telepon cinta datang, semu merah menjelang

Comments Off

selalu tulus

keriaan saya tak pernah berubah saban menangkap kembali suaranya di kuping saya.

ya, saya selalu ceria menyambutnya. tak ada amarah. tak ada sebal. tak ada benci. tak ada kesal. tak ada amuk. yang ada: semu merah di pipi dan rasa-tak-ingin-berhenti-tersenyum.

meski padanya, saya bilang saya tengah dihantui oleh musim merah jambu. :) “aku engga marah. ga apa-apa. aku seneng kalau kamu seneng,” katanya. barangkali setengah senang, dan sisanya getir.

ah, tapi saya tahu ujarannya sangat tulus, seperti yang sudah-sudah. tahu kenapa? karena kami tahu persis kami tak bisa bergerak. maju mundur, tetap saja kami tak akan beranjak.

“tapi jatahku jangan diberikan semua … masih ada buatku kan?” selorohnya, bercanda.  dan kami menggelak. ouw, warna gelak ini masih sama. menggombal. mengumbar. menguar.

tak ingin kalah, saya pun berujar, “utuh, 100% bergaransi …”

pembicaraan kami selalu saja begini. dan saya sangat mensyukurinya. tidak pernah ada command maupun tanda seru diantara cuatan kami. selalu penuh dengan kelegaan dan kehangatan.

dan saya selalu menyadarinya belakangan: saya selalu bertingkah bak anak kecil saban menerima telepon cinta. duduk manis, sembari mengangkat dua kaki, memiringkan kepala dan penuh tawa girang.

ps: i love you.

mengunduh telepon cinta

Comments Off

jadi semangat!

10.35 wib.

telepon cinta itu datang kembali; dari laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah.

awalannya tak biasa: gelak yang renyah, gembira yang membuncah. tak henti-hentinya, ia terbahak, dan terus menguarkan energi merah jambu untuk saya.

“geli baca emailmu, kamu bilang mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu-nya panjang bener …” katanya. oouch!

dan kami terus membagi cuilan cerita hari-hari kami, setelah butiran bening di sudut mata menggerojok beberapa waktu lalu.

kami membincangkan kesibukan dan juga orang-orang terdekat kami di sini. kami juga membincangkan peterporn. dan sebentar kami bergombal-gambul soal rona merah jambu dan acara berhangat-hangat di beranda hati.

owh, juga soal celana ukuran 85 dan bobot tubuh yang makin bertambah. seperti biasa, klaim ‘aku lebih kurus ketimbang kamu’ itu terus kami desakkan; saling tak mau kalah.

ya, lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah sudah mengawali selasa saya yang menyenangkan. menggembirakan. membahagiakan. entah, berapa lap meja rapat saya kitari untuk membayangkan gelaknya yang liar sekaligus anggukannya yang santun saat saya berucap.

rona merah jambu tak hanya menyapu pipi saya, tetapi juga hati saya.

kami pernah duduk bertiga di starbucks pim 2

Comments Off

januari yang basah, nyatanya tak membikin hati kami anyep.

kami meriung di sini, dengan bahasa campur-aduk yang membikin kami sendiri menggelak hebat. bahasa si kecil yang tak saya mengerti, begitu pula bahasa saya yang tak ia pahami. hanya saya, dan lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah yang mampu merangkainya.

“dingin!” katanya saat itu, saat ia memilih untuk membungkus minuman dingin dari cooler. bukan kopi, bukan teh, bukan cokelat. melainkan juice.

dan kami terus berbincang. ya, saya dan laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah itu. hati saya hangat, sangat hangat.

saya tak mempedulikan esok. hanya hari itu. hanya kehangatan itu.

kami menghabiskan hari, bertiga. meninggalkan jejak. membukukan kenangan. menorehkan luka.

dan sekarang, saya kembali ke sini. dingin; barangkali sedingin juice yang melekat di tangan si bocah saat itu.

tahu kenapa? karena saya menunggu kabarnya.

mabuk asmara

Comments Off

aku lagi gandrung ...

haduh, judulnya kok ya lawas banget.

tapi itu yang terlintas di benak saya. dan, meski jadul, saya tetap mensyukurinya. :)

“… aku lagi gandrung …” katanya, membisiki saya melalui sambungan antaribukota-antarnegara. duh, saya ikut senang. dia sedang jatuh cinta. saya berharap, ini pencariannya yang terbaik. memburu waktu, memburu usia, membungkam perbincangan.

saya menyayanginya, sungguh, saya menyayanginya. saya ingin dia bahagia dengan siapapun yang dipilihnya. dan saya menyimak apa yang dibuncahkannya. tentang tarian diatas papan kunci hingga pagi, mengobrolkan remeh-temeh yang engga begitu penting namun mendadak menjadi penting. ah, ini namanya mabuk asmara.

saya tahu, ia tak akan kenal lelah untuk memburu seseorang meski kadang-kadang menggelikan: ia akan menimbang rasa dengan sedikit logika. ow ow ow. saat itulah ia mengerti apakah asmaranya itu semu, palsu atau justru makin gandrung. :)

bahkan saya lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. saya juga lupa bagaimana caranya mabuk asmara. sedikit banyak, saya menirunya: menimbang rasa dengan sedikit logika.

ya, ya, ya. semoga bahagia. :)

image courtesy: flickr

http://www.flickr.com/photos/13461261@N00/224445041/

sepotong hati yang bentuknya tetap saja sama

Comments Off

lewat setahun, dan rasa ini masih sama

Bentuknya masih sama.

Sepotong hati ini tak pernah tergerus. Sedikitpun. Masih utuh, dan sama. Rindu yang melumut makin membuatnya tebal. Dan makin tebal dengan gelak yang kamu jumput di siang hari; mengiris waktu istirahat siang, menambal rindu.

Jarum jam yang bergerak ke arah kanan dan penanggalan yang tak kenal kerjasama, pun tak mengikis bentuknya.

Bentuknya masih sama. Sepotong hati buat renanda.

image courtesy: xch