bapak dan notes kecil

Comments Off

sepasang ibu dan bapak naik ke mikrolet yang saya tumpangi.

tak lama, si bapak pun mengeluarkan notes kecil. mirip dengan notes seukuran buku saku pramuka saat saya bersekolah dulu. cekatan mengintip, isi notes itu adalah tulisan dengan huruf al-quran. mungkin doa. atau, sejenisnya. sejurus, si bapak pun komat-kamit, seperti melafalkan apa yang tertulis dalam buku kecilnya itu.

tiga tahun silam, setelah ayah pindah rumah bersama ibu kembali, saya memberesi lemari dan meja miliknya. waduh, saya menemukan tumpukan notes kecil yang tersebar dimana-mana. yah, mirip-mirip notes si bapak yang saya jumpai di mikrolet pagi tadi. bedanya, isi notes ayah saya adalah kosa kata bahasa inggris, ayat alkitab, agenda pertemuan dengan kerabatnya.

saya tak membuang semuanya. ya, saya masih menyimpan begitu banyak tumpukan catatan kecil milik ayah.

lusa saya pulang, dan ingin segera mengintipnya kembali.

bersyukurlah, kalian masih punya ayah dan ibu

Comments Off

saya sedih jika melihat tabungan saya.

uhm. nilainya banyak; setidaknya lebih banyak dari yang saya perkirakan sebelumnya menegnai isi-tabungan-saya. yaps, saya bersyukur karenanya. karena memiliki semuanya, bahkan bisa membeli apapun yang saya mau.

tapi saya tidak bisa membeli pelukan ayah di ujung minggu. juga masakan mi jowo ibu yang diolah dengan ceblang-ceblung.  saya tidak bisa meriung dengan hangat bersama mereka, menggelakkan tentang ’si pethuk’ *topik andalan perbincangan ibu* atau juga sok menjadi pengamat politik bersama dengan ayah.

pagi tadi, seorang perempuan manis mengalungkan tas bertali panjang di bahunya. sementara, badan tas tak terlalu besar. owh. tas itu mirip dengan tas milik ibu, dulu. saat tren mulai bergulir dan kembali pada oldies trend, hati saya jadi maknyes rasanya.

jika ibu masih ada, tentu saya akan membungkuskan satu tas cantik untuknya. tas bertali panjang dengan badan tas yang kecil. saya ingat persis, dulu saya dan esti, kakak saya, sempat sebal dengan tas model itu. pasalnya, ibu masih mengenakannya saat tren sudah habis. :(

aih, ibu.

pada sejumlah kerabat, saya bilang padanya, agar selalu menghargai setiap pelukan hangat dan gelak tawa yang masih bisa mereka angkut dari ayah maupun ibu mereka. agar selalu membagikan penghiburan pada ayah dan ibu mereka saat keduanya larut dalam isak tangis maupun hentakan kemarahan.

ya. karena kehadiran mereka takkan terbeli dengan tabungan sebanyak apapun yang kita punya. jadi, bersyukurlah dengan ayah dan ibu yang masih kalian punya.

rumah ayah baru

Comments Off

esti dan saya memesankan rumah untuk ayah yang sama persis dengan ibu.

rumah dengan template yang dilapisi keramik esenza berwarna ungu di bagian bawah, dan krem di bagian atas. enam tahun silam, rumah untuk ibu dibungkus oleh esti dari gerai nisan sadjid siswodihardjo di jalan menteri supeno jogja. banderolnya Rp 3 juta. kini, setelah inflasi, gempa dan krisis finansial global, harganya masih sama, yaitu Rp 3 juta. wow.

kami sudah meletakkan rumah untuk ayah sejak sabtu, 22 februari 2009 lalu. kini, giliran memasangkan batu granit nama ayah.

kami tak hanya berdua. ada sekitar tiga puluh orang menemani kami, memasangkan nama ayah di nisannya. ya, mereka kerabat yang senantiasa berjejalin dengan keluarga kami.  kami melangsungkan ibadat kecil untuk mensyukuri segala kerberkahan dariNya.

terima kasih untuk menyambangi rumah ayah yang baru. :)

terima kasih untuk menyambangi rumah ayah yang baru. :)

gayeng juga di dalam mikrobus yang kami sewa. terlebih, saat pembagian makanan kecil sebanyak tiga kloter, plus satu kloter untuk minuman.

“sampun, maturnuwun,” ada yang malu-malu. “lho … lagi, mbak femi? tadi sudah?” ada yang berujar begitu. “kok banyak banget, yang ini aja belum habis …”ada juga yang bilang begitu.

setelah empat kloter, masih juga ada yang berteriak, “mbak femi, habis ini masih ada lagi?” sontak, seisi bus terbahak.

“ada, tarikan duitnya, pak …” seloroh saya.hahahaha …

senang rasanya bisa mengusung mereka ke rumah ayah yang baru, bertandang ke rumah ayah, dan menyapa ayah. pasti ayah senang.

terima kasih. kalian telah menemani tahun-tahun terakhir ayah. lebih dari itu, terimakasih untuk bersedia menyambangi rumah ayah yang baru.

duduk saja, tak perlu banyak cing-cong

Comments Off

saya bersyukur, dikelilingi oleh begitu banyak teman-teman yang mendukung saya.

arun, bram, yani, samuel, soedar, bimo, prast … terima kasih untuk kalian yang enam bulan terakhir ini berbagi gagasan dan tenaga untuk membuat perayaan 1.000 hari ayah bergulir dengan lantjar djaja.

saya merasa tak membutuhkan kerabat dekat untuk membuat perayaan ini menggelinding sempurna. sudah, sudah cukup. sudah ada begitu banyak tangan-tanganNya yang membantu saya. dus, para kerabat dekat itu hanya saya bisiki acara, jam, tempat. titik.

nyatanya, masih ada kerabat dekat yang bisa-bisanya main perintah.

“nanti kalo pas adzan isya, speaker-nya matiin dulu yah!” hardiknya. tak cukup itu saja, hardikan lain datang. ” … heh, nyebar undangannya berapa sih, bisa-bisanya makanannya nggak cukup …” masih lagi ada hardikan ketiga. “pasang tendanya kok begini sih? kalau hujan, nggak ada gunanya nih …”

please deh. host juga bukan. bisanya cuma nyacat. bukankah lebih baik datang dan duduk manis saja tanpa banyak cing-cong.

“aku ga masalah kehilangan satu saudara, teman malah bisa jadi saudara …” tegas esti, dengan darah yang kemebul. weh.

ayah dan burung dara

Comments Off

akhirnya kami menggelar pesta ini. iya, pesta untuk 1000 hari ayah. pesta untuk keriangan yang ia cecap bersama dengan ibu dan kerabat lain di rumahNya. saya bergembira, pun esti, kakak saya.

pesta ini dimulai dengan cuatan lagu dari koor kompak yang membikin hati saya dan hati kakak saya bergetar. ciaaah …

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

dan ibadat ekaristi itu membincangkan ayah saya. tentang kepulangan setiap sabtu, tentang kerinduan yang ditumpahkan di ujung minggu, tentang pupusnya keinginan esti menjadi wartawan demi memenuhi keinginan ayah untuk menjadi guru, tentang tahun-tahun terakhir yang mengejutkan.

ayah memang hidup kami; saya dan esti. he is the best dad in the world, dan kami menyematkan piala, mengenakan kaos dan menumpuk buku untuk label itu. ayah adalah wajah tiga sejarah negeri ini. ia adalah potret ‘45, ‘65 dan juga ‘98. ayah adalah potret orang yang penuh syukur atas apa yang dimilikinya. dan ayah menutup mata di usia 78 tahun, 1.000 hari lalu.

saya percaya, setiap orang bisa menjadi a father, tapi tak semua bisa menjadi a dad.

kami pun menerbangkan dua burung dara kucir, sepasang syarat untuk peringatan 1.000 hari. satu burung tinggal. ya, tinggal di atap rumah kami. saya sempat khawatir juga, kok burung dara itu enggan pergi. lhah, siapa yang bakalan diajak serta oleh ayah?

is it you, dad?

is it you, dad?

ketika saya dan esti menyalami kerabat yang pulang usai mendoakan ayah, burung dara itu ada di atas atap rumah kecil, persis di seberang saya dan esti berdiri.

sesudahnya, hilang. gosh, is it you, dad?

terimakasih untuk kalian yang datang untuk mengantar ayah pergi. terimakasih.

(ps: terima kasih untuk mbak marti dan yani, yang menggenapi sesajian untuk ayah. saya juga harus berterima kasih pada ibu, yang sudah pasti melihat dua puterinya )