<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Femi Adi Soempeno &#187; keluarga</title>
	<atom:link href="http://femiadi.com/tag/keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://femiadi.com</link>
	<description>when writing the story of your life, don&#039;t let anyone else hold the pen</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 09:03:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Gong kecil itu menggemaskan bunyinya</title>
		<link>http://femiadi.com/2010/12/07/gong-kecil-itu-menggemaskan-bunyinya/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2010/12/07/gong-kecil-itu-menggemaskan-bunyinya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Dec 2010 02:10:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/2010/12/10/gong-kecil-itu-menggemaskan-bunyinya/</guid>
		<description><![CDATA[Sumeh. Ramah. Lucu. Setidaknya itu yang bisa saya tangkap dari pertemuan saya dengan Anissa, sepupu aya yang paling mini, awal pekan ini. Saban kali orang menggeleng, ia ikut menggeleng, dan tersenyum. Saban kali orang cilukba, ia tersenyum, dan membahak kecil. Saban kali orang menggodanya, ia tersenyum. Orang-orang memanggilnya: si blere. Lucunya! Ia hadiah terindah untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumeh. Ramah. Lucu. </p>
<p>Setidaknya itu yang bisa saya tangkap dari pertemuan saya dengan Anissa, sepupu aya yang paling mini, awal pekan ini. </p>
<p>Saban kali orang menggeleng, ia ikut menggeleng, dan tersenyum. Saban kali orang cilukba, ia tersenyum, dan membahak kecil. Saban kali orang menggodanya, ia tersenyum. Orang-orang memanggilnya: si blere.  </p>
<p>Lucunya! </p>
<p>Ia hadiah terindah untuk om maryo dan mbak nining, tante saya yang paling bontot, adik ibu nomor 12, setelah penantian yang begitu panjang. Menikah di usia yang tak lagi muda. Dan sebelumnya, bakal calon bayinya meninggal dalam kandungan. </p>
<p>Dan Anissa menjadi gong kecil yang memperdengarkan tabuhan yang begitu lantang. Menggemaskan. </p>
<p>Tak sabar kembali ke jakarta. Membungkuskan satu dua baju mungil untuknya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2010/12/07/gong-kecil-itu-menggemaskan-bunyinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>warisan lama, lama mewaris</title>
		<link>http://femiadi.com/2010/03/24/warisan-lama-lama-mewaris/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2010/03/24/warisan-lama-lama-mewaris/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 13:37:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[mangkuyudan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=5496</guid>
		<description><![CDATA[saya mensyukuri apa yang saya punya saat ini. kehidupan yang baik, dan juga kerubungan para kerabat. namun soal warisan keluarga menjadi pasir dalam jejak saya. sementara si om bilang saya harus mengumpulkan data-data keluarga secepatnya, si tante minta agar saya menahannya dan membiarkannya begitu saja. andai ibu masih ada, tentu ia akan membereskannya. tanpa kecemburuan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a title="ImageShack - Image And Video Hosting" href="http://img717.imageshack.us/i/bahaye.jpg/" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" title="image courtesy: flickr" src="http://img717.imageshack.us/img717/1867/bahaye.jpg" border="0" alt="" width="320" height="253" /></a><p class="wp-caption-text">andai ibu masih ada</p></div>
<p>saya mensyukuri apa yang saya punya saat ini. kehidupan yang baik, dan juga kerubungan para kerabat.</p>
<p>namun soal warisan keluarga menjadi pasir dalam jejak saya. sementara si om bilang saya harus mengumpulkan data-data keluarga secepatnya, si tante minta agar saya menahannya dan membiarkannya begitu saja.</p>
<p>andai ibu masih ada, tentu ia akan membereskannya. tanpa kecemburuan. tanpa amuk. tanpa keinginan untuk menekan.</p>
<p>dan saya harus sadari betul, ibu sudah engga ada.</p>
<p>bagi saya, warisan yang diperbincangkan saat ini tak terlalu signifikan. bukan, bukan. bukannya saya mengemohi rejeki. hanya saja, saya tak terlalu mempermasalahkan warisan itu. itu adalah isu panas yang tidak akan berhenti, dan enggak akan selesai meski saya amini.</p>
<p>rumah jogokaryan, tanah nenek, kecemburuan sosial, kehidupan yang serba berkekurangan saat ini &#8230; disana semua membaur.</p>
<p>saya ingin adem.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2010/03/24/warisan-lama-lama-mewaris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>tidak pergi, tapi pulang</title>
		<link>http://femiadi.com/2010/03/07/tidak-pergi-tapi-pulang/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2010/03/07/tidak-pergi-tapi-pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 08:16:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[soempeno]]></category>
		<category><![CDATA[wiwiek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=5443</guid>
		<description><![CDATA[Mas yatno dan didit, mbak wiwik tidak pergi, tetapi pulang. Begitu saya membubuhkan tulisan tangan pada cuilan kertas untuk didit dan mas nano, keponakan dan kakak ipar saya.  Ya, mbak wiwik, kakak saya, meninggal. Berbeda dengan kelahiran yang dinanti-nanti, kematian justru sebaliknya. Kematian acapkali menjadi ruang yang mengerikan untuk dibincangkan. Kematian sering menjadi tudingan ‘ketakutan’ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Mas yatno dan didit, mbak wiwik tidak pergi, tetapi pulang. </em></p>
<p>Begitu saya membubuhkan tulisan tangan pada cuilan kertas untuk didit dan mas nano, keponakan dan kakak ipar saya.  Ya, mbak wiwik, kakak saya, meninggal.</p>
<p>Berbeda dengan kelahiran yang dinanti-nanti, kematian justru sebaliknya. Kematian acapkali menjadi ruang yang mengerikan untuk dibincangkan. Kematian sering menjadi tudingan ‘ketakutan’ karena tak pernah merasa siap untuk menghadapinya. Kematian sering menjadi obrolan yang tabu dan mencuatkan “mbok jangan nngomong gitu …”</p>
<p>Ow! Tetapi tidak dengan kakak saya. Sejak sakit mulai menggerogoti tubuhnya, jauh jauh jauh hari sebelum ayah saya sakit dan kemudian meninggal, kakak saya sudah mulai menata hati dan menyiapkan semuanya; termasuk menyambut kematiannya.</p>
<p>“sakit tidak membuatnya menjauhi Tuhan, justru sebaliknya, makin mendekatkannya pada Yang Punya Hidup,” kata mitra, teman cuat-cuitnya.</p>
<p>Dan hati saya kemrenyes melihatnya. Tubuh kakak saya terbujur kaku, terbungkus kain putih dengan tertutup kain hijau.</p>
<p>Ya, mbak wiwik tidak pergi, tetapi pulang. Barangkali, bertemu dengan ayah dan ibunya disana.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2010/03/07/tidak-pergi-tapi-pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;kamu engga kesepian?&#8221;</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/12/11/kamu-engga-kesepian/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/12/11/kamu-engga-kesepian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 18:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=4925</guid>
		<description><![CDATA[pertanyaan itu sungguh menohok saya. duh. seorang kerabat datang. menyambangi saya usai srengenge tenggelam. kami sebentar berbincang, tak banyak, hanya soal gadget. pun, saya tak mengenalnya dengan begitu baik. tapi dia juga bertanya soal bagaimana saya hidup. padanya saya beberkan keluarga yang nyaris nihil. teman-teman yang mengerubung. juga, kehidupan yang menyenangkan yang saya gudangkan. dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>pertanyaan itu sungguh menohok saya. duh.</p>
<p>seorang kerabat datang. menyambangi saya usai srengenge tenggelam. kami sebentar berbincang, tak banyak, hanya soal gadget. pun, saya tak mengenalnya dengan begitu baik.</p>
<p>tapi dia juga bertanya soal bagaimana saya hidup. padanya saya beberkan keluarga yang nyaris nihil. teman-teman yang mengerubung. juga, kehidupan yang menyenangkan yang saya gudangkan.</p>
<p>dia juga bertanya siapa yang tinggal di kanan-kiri rumah saya. &#8220;engga ada. kosong. hanya tante yang baik, yang usianya 77 tahun namun masih sangat mobile &#8230;&#8221; jawab saya, apa adanya.</p>
<p>dan pertanyaan yang muncul kemudian sungguh menohok saya.</p>
<p>&#8220;kamu engga kesepian?&#8221; tanyanya.</p>
<p>saya mengerenyit sebentar. berpikir apakah saya kesepian, atau tidak kesepian. berpikir apakah saya suka dengan hidup yang dilihatnya &#8216;terlalu sepi&#8217; ini.</p>
<p>umm &#8230;</p>
<p>tidak, saya tidak kesepian. ya, saya tidak kesepian.</p>
<p>saya senang dengan kehidupan saya saat ini. tanpa kebencian. tanpa kekhawatiran. tanpa amuk. tanpa duka. hidup menggelinding apa adanya. sesekali menggelinding di rel yang saya rancang; sesekali tidak.</p>
<p>ya, saya sungguh percaya padaNya, bahwa hidup saya ada ditanganNya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/12/11/kamu-engga-kesepian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>digendong dan didulang</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/10/28/digendong-dan-didulang/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/10/28/digendong-dan-didulang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 19:32:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ibu. mangkuyudan]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/2009/10/28/digendong-dan-didulang/</guid>
		<description><![CDATA[Saya bersyukur memiliki saudara hanya satu, esti. Berkaca pada keluarga besar ibu, saya sering ngeri membayangkan memiliki keluarga besar. Banyak anak banyak rejeki; tapi pasti banyak masalah dan banyak iri-dengki juga. Tidak, tidak. Saya tak ingin mencuil keriangan hidup untuk hal-hal demikian. Dan salah satunya adalah kisah tentang &#8216;digendong dan didulang&#8217;. Tentang om saya. Tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya bersyukur memiliki saudara hanya satu, esti. </p>
<p>Berkaca pada keluarga besar ibu, saya sering ngeri membayangkan memiliki keluarga besar. Banyak anak banyak rejeki; tapi pasti banyak masalah dan banyak iri-dengki juga. Tidak, tidak. Saya tak ingin mencuil keriangan hidup untuk hal-hal demikian. </p>
<p>Dan salah satunya adalah kisah tentang &#8216;digendong dan didulang&#8217;. </p>
<p>Tentang om saya. Tentang kesombongan kecil. </p>
<p>Suatu hari kerabat saya ada yang menggelar hajatan di Jakarta. Keluarga besarnya tak hanya membagikan undangan pada sejumlah keluarga besar kami, tetapi juga ongkos perjalanan yang layak untuk berkereta ke Jakarta hingga pulang kembali ke jogja. </p>
<p>Nah, om narto, adik ibu saya, mendadak mengundang likban &#8211;nenek saya&#8211; dan juga keluarga om yanto &#8211;yang juga adik ibu&#8211; untuk turut serta dalam kendaraannya untuk ke jakarta. Mereka pun berangkat bersama. Tanpa hitungan apapun. Tanpa pembayaran apapun. Riang, mereka menggelinding ke ibukota. </p>
<p>Likban mengusung sejumlah makanan untuk seisi kendaraan. Begitu juga om yanto. Dalam perjalanan, om narto mengarahkan kendaraannya ke warung makan. Mengisi energi. Membangkitkan gelak. Merebahkan letih. </p>
<p>Dan hal yang sama juga terjadi pada saat perjalanan kenbali ke jogja. </p>
<p>&#8220;Lha likban dan mas yanto kalau enggak aku gendong dan enggak aku dulang, nggak bakal pergi ke jakarta &#8230;&#8221; Katanya, saat ditanya oleh kerabat kami setiba di Jogja. </p>
<p>Whoops. Menyedihkan. Rupiah membalikkan lidah dengan begitu cepatnya; menjadi sebuah kesombongan kecil, keangkuhan mini. Likban tak minta digendong dan di dulang untuk sampai ke jakarta. Penawaran itu datang darinya. Dan kesombongan-keangkuhan mengaburkannya.  </p>
<p>Digendong dan didulang. </p>
<p>Saya geli mendengarnya. Bener! Istilah lucu, sekaligus tidak fair. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/10/28/digendong-dan-didulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>bertemu om juni</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/10/18/bertemu-om-juni/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/10/18/bertemu-om-juni/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 16:32:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/2009/10/18/pertemuan-kecil-dengan-kerabat/</guid>
		<description><![CDATA[Kami tak bertemu lamaaa sekali. Mungkin setahun; bahkan lebih. Ya, saya dan om saya; adik ibu nomer &#8230; Mmm &#8230; Nomer berapa ya? Belokan ke rumah nenek (likban) langsung mengunci mata saya. Bukan om joko, om yanto atau bahkan tetangga sebelah. Tetapi om juni. Ya, om juni. Kurus. Ini adalah pertemuan kedua saya dengannya; setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kami tak bertemu lamaaa sekali. Mungkin setahun; bahkan lebih. </p>
<p>Ya, saya dan om saya; adik ibu nomer &#8230; Mmm &#8230; Nomer berapa ya? </p>
<p>Belokan ke rumah nenek (likban) langsung mengunci mata saya. Bukan om joko, om yanto atau bahkan tetangga sebelah. Tetapi om juni. Ya, om juni. </p>
<p>Kurus. </p>
<p>Ini adalah pertemuan kedua saya dengannya; setelah sekian tahun yang lalu. Dia adalah kerabat yang bersembunyi dibalik senja jakarta. Menyepi dari kerumunan sanak-saudara. </p>
<p>Saya tak pernah berharap menjumpainya dengan tulang yang mendominasi tubuh ketimbang daging. Saya tak pernah berharap menjumpainya dengan lara yang menggerogoti senyumnya yang hangat. </p>
<p>Andai ibu ada, dia pasti bahagia bertemu dengan adiknya. Tapi kendati ibu tak ada, dia pasti tetap bahagia karena si bungsu membagi hangat padanya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/10/18/bertemu-om-juni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>membagi waris; membelah darah</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/10/15/membagi-waris-membelah-darah/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/10/15/membagi-waris-membelah-darah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 01:50:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ragam cuatan]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[mangkuyudan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/2009/10/15/membagi-waris-membelah-darah/</guid>
		<description><![CDATA[Saya tak pernah mengharapkan satu sen pun dari warisan keluarga. Keluarga ayah, keluarga ibu. Dan selalu, muara dari warisan yang menggelitik itu bukan berasal dari saya. Hingga suatu hari likban, nenek saya, membeberkan hitungan om saya, bahwa bagi warisan tanah milik nenek hanya untuk 11 anak. Ya, ibu saya, tak lagi mendapat jatah cuilan tanah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tak pernah mengharapkan satu sen pun dari warisan keluarga. Keluarga ayah, keluarga ibu. </p>
<p>Dan selalu, muara dari warisan yang  menggelitik itu bukan berasal dari saya. Hingga suatu hari likban, nenek saya, membeberkan hitungan om saya, bahwa bagi warisan tanah milik nenek hanya untuk 11 anak. Ya, ibu saya, tak lagi mendapat jatah cuilan tanah itu karena sudah meninggal. Saya tak bergeming. Sungguh, satu senpun tak bakal saya tagihkan padanya. Namun, likban marah besar atas hitungan itu.</p>
<p>Alhasil, kemarahan itu menciptakan hitungan lain. Akhirnya cuilan tanah dibagi 12 anak. Wow. </p>
<p>Dan saya mengikuti gelindingan permainan ini. </p>
<p>&#8220;Minggu depan pulang jogja? Kita bagi waris tanah nenek. Jangan lupa bawa akte C1, surat kematian ayah dan ibu, dan ktp,&#8221; pesan tante-tante saya. </p>
<p>Semangat kecil menggelegak. Datang dari keinginan sebuah keadilan kecil. Datang dari keinginan sebuah jejaring kekerabatan yang mengendur. </p>
<p>&#8220;Fem, enggak jadi bagi waris. Kisruh semua,&#8221; kata tante saya, dalam pesan pendeknya. </p>
<p>Saya tetap tak bergeming. </p>
<p>Saya bersyukur, dan sungguh bersyukur. Esti, kakak saya, dan saya bahkan tak pernah membincangkan soal irisan rumah dan patokan tanah. Begini saja. Rumah keluarga. Rumah kita semua. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/10/15/membagi-waris-membelah-darah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LA Blue</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/07/19/la-blue/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/07/19/la-blue/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 04:47:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[weekend escape]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[amrik]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[esti]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=1979</guid>
		<description><![CDATA[Maybe I&#8217;m crazy but I think I&#8217;m here to stay Where my soul&#8217;s 3,000 miles away I don&#8217;t need a million dollar deal to make me Damn I miss you I&#8217;d walk back to get you if I could Can&#8217;t stand another night in Hollywood I need another way to open up my mind &#8230; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Maybe I&#8217;m crazy but I think I&#8217;m here to stay<br />
Where my soul&#8217;s 3,000 miles away<br />
I don&#8217;t need a million dollar deal to make me<br />
Damn I miss you<br />
I&#8217;d walk back to get you if I could<br />
Can&#8217;t stand another night in Hollywood<br />
I need another way to open up my mind &#8230;<br />
</em></p>
<p>saya tiba-tiba mengingat lagu sendu joe mcintyre itu dalam perbincangan kami yang hangat pagi tadi. tubuh masih merebah dan menghangat di kasur di rumah bumijo saat kami memulai perbincangan ini. tentang sosok yang belakangan membuatnya turns off, tentang keresahan yang penting sekaligus tak penting, tentang mimpi yang harus ditunda, tentang travelling yang mendadak harus dibatalkan. ya, semua ini tentang cuilan masa yang menjadi pengalaman berharga.</p>
<p>ini memang bukan semata-mata perjalanan yang bakal panjang dan melelahkan. namun, penundaan berjam-jam, ditambah kekesalan yang mulai muncul beberapa minggu terakhir, membuatnya tetap bersikukuh untuk membatalkan perjalanan long weekend ini.</p>
<p>tak apa. tak apa. semuanya akan baik-baik saja. percayalah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/07/19/la-blue/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>merah-biru ktp jogja</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/07/18/merah-biru-ktp-jogja/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/07/18/merah-biru-ktp-jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 06:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=1988</guid>
		<description><![CDATA[saya menyerahkan semua dokumen yang diminta oleh petugas kelurahan. mengganti C1 atau kartu keluarga, dan memperpanjang ktp. saya menggenapinya dengan surat kematian ayah, ijazah saya dan esti dan juga ktp lawas yang saya punya. prosesnya tidak panjang dan lama, namun tetap membutuhkan kesabaran karena semua pencatatan dilakukan secara manual. baik arun maupun pak rt sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya menyerahkan semua dokumen yang diminta oleh petugas kelurahan.</p>
<p>mengganti C1 atau kartu keluarga, dan memperpanjang ktp. saya menggenapinya dengan surat kematian ayah, ijazah saya dan esti dan juga ktp lawas yang saya punya. prosesnya tidak panjang dan lama, namun tetap membutuhkan kesabaran karena semua pencatatan dilakukan secara manual.</p>
<p>baik arun maupun pak rt sudah mengabarkan, bahwa saat ini potretnya tidak lagi hitam putih, melainkan berwarna. arun bilang, background merah biru disesuaikan dengan tahun lahir yang ganjil-genap. sementara itu pak rt bilang, background merah-biru disesuaikan dengan jenis kelamin. ow. carut-marut ini memaksa untuk menyiapkan keduanya.</p>
<p>&#8220;pak, mau foto &#8230;&#8221; kata saya pada petugas kecamatan. petugas kelurahan, sebelumnya sudah menyarankan untuk foto di kecamatan saja. sehingga, tidak usah menggunakan potret yang dibawa sendiri. saya bisa mengerti. potret yang saya usung pun dibikin tahun 2007. lawas.</p>
<p>blaik. omg!</p>
<p>saya mendapati dua kain ditumpuk di dinding. mewah dan biru. seperti tirai. panjang kainnya hingga ketinggian 200 cm atau 2 meter. saya tahu persis panjang kain yang merentang di dinding itu lantaran di kain tersebut tercetak angka-angka per 5 cm untuk mengukur tinggi badan. dan, saya harus berpose di depannya.</p>
<p>bercerita pada esti, kakak saya. kami menggelak. duh, saya seperti napi saja. layar biru yang merentang di punggung saya memuat garis-garis dengan angka-angka tinggi badan.</p>
<p>owh.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/07/18/merah-biru-ktp-jogja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>lagi, makan dengan &#8216;keluarga besar&#8217;</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/07/07/lagi-makan-dengan-keluarga-besar/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/07/07/lagi-makan-dengan-keluarga-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 16:15:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[cipinang]]></category>
		<category><![CDATA[esti]]></category>
		<category><![CDATA[femi]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jatinegara]]></category>
		<category><![CDATA[kangen]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[makan malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=1939</guid>
		<description><![CDATA[salah satu keriaan yang saya usung dari rumah yang hangat ini adalah acara makan malam bersama keluarga besar; seperti yang pernah saya cecap april lalu. seperti malam ini, saat saya ikut mengisi satu dari tujuh kursi di ruang makan, menghadang sate, bakmi, gule, ikan roa, dan acar yang terhidang di meja. keriuhan makin bertambah dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://img38.imageshack.us/img38/3816/70208099.jpg" alt="" width="298" height="225" /></p>
<p>salah satu keriaan yang saya usung dari rumah yang hangat ini adalah acara makan malam bersama keluarga besar; <a href="http://femiadi.com/2009/04/04/on-the-way-to-be-30/" target="_blank">seperti yang pernah saya cecap april lalu. </a></p>
<p>seperti malam ini, saat saya ikut mengisi satu dari tujuh kursi di ruang makan, menghadang sate, bakmi, gule, ikan roa, dan acar yang terhidang di meja. keriuhan makin bertambah dengan adanya suami mbak inggrid yang turut serta, dan juga mbak henny, teman semasa kecil mbak mona-mbak inggrid-mas offy.</p>
<p>dan perbincangan terus mengalir. mulai dari terpelesetnya lidah tante yang keliru menyebut &#8216;michael jackson&#8217; dengan &#8216;michael tyson&#8217;. kami tak bisa menghentikan gelak. juga tentang kejutan kedatangan mas offy untuk tante. hingga tentang acara ipah yang harus bangun pagi untuk menyapu jalan untuk menghadapi pemilihan presiden besok.</p>
<p><em>&#8220;ayo fem, kok cuma sedikit makannya?&#8221; tanya mbak mona. </em></p>
<p><em>&#8220;nanti pasti ada kloter kedua, kok &#8230;&#8221; kata saya. </em></p>
<p><em>&#8220;dih, emangnya dibolehin untuk kloter kedua?&#8221; bisik mas offy. hahaha  &#8230; siaul!</em></p>
<p>acara-makan-di-meja-makan-dengan-keluarga-besar inilah yang selalu saya rindukan. bahkan, setelah acara makan malam serupa april lalu pun, saya tidak mendapatinya lagi. menukar cerita di meja makan. membagi gelak karena ketololan kami di meja makan. membagi kemauan dan keinginan di meja makan. tiga bulan berlalu, dan saya mendapatkannya kembali di sini.</p>
<p>saya tahu, saya tak akan pernah mendapatkannya lagi seperti saat ayah dan ibu masih ada; seperti yang biasa kami lakukan tiap makan pagi, makan siang dan makan malam.</p>
<p>ibu sering mengumbar cerita tentang &#8216;si pethuk&#8217; yang menunjuk pada kepala sekolahnya dulu; esti dan saya yang membagi cerita tentang aktivitas kami sehari-hari; ayah yang juga membeberkan cerita tentang orang-orang di kantornya.</p>
<p>kami memiliki masa itu.</p>
<p>masa yang membikin saya selalu bergetar jika kini harus mengisi meja makan di rumah bumijo hanya dengan satu kursi saja yang terisi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/07/07/lagi-makan-dengan-keluarga-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>naik betjak</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/02/19/naik-betjak/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/02/19/naik-betjak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2009 10:07:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[becak]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[esti]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[shopping]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=1703</guid>
		<description><![CDATA[saya suka naik becak. yah, believe it or not, saya suka naik becak. rasanya adem mendapati udara jogja membasuh wajah saya di tengah terik si bola raksasa. kayuhan kempol si tukang becak yang sekuatnya membuat saya juga bisa mengumbar nalar; menata pikir. gelak mengejut dari mulut gang saat esti mendapati saya mengusung empat kardus minyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya suka naik becak. yah, believe it or not, saya suka naik becak.</p>
<p>rasanya adem mendapati udara jogja membasuh wajah saya di tengah terik si bola raksasa. kayuhan kempol si tukang becak yang sekuatnya membuat saya juga bisa mengumbar nalar; menata pikir.</p>
<p>gelak mengejut dari mulut gang saat esti mendapati saya mengusung empat kardus minyak dengan naik becak. dari toko progo hingga bumijo, saya numpang becak-nya pak becak. &#8220;edan! hari gini masih ada perbudakan!&#8221; seloroh esti.</p>
<p>weleh. tapi nikmat lo naik becak.</p>
<p>&#8220;Rp 15.000 saja mbak &#8230;&#8221; kata pak becak. wah, nggak salah? Rp 15.000 dari toko progo sampai bumijo? saya hanya mengiyakan saja, berharap pak becak sudah mengukur jarak dan turunan-tanjakan serta polisi tidur dan lajur kejut di sepanjang jalan yang bakal kami lalui.</p>
<p>dan saya numpak becak; menikmati bus kopata harus berkejaran antara satu dengan lainnya, juga tarikan gas para pengendara motor yang berusaha menangkap detik terakhir lampu kuning sebelum beranjak menjadi lampu merah di perempatan jalan.</p>
<p>&#8220;saya bawakan masuk mbak, minyaknya &#8230; &#8221; tawar pak becak. berat, tapi dia menyanggupi membawa dua kardus dari mulut gang hingga ke dalam rumah.</p>
<p>ah, pak becak.</p>
<p>sungguh, saya suka naik becak.</p>
<p>(ps: saya harus berterima kasih pada tukang-tukang becak di jogja. pada mereka saya belajar kesabaran dan menikmati sekitar. rilek, tak harus buru-buru. secapainya saja. sekuatnya saja. sedapatnya saja. <em>maturnuwun</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/02/19/naik-betjak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pagi yang sempurna</title>
		<link>http://femiadi.com/2008/10/16/pagi-yang-sempurna/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2008/10/16/pagi-yang-sempurna/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 23:41:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[ragam cuatan]]></category>
		<category><![CDATA[dangdut]]></category>
		<category><![CDATA[esti]]></category>
		<category><![CDATA[kakak]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[rhoma irama]]></category>
		<category><![CDATA[saudara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=1241</guid>
		<description><![CDATA[pagi ini nyawa saya terkumpul dengan sempurna. thanks gosh! tiga hari sebelumnya, tidak. rasanya atma saya meremah, berserak diantara jarum yang bergerak terlalu cepat ke kanan, dan terus ke kanan. ya, jarum jam itu seperti berlarian. shoot. tapi tidak pagi ini. ujung bibir ini serta-merta tertarik ke samping usai mendapati catatan yang menggembirakan dari kakak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>pagi ini nyawa saya terkumpul dengan sempurna. thanks gosh!</p>
<p>tiga hari sebelumnya, tidak. rasanya atma saya meremah, berserak diantara jarum yang bergerak terlalu cepat ke kanan, dan terus ke kanan. ya, jarum jam itu seperti berlarian. shoot.</p>
<p>tapi tidak pagi ini. ujung bibir ini serta-merta tertarik ke samping usai mendapati catatan yang menggembirakan dari kakak saya, esti. <a href="http://kompas.com/read/xml/2008/10/14/17524667" target="_blank">rhoma irama menggoyang amerika</a>. bagi kami berdua, rhoma irama adalah ikon dangdut yang selalu membikin kami tergelak. rhoma irama yang tak pernah habis kami bincangkan. rhoma irama yang memunculkan vokabuler anyar bagi kami berdua. ya, hanya kami.</p>
<p>ah, pagi ini <span style="text-decoration: line-through;">rhoma irama</span> kakak saya membuat saya gembira. dan psike ini pun menggenap. sempurna.</p>
<p>bergegas saya mengambil perkakas mandi, dan menceburkan diri dalam pagi yang segar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2008/10/16/pagi-yang-sempurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

