saya suka dengan berbagai perkakas yang jamak digunakan untuk outdoor activities.
misalnya sendok lipat, matras, alas duduk, mantel buntel, dan masih banyak lagi. bagi saya, alat-alat tersebut sangat praktis karena memperhitungkan kenyamanan dan kemudahan tanpa meminggirkan fungsi yang sesungguhnya.
ya, saya memiliki beberapa. diantaranya sendok-garpu lipat maupun sendok dan garpu yang saling berada di ujung-pangkal. ada juga handuk superingan, kantong anti-air, matras tidur gulung, bantal gulung dan beberapa perkakas lainnya. saya berburu satu demi satu. terkesan sepele dan remeh temeh. nyatanya, sangat berguna untuk saya.
perburuan saya mulai dari produk yang engga dipasangi merek; dus, asal produk aja, hingga yang world-branded macam tatonka, vaude, jack wolfskin, the north face. senang hunting perkakas-perkakas yang banyak orang bilang: engga penting. whew! penting, tauk!
entah, berapa pisau lipat yang saya punya. yang hanya berfungsi untuk mengiris saja, atau juga sekaligus untuk buka wine maupun bier. entah, berapa tas praktis yang saya gudangkan, demi untuk kenyamanan berbelanja tanpa harus repot pating-kresek dengan tas kresek dari toko. entah, berapa tas pinggang yang saya bungkus, untuk beragam fungsi dan jumlah barang yang harus saya angkut dalam sekali tempo.
saya bersyukur, saya mendapatkan sendok lipat seperti garpu yang ada di setiap kemasan popmie. saya membungkusnya dari sebuah gerai yang meladeni beragam perkakas outdoor activities di bonn. saya menyukainya. sangat. saya bisa melipatnya dan menyimpannya bersama dengan lotion bodyshop saya.
barangkali untuk menjumput mie. barangkali untuk menyeruput kuah kacang hijau.
tapi ini saatnya pulang ke rumah. ke indonesia. dan mereka adalah orang-orang hebat yang pernah saya kenal. mereka jago di bidangnya. dan mereka adalah wartawan.
beragam kisah sudah kami pulas bersama. mulai dari acara cultural program yang digelar hampir tiap hari. acara makan pagi dengan menu yang sama selama tiga minggu penuh. pulang-pergi bersama ke deutsche welle. sleeveless in berlin. berburu snack untuk pesta perpisahan (whoops, ada yang engga ikut!). acara minum bier bareng-bareng. merampungkan tugas kelompok dan berburu narasumber yang engga mudah.
ya.
senang berkenalan dengan mereka. peluk hangat untuk taufik dari bangladesh. leo dari filipino. sonam dan pema dari bhutan. shangheng, kounila, chivoin dan raksmey dari cambodia. nezia dari pakistan. diana dari china. syam dari nepal.
terima kasih untuk thorsten, evelyn, tanja, catharina, larissa, markus, osang yang telah mengusung kami kemari sebagai kloter terakhir dari acara-mengeduk-ilmu ini. terima kasih. danke schoon.
juga, terima kasih untuk bastian!
auf widersehen.
(ps: saya akan ingat lelaki bertubuh gempal yang selalu bawa koper mini saat makan siang di kantin casino dw. ramah. baik. selalu melemparkan senyum terhangatnya untuk kami semua)
kami berjalan begitu cepat. memburu restoran vietnam. sialan, kemana sih itu restoran?
drunken master diberitahu osang, bahwa ada resto vietnam anyar yang letaknya engga jauh dari hotel. ya, kalau berjalan kaki paling hanya 10 menit saja. tapi kami berjalan, dan terus berjalan, nyatanya tidak juga mendapatkan resto vietnam anyar itu. owh!
kaki sudah kribo. perut sudah meraung. wajah sudah pucat. kaki sudah gemetar. mana restoran vietnamnya? manaaa?
sonam dan shang heng sudah cemberut. menandakan perjalanan untuk berburu makanan vietnam ini terlalu jauh, dan susah dilalui. sementara, angin 4 derajat makin membikin kulit keriput.
hingga ada satu restoran dengan label vietnam. ya, itu restoran vietnam, tetapi engga baru. sialan. setelah sembilan mulut berdebat kecil, kemudian kami memutuskan untuk masuk, duduk, memesan makanan, makan, dan pulang.
tetapi masalah muncul lagi. pelayan di resto vietnam itu engga bisa bahasa inggris. duh, repotnya. kami harus bicara dengan bahasa tarzan untuk menjelaskan chicken, rice, dan makanan yang sebenarnya sangat jamak dijumpai di resto manapun.
bahkan, taufik pun harus menjelaskan dengan cara menirukan kokok-ayam untuk menjelaskan bagaimana rupa chicken itu. ow!
dan saya pesan bebek yang dipasangkan dengan bitburger bier. menakjubkan. bebek dengan saus mm … saus apa ya namanya. yang penting enak. bahkan saya dengan lahap memakannya sampai tuntas. super! *pinjam sebentar istilah yang selalu digunakan oleh thotsten* pema, master dan saya yang makan bebek, harus berbagi mangkuk untuk berbagi nasi. saya … mmm, ya, makan nasi juga; sedikit.
dan acara tarzan kembali terulang. soalnya, kami harus menunjuk piring kosong dengan tipe gelas yang kami gunakan. humh. ajaib.
Visiting Berlin as a Capital City of Germany means meeting with the bears. Yaps, The Standing Bear become a quite common in Berlin region. Lots of bears around Berlin; including in the pathway to the toilet! Whoops!
Tried to get the connection between Berlin and the bears, owh, I didn’t find it. The origins of the city name “Berlin” has no relation with the bears. “Berlin” seems to derive from an older Slavic word, “Brl”, means marsh or very damp place. Ow!
But, the bear become a mascot of Berlin and it’s present on a flag of Berlin. And the prize of famous Berlin International Film Festival is Golden Bear statue. Moreover, the Berlin bear first appeared on the seal of an official document in 1280.
"Everytime I visit Bonn, I always have Bonnsch ..." said the consumer.
saya beruntung berada di jerman; bukan haya mengeduk ilmu tetapi juga menyedot bier langsung dari breweries-nya.
dengan drunken master dari cambodia, kami memiliki waktu-waktu yang menggembirakan di bonnsch bar di bonn untuk mencicipi bonnsch bier. mulai dari memburu informasi mengenai bonnsch, satu-satunya brewery yang tersisa dari 44 breweries yang ada, bersama dengan sonam dari bhutan. selebihnya, mencuatkan keriaan bersama dengan shangheng, pema, raksmey, sonam dan juga master di bar yang sama.
kami berbagi cerita tentang bir dari cambodia; yang bakal saya nikmati april tahun depan. (ow, raksmey menjanjikan ini untuk saya!) juga tentang rumitnya sistem organisasi jurnalistik di negara-negara kami. selebihnya, soal bir yang hanya mampir sebentar di bibir sonam; dan pertanyaan, “femi, kamu nambah bier lagi?” ow ow ow …
dortmund memories
di restoran vietnam di berlin, hanya saya dan drunken master yang memesan bier. yang lain pesan coke, apfelschorle, apfel juice dan juga orange juice. yang kami angkut adalah hanoi bier. lebih ringan dari kolsch, bonnsch dan juga tier dan berliner kindl. saya berharap bisa mencicipinya kembali esok.
bitburger menjadi pilihan saya dan drunken master di restoran vietnam di bonn. disitulah si master bilang, jenis huruf atau font label bier di jerman memiliki tipikal yang sama. kami setuju untuk lebih meunyukai hanoi bier ketimbang bitburger. tapi, bitburger tetap saja enak.
lelah usai menelanjangi potsdam, saya memilih untuk mengguyur kerongkongan dengan franziskaner bier dari munich. cenderung manis, dan sepertinya hanya ada dalam porsi tanggung.
dengan lola devung di dortmund, kami menepi dari dinginnya angin yang mencubit kulit di bar milik thier. sebenarnya, ini adalah kekeliruan kecil lantaran awalnya kami berniat memburu gluhwein. whoops. engga jual gluhwein rupanya. :p alhasil thier bier pun kami cecap.
berlin beer or hanoi beer?
duduk di bar, dengan suasana yang semuanya serba-bule meninggalkan catatan di benak yang berbeda saat saya mencecapnya di jakarta, jogja, maupun bali. keramahan orang jerman, kesediaan untuk memotretkan kami berdua, mencelotehkan kenangan masa muda, menjadi warna yang menarik di sore yang dingin di dortmund.
dan gaffel kolsch. yeyyyy! pelayan yang berbaik hati mengantarkan gelas-gelas kolsch bier untuk saya. ini bir yang sudah saya tunggu sejak saya masih ada di jakarta. kolsch. ow. so light! dan kehangatan bar gaffel kolsch di sekitar katedral-hauptbahnhof menjejakkan cerita lain tentang bier khas jerman bagi saya. so thanks untuk mba tuti yang menemani saya disini!
bier memang menjadi salah satu ikon untuk jerman, disamping bratwurst. tapi merujuk pada data yang dirilis di weisbaden awal tahun ini, konsumsi bier di jerman anjlok 0,9% tahun lalu menjadi 8,7 miliar liter dan ekspor bier juga mengkerut. ekspor ke wilayah EU hanya 1,1 miliar liter atau turun 1,2% , sementara itu ekspor ke wilayah non-EU terkikis 4,1% menjadi 0,3 miliar liter.
ya, bier. bier. bier. thanks for being a good friend for me.