Sumeh. Ramah. Lucu. Setidaknya itu yang bisa saya tangkap dari pertemuan saya dengan Anissa, sepupu aya yang paling mini, awal pekan ini. Saban kali orang menggeleng, ia ikut menggeleng, dan tersenyum. Saban kali orang cilukba, ia tersenyum, dan membahak kecil. Saban kali orang menggodanya, ia tersenyum. Orang-orang memanggilnya: si blere. Lucunya! Ia hadiah terindah untuk [...]
Comments Off »
Read the rest
saya mensyukuri apa yang saya punya saat ini. kehidupan yang baik, dan juga kerubungan para kerabat. namun soal warisan keluarga menjadi pasir dalam jejak saya. sementara si om bilang saya harus mengumpulkan data-data keluarga secepatnya, si tante minta agar saya menahannya dan membiarkannya begitu saja. andai ibu masih ada, tentu ia akan membereskannya. tanpa kecemburuan. [...]
Comments Off »
Read the rest
Mas yatno dan didit, mbak wiwik tidak pergi, tetapi pulang. Begitu saya membubuhkan tulisan tangan pada cuilan kertas untuk didit dan mas nano, keponakan dan kakak ipar saya. Ya, mbak wiwik, kakak saya, meninggal. Berbeda dengan kelahiran yang dinanti-nanti, kematian justru sebaliknya. Kematian acapkali menjadi ruang yang mengerikan untuk dibincangkan. Kematian sering menjadi tudingan ‘ketakutan’ [...]
Comments Off »
Read the rest
pertanyaan itu sungguh menohok saya. duh. seorang kerabat datang. menyambangi saya usai srengenge tenggelam. kami sebentar berbincang, tak banyak, hanya soal gadget. pun, saya tak mengenalnya dengan begitu baik. tapi dia juga bertanya soal bagaimana saya hidup. padanya saya beberkan keluarga yang nyaris nihil. teman-teman yang mengerubung. juga, kehidupan yang menyenangkan yang saya gudangkan. dia [...]
Comments Off »
Read the rest