Aug 01
Femi Adicerita bumijo ayah, bumijo, ibu, kembang arum, kembangarum, makam

see you soon, mom, dad!
ini bukanlah upaya ekstra. tetapi sebuah kewajiban.
ya, saya dan esti, kakak saya, menyambangi rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.
pekarangan dengan tumpukan dedaunan kering. dinding yang melumut. aih, ini rupanya rupa rumah mereka setelah tak kami sambangi lebih dari sebulan.
“ini bener-bener nyadran …” seloroh esti.
bukan hanya bunga khusus yang kami siapkan untuk mereka; bunga anggrek dengan rerimbunan crysant dan juga sedap malam. lebih dari itu, tangan kami berselancar untuk meminggirkan hijaunya lumut yang membubuhi dinding rumah mereka.
dan sore tak menciutkan nyali kami untuk tetap disini. di rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.
saya rindu mereka.
selaksa peristiwa selalu membayang saban acara kunjungan ini datang. taburan bunga ibu di rumah simbah kakung dan simbah buyut; hingga penyesalan ayah soal ketidakhadiran ibu mengiringi kehidupan kami yang mengancik kedewasaan.
saya rindu mereka.
Jun 27
Femi Adicerita bumijo bumijo, esti, jogja

kenapa engga jujur saja?
mendadak, ingatan itu mencuat begitu saja.
ada cerita kecil yang rupanya tak saya cermati dengan baik pada saat itu.
“mereka tanya, itu siapa yang motret? aku bilang, itu yang satu bekerja di amerika, sedangkan yang satunya dia ini wartawan … ” jelasnya. ya, jelas abang nomor c. mendadak pula, hati ini maknyes.
lidahnya barangkali terasa kelu. dan mengatakan pada orang-orang itu tentang siapa kami, barangkali seperti menelan duri ikan dengan penuh kesengajaan.
belasan atau puluhan tahun, agaknya belum cukup menjadi bekal untuknya untuk membocorkan cuilan rahasia kecil kehidupan kami.
padahal, pada waktu itu adalah momen yang cukup tepat untuk membisiki mereka tentang adik nomer e dan nomer f. tentang ayah dan ibu yang sudah menenggelam bersama dengan kakak nomer b. tentang penggalan kehidupan 9 tahun di wirogunan yang mengubah cerita kehidupan keluarga.
dan ia tidak menggunakannya. ia memilih untuk tetap menyimpannya rapat-rapat.
mm … atau barangkali ia tidak menyebutnya sebagai cuilan cerita yang tersembunyi, tetapi luka. atau, bisa juga: aib.
Jun 18
Femi Adicerita bumijo bumijo, esti, jakarta, jogja

welcome home ...
mari bersulang!
ya, senangnya bertemu esti kembali. bentuknya masih sama. gelaknya masih sama. manyunnya juga masih sama. satu lagi, galaknya juga masih sama. “kita ketemu terakhir maret lalu ya … belum lama … huh, jadinya belum kangen lagi ya!’ tukasnya.
iya, memang begitu. baru maret lalu kami berjumpa. dan juni ini, sudah berjumpa lagi, untuk seterusnya. ‘menyimpan rindu’ adalah hal terbaik bagi kami disaat kami berjauhan, dan sesekali bertemu untuk membongkarnya bersama-sama.
dan kini dia benar-benar sudah ada disini, sampai besok, dan engga kembali lagi ke amerika! yaaay!
senang rasanya. senang.
“aku pulang sungguh-sungguh siap untuk pulang. untuk kembali ke rumah. untuk ngajar. engga ada rasa nyesal atau sejenisnya. aku pulang dengan riang …” katanya.
meski masih banyak pertanyaan yang menggudang di benak tentang kemauannya untuk pulang ke indonesia dan kesediaannya bekerja di jakarta, yang jelas saya sangat senang karena tidak sendirian lagi di sini.
Jun 04
Femi Adicerita bumijo ayah, bumijo, esti, femi, ibu, jogja

ada nama untuk kami
begitu kami saling memanggil: ibo dan tongkang.
saya selalu terbahak bila mendapati teleponnya. tanpa hallo, tanpa hai, tanpa femiiiiiiiii. yang ada adalah suara dari seberang yang berteriak dengan tanpa tanda koma: “ibo, ibo, ibo, ibo … ”
saya menggelak. sial. lidah dan bibir saya kelu, seolah tak bisa spontan menyebut: “tongkaaaang … ” speechles, saya hanya menderai tawa saja.
akhirnya saya menemukan nama itu. ya, nama yang mas untuknya: tongkang.
sama saja kok dengan ibo. keduanya berangkat dari realita yang sama. dari basis masa lalu yang memang menjadi jejak rekam seumur hidup. dan hanya kami yang tahu.
andai saja ayah dan ibu masih hidup. tentu keduanya tertawa hingga menangis kegelian melihat bagaimana kami bercanda.
May 19
Femi Adicerita bumijo bumijo, jogja, warisan

bagi-bagi warisan
saya berharap ibu masih hidup.
ya, andai saja ibu masih hidup; urusan warisan tanah milik nenek tentu tidak akan berujung serumit ini. tahu kenapa? karena saya yang menjadi kuncinya.
tante anu bilang begini, meminta agar saya menahan kopian ktp maupun tandatangan. tujuannya, agar si om anu tidak menuntut hal serupa padanya. sementara, si om anu juga minta agar saya harus buru-buru memberikan kopian ktp agar bisa diproses.
tante anu kemudian rajin menyambangi saya; kalau-kalau saya ada di jogja dan bisa ketangkap bsah untuk segera meneken surat bagi waris. si tante kemudian memburu saya di jakarta. dem.
kalau ibu ada, pasti mereka tidak serunyam ini. mereka tidak seserakah ini.
ibu selalu menjadi penengah diantara 11 adiknya. ibu selalu bisa mengambil jalan kompromi untuk 12 anak nenek dan kakek. ibu selalu bisa menjadi suara yang ‘didengar’ oleh mereka.
yay … saya yakin kok, dari rumahnya yang baru, ibu melihat semua ulah adik-adiknya.
Older Entries