hanya bertanya, dan sudah

Comments Off

bangsat!

kejengkelan itu menumpuk begitu saja; datang dari teman lama yang selalu datang untuk menjejalkan kesebalan.

“dimana fem? o … dirumah. eh, ya sudah. lagi sampe rumah ya? beberes dulu, nanti aku telepon lagi …” katanya. padahal, saya tidak sedang akan beberes. dan telepon itu tak pernah datang.

“dimana fem? jam segini masih di kantor? ya sudah, rampungin dulu kerjaan, nanti aku telepon lagi …” katanya. padahal, saya tidak sedang merampungkan pekerjaan. dan telepon itu tak pernah datang.

“dimana fem? di rumah? o … kamu pasti capek ya. istirahat dulu, nanti aku telepon lagi … ” katanya. padahal, saya tidak sedang capek. dan telepon itu tidak pernah datang.

“dimana fem? mm … benernya sih aku pengen kesitu. tapi aku baru masuk rumah. next time ya …” tulisnya di sms.

robot.

bertanya, otomatis menganalisa, menuduh dan berjanji. dasar kampungan.

hanya bertanya saja, dan sudah. tak ada sapa hangat untuk sekadar bertanya apa kabar dan bagaimana kesibukanmu belakangan, bagaimana pula kabar kerabat terdekat dan bagaimana keriangan dengan kolega lama. bahkan, saya hanya selalu sempat menjawab pertanyaannya. “aku di rumah. ada apa?” dan tuduhan, analisa atau apapun itu menghambur begitu saja dari mulutnya.

beruntung, saya tak pernah mengharapkan dering telepon darinya. beruntung, saya bukan perempuannya. :)

#funnypic: oouch!!

Comments Off

oouch! sebenernya ini bukan gambar lucu, tetapi sepertinya sayang untuk tidak dipasang di hari rabu! :)

#you’ve done nothing but complain today about the untidy condition of the house … then you get …

##i’m sorry i slapped you dear ugh! forgive me … please …

get out there!

Comments Off

tahu pintu keluar kan?

tahu diri itu engga mudah memang. :)

ya, dan itu terus saja terjadi: tidak tahu diri.

sejumlah episode cinta telah dibikin, dan selalu saja melenceng dari skenario yang dibikin. sungguh, saya ingin dia keluar dari hidup saya segera.

pintu keluar sudah tersedia, bahkan dia sendiri yang menyiapkan pintu keluar itu. sayangnya, ia lupa membikin emergency exit alias pintu darurat. alhasil, saya sendiri yang harus membangun emergency exit itu untuknya.

saya sudah mengakhirinya, bahkan jauh-jauh hari sebelum seseorang memintanya dari saya. perbincangan kecil kemarin, hanya perbincangan kecil. kerinduan yang ada, semu dan hanya pepesan kosong.

dia sesekali datang untuk mengusik saat dia merasa sungguh-sungguh membutuhkan saya, lalu menghilang untuk beberapa lama. ya, begitu itu dia. sementara itu, ajakan saya untuk berbincang dan sebentar bertemu, sering ditampiknya.

this is another life lesson.

kini saya tengah membangun rumah, komplit dengan emergency exit. terima kasih untuk mengajari saya banyak hal. please, get out of my life …

(buat kamu, yang membangun rumah namun lupa memasang pintu darurat)

image courtesy: olex.

Protected: “kenapa tidak mempertahankan aku, fem?”

Comments Off

This post is password protected. To view it please enter your password below:


siap menenggelamkan diri

Comments Off

saya sudah siap menenggelamkan diri.

dengan setumpuk catatan penuh angka dan data yang sudah saya siapkan semalaman. dengan pijatan lincah jemari diatas papan kunci. dengan coretan dan sobekan kertas yang menghambur di lantai kamar. dengan perjalanan saban ujung minggu yang menggembirakan. dan bisa jadi, mata saya akan mengabur; jatuh tertidur dengan pakaian kerja yang masih melekat di tubuh, ponsel yang masih tergenggam di tangan dan kacamata yang tersunggi di ujung hidung. *sigh!*

saya tahu, saya harus menjauhi rasa-letih-yang-berlebihan jika tak ingin ujung minggu berakhir di RS panti rapih. tapi rasanya untuk sementara ini, bahkan berbaring di sal carolus pun bakal saya tandangi.

saya tahu, saya harus tetap menghabiskan 24 jam dalam sehari; dalam beberapa waktu ke depan, tanpa kegetiran dan luapan kesal yang tak berkesudahan. tahu kenapa? ya, karena saya sudah siap menenggelamkan diri.