nyadran, menaklikkan doa untuk ayah dan ibu

Comments Off

see you soon, mom, dad!

ini bukanlah upaya ekstra. tetapi sebuah kewajiban.

ya, saya dan esti, kakak saya, menyambangi rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.

pekarangan dengan tumpukan dedaunan kering. dinding yang melumut. aih, ini rupanya rupa rumah mereka setelah tak kami sambangi lebih dari sebulan.

“ini bener-bener nyadran …” seloroh esti.

bukan hanya bunga khusus yang kami siapkan untuk mereka; bunga anggrek dengan rerimbunan crysant dan juga sedap malam. lebih dari itu, tangan kami berselancar untuk meminggirkan hijaunya lumut yang membubuhi dinding rumah mereka.

dan sore tak menciutkan nyali kami untuk tetap disini. di rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.

saya rindu mereka.

selaksa peristiwa selalu membayang saban acara kunjungan ini datang. taburan bunga ibu di rumah simbah kakung dan simbah buyut; hingga penyesalan ayah soal ketidakhadiran ibu mengiringi kehidupan kami yang mengancik kedewasaan.

saya rindu mereka.

kangen ayah dan ibu

Comments Off

bunga pengantar doa

agnes yohana dan paulus soempeno.

ya, saya begitu menyayangi keduanya. setiap lantunan syukur, adalah rasa terima kasih padaNya atas kehadiran mereka dalam hidup saya. dan mengganti bunga lawas dengan bunga yang segar, adalah salah satu alasan mengapa saya harus menyambangi rumah bumijo.

andai ayah dan ibu tahu, betapa saya bosan menjawab pertanyaan atas pertanyaan yang itu-itu saja, “ngapain pulang sih, kan udah engga ada siapa-siapa di rumah?!” ya, saya sangat benci pertanyaan itu.

pulang ke bumijo, bukan hanya perkara ingin pijat di nakamura atau martha tilaar; atau membabati tanaman tetehan ayah. lebih dari itu, saya butuh duduk bersimpuh, berjejeran dengan mereka, di rumah mereka yang baru; mensyukuri hidup yang begitu menggembirakan dan membahagiakan, semata-mata karena mereka.

barangkali yang bertanya “ngapain pulang sih, kan udah engga ada siapa-siapa di rumah?!” adalah orang yang engga pernah dekat atau terlibat secara emosional dengan kedua orang tuanya. atau, barangkali terlalu sibuk sehingga hanya sekali setahun mendaraskan doa untuk kedua orang tuanya. atau, barangkali memang jalan pikirnya terlalu modern. atau, barangkali memang belum meninggal. :)

tapi saya benci pertanyaan itu. ribuan kali saya mendengarnya, dan ribuan kali pula saya menjawabnya: mengunjungi ayah dan ibu di rumah mereka yang baru.

ya, saya begitu menyayangi keduanya. ayah dan ibu saya. setiap lantunan syukur, adalah rasa terima kasih padaNya atas kehadiran mereka dalam hidup saya. dan mengganti bunga lawas dengan bunga yang segar, adalah salah satu alasan mengapa saya harus menyambangi rumah bumijo.

bertemu om juni

Comments Off

Kami tak bertemu lamaaa sekali. Mungkin setahun; bahkan lebih.

Ya, saya dan om saya; adik ibu nomer … Mmm … Nomer berapa ya?

Belokan ke rumah nenek (likban) langsung mengunci mata saya. Bukan om joko, om yanto atau bahkan tetangga sebelah. Tetapi om juni. Ya, om juni.

Kurus.

Ini adalah pertemuan kedua saya dengannya; setelah sekian tahun yang lalu. Dia adalah kerabat yang bersembunyi dibalik senja jakarta. Menyepi dari kerumunan sanak-saudara.

Saya tak pernah berharap menjumpainya dengan tulang yang mendominasi tubuh ketimbang daging. Saya tak pernah berharap menjumpainya dengan lara yang menggerogoti senyumnya yang hangat.

Andai ibu ada, dia pasti bahagia bertemu dengan adiknya. Tapi kendati ibu tak ada, dia pasti tetap bahagia karena si bungsu membagi hangat padanya.

lembaran baru Rp 2.000

Comments Off

saya mengusung beberapa gepok duit anyar; pecahan Rp 2.000.

sebenarya saya tak tahu siapa yang akan saya bagi nanti; bila bertandang ke rumah likban di kembangarum. saya tak merencanakan untuk berada di kediaman likban pada hari raya; tetapi sebelum dan sesudahnya. entah, tidak bertemu banyak kerabat adalah pilihan terbaik saat ini.

tapi saya tetap mengusung gepokan lembaran uang anyar itu. uang kertas Rp 2.000 yang bergambar Pangeran Antasari, pahlawan nasional asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. di bagian belakang berlatar tarian adat Dayak.  uang ini sudah mulai berlaku sebagai alat pembayaran yang sah mulai tanggal 10 Juli 2009 lalu.

saya ingat persis bagaimana keriangan yang tercipta di masa kecil dulu dengan uang-uang di masa lebaran seperti ini.

saya, dan juga beberapa saudara sepupu dan tante-om keliling ke rumah tetangga di kembangarum. saat itu kami semua masih menggenp. bahkan, perselisihan yang besar nyaris tak kami temukan dalam keluarga besar kami. ayah, ibu, simbah putri, simbah buyut, …

banyak sesepuh yang harus kami sambangi untuk sungkem, memohon maaf atas kekhilafan selama setahun terakhir. usai sungkeman, biasanya kami mendapat bingkisan khusus, yaitu koin seratusan, atau limapuluhan. dari setiap rumah yang kami datangi, biasanya kami selalu pulang dengan membawa koin; berapapun jumlahnya. bila dijumlahkan, koin-koin itu bisa dibelanjakan dengan barang-barang yang tak terbeli dengan uang saku.

celakanya, yang bikin ayah dan ibu saya malu, saya dan saudara-saudara sepupu yang berusia sebaya selalu menghitung total koin yang berhasil kami gaet dalam perjalanan pulang sungkeman menuju ke rumah! owh! “saru …” begitu kata ibu. maunya ibu, ya menghitungnya begitu nanti kami tiba di rumah. tapi, aww … mana tahan!

uang hasil sungkeman menjadi bagian dari keriangan setiap lebaran. dan barangkali ini adalah saatnya berbagi ‘koin’ seperti dulu saya mendapatkannya. bedanya, kini berupa lembaran; pecahan anyar Rp 2.000.

kembang buat ayah dan ibu

Comments Off

seperti biasa, tak pernah berubah. ya, selalu begini: dua buket kembang buat ayah dan ibu.

rumah mereka tampak kotor. tak seperti menjelang lebaran yang selalu bersih. kali ini, daun-daun bambu yang mengelinting mengering, menutupi tanah yang menghijau lumut, licin. saya jadi tak khawatir melangkah. beberapa rumah tetangga ayah dan ibu, juga sama kotornya.

dari kejauhan, saya sudah bisa melihat rumah mereka. mungil. dan sedikit kotor oleh dedaunan yang membaur bersama pekarangan yang basah.

buru-buru saya menjumput daun bambu yang mengering itu. saya juga menyeka pekarangan ibu dengan koran pembungkus dua buket bunga ini.

pada mereka saya bercerita tentang semua kelelahan hidup. tentu saja, dengan penuh syukur. saya yakin, mereka sudah melampauinya. mereka sudah melaluinya. saya juga bercerita tentang secuil mimpi yang kian menggelembung dari hari ke hari. ya, saya tahu, saya tak boleh berhenti bermimpi.

saya meletakkan buket bunga, persis di pekarangan mereka.

saya duduk, dan mendaraskan doa buat keduanya.

(ps: saya bersyukur pada si pemilik hidup yang mengantarkan saya pada sore yang adem di rumah ayah dan ibu. belakangan, saya kerap memimpikannya)