Aug 01
Femi Adicerita bumijo ayah, bumijo, ibu, kembang arum, kembangarum, makam

see you soon, mom, dad!
ini bukanlah upaya ekstra. tetapi sebuah kewajiban.
ya, saya dan esti, kakak saya, menyambangi rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.
pekarangan dengan tumpukan dedaunan kering. dinding yang melumut. aih, ini rupanya rupa rumah mereka setelah tak kami sambangi lebih dari sebulan.
“ini bener-bener nyadran …” seloroh esti.
bukan hanya bunga khusus yang kami siapkan untuk mereka; bunga anggrek dengan rerimbunan crysant dan juga sedap malam. lebih dari itu, tangan kami berselancar untuk meminggirkan hijaunya lumut yang membubuhi dinding rumah mereka.
dan sore tak menciutkan nyali kami untuk tetap disini. di rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.
saya rindu mereka.
selaksa peristiwa selalu membayang saban acara kunjungan ini datang. taburan bunga ibu di rumah simbah kakung dan simbah buyut; hingga penyesalan ayah soal ketidakhadiran ibu mengiringi kehidupan kami yang mengancik kedewasaan.
saya rindu mereka.
Jun 04
Femi Adicerita bumijo ayah, bumijo, esti, femi, ibu, jogja

ada nama untuk kami
begitu kami saling memanggil: ibo dan tongkang.
saya selalu terbahak bila mendapati teleponnya. tanpa hallo, tanpa hai, tanpa femiiiiiiiii. yang ada adalah suara dari seberang yang berteriak dengan tanpa tanda koma: “ibo, ibo, ibo, ibo … ”
saya menggelak. sial. lidah dan bibir saya kelu, seolah tak bisa spontan menyebut: “tongkaaaang … ” speechles, saya hanya menderai tawa saja.
akhirnya saya menemukan nama itu. ya, nama yang mas untuknya: tongkang.
sama saja kok dengan ibo. keduanya berangkat dari realita yang sama. dari basis masa lalu yang memang menjadi jejak rekam seumur hidup. dan hanya kami yang tahu.
andai saja ayah dan ibu masih hidup. tentu keduanya tertawa hingga menangis kegelian melihat bagaimana kami bercanda.
Mar 18
Femi Adicerita bumijo, cerita pjka ayah, bumijo, ibu, jogja, pulang

tiket usang
saya kangen dengan suara kereta.
saya kangen dengan peluit petugas PPKA yang bertopi merah. saya kangen dengan jajanan pecel kembang kecombrang yang jamak saya asup di kereta tahun-tahun yang lalu.
kepulangan ke jogja, kini menjadi hal yang sangat mewah. ya, m-e-w-a-h. kini, tak selalu bisa melegakan punggung di kasur empuk semalaman dengan sangat nyenyak. kini, tak selalu bisa membincang dengan keriuhan yang ada dalam sepanjang perjalanan jakarta-jogja-jakarta.
tapi, saya tetap harus mensyukuri apa yang ada pada saya saat ini: perjalanan ke jogja yang begitu pendek, dan perjumpaan dengan kerabat yang begitu singkat. tak apa. pun, saya harus mensyukuri, saya masih tetap bisa berseliweran ke jogja lebih sering ketimbang kolega saya yang lain.
dan saya akan segera memburu suara itu: suara kereta.
saya sudah mengantongi tiket. yaps, saya akan pulang ke jogja ujung minggu ini. tentu saja, dengan naik kereta.
Feb 26
Femi Adicerita bumijo, kubikel bumijo, ibu, jogja, kangen, KONTAN, wartawan

misyu, mom
akhirnya saya masih harus mengakui bahwa saya masih mbok-mboken.
pagi ini mestinya berangkat pagi untuk piknik bersama dengan pabrik kata-kata ini dengan bus. hanya saja, saya bangun kesiangan. saya asik bercanda dengan ibu di sekolah tempat ia memburu sebakul nasi untuk kami. ya, saya memimpikan ibu.
dalam mimpi itu, saya punya duit IDR 10 juta. hanya saja, saya bingung mau digunakan untuk apa itu duit. pilihannya hanya dua: untuk beli motor atau handset canggih. ow!
ah, saya senang perbincangan sesaat dengan ibu saat itu. ya, hanya mimpi sih. tapi setidaknya cukup melegakan saya untuk bisa sebentar mengintip ibu yang saat itu mengenakan baju yang sama saat ibu berbaring di dalam peti. dan ibu masih sama seperti dulu.
ya, saya kangen sama ibu.
sampai-sampai saya terlambat bangun untuk piknik bersama dengan pabrik kata-kata ini.
Feb 08
Femi Adicerita bumijo, ragam cuatan ayah, bumijo, ibu, jogja, kembangarum

bunga pengantar doa
agnes yohana dan paulus soempeno.
ya, saya begitu menyayangi keduanya. setiap lantunan syukur, adalah rasa terima kasih padaNya atas kehadiran mereka dalam hidup saya. dan mengganti bunga lawas dengan bunga yang segar, adalah salah satu alasan mengapa saya harus menyambangi rumah bumijo.
andai ayah dan ibu tahu, betapa saya bosan menjawab pertanyaan atas pertanyaan yang itu-itu saja, “ngapain pulang sih, kan udah engga ada siapa-siapa di rumah?!” ya, saya sangat benci pertanyaan itu.
pulang ke bumijo, bukan hanya perkara ingin pijat di nakamura atau martha tilaar; atau membabati tanaman tetehan ayah. lebih dari itu, saya butuh duduk bersimpuh, berjejeran dengan mereka, di rumah mereka yang baru; mensyukuri hidup yang begitu menggembirakan dan membahagiakan, semata-mata karena mereka.
barangkali yang bertanya “ngapain pulang sih, kan udah engga ada siapa-siapa di rumah?!” adalah orang yang engga pernah dekat atau terlibat secara emosional dengan kedua orang tuanya. atau, barangkali terlalu sibuk sehingga hanya sekali setahun mendaraskan doa untuk kedua orang tuanya. atau, barangkali memang jalan pikirnya terlalu modern. atau, barangkali memang belum meninggal.
tapi saya benci pertanyaan itu. ribuan kali saya mendengarnya, dan ribuan kali pula saya menjawabnya: mengunjungi ayah dan ibu di rumah mereka yang baru.
ya, saya begitu menyayangi keduanya. ayah dan ibu saya. setiap lantunan syukur, adalah rasa terima kasih padaNya atas kehadiran mereka dalam hidup saya. dan mengganti bunga lawas dengan bunga yang segar, adalah salah satu alasan mengapa saya harus menyambangi rumah bumijo.
Older Entries