Mar 24
Femi Adicerita bumijo bumijo, jogja, keluarga, mangkuyudan

andai ibu masih ada
saya mensyukuri apa yang saya punya saat ini. kehidupan yang baik, dan juga kerubungan para kerabat.
namun soal warisan keluarga menjadi pasir dalam jejak saya. sementara si om bilang saya harus mengumpulkan data-data keluarga secepatnya, si tante minta agar saya menahannya dan membiarkannya begitu saja.
andai ibu masih ada, tentu ia akan membereskannya. tanpa kecemburuan. tanpa amuk. tanpa keinginan untuk menekan.
dan saya harus sadari betul, ibu sudah engga ada.
bagi saya, warisan yang diperbincangkan saat ini tak terlalu signifikan. bukan, bukan. bukannya saya mengemohi rejeki. hanya saja, saya tak terlalu mempermasalahkan warisan itu. itu adalah isu panas yang tidak akan berhenti, dan enggak akan selesai meski saya amini.
rumah jogokaryan, tanah nenek, kecemburuan sosial, kehidupan yang serba berkekurangan saat ini … disana semua membaur.
saya ingin adem.
Mar 07
Femi Adicerita bumijo bumijo, keluarga, magelang, soempeno, wiwiek
Mas yatno dan didit, mbak wiwik tidak pergi, tetapi pulang.
Begitu saya membubuhkan tulisan tangan pada cuilan kertas untuk didit dan mas nano, keponakan dan kakak ipar saya. Ya, mbak wiwik, kakak saya, meninggal.
Berbeda dengan kelahiran yang dinanti-nanti, kematian justru sebaliknya. Kematian acapkali menjadi ruang yang mengerikan untuk dibincangkan. Kematian sering menjadi tudingan ‘ketakutan’ karena tak pernah merasa siap untuk menghadapinya. Kematian sering menjadi obrolan yang tabu dan mencuatkan “mbok jangan nngomong gitu …”
Ow! Tetapi tidak dengan kakak saya. Sejak sakit mulai menggerogoti tubuhnya, jauh jauh jauh hari sebelum ayah saya sakit dan kemudian meninggal, kakak saya sudah mulai menata hati dan menyiapkan semuanya; termasuk menyambut kematiannya.
“sakit tidak membuatnya menjauhi Tuhan, justru sebaliknya, makin mendekatkannya pada Yang Punya Hidup,” kata mitra, teman cuat-cuitnya.
Dan hati saya kemrenyes melihatnya. Tubuh kakak saya terbujur kaku, terbungkus kain putih dengan tertutup kain hijau.
Ya, mbak wiwik tidak pergi, tetapi pulang. Barangkali, bertemu dengan ayah dan ibunya disana.
Dec 11
Femi Adicerita bumijo bumijo, jogja, keluarga, sahabat, teman
pertanyaan itu sungguh menohok saya. duh.
seorang kerabat datang. menyambangi saya usai srengenge tenggelam. kami sebentar berbincang, tak banyak, hanya soal gadget. pun, saya tak mengenalnya dengan begitu baik.
tapi dia juga bertanya soal bagaimana saya hidup. padanya saya beberkan keluarga yang nyaris nihil. teman-teman yang mengerubung. juga, kehidupan yang menyenangkan yang saya gudangkan.
dia juga bertanya siapa yang tinggal di kanan-kiri rumah saya. “engga ada. kosong. hanya tante yang baik, yang usianya 77 tahun namun masih sangat mobile …” jawab saya, apa adanya.
dan pertanyaan yang muncul kemudian sungguh menohok saya.
“kamu engga kesepian?” tanyanya.
saya mengerenyit sebentar. berpikir apakah saya kesepian, atau tidak kesepian. berpikir apakah saya suka dengan hidup yang dilihatnya ‘terlalu sepi’ ini.
umm …
tidak, saya tidak kesepian. ya, saya tidak kesepian.
saya senang dengan kehidupan saya saat ini. tanpa kebencian. tanpa kekhawatiran. tanpa amuk. tanpa duka. hidup menggelinding apa adanya. sesekali menggelinding di rel yang saya rancang; sesekali tidak.
ya, saya sungguh percaya padaNya, bahwa hidup saya ada ditanganNya.
Oct 28
Femi Adicerita bumijo bumijo, ibu. mangkuyudan, jogja, keluarga
Saya bersyukur memiliki saudara hanya satu, esti.
Berkaca pada keluarga besar ibu, saya sering ngeri membayangkan memiliki keluarga besar. Banyak anak banyak rejeki; tapi pasti banyak masalah dan banyak iri-dengki juga. Tidak, tidak. Saya tak ingin mencuil keriangan hidup untuk hal-hal demikian.
Dan salah satunya adalah kisah tentang ‘digendong dan didulang’.
Tentang om saya. Tentang kesombongan kecil.
Suatu hari kerabat saya ada yang menggelar hajatan di Jakarta. Keluarga besarnya tak hanya membagikan undangan pada sejumlah keluarga besar kami, tetapi juga ongkos perjalanan yang layak untuk berkereta ke Jakarta hingga pulang kembali ke jogja.
Nah, om narto, adik ibu saya, mendadak mengundang likban –nenek saya– dan juga keluarga om yanto –yang juga adik ibu– untuk turut serta dalam kendaraannya untuk ke jakarta. Mereka pun berangkat bersama. Tanpa hitungan apapun. Tanpa pembayaran apapun. Riang, mereka menggelinding ke ibukota.
Likban mengusung sejumlah makanan untuk seisi kendaraan. Begitu juga om yanto. Dalam perjalanan, om narto mengarahkan kendaraannya ke warung makan. Mengisi energi. Membangkitkan gelak. Merebahkan letih.
Dan hal yang sama juga terjadi pada saat perjalanan kenbali ke jogja.
“Lha likban dan mas yanto kalau enggak aku gendong dan enggak aku dulang, nggak bakal pergi ke jakarta …” Katanya, saat ditanya oleh kerabat kami setiba di Jogja.
Whoops. Menyedihkan. Rupiah membalikkan lidah dengan begitu cepatnya; menjadi sebuah kesombongan kecil, keangkuhan mini. Likban tak minta digendong dan di dulang untuk sampai ke jakarta. Penawaran itu datang darinya. Dan kesombongan-keangkuhan mengaburkannya.
Digendong dan didulang.
Saya geli mendengarnya. Bener! Istilah lucu, sekaligus tidak fair.
Oct 18
Femi Adicerita bumijo bumijo, ibu, jogja, keluarga, kembangarum
Kami tak bertemu lamaaa sekali. Mungkin setahun; bahkan lebih.
Ya, saya dan om saya; adik ibu nomer … Mmm … Nomer berapa ya?
Belokan ke rumah nenek (likban) langsung mengunci mata saya. Bukan om joko, om yanto atau bahkan tetangga sebelah. Tetapi om juni. Ya, om juni.
Kurus.
Ini adalah pertemuan kedua saya dengannya; setelah sekian tahun yang lalu. Dia adalah kerabat yang bersembunyi dibalik senja jakarta. Menyepi dari kerumunan sanak-saudara.
Saya tak pernah berharap menjumpainya dengan tulang yang mendominasi tubuh ketimbang daging. Saya tak pernah berharap menjumpainya dengan lara yang menggerogoti senyumnya yang hangat.
Andai ibu ada, dia pasti bahagia bertemu dengan adiknya. Tapi kendati ibu tak ada, dia pasti tetap bahagia karena si bungsu membagi hangat padanya.
Older Entries