Aug 12
Femi Adicerita cinta, renanda celana, jeans, jepang, levi's, padang, renanda, size, tokiko onose, ukuran

nomernya 82. puasss?
cerita soal jeans tak pernah usai. iya, cerita diantara saya dan lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah.
pun, saya berhutang kejujuran: potret ukuran celana jeans.
ah. kami selalu menggelak bila membincangkan angka; apapun itu. dus, bukan hanya soal uang yang sensitif, tetapi apapun yang mengerami angka, selalu membikin kami geram dan menudingkan fitnah.
termasuk, soal ukuran celana jeans ini.
dalam sebuah perbincangan panjang di serat-serat elektronik, topik ini menjadi topik yang tak pernah usai dan lalai untuk dibincangkan. kalaupun kelewatan, pasti ada saja yang mengingatkan.
saya mengklaim, ukuran jeans saya lebih mini ketimbang miliknya. bisa saya pastikan, lingkaran tangan saya merapat hangat di tubuhnya yang tinggi dan besar, itu sudah menunjukkan ukuran jeans nya yang lebih besar ketimbang saya.
“ternyata ukuran celananya 82 ya?” katanya, mengomentari foto yang saya kirim. sial.
Jul 26
Femi Adicerita cinta, renanda cinta, jakarta, jepang, kangen, renanda, rindu, tokiko onose

k.a.n.g.e.n
“I hate to turn off the phone and waiting for another calls in the next 2 weeks … ” tulis saya untuknya.
perasaan ini selalu saja sama saban menutup telpon usai berbincang dengannya. mencuatkan ini itu. ngakak sana sini. membual dan merayu yang engga penting. yay … perasaan saya selalu saja tersara bara alias berantakan; antara hepi sekaligus melankolis.
aih. laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah.
saya senang mendengar gelaknya yang begitu lepas. mulai dari bualannya tentang ukuran celana sesuai standar jepang hingga acara mencerling perempuan manis di kantornya. “masih ingat ya punya hitang motretin ukuran celana panjang? disini ukuranku 76,” katanya; usai saya menyebut angka 80 untuk ukuran levi’s saya. sial. tak mau kalah, saya langsung menyebut, “ow, kalo nomermu 76, berarti nomerku 70!”
keriangan dan gelak yang terurai itu selalu membikin hati saya lega. perbincangan berjarak 5782 km ini sebentar, tetapi selalu meninggalkan cacahan ingatan yang menggembirakan untuk dicatat dan diintip kembali kelak.
“aku kangen banget,” katanya. yay, amsal ini jamak tercuat saban perjumpaan kami melalui sesulur ponsel.
“aku juga kangen, tapi engga pakai banget!” seloroh saya. lagi, tawanya menderai. ah, saya suka dengan buncahan gelaknya; rasanya seperti ditenggelamkan diantara tetumpukan bantal dan tubuhnya yang hangat.
hanya saja, kesibukannya belakangan justru lebih menenggelamkan dirinya pada ketidakmampuan-membalas-email. aiyh. barangkali, ditambah dengan sedikit kemalasan dan keinginan-untuk-membalasnya-nanti-saja. hum.
ya, saya bisa memahaminya. sangat bisa memahaminya. tak ubahnya dengan ia yang memahami saya yang menggemari sepeda dan rasa letih yang amat sangat yang saya derita sejak pagi tadi.
“kamu sih mainan sepeda aja …” katanya.
“ya iya dong, abisnya engga ada yang lain yang bisa dimainin … ” seloroh saya. dan kami menggelak bersama. blah-blah-blah ledekan jorok pun mencuat sesudahnya. *terimakasih untuk menemani selonjoran saya kemarin; usai bersepeda 15 km gowes bareng kompas*
dan tidak mudah untuk menutup telepon sesudah perbincangan yang hangat ini. sungguh.
Jul 13
Femi Adicerita cinta, renanda jatuh cinta, jepang, renanda, telepon cinta, tokiko onose

selalu tulus
keriaan saya tak pernah berubah saban menangkap kembali suaranya di kuping saya.
ya, saya selalu ceria menyambutnya. tak ada amarah. tak ada sebal. tak ada benci. tak ada kesal. tak ada amuk. yang ada: semu merah di pipi dan rasa-tak-ingin-berhenti-tersenyum.
meski padanya, saya bilang saya tengah dihantui oleh musim merah jambu.
“aku engga marah. ga apa-apa. aku seneng kalau kamu seneng,” katanya. barangkali setengah senang, dan sisanya getir.
ah, tapi saya tahu ujarannya sangat tulus, seperti yang sudah-sudah. tahu kenapa? karena kami tahu persis kami tak bisa bergerak. maju mundur, tetap saja kami tak akan beranjak.
“tapi jatahku jangan diberikan semua … masih ada buatku kan?” selorohnya, bercanda. dan kami menggelak. ouw, warna gelak ini masih sama. menggombal. mengumbar. menguar.
tak ingin kalah, saya pun berujar, “utuh, 100% bergaransi …”
pembicaraan kami selalu saja begini. dan saya sangat mensyukurinya. tidak pernah ada command maupun tanda seru diantara cuatan kami. selalu penuh dengan kelegaan dan kehangatan.
dan saya selalu menyadarinya belakangan: saya selalu bertingkah bak anak kecil saban menerima telepon cinta. duduk manis, sembari mengangkat dua kaki, memiringkan kepala dan penuh tawa girang.
ps: i love you.
Jun 15
Femi Adicerita cinta, renanda jakarta, jatuh cinta, jepang, kangen, padang, renanda, rindu, telepon cinta, tokiko onose

jadi semangat!
10.35 wib.
telepon cinta itu datang kembali; dari laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah.
awalannya tak biasa: gelak yang renyah, gembira yang membuncah. tak henti-hentinya, ia terbahak, dan terus menguarkan energi merah jambu untuk saya.
“geli baca emailmu, kamu bilang mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu-nya panjang bener …” katanya. oouch!
dan kami terus membagi cuilan cerita hari-hari kami, setelah butiran bening di sudut mata menggerojok beberapa waktu lalu.
kami membincangkan kesibukan dan juga orang-orang terdekat kami di sini. kami juga membincangkan peterporn. dan sebentar kami bergombal-gambul soal rona merah jambu dan acara berhangat-hangat di beranda hati.
owh, juga soal celana ukuran 85 dan bobot tubuh yang makin bertambah. seperti biasa, klaim ‘aku lebih kurus ketimbang kamu’ itu terus kami desakkan; saling tak mau kalah.
ya, lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah sudah mengawali selasa saya yang menyenangkan. menggembirakan. membahagiakan. entah, berapa lap meja rapat saya kitari untuk membayangkan gelaknya yang liar sekaligus anggukannya yang santun saat saya berucap.
rona merah jambu tak hanya menyapu pipi saya, tetapi juga hati saya.
Older Entries