Berlin: Beruang dimana-mana

Comments Off

Visiting Berlin as a Capital City of Germany means meeting with the bears. Yaps, The Standing Bear become a quite common in Berlin region. Lots of bears around Berlin; including in the pathway to the toilet! Whoops!

Tried to get the connection between Berlin and the bears, owh, I didn’t find it. The origins of the city name “Berlin” has no relation with the bears. “Berlin” seems to derive from an older Slavic word, “Brl”, means marsh or very damp place. Ow!

But, the bear become a mascot of Berlin and it’s present on a flag of Berlin. And the prize of famous Berlin International Film Festival is Golden Bear statue. Moreover, the Berlin bear first appeared on the seal of an official document in 1280.

femi, welcome back!

Comments Off

“femiii!” teriak suara yang sangat saya kenal.

taufik. whew! dan ia langsung memeluk saya hangat. sesudahnya, yang lain berlarian untuk mengerubungi saya, membenamkan kepalanya diantara bahu dan kepala mereka, dan membisikkan, “hope you’re fine … ” atau “hope you’re better …” atau “everything is ok? ya ya, everything will be ok!”

sedangkan yang lain memamerkan flyer yang dicetak dengan huruf sangat besar di kertas HVS. “femi, welcome back!” ow. rupanya mereka menyebar di setiap gerbong; lantaran tak tahu pasti saya berada di wagon nomer berapa.

saya terharu. sungguh, saya terharu. saya melepas kepergian mereka dari berlin dengan wajah murung; dan mereka sangat mengerti. sesudahnya, mereka tetap menyokong saya usai saya tiba di bonn.

seperti artis. seperti bintang.

mm … tidak, tidak. barangkali bintang yang lagi kesusahan. artis yang lagi  mengusung kemalangan.

terimakasih, anyway. terimakasih. pelukan kalian menghangatkan hati saya. pelukan kalian juga menggemukkan kembali semangat saya.

thanks, bastian!

Comments Off

you are my i, bastian! :) danke!

you are my 'i', bastian! :) danke!

dia tiba-tiba melotot ke arah saya. persis hanya berjarak 30 cm-an. “femi?” tanyanya.

ya. dan kami pun melekatkan tangannya pada saya. hangat. sebentar, kami berbincang tentang banyak hal. sembari menyeruput kopi pagi yang hangat ditengah dinginnya berlin. kami berbincang. dan terus berbincang.  tentang prostitusi di berlin, tentang pekerjaannya, tentang editing yang dilakukannya.

sesudahnya, kami beranjak untuk menuju kedutaan, membikinkan paspor sementara baru untuk saya. lucunya, bolak-balik kami menyeberang jalan, mencoba untuk menemukan jalur bus yang tepat. dan engga pernah tepat. ;) alhasil, jalan kaki meski terasa agak jauh untuk bahu yang menenteng dua laptop di punggung.

“saya pernah ke sini saat kuliah dulu; saat itu ada gamelan performance dan saya melihatnya. kamu pasti engga percaya kalau saya belajar bahasa indonesia … ” katanya. ow …

geli juga, ia mendapatkan pelajaran bahasa indonesia; dan tidak ada satu pun yang tertinggal di kepala. jangankan saya, dia sendiri pun geli.

dan semuanya berjalan dengan mulus. thanks gosh.

pengajuan paspor anyar, laporan kehilangan, foto, dan … saya mendaptkan paspor anyar untuk saya.  swnyum ramah petugas di KBRI nyatanya membuat hati saya menjadi lebih adem.

hingga saya dan bastian menikmati masakan jerman di potsdamer platy, sembari berbincang tentang natal di indonesia dan jerman, juga bagaimana kekuatan muslim ada di negara kami. whew … perbincangan yang menarik ditengah-tengah makan siang di musim dingin! ;p

berlin. berlin. berlin.

“keep this, bastian …” kata saya, sembari mengulurkan dasi silk untuknya. terima kasih. terima kasih.

saya memeluknya hangat, dan langsung meloncat ke kereta menuju bonn.

(ps: lots of fun with you, bastian. with the lost-direction to embassy, things that remind you of bahasa indonesia lesson years ago, elephant otw to potsdamer platz, and the delicious food. danke schoon!)

bersiap, merencanakan perjalanan kecil

Comments Off

ujung tahun yang hangat.

saya bersyukur, ada begitu banyak kado kecil di tengah-tahun-yang-nanggung ini. tanpa acara tiup lilin. tanpa kado berbungkus kertas kado berpita merah jambu. tanpa mawar merah atau mawar yang lain. dan pagi ini saya mendapatkannya. sebuah kotak berisi keriangan dan tiket emas menuju perjalanan kecil di ujung tahun.

kado ini adalah tambalan keringat dan rasa marah setiap saya menarikan jemari di papan kunci di kubikel saya. ini adalah semprotan semangat untuk menulis, dan tetap menjaga halaman putih ini tetap meninggalkan jejakan kisah.

hanya sebentar saja saya akan melakukan perjalanan kecil.

terima kasih.

sudah saya bungkus, dan gudangkan

1 Comment

obrolan itu sungguh mengejutkan saya.

sudah setahun lewat, nyatanya ingatan itu masih melekat di benaknya. di benak samuel.

“bagaimana dengan teman dekatmu di jerman waktu itu?”

“hah? maksut kamu?”

“iya, si asisten itu …”

“holger? ah, dia itu hanya teman dekat, tidak lebih …”

“ya, holger! apa iya? sepertinya perhatianmu berlebihan padanya …”

“tidak, perhatianku padanya sama dengan perhatianku pada daniela …”

“saat kita jogetan di koln, kamu sepertinya sebal saat holger melantai dengan yang lain …”

“hahahaha … oops, sepertinya ada yang keliru dengan mata kamu. sudah ke dokter mata?”

namanya holger. iya. namanya sangat jerman ya. tak ada kehangatan lain selain pertemanan yang nyaman dan menyenangkan. selebihnya, rasa terima kasih karena menjadi host yang begitu baiknya. dia tahu persis bagaimana memperlakukan orang asia dan afrika dalam sekali tempo. padahal kultur kami dan kulturnya berbeda.

kami hanya duduk-duduk di beranda hati saja. membincangkan banyak hal. tentang koin euro dan rupiah. juga, lembaran limapuluhan ribu beserta rupiah lainnya. kami juga berbicara soal catatan sejarah-politik yang saya tulis. kami juga bercerita soal bagaimana gay dan lesbian di indonesia, usai CSD party dan saya mengoloknya, “saya lihat kamu kemarin di CSD party, menari diatas truk dan berjoget gembira!” kami juga bertaruh untuk hari awan yang biru, atau kelabu. dan dia kalah. ya, dan dia masih berhutang sebotol wine dengan saya.

tidak lebih dari itu.

hangat. ya, hangat saja. selebihnya, sudah saya bungkus dan gudangkan. yang tertinggal hanya hangatnya saja.