<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Femi Adi Soempeno &#187; jakarta</title>
	<atom:link href="http://femiadi.com/tag/jakarta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://femiadi.com</link>
	<description>when writing the story of your life, don&#039;t let anyone else hold the pen</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 09:03:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>setahun dengan krasnaya</title>
		<link>http://femiadi.com/2012/02/03/setahun-dengan-krasnaya/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2012/02/03/setahun-dengan-krasnaya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 04:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita cidodol residence]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>
		<category><![CDATA[ragam cuatan]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[krasnaya]]></category>
		<category><![CDATA[satria FU]]></category>
		<category><![CDATA[suzuki]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6931</guid>
		<description><![CDATA[satria saya, krasnaya, sudah berumur setahun. saatnya bayar pajak. tak cuma umurya yang setahun saja yang membikin saya happy. tapi saya sudah melunasi cicilan kendaraan itu. horeeeeee! krasnaya adalah kendaraan bermotor pertama saya di jakarta, sejak 2003 saya memutuskan untuk menyesaki kota ini. tak pernah saya berkeinginan punya kendaraan bermotor lantaran kendaraan yang ada di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>satria saya, krasnaya, sudah berumur setahun. saatnya bayar pajak. <img src='http://femiadi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>tak cuma umurya yang setahun saja yang membikin saya happy. tapi saya sudah melunasi cicilan kendaraan itu. horeeeeee!</p>
<p>krasnaya adalah kendaraan bermotor pertama saya di jakarta, sejak 2003 saya memutuskan untuk menyesaki kota ini. tak pernah saya berkeinginan punya kendaraan bermotor lantaran kendaraan yang ada di jalanan sudah kelewat sesak dan jamak dibawakan dengan ngawur. hanya saja, jarak rumah-kantor yang lumayan jauh dan harus ditempuh dengan menguras ongkos taksi-mikrolet-metromini-ojek, akhirnya saya memilih untuk membungkus si merah krasnaya pulang dari showroom-ya di ciledug.</p>
<p>terimakasih untuk bleki dan bang beb yang sudah mensponsori pencarian si merah melalui mas rohim. terimakasih terimakasih. <img src='http://femiadi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>setahun ini, saya sudah jatuh dengan krasnaya. saya juga sudah menungganginya dengan sejumlah kerabat yang gila roda dua. terimakasih untuk melce yang mau berepot-repot menguruskan pembuatan pelat, membelikan olie, mau dititipi si krasnaya saat saya pergi keluar kota, dan mengajari saya menyimpan kanebo dibawah jok motor.</p>
<p>saatnya ambil BPKB. sayangnya, tetap saja, bukan nama saya yang ada di sana.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2012/02/03/setahun-dengan-krasnaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>dari dulu, kami tetap saja begini</title>
		<link>http://femiadi.com/2012/01/23/dari-dulu-kami-tetap-saja-begini/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2012/01/23/dari-dulu-kami-tetap-saja-begini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 08:49:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita cidodol residence]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pjka]]></category>
		<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[atmajaya]]></category>
		<category><![CDATA[fisipol]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6947</guid>
		<description><![CDATA[di meja di sudut cazbar kuningan, kami akhirnya membahak. ya, kami mentertawakan diri kami sendiri. paimun dan saya. sejak kuliah kami berteman, lalu saya ke jakarta untuk bekerja dan weekend di jogja untuk bertemu dengan teman-teman d jogja, hingga akhirnya dia juga memilih Jakarta untuk tempat melewatkan usia, nyatanya tak ada yang berubah dari kami: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>di meja di sudut cazbar kuningan, kami akhirnya membahak. ya, kami mentertawakan diri kami sendiri. paimun dan saya.</p>
<p>sejak kuliah kami berteman, lalu saya ke jakarta untuk bekerja dan weekend di jogja untuk bertemu dengan teman-teman d jogja, hingga akhirnya dia juga memilih Jakarta untuk tempat melewatkan usia, nyatanya tak ada yang berubah dari kami: kami menghabiskan long weekend bersama. no other woman, no other man; juwt two of us.</p>
<p>oh my gosh.</p>
<p>2003 hingga 2009 atau 2010, saya pulang ke jogja untuk berjumpa dengan ayah saya, dan juga sejumlah sahabat, termasuk paimun.  malam hari, usai ayah istirahat, saya selalu memilih untuk bertemu dengan si beb dan paimun. kami menghabiskan malam panjang dengan main biliar ngobrol, kongko, hangout, makan-makan.</p>
<p>begitu terus saban minggu.</p>
<p>satu-dua kesempatan, kami dugem bersama, saat kerabat yang lain pulang ke jogja, meninggalkan memori yang tak tergantikan: mabuk rusuh, makan gudeg dan jackpot di mobil baru.</p>
<p>dan 2012, nyatanya tak ada yang berbeda. long weekend ini saya masih menghabiskan weekend saya dengan paimun.</p>
<p>kami memesan satu pitcher heineken beer, dan french fries, setelah kami sebelumnya menghabiskan pork chop di ya udah bistro. perbincangan kami pun tak jauh dari masa kuliah, menggosipkan si ini dan si itu, romantisme jogjakarta, dan mimpi kecil di masa yang akan datang.</p>
<p>kami menggelak. kami tak bisa berhenti tertawa. mentertawakan diri kami.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2012/01/23/dari-dulu-kami-tetap-saja-begini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>bingkisan, dan hitungan &#8216;mahal&#8217;</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/12/26/bingkisan-dan-hitungan-mahal/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/12/26/bingkisan-dan-hitungan-mahal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 06:41:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kado]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6895</guid>
		<description><![CDATA[saya menghargai sebuah bingkisan dari senyum yang mengembang, gelak ceria, kegemasan untuk memeluk hadiah kecil itu, dan niat positif untuk membungkus kado kecil itu. dalam sebuah perjalanan shopping, saya mengambil beberapa barang yang sudah jelas itu bukan untuk saya. protes mencuat dari bibirnya. &#8220;itu kemahalan, anak kecl itu kan terus tumbuh. kalau mau ngasih, jangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya menghargai sebuah bingkisan dari senyum yang mengembang, gelak ceria, kegemasan untuk memeluk hadiah kecil itu, dan niat positif untuk membungkus kado kecil itu.</p>
<p>dalam sebuah perjalanan shopping, saya mengambil beberapa barang yang sudah jelas itu bukan untuk saya. protes mencuat dari bibirnya. &#8220;itu kemahalan, anak kecl itu kan terus tumbuh. kalau mau ngasih, jangan beli disini. beli aja di ITC, jauh lebih murah. nanti deh aku beliin di ITC aja.&#8221;  ia terlihat gusar.</p>
<p>dan saya meletakkan barang itu lagi. harga barang itu tak seberapa selisihnya dengan barang yang dijual di ITC, sekitar lima ribuan. kalau saya harus ngangkot ke ITC, atau harus mengegas kendaraan saya, memarkirkan dengan ongkos 1,000 rupiah per jam, rasanya jatuhnya akan sama saja.</p>
<p>tapi saya tetap meletakkan barang itu. kelak saya akan membelinya sendiri, saat saya tak lagi bersamanya.</p>
<p>entah, apa-apa baginya serba mahal.</p>
<p>bagaimana kalau tak mengukurnya dengan uang. ah, mustahil. baginya selisih 5,000 adalah selisih 5,000.</p>
<p>sampai akhir tahun ini, tak secuilpun saya dengar ceritanya membungkuskan barang di ITC sebagai kado kecil.</p>
<p>tidak sampai akhir tahun ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/12/26/bingkisan-dan-hitungan-mahal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>harga mainan othok-othok itu Rp 2,000</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/12/10/harga-mainan-othok-othok-itu-rp-2000/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/12/10/harga-mainan-othok-othok-itu-rp-2000/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 08:37:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kubikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[blue bird]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[mainan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6876</guid>
		<description><![CDATA[saya melihatnya. lelaki sepuh berperawakan kecil, mengenakan baju putih dan celana putih yang tak lagi bersih, dengan topi yang melindungi kepalanya, berwarna cokelat muda.  ia menyeka keringat yang menempel di dahi dan sebagian wajahnya. di bahunya, sebilah bambu panjang mengangkut agar-agar dan mainan othok-othok berwarna kuning-merah-hijau. untuk menarik perhatian, ia sesekali mengibaskan tangannya, membunyikan mainan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya melihatnya. lelaki sepuh berperawakan kecil, mengenakan baju putih dan celana putih yang tak lagi bersih, dengan topi yang melindungi kepalanya, berwarna cokelat muda.  ia menyeka keringat yang menempel di dahi dan sebagian wajahnya. di bahunya, sebilah bambu panjang mengangkut agar-agar dan mainan othok-othok berwarna kuning-merah-hijau.</p>
<p>untuk menarik perhatian, ia sesekali mengibaskan tangannya, membunyikan mainan othok-othok itu.</p>
<p>&#8220;kalau mau ke setia budi, arahnya ke mana ya?&#8221; tanyanya pada saya. saya menunjuk jalan seberang, persis ke arah yang akan saya tuju. dia bilang, dia berjalan kaki menjajakan dagangannya dari pulo gadung.</p>
<p>kami berjalan beriringan. menyeberangi jembatan penyeberangan yang tak jauh dari gedung KPK.  padanya saya bertanya berapa harga mainan othok-othok itu.</p>
<p>&#8220;2,000 rupiah,&#8221; katanya.</p>
<p>hati saya habis.  harga mainan itu  bahkan lebih murah dari harga teh botol.</p>
<p>mainan othok-othok, entah apa nama sebenernya mainan ini, dibikin dari bilahan bambu dan diberi warna terang. bapak itu mewarnani bilahan bambu itu dengan warna hijau. sementara, di bagian ujungnya, dibikin baling-baling, yang juga dibuat dari bilahan bambu yang lebih tipis lagi. benang putih tipis dan kertas minyak warna kuning dan merah menjadi penghias baling-baling itu. diantara gagang bilah bambu dan baling-baling itu ada lempengan seng tipis yang ditempeli lidi dan diikat dengan karet. juga, ada potongan bekas bungkus rokok sebagai genderang lidi itu. sekali othok-othok itu dikibaskan, maka baling-baling akan berputar dan menciptakan suara &#8220;othok&#8230;othok&#8230;othok &#8230;&#8221;</p>
<p>itu mainan saya waktu kecil; 30 tahun yang lalu.</p>
<p>&#8220;orang-orang yang bikin itu biasanya dari cirebon. mereka datang ke jakarta naik bus dengan ongkos 30,000 rupiah. mereka tinggal di emperan toko atau terminal di malam hari, setengah bulan atau sebulan sekali mereka kembali ke rumah. di cirebon banyak pengrajin mainan anak tradisional seperti itu,&#8221; kata pak pengemudi taksi blue bird yang saya tumpangi, tak lama setelah saya dan bapak penjual mainan othok-othok itu berpisah di persimpangan penyeberangan jalan.</p>
<p>dari cirebon? owh, hati saya tambah habis.</p>
<p>kebijakan impor mempermudah pengusaha untuk mengusung mainan dari luar Indonesia sehingga harga mainan menjadi lebih murah dan akan ada begitu banyak orang yang bisa menikmati mainan dari luar negeri. tapi, bagaimana dengan mainan yang dibikin dari pengerajin mainan anak-anak tradisional?</p>
<p>&#8220;anak-anak di jakarta, anak-anak jaman sekarang, apa masih mau mainan seperti itu?&#8221; tanya pak pengemudi. ia bilang, di masa kecilnya, ia pergi ke cirebon setahun sekali dari rumahnya, membeli empal gentong dan mainan othok-othok itu. &#8220;itu saja, saya sudah setengah mati gembiranya &#8230;&#8221; katanya.</p>
<p>iya, sama halnya dengan saya yang juga gembira dengan mainan yang luar biasa itu pada masa kecil saya.  iya, mainan othok-othok itu.</p>
<p>&#8220;tapi Tuhan itu adil kok mbak, melalui cara apapun &#8230;&#8221; kata pak pengemudi itu. membuat saya makin mengatupkan bibir saya, dan menyadari ada butiran bening merembes dari ujung mata saya.</p>
<p>iya, Tuhan itu adil. Tuhan itu pasti adil.</p>
<p>saya terus mengamati mainan othok-othok yang ada di tangan saya, memainkannya perlahan, melahirkan bunyi &#8221;othok-othok-othok&#8217; .</p>
<p>satu mainan othok-othok-othok seharga 2,000 rupiah itu ada di kubikel saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/12/10/harga-mainan-othok-othok-itu-rp-2000/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>bapak tua penambal ban di depan apt. shangri-la</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/12/03/bapak-tua-penambal-ban-di-depan-apt-shangri-la/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/12/03/bapak-tua-penambal-ban-di-depan-apt-shangri-la/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 06:23:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[apartemen shangri-la]]></category>
		<category><![CDATA[ban]]></category>
		<category><![CDATA[ban bocor]]></category>
		<category><![CDATA[bocor]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kebanan]]></category>
		<category><![CDATA[tambal ban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6858</guid>
		<description><![CDATA[tubuhnya kecil. kulitnya sudah mengeriput. tangannya tak lagi kekar. dia selalu mengenakan pakaian yang sama: celana hitam yang panjangnya tak lebih dari mata kaki, dan kemeja cokelat muda. sepeda yang digowesnya selalu sama: bmx yang sudah berkarat. ia selalu ada di trotoar di depan apt shangri-la saat jam pulang kerja mulai membanjiri jalanan dengan pengendara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>tubuhnya kecil. kulitnya sudah mengeriput. tangannya tak lagi kekar.</p>
<p>dia selalu mengenakan pakaian yang sama: celana hitam yang panjangnya tak lebih dari mata kaki, dan kemeja cokelat muda. sepeda yang digowesnya selalu sama: bmx yang sudah berkarat.</p>
<p>ia selalu ada di trotoar di depan apt shangri-la saat jam pulang kerja mulai membanjiri jalanan dengan pengendara mobil dan motor.  ia menandai keberadaan dirinya dengan ban sepeda motor yang dipajangnya di tepi trotoar. sepeda bmx-nya selalu menyandar dinding pagar apartemen mewah itu.</p>
<p>saya selalu berharap kendaraan saya kempes tak jauh dari tempat nongkrong bapak tukang tambal ban itu. saya ingin berbincang dengannya.</p>
<p>lebih dari setengah tahun saya melajukan kendaraan saya, tak pernah ban motor saya kempes di dekatnya.</p>
<p>keberadaannya selalu mengusik saya. barangkali karena kadang ada lebih dari dua kendaraan yang antri ditambal olehnya dalam waktu yang bersamaan. barangkali karena kekontrasan apartemen mewah dan adanya pak tukang tambal ban ini di satu area yang sama. barangkali karena ia juga tetap bertahan disana, tanpa kompresor besar melainkan dengan pompa angin genjotan dengkul dan tangan, dan api yang menyala kecil untuk memberi tenaga tambalan bannya.</p>
<p>barangkali karena ia tetap bertahan dengan payung hitam lusuh dan berlubang saat hujan mengguyur kawasan itu.</p>
<p>sekali waktu saya melihatnya menggenjot sepedanya. tanpa membawa alat penambal ban yang sederhana itu. lepas maghrib. ia terlihat berasal dari tempat nongkrongnya.</p>
<p>ya, saya sangat ingin berbincang dengannya. dengan bapak bertubuh kecil itu, bapak penambal ban.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/12/03/bapak-tua-penambal-ban-di-depan-apt-shangri-la/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerumunan massa</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/11/26/kerumunan-massa/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/11/26/kerumunan-massa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 01:57:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[airasia]]></category>
		<category><![CDATA[blackberry]]></category>
		<category><![CDATA[diskon]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/2011/11/26/kerumunan-massa/</guid>
		<description><![CDATA[Saya lega tak ada dalam kerumunan itu. Iya, antrian blackberry dengan diskon 50 persen untuk 1000 pembeli pertama. Saya baca di sejumlah media online, promo agresif itu diserbu konsumen yang jumlahnya amit-amit banyaknya, melebihi dari yang disangkakan. Ada yang patah tulang. Ada yang pingsan. Waduh. Saya nyaris ada dalam kerumunan itu. Saya lebih menyukai kerumunan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya lega tak ada dalam kerumunan itu. </p>
<p>Iya, antrian blackberry dengan diskon 50 persen untuk 1000 pembeli pertama. Saya baca di sejumlah media online, promo agresif itu diserbu konsumen yang jumlahnya amit-amit banyaknya, melebihi dari yang disangkakan. Ada yang patah tulang. Ada yang pingsan. </p>
<p>Waduh. </p>
<p>Saya nyaris ada dalam kerumunan itu. </p>
<p>Saya lebih menyukai kerumunan di dunia maya. Sama-sama menawarkan promo murah, airasia sama-sama mampu mendatangkan kerumunan massa yang massif, namun tak perlu berkeringat, pingsan hingga patah tulang. Lebih dari itu, tak perlu mendatangkan begitu banyak aparat keamanan untuk menjaga massa yang menderas. </p>
<p>Di jejaring elektronik, airasia kerap menawarkan tiket murah, yang diperebutkan oleh sekian banyak calon penumpang. </p>
<p>Saya mengalaminya saat awal airasia menerbangi langit indonesia. Saya cukup stand by dengan halaman website airasia, dan menyiapkan kartu kredit dan ktp atau paspor. Saya mendapatkan 0 rupiah untuk penerbangan airasia di sejumlah rute. fun. Saya tak sibuk berdesakan. Sebagai gantinya, sever airasia sibuk, padat dan sempat eror. Tapi ya disitulah kerumunan massa terasa, meski tak sepenuhnya terlihat. </p>
<p>Kerumunan massa kemarin untuk memperebutkan 1000 blackberry bold seri bellagio dengan diskon 50 persen, saya beruntung tak jadi kesana.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/11/26/kerumunan-massa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;tau gitu saya bawa panci sendiri &#8230;&#8221;</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/11/25/tau-gitu-saya-bawa-panci-sendiri/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/11/25/tau-gitu-saya-bawa-panci-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 07:05:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[babi]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[makan]]></category>
		<category><![CDATA[makan-makan]]></category>
		<category><![CDATA[pork]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6867</guid>
		<description><![CDATA[mulutnya memang menggelikan. selalu menggelikan. saya meyukai spontanitasnya. malam itu kami bertiga, memutuskan untuk kongko satu-dua jam di supermarket yang buka 24 jam. asik. ada makanan fresh yang dimasak oleh koki. pasta. pizza. nasi goreng. mie goreng. selebihnya, ada buah dan sayur segar dengan disajikan ala salad. selebihnya, ada bir yang dengan mudahnya diangkut tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>mulutnya memang menggelikan. selalu menggelikan. saya meyukai spontanitasnya.</p>
<p>malam itu kami bertiga, memutuskan untuk kongko satu-dua jam di supermarket yang buka 24 jam. asik. ada makanan fresh yang dimasak oleh koki. pasta. pizza. nasi goreng. mie goreng. selebihnya, ada buah dan sayur segar dengan disajikan ala salad. selebihnya, ada bir yang dengan mudahnya diangkut tanpa ada charge restoran.</p>
<p>pilah-pilih daging segar, ia bilang supermarket itu bisa menggorengkan daging yang ada disitu. wow. &#8220;pilih bacon yuk, ato sosis babi &#8230;&#8221; katanya.</p>
<p>kami seru memilih-milih sosis babi, bacon.</p>
<p>&#8220;engga bisa digorengkan kalo babi,&#8221; begitu kata masnya yang menggawangi area perdagingan. alasannya, katanya, karena pancinya untuk yang non-babi saja.</p>
<p>&#8220;wah, tau gitu saya bawa panci sendiri &#8230;&#8221; selorohnya. mengejutkan.</p>
<p>mulutnya. mulutnya. selalu menggelikan.  alhasil, kami hanya menggoreng beef bacon. selebihnya, pasta, pizza dan salad buah.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/11/25/tau-gitu-saya-bawa-panci-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>mendadak saya tak bisa membungkuk</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/11/24/mendadak-saya-tak-bisa-membungkuk/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/11/24/mendadak-saya-tak-bisa-membungkuk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 01:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita cidodol residence]]></category>
		<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[bersih sehat]]></category>
		<category><![CDATA[cidodol]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[pijet]]></category>
		<category><![CDATA[punggung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/2011/11/26/mendadak-saya-tak-bisa-membungkuk/</guid>
		<description><![CDATA[saya sudah punya temu janji dengan sejumlah kerabat. Menanti pukul 9 malam, saya pun merebahkan tubuh di kasur, melegakan letih. Saya bermain kebut-kebutan dan juga menjodohkan permen satu dengan yang lainnya dengan papan sentuh yang saya punya. Ya, lama tak berjejalin dengan internet di rumah. Lama pula tak bermain dengan perangkat permainan ini. Saya butuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya sudah punya temu janji dengan sejumlah kerabat. </p>
<p>Menanti pukul 9 malam, saya pun merebahkan tubuh di kasur, melegakan letih. Saya bermain kebut-kebutan dan juga menjodohkan permen satu dengan yang lainnya dengan papan sentuh yang saya punya. Ya, lama tak berjejalin dengan internet di rumah. Lama pula tak bermain dengan perangkat permainan ini. </p>
<p>Saya butuh mandi, dan juga menyiapkan sejumlah hal. </p>
<p>Saya pun beranjak dari tempat tidur. Tapi saya mengaduh. Sakit. Ada yang sakit di punggung saya. Oh my goodness. Sakit sekali. </p>
<p>Saya tak bisa menjongkok. Saya tak bisa membungkuk. Saya tak bisa mengangkat barang berat. Saya tak bisa &#8230; </p>
<p>Hey, ini bukan perkara umur.</p>
<p>Tapi perkara kemalasan yang saya miliki. Sejak saya berobat ke dokter dua bulan silam, dokter sudah menyarankan saya berenang karena tak ada obat punggung kecuali berenang. Tapi hingga  kini, saya tak melakukannya. </p>
<p>Sakit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/11/24/mendadak-saya-tak-bisa-membungkuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;bajaj saya hilang &#8230;&#8221;</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/11/23/bajaj-saya-hilang/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/11/23/bajaj-saya-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 10:15:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita cidodol residence]]></category>
		<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bajaj]]></category>
		<category><![CDATA[cidodol]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6842</guid>
		<description><![CDATA[lama tak naik bajaj dari depan rumah. sejak saya punya tunggangan sendiri, saya tidak pernah naik bajaj. naik ojek juga cuma sekali. saya mengenal mereka cukup baik, meski tak sangat akrab. kalau bukan mereka, siapa lagi yang mau menolong saya jika tak ada tumpangan? pagi kemarin, saya pun menyewa tumpangan untuk menuju ke kantor lama. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>lama tak naik bajaj dari depan rumah.</p>
<p>sejak saya punya tunggangan sendiri, saya tidak pernah naik bajaj. naik ojek juga cuma sekali. saya mengenal mereka cukup baik, meski tak sangat akrab. kalau bukan mereka, siapa lagi yang mau menolong saya jika tak ada tumpangan?</p>
<p>pagi kemarin, saya pun menyewa tumpangan untuk menuju ke kantor lama. supir bajaj-nya adalah mas-mas berlogat jawa, berambut gondrong hitam halus seperti layaknya gadis-gadis sunsilk.</p>
<p>sepanjang perjalanan, kami berbincang.  padanya, saya bertanya soal kesehatannya dan juga keluarganya.</p>
<p>&#8220;sekarang sih sudah baikan mbak. alhamdulillah. tapi bajaj saya hilang sebelum lebaran kemarin. wah, pusing dah. mana kebutuhan buat lebaran kan ada aja. &#8230;&#8221; katanya.</p>
<p>ia dilanggani oleh tetangga depan saya untuk mengantar sekolah anak-anaknya. pagi itu,  kebetulan si bapak ada di rumah, jadi mas bajaj tidak mengantar. yang biasanya keluar jam 5.30, si mas bajaj baru keluar jam 6.30.</p>
<p>&#8220;saya parkirin bajaj di depan kompleks. saya datang, eh, sudah engga ada. padahal ini bajaj sewa. kalau dijual, kayak motor ga ada surat-suratnya itu, cuma 2 juta,&#8221; katanya.</p>
<p>mas bajaj harus nyicil pada si empunya bajaj, sebesar 300,000 dikalikan tiga.  ia hanya diminta bayar separo-nya sebagai ganti rugi bajaj yang hilang.</p>
<p>&#8220;alhamdulillah saya dipercaya sama yang punya. saya juga disuruh jadi montir. jadinya cuma bayar sekalu, lalu sudah engga disuruh bayar. tapi saya tetap disuruh jadi montir, dan tetap dibayar.&#8221;</p>
<p>ia menyewa bajaj sebulan sebesar 500,000.  dengan tambahan pendapatan jadi montir, saat ini ketebalan kantongnya lumayan. sebelumnya, sudah ada montir untuk bajaj-bajaj yang ada. hanya saja, ia dipecat oleh si empunya karena setorannya ada yang ditilep.</p>
<p>&#8220;kepercayaan itu mahal, mbak. alhamdulillah, saya orang biasa. maunya ya yang biasa, bisa dipercaya &#8230;&#8221;</p>
<p>saya terdiam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/11/23/bajaj-saya-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>gunung tangkup/abang, persawahan ubud hingga romantisme senja di kuta</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/11/22/gunung-tangkupabang-persawahan-ubud-hingga-romantisme-senja-di-kuta/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/11/22/gunung-tangkupabang-persawahan-ubud-hingga-romantisme-senja-di-kuta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 15:57:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[pit-pitan]]></category>
		<category><![CDATA[RC3]]></category>
		<category><![CDATA[sepedahan]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6872</guid>
		<description><![CDATA[pada awalnya, saya sudah menyerah untuk perjalanan gowes ke bali ini. pasalnya, sejak awal oktober, mas cis sudah ngabani saya dengkul berlevel intermediate di rute sepanjang 45 kilo meter di hari pertama. lihat gambarnya sih asik. lihat treknya juga seru. tapi kalau lihat kekuatan dengkul yang belum-tentu-sebulan-sekali-gowes, rasanya saya lebih baik memilih rute narsis di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>pada awalnya, saya sudah menyerah untuk perjalanan gowes ke bali ini. pasalnya, sejak awal oktober, mas cis sudah ngabani saya dengkul berlevel intermediate di rute sepanjang 45 kilo meter di hari pertama. lihat gambarnya sih asik. lihat treknya juga seru. tapi kalau lihat kekuatan dengkul yang belum-tentu-sebulan-sekali-gowes, rasanya saya lebih baik memilih rute narsis di hari kedua, di kawasan persawahan ubud.</p>
<p>&#8220;nanti yang etape kedua lebih menantang fem &#8230;&#8221; kata om erry. ah sial. kata &#8216;menantang&#8217; itu bukankah terdengar &#8216;sulit&#8217;?</p>
<p>tapi saya memilih untuk menjalani saja. adanya sejumlah srikandi dalam perjalanan ini, mengindikasikan bahwa &#8216;semuanya akan baik-baik saja&#8217;.</p>
<p>perjalanan dimulai.</p>
<p>hari pertama, sabtu 19 november 2011, nyatanya, dengkul adalah modal utama. sejumlah tanjakan kecil tak bisa saya lewati dengan kayuhan dua dengkul saya. terlalu berat. jalanan berbatu, berpasir, tetap menyisakan kekhawatiran pada saya meski saya sudah mengenakan dengkul-protektor dan mengganti sadel sepeda dengan selle royal plugin ergogel dan memangkas seatpost menjadi sedikit lebih pendek.</p>
<p>treknya sedikit berbeda dari tangkuban perahu yang banyaak jalan setapak kecil nan sempit. kali ini, lebih lapang namun sejumlah turunan tetap terasa terjal karena bauran tanah-pasir-batu. hujan membuat pasir kian melekat dan semakin padat. ah, terimakasih hujan.</p>
<p>music-speaker yang diusung mas cis membuat gowesan ini mirip odong-odong; apalagi, ada lagu ayu ting-ting disana. suasana di pengunungan dengan rerimbunan pohon dan bau khas hutan membikin hati lebih adem.  tapi napas saya masih pendek saja: saya tak bisa menyanyi layaknya yang lain saat menggowes. dan saya masih ada di barisan paling bontot bersama dengan marshall-marshall. :p</p>
<p>saya menikmati saat sepeda saya menghalau kubangan air, merangsek dengan serunya membelah air dan membiarkan roda mencari jalannya sendiri untuk menemukan jalan keluar dari kubangan itu.  rasanya seperti mengembalikan masa kanak-kanak, bersepeda di pekarangan belakang rumah. bedanya, saat itu ada ibu dan mbah putri yang meneriaki &#8220;femi, hujan. main sepedanya sudah. nanti masuk angin&#8230;&#8221; kini justru sebaliknya, &#8220;trek trek trek trek &#8230; &#8221;</p>
<p>durian menjadi obat capek di mulut gunung. lucunya, satu durian berisi satu pongge saja.</p>
<p>dan etape kedua dibatalkan karena hujan dan kadung ganti baju/beberes di restoran.</p>
<p>hari kedua, minggu 20 november 2011, matahari membakar wajah saya di sepanjang pematang sawah. ah, menyenangkan. bebek-bebek menjadi perburuan pak rudiantara untuk berpose dengan sepedanya.</p>
<p>kesasar sana-sini. menemukan mentimun sebagai penambah energi. mengisi water bladder dengan air dari mata air. dan saya didorong oleh om erry saat berada di tanjakan. aaah! ***see femi, betapa jam terbang dengkulmu kurang tinggi***</p>
<p>&#8220;hallo femi &#8230;&#8221; om heru menyapa, kali ini lebih jinak ketimbang di tangkuban perahu. <img src='http://femiadi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />   yah, menggelikan. om heru gowes menyalip saya, dan menyapa dengan nada ringan, riang. saya selalu terbahak dibuatnya.</p>
<p>dan kuta menjadi tujuan akhir; menyusuri tepian pantai hingga legian. menyandarkan letih pada senja.</p>
<p>terimakasih untuk perjalanan ini. terimakasih untuk RC3 yang memperbolehkan saya mengenakan kaos berlabel RC3.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/11/22/gunung-tangkupabang-persawahan-ubud-hingga-romantisme-senja-di-kuta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>dua agama, satu cinta</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/11/21/dua-agama-satu-cinta/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/11/21/dua-agama-satu-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 11:10:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita cinta]]></category>
		<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh cinta]]></category>
		<category><![CDATA[patah hati]]></category>
		<category><![CDATA[rajawali]]></category>
		<category><![CDATA[RC3]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6838</guid>
		<description><![CDATA[perdebatan ini tak pernah usang: pacaran beda agama. sayangnya, kita hidup di tempat yang menjadikan agama sebagai salah satu benchmark untuk semua lini kehidupan. dari yang remeh temeh, hingga yang gigantic. dari perkara minta sumbangan di kampung, hingga isu toleransi antar umat beragama. saya hanya bisa tersenyum saja mengingat semuanya. si ini. si itu. si [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>perdebatan ini tak pernah usang: pacaran beda agama.</p>
<p>sayangnya, kita hidup di tempat yang menjadikan agama sebagai salah satu benchmark untuk semua lini kehidupan. dari yang remeh temeh, hingga yang gigantic. dari perkara minta sumbangan di kampung, hingga isu toleransi antar umat beragama.</p>
<p>saya hanya bisa tersenyum saja mengingat semuanya. si ini. si itu. si ini. si itu. si ini. si itu.</p>
<p>agen asuransi saya bercerita tentang kehidupannya yang harmonis: dia hidup dengan lelaki yang berbeda agama dengannya.  &#8220;kami bikin perjanjian fem.  kalau dia mau agama anak kami ikut dia, ya dia harus konsisten untuk ngajarin agamanya pada anak kami, dan begitu juga sebaliknya,&#8221; katanya. mereka menikah di paramadina.</p>
<p>kolega saya juga menikah dengan cara  yang unik. demi menjaga wasiat orang tua yang anaknya harus menikah dengan cara muslim, maka yang non-muslim pun hijrah ke muslim. sesudahnya, keduanya kembali menjalani hidup dengan agama masing-masing.</p>
<p>teman saya yang lain justru `abangan&#8217;. dia bisa menikahi siapa saja, agama apa saja.</p>
<p>kerabat saya tengah menjalin hubungan dengan seorang perempuan yang beda agama. tarik ulur siapa yang pindah agama apa pun terus terjadi. keduanya kuat, keduanya taat.</p>
<p>apakah Tuhan pernah jatuh cinta?</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/11/21/dua-agama-satu-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Water bladder bag pengganti termos air</title>
		<link>http://femiadi.com/2011/11/21/water-bladder-bag-pengganti-termos-air/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2011/11/21/water-bladder-bag-pengganti-termos-air/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 02:25:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[kubikel]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>
		<category><![CDATA[deuter]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[pit-pitan]]></category>
		<category><![CDATA[rajawali]]></category>
		<category><![CDATA[RC3]]></category>
		<category><![CDATA[sepeda]]></category>
		<category><![CDATA[sepedahan]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/2011/11/21/water-bladder-bag-pengganti-termos-air/</guid>
		<description><![CDATA[Idenya mantap: mengganti termos air di kantor dengan water bladder bag. &#8220;ketimbang wira-wiri ambil air di galon, lebih baik sekali ambil, ditaruh di water bladder bag ini, dan kalo haus tinggal disedot aja &#8230;&#8221; kata lisa. Ya, ya. Menarik! Akan terlihat lucu, tapi tetap terlihat gaya. Bladder itu bisa ditaruh dimana saja, tanpa takut tumpah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Idenya mantap: mengganti termos air di kantor dengan water bladder bag. </p>
<p>&#8220;ketimbang wira-wiri ambil air di galon, lebih baik sekali ambil, ditaruh di water bladder bag ini, dan kalo haus tinggal disedot aja &#8230;&#8221; kata lisa.</p>
<p>Ya, ya. Menarik! </p>
<p>Akan terlihat lucu, tapi tetap terlihat gaya. Bladder itu bisa ditaruh dimana saja, tanpa takut tumpah. Mau posisi horisontal atau vertikal, tetap saja tak meninggalkan kekhawatiran akan ngglimpangnya gelas di sekitar kubikel, atau tersenggolnya termos air. Asik kan? </p>
<p>Saya sendiri membayangkan saya akan bekerja di depan layar komputer, dan meletakkan bladder di sisi kiri saya, tepat diatas tumpukan buku dan kertas-kertas press conference yang menggunung. Saya, yang biasanya menjauhkan posisi gelas dan termos dari area papan kunci, pastinya akan lega untuk menaruh water bladder bag dimana saja. </p>
<p>Coba ah ide gila ini. <img src='http://femiadi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Terimakasih, lisa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2011/11/21/water-bladder-bag-pengganti-termos-air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

