-caption-text">ayah dan ibu nyemplungin kado buatku engga ya? </p></div>
<p>keriangan natal? tentu!</p>
<p>saya menunggu natal setiap natal sebelumnya usai. lebih dari sekadar memasang pohon natal dengan beragam perniknya, natal adalah bongkaran kerinduan akan pergi ke gereja bersama keluarga, makan bersama keluarga, dan juga chit-chat  tentang banyak hal bersama-sama.</p>
<p>saya merindukannya. sungguh, saya merindukannya.semata-mata, karena saya tak lagi memilikinya saat ini.</p>
<p>dan menapaki gereja ini, rasanya sepi. sepi. sepi. saya rindu ayah dan ibu saya. juga kakak saya. harusnya mereka ada untuk melihat tiang gereja kumetiran yang go green dengan desain santa claus, lonceng, snow man yang dibikin dari bunga dan daun.</p>
<p>lewat sepuluh tahun natal tanpa ibu. tanpa baju baru bikinan ibu. tanpa kwetiaw babi spesial yang dipesan dari kedai sebelah. lewat tiga tahun natal tanpa ayah. tanpa perburuan pohon natal dan buku-buku besutan kanisius.</p>
<p>saya rindu mereka.</p>
<p>usai ke gereja dan menghabiskan semangkuk ronde plus seporsi bakmi godog di pasar terban, malam natal saya habiskan dengan memaku diri di kursi malas di rumah, menonton acara televisi secara acak. menggelak sendiri saban ada tontonan yang lucu. juga, selalu bergegas bangun saban ada adegan yang mengerikan. ow!</p>
<p>selamat natal ayah, ibu. semoga kalian merayakannya disana, dirumahNya.</p>
 <img src="http://femiadi.com/wp-content/plugins/wordpress-feed-statistics/feed-statistics.php?view=1&post_id=4928" width="1" height="1" style="display: none;" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/12/24/saya-berharap-mereka-ada-di-sini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>sejuta you tube dan luther van dross</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/10/10/3900/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/10/10/3900/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 16:58:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>
		<category><![CDATA[1 billion views per day]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kangen]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>
		<category><![CDATA[situs]]></category>
		<category><![CDATA[website]]></category>
		<category><![CDATA[youtube]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=3900</guid>
		<description><![CDATA[
saya memburu luther van dross di gudang musik you tube. dancing with my father. 
entah, menyapukan jemari di potret ayah membikin hati saya meranggas. saya rindu. berharap bisa mencuil petuah bijaknya lagi. berharap bisa merangkulnya hangat lagi. berharap bisa menyuguhkan teh hangat untuknya lagi. dan sosok ayah menyembul dari youtube; dari luther van dross dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://img515.imageshack.us/img515/8470/youtubebroadcastyoursel.jpg" alt="" width="256" height="160" /></p>
<p>saya memburu luther van dross di gudang musik you tube. <a href="http://img25.imageshack.us/i/3752.mp4/" target="_blank">dancing with my father.</a> <a href="http://img25.imageshack.us/i/3752.mp4/"></a></p>
<p>entah, menyapukan jemari di potret ayah membikin hati saya meranggas. saya rindu. berharap bisa mencuil petuah bijaknya lagi. berharap bisa merangkulnya hangat lagi. berharap bisa menyuguhkan teh hangat untuknya lagi. dan sosok ayah menyembul dari youtube; dari luther van dross dan remah-remah potret sang ayah.</p>
<p>terimakasih. untuk ayah yang ada dan begitu baiknya pada 26 tahun kehidupan saya.</p>
<p>(ps: o iya, ada yang baru dari logo youtube hari ini. yaitu, pamer 1 miliar views per hari di youtube. wow! )</p>
 <img src="http://femiadi.com/wp-content/plugins/wordpress-feed-statistics/feed-statistics.php?view=1&post_id=3900" width="1" height="1" style="display: none;" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/10/10/3900/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>lembaran baru Rp 2.000</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/09/19/lembaran-baru-rp-2-000/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/09/19/lembaran-baru-rp-2-000/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 14:46:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[asupan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[plesiran]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[esti]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=2786</guid>
		<description><![CDATA[
saya mengusung beberapa gepok duit anyar; pecahan Rp 2.000.
sebenarya saya tak tahu siapa yang akan saya bagi nanti; bila bertandang ke rumah likban di kembangarum. saya tak merencanakan untuk berada di kediaman likban pada hari raya; tetapi sebelum dan sesudahnya. entah, tidak bertemu banyak kerabat adalah pilihan terbaik saat ini.
tapi saya tetap mengusung gepokan lembaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://img525.imageshack.us/img525/6529/femi2000.jpg" alt="" width="320" height="200" /></p>
<p>saya mengusung beberapa gepok duit anyar; pecahan Rp 2.000.</p>
<p>sebenarya saya tak tahu siapa yang akan saya bagi nanti; bila bertandang ke rumah likban di kembangarum. saya tak merencanakan untuk berada di kediaman likban pada hari raya; tetapi sebelum dan sesudahnya. entah, tidak bertemu banyak kerabat adalah pilihan terbaik saat ini.</p>
<p>tapi saya tetap mengusung gepokan lembaran uang anyar itu. uang kertas Rp 2.000 yang bergambar Pangeran Antasari, pahlawan nasional asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. di bagian belakang berlatar tarian adat Dayak.  <a href="http://www.kontan.co.id/index.php/nasional/news/17414/Hari_ini_Uang_Kertas_Pecahan_Rp_2.000_Resmi_Diluncurkan" target="_blank">uang ini sudah mulai berlaku sebagai alat pembayaran yang sah mulai tanggal 10 Juli 2009 lalu. </a></p>
<p>saya ingat persis bagaimana keriangan yang tercipta di masa kecil dulu dengan uang-uang di masa lebaran seperti ini.</p>
<p>saya, dan juga beberapa saudara sepupu dan tante-om keliling ke rumah tetangga di kembangarum. saat itu kami semua masih menggenp. bahkan, perselisihan yang besar nyaris tak kami temukan dalam keluarga besar kami. ayah, ibu, simbah putri, simbah buyut, &#8230;</p>
<p>banyak sesepuh yang harus kami sambangi untuk sungkem, memohon maaf atas kekhilafan selama setahun terakhir. usai sungkeman, biasanya kami mendapat bingkisan khusus, yaitu koin seratusan, atau limapuluhan. dari setiap rumah yang kami datangi, biasanya kami selalu pulang dengan membawa koin; berapapun jumlahnya. bila dijumlahkan, koin-koin itu bisa dibelanjakan dengan barang-barang yang tak terbeli dengan uang saku.</p>
<p>celakanya, yang bikin ayah dan ibu saya malu, saya dan saudara-saudara sepupu yang berusia sebaya selalu menghitung total koin yang berhasil kami gaet dalam perjalanan pulang sungkeman menuju ke rumah! owh! &#8220;saru &#8230;&#8221; begitu kata ibu. maunya ibu, ya menghitungnya begitu nanti kami tiba di rumah. tapi, aww &#8230; mana tahan!</p>
<p>uang hasil sungkeman menjadi bagian dari keriangan setiap lebaran. dan barangkali ini adalah saatnya berbagi &#8216;koin&#8217; seperti dulu saya mendapatkannya. <a href="http://www.kontan.co.id/index.php/keuangan/news/21781/Menkeu_Penerbitan_Pecahan_Rp_2.000_Tak_Akan_Kerek_Inflasi" target="_blank">bedanya, kini berupa lembaran; pecahan anyar Rp 2.000</a>.</p>
 <img src="http://femiadi.com/wp-content/plugins/wordpress-feed-statistics/feed-statistics.php?view=1&post_id=2786" width="1" height="1" style="display: none;" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/09/19/lembaran-baru-rp-2-000/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>bapak dan notes kecil</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/09/16/bapak-dan-notes-kecil/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/09/16/bapak-dan-notes-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 09:10:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[babe]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[esti]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kangen]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=2505</guid>
		<description><![CDATA[sepasang ibu dan bapak naik ke mikrolet yang saya tumpangi.
tak lama, si bapak pun mengeluarkan notes kecil. mirip dengan notes seukuran buku saku pramuka saat saya bersekolah dulu. cekatan mengintip, isi notes itu adalah tulisan dengan huruf al-quran. mungkin doa. atau, sejenisnya. sejurus, si bapak pun komat-kamit, seperti melafalkan apa yang tertulis dalam buku kecilnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sepasang ibu dan bapak naik ke mikrolet yang saya tumpangi.</p>
<p>tak lama, si bapak pun mengeluarkan notes kecil. mirip dengan notes seukuran buku saku pramuka saat saya bersekolah dulu. cekatan mengintip, isi notes itu adalah tulisan dengan huruf al-quran. mungkin doa. atau, sejenisnya. sejurus, si bapak pun komat-kamit, seperti melafalkan apa yang tertulis dalam buku kecilnya itu.</p>
<p>tiga tahun silam, setelah ayah pindah rumah bersama ibu kembali, saya memberesi lemari dan meja miliknya. waduh, saya menemukan tumpukan notes kecil yang tersebar dimana-mana. yah, mirip-mirip notes si bapak yang saya jumpai di mikrolet pagi tadi. bedanya, isi notes ayah saya adalah kosa kata bahasa inggris, ayat alkitab, agenda pertemuan dengan kerabatnya.</p>
<p>saya tak membuang semuanya. ya, saya masih menyimpan begitu banyak tumpukan catatan kecil milik ayah.</p>
<p>lusa saya pulang, dan ingin segera mengintipnya kembali.</p>
 <img src="http://femiadi.com/wp-content/plugins/wordpress-feed-statistics/feed-statistics.php?view=1&post_id=2505" width="1" height="1" style="display: none;" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/09/16/bapak-dan-notes-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
