kado banyak, banyak kado

Comments Off

saya bersyukur, mendapatkan begitu banyak perhatian dari teman-teman di sekitar saya.

perhatian ini memberi energi untuk terus berbagi, mencuilkan waktu dan menjadi kuping yang baik untuk satu dengan yang lainnya. toh, keriangan tak harus dimiliki sendiri. itu bisa dibagi. pun isak tangis. selalu ada bahu untuk bersandar.

dan saya mendapatkan satu lagi perhatian itu: kado.

wah, padahal ulang tahun saya masih tiga bulan lagi. belakangan ada begitu banyak bingkisan yang muncul di meja saya. cendera mata, oleh-oleh dari perjalanan panjang. juga yang memang “kado” akhir tahun.

mulai cokelat ghirardeli yang diangkut kang kb dari san fransisco. gigitan terakhir saya habiskan bersama tetangga kubikel saya, rifai yang sangat meminati kerja di aer. padahal, dari perjalanan singkatnya ke negeri uwak sam, kang kb sudah mengirimi saya suryakantha alias kaca pembesar. kang kb juga membungkus saringan teh untuk saya celup-celup, seperti penjepit kue.

samuel membungkus dengan manis dengan kertas kado *gosh, so thanks sam!* berpita lucu. isinya, barang-barang pecah belah mulai dari wadah lilin, wadah asesoris hingga cepukan kecil wadah anting dan cincin.

di tengah acara bulan madu ita dan akbar, suaminya, mereka membungkuskan kaos hitam dari bali untuk saya. “semoga nggak kayak preman ya …” katanya, sembari tergelak. maklum, lengannya cukup tinggi, nyaris menyentuh ujung bahu. seorang teman lain yang juga dibungkuskan oleh ita dan akbar, mengaku terlihat seperti preman saat mengenakan kaos tersebut.

usai kunjungan cinta soe ke bali untuk menengok anak dan istrinya awal tahun ini, tas lutju setengah feminin diangkut olehnya untuk saya. “kamu pasti suka ini …” katanya. wah, benar. terlalu feminin banget, enggak. macho, enggak juga. yah. memang, setengah feminin.ada bordiran polkadot maupun pita yang menempel menggaris di tas dengan dasar berbentuk lingkaran itu. tentu, saya harus merapikan langkah saya jika mengenakan tas ini.

I Love (dengan tanda cinta berwarna merah) Bali, dan kaos putih lain, juga datang dari bimo. entah, saya selalu menyukai  kaos I Love blablabla ini. kaos dari bimo ini melengkapi I Love Mom, I Love Berlin, I Love My Boyfriend saya di lemari.

terima kasih. terima kasih. ada begitu banyak kado untuk saya awal tahun ini.

belimbing dan kenangan dengan ayah

2 Comments

jantung saya terasa mau berhenti saat mendapatkan sekeranjang buah dari teman. Belimbing. Ya, belimbing. Bukan belimbing wuluh, tetapi belimbing bintang.

Belimbing selalu mendekatkan saya pada ingatan akan ayah.

Sejak kepindahan kami sekeluarga 20 tahun silam ke Bumijo, ada pohon yang selalu dirawat dengan baik oleh ayah, yaitu belimbing bintang. Pohon ini ada di ‘rumah kecil’, begitu kami biasa menyebut. Pohon ini dulunya kecil, bahkan saya tak pernah mengira akan berbuah manis hingga ayah tutup usia, dua tahun silam.

Ayah rajin merawatnya, memberinya ruang untuk mengokohkan akar. Hingga batangnya mengeras, dedaunan merindang dan membikin pelataran kecil di rumah kecil menjadi teduh. Sesekali, batang pohon belimbing menjadi latar belakang untuk acara potret keluarga.

Belimbing berbuah. Ayah tak pernah sanggup untuk memetiknya sendiri. Dan ayah membikin ‘sengget’ alias bilah bambu panjang dengan pisau di bagian ujung untuk memotong buah belimbing yang matang agar terjatuh dan bisa ditangkap dengan tangan. Selebihnya, ayah juga yang paling rajin memungut belimbing yang berjatuhan, membersihkannya, dan mengiriskannya untuk kami.

Bunga pohon belimbing kecil, dan sangat mengotori pelataran. Dedaunan yang kuning dan mengering usai musim panen belimbing, tak kurangnya membuat ayah bekerja lebih giat agar pelataran tetap terlihat bersih. Dan ayah tak pernah mengeluh.

Belimbing yang ada di tangan saya ini selalu mengingatkan saya pada ayah. Yang setia pada semua tanamannya. Yang mencintai tanamannya. Yang merawat kehidupan untuk semua tetumbuhannya. Termasuk belimbing. Ulat dalam belimbing yang membusuk disingkirkannya agar kami bisa tetap makan buah belimbing dari kebun sendiri. ayah selalu mengiriskan untuk kami.

Ayah pergi, belimbing pun mati. Bulik tidak seperti ayah. Dia benci tanaman. Semua tanaman ayah dimusnahkan, termasuk belimbing.

Semoga ayah tidak marah ya.

hadiah dari Dia

Comments Off

terimakasih. kabar ini begitu mengejutkan. Si Pemilik Hidup memang selalu membanjiri si bungsu ini dengan seribu satu keriangan. terima kasih.

Desember yang mengejutkan

Comments Off

aroma desember sudah berasa, jauh-jauh hari sebelum bulan penutup tahun itu datang.

serangkaian peristiwa itu selalu datang setiap tahun. selalu sama. berulang. bahkan, alarm saya berbunyi, di hari yang selalu sama. mulai dari ingatan tentang episode biru. berkirim kartu natal dan kalender tahun depan. hari ultah nanang (nang, mestinya saat ini usiamu 31 tahun!). hari ultah cis. natal yang hangat. hari saat ibu meninggal. pesta pernikahan ayah dan ibu. desiran di ujung tahun.

tapi kejutan lain datang tahun ini: tanpa ayah, tanpa ibu, tanpa kakak. jadi, ada aroma ‘malas’ untuk natal tahun ini. menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan. iya. sepertinya saya m a l a s. tetapi bila ingat ujaran shoan, saya jadi lebih bersemangat. “aku pulang, mau merayakan natal bersama keluarga.”

dus, buru-buru saya menggantungkan hiasan di pintu kamar. saya juga menggantungkan kaus kaki santa klaus di jendela rumah bagian dalam dengan pita emas. saya memasukkan kado kecil dalam toples bening. saya-siap-menyambut-natal.

kejutan lain juga datang pagi tadi: “semoga teddy berpita merah jambu menemani kamu …” tulisnya. si teddy berbaju kotak-kotak dan bercelana hitam tak terbawa ke jogja pagi tadi. maklum, buru-buru. padahal, saya ingin mencucinya. si teddy adalah kenangan dengan ayah. si teddy adalah ingatan terakhir tentang ayah. si teddy adalah pasangan dari si teddy yang lain.

tetapi teddy ini lain. cokelatnya lebih cokelat moccha. hanya ada pita warna pink yang terlilit di lehernya. satu boneka teddy dihadiahkan untuk saya. terima kasih. terima kasih. terima kasih.

desember ini mengejutkan. tanpa ayah. tanpa ibu. tanpa kakak. dengan boneka.