Sep 24
Femi Adicerita bumijo, friends from heaven berkebun, bumijo, jogja, rumah, tanaman
Saya sudah membiarkannya lebih dari seminggu sejak kedatangan saya ke Jogja.
Tanaman tetean itu menggondrong. Pucuk daun yang muda menghijau kian matang dan menunjukkan kekokohannya sebagai tanaman pagar. Makin liar. Makin menggeliat dengan kasar. Dan saya belum juga memotongnya meski saya sudah punya pemotong tetean yang baru yang saya angkut dari Jakarta.
Gunting pemotong ini bermerek dagang Green Land. Mestinya, ini adalah pemotong rumput. Dari bungkusnya sudah tertera jelas: Grass Shears dengan putaran hingga 90 derajat. Warnanya merah muda dengan kombinasi merah tua. Desain pemotong ini sangat nyaman untuk dipegang.
Sebelumnya, saya sudah menggunakan Green Land yang lebih kecil, pruning shears. Yaitu, yang bisa memangkas dahan diameter yang lebih tebal. Misalnya, dahan tetean yang sudah mengeras dan menebal. Pemotong yang lebih kecil dengan mata pisau yang lebih pendek memudahkan segalanya.
Ingin rasanya berkebun lagi. Sungguh-sungguh berkebun. Memastikan bahwa ada begitu banyak hijau-hijauan di sepetak tanah di rumah. Seperti yang dilakukan ayah dulu, menyingkirkan fajar dan menyambut senja dengan mengoprek pupuk, dahan kering, pucuk yang menghijau dan cipratan air segar untuk membasuhi tanaman.
Mungkin tidak saat ini. Tapi nanti, pasti cuilan tanah di rumah akan kembali menghijau. Pasti. Saat ini hanya bisa pangkas memangkas saja.
May 25
Femi Adicerita bumijo, kegemaran ayah, babe, berkebun, bumijo, ibu, jogja
saya berpikir untuk menanami kebun ayah dengan tanaman berpot kembali.
sejak bulik tari membabat habis tanaman di kebun ayah dengan alasan capek menyiraminya saban hari, saya enggan berkebun. mentok-mentoknya, ya menggunduli tetehan di depan rumah. itu saja. dan itu bukanlah alasan bulik untuk capek dan jatuh sakit karenanya.
tapi melihat mas eben dan mbak lina membongkar tanaman di kebun ayah. “boleh ya tanah ini saya pakai untuk ditanami tanaman?” tanya mereka. ah, saya jadi rindu ayah. saya rindu melihatnya mengenakan caping. saya rindu melihatnya seharian tak ada di rumah induk dan memilih di kebun. saya rindu melihatnya kelelahan sehabis berkebun.
ya, saya rindu ayah.
dan saya rindu berkebun, untuk ayah.
saya rasa weekend ini saya akan pulang dan membeli sejumlah pot. saya akan belanja tanaman. rasanya ini bukan ide buruk. berkebun lagi. dan pasti keduanya tak akan menggunduli tanaman yang saya tanam. keduanya juga tak akan lalai menyirami kebun di tanah ayah.
saatnya berkebun kembali.
Dec 23
femi adi soempenocerita bumijo ayah, berkebun, bumijo
ongkosnya hanya Rp 45 ribu.
iya, itu ongkos untuk anwar –biasa saya sebut memble– untuk mebersihkan tanaman perdu nan mengganggu di belakang kamarmandi. sepetak tanah disana, sayang kalau diberantakkan begitu saja. jadi, saya undang memble untuk membereskannya, dan mencabut hingga ke akar-akarnya. yang tersisa hanyalah sepohon mahkota dewa saja.
selain membereskan belakang kamarmandi, memble juga saya minta untuk memberesi tetean di depan kamar mandi. soalnya, karena angin ribut beberapa waktu lalu, tetean sempat ambruk satu baris. daripada disangga kanan kiri, memble berhasil mencabut hingga ke akar-akarnya.
memble juga mencangkuli tanah di rumah kecil yang kemarin saya tanami tanaman baru. berhubung penanaman pertama gagal, maka saya minta memble untuk mencabuti yang tersisa. nanti, akan saya belikan tanaman baru lagi.
nah, apa gantinya?
saya barusan membeli tetean merah yang mudah tumbuh. juga, tanaman … mmm … apa namanya ya. warnanya hijau dan berdaun kriting kecil. konon, menurut yang jual, kedua tanaman ini tidak akan tumbuh besar, jadi hanya pendek-pendek begitu saja. kedua tanaman ini saya tanam di belakang kamarmandi, untuk melingkari pohon mahkotadewa.
besok, saya akan membeli tanaman lagi yang lain. ayah, sabar ya. sedikit-sedikit si bungsu menanaminya dengan tanaman baru. takutnya, keburu beli banyak, tapi mati semua. hehehe …
Nov 25
femi adi soempenocerita bumijo ayah, berkebun, bumijo, jogja, kebun, tanaman
saya masih ingat betul bagaimana rasanya menembus hutan saat perjalanan dari Jakarta ke Jogja, dan begitu juga sebaliknya.
kijang innova itu bermuatan empat orang. popeye, saya, nanang dan sajeer. diluar innova yang kami tumpangi, saya merasa tengah menabrak helaian batang demi batang di hutan di kawasan yang saya tak kenali. tak ada satu bangunan pun. alih-alih gedung tinggi seperti di bilangan sudirman, rumah pendudukpun tidak ada. yang ada hanya hembusan angin yang membelai wajah saya, dengan pohon nan tinggi menjulang. di depan kami, tak ada satu mobil pun. di belakang kami juga tak ada.
rungkut. singup.
mmm, apa ya istilah bahasa indonesia yang bisa menggantikan kata itu? rimbun. ya, rimbun untuk mengganti kata ‘rungkut’. diantara dedakunan yang lebat, saya masih melihat batang besar yang kokoh yang menjadi penanda pohon itu berdiri dengan sempurna. dibawahnya, tanah lembab. singup? hmm … saya kok tidak berhasil mencari padanan kata ini. singup. singup. singup.
pepohonan yang merimbun itu juga bisa saya lihat di kebun di samping rumah. lidah buaya yang menjulur menantng matahari. pohon-pohon mahkota dewa dengan buah yang hijau bundar menggelantung. pohon-pohon berbatang kecil –yang saya tak tahu namanya– juga membuat kebun belakang menjadi terlihat sempit. menembus pepohonan itu, butuh kesabaran ekstra agar tak ada pucuk daun yang nyangkut di kerah kemeja. juga, kepala harus menunduk sedikit agar jalan terlihat lapang.
kalau ayah ada, pasti tak akan serimbun itu. dengan sabar, ayah akan memotong daun di bagian ujung agar terlihat lebih rapih dan bersih. juga, tak perlu menunduk dan mengawasi kerah leher agar tak ada satu dahan pun yang tersangkut di badan.
Jul 06
femi adi soempenocerita bumijo ayah, berkebun, kebun, tanaman
kabar baik. saya sudah membeli gembor.
keinginan saya untuk berkebun sungguh besar. sama besarnya dengan keinginan saya pulang menjenguk ayah dan ibu di rumahnya yang baru. sama besarnya dengan keinginan saya memburu senja di ujung jogja. sama besarnya dengan keinginan saya untuk memutarkan corkscrew di botol wine merah. sama besarnya dengan keinginan saya mengingat si belahan jiwa.
tiba di rumah. menjumput rumput di sesela batako di halaman rumah. menyapunya dengan bersih. menggunting ujung tetean. rerimbun daun sudah merengek untuk dicumbui sang gunting.
tergenapi sudah dengan siraman air yang muntah dari mulut gembor. saya beli Rp 14 ribu di jalan wonosari. iya, saya membungkusnya pulang bersama dengan cat warna merah yang akan saya sapukan pada permukaan gembor yang terbikin dari seng. esok, saya akan memulasnya. warna merah.
Older Entries