<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>@femi_adi &#187; kembangarum</title>
	<atom:link href="http://femiadi.com/tag/kembangarum/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://femiadi.com</link>
	<description>when writing the story of your life, don&#039;t let anyone else hold the pen</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Apr 2012 05:35:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>nyadran, menaklikkan doa untuk ayah dan ibu</title>
		<link>http://femiadi.com/2010/08/01/nyadran-menaklikkan-doa-untuk-ayah-dan-ibu/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2010/08/01/nyadran-menaklikkan-doa-untuk-ayah-dan-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 05:36:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kembang arum]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>
		<category><![CDATA[makam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=5931</guid>
		<description><![CDATA[ini bukanlah upaya ekstra. tetapi sebuah kewajiban. ya, saya dan esti, kakak saya, menyambangi rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun. pekarangan dengan tumpukan dedaunan kering. dinding yang melumut. aih, ini rupanya rupa rumah mereka setelah tak kami sambangi lebih dari sebulan. &#8220;ini bener-bener nyadran &#8230;&#8221; seloroh esti. bukan hanya bunga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a title="ImageShack - Image And Video Hosting" href="http://img197.imageshack.us/i/nyadran.jpg/" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" src="http://img197.imageshack.us/img197/716/nyadran.jpg" border="0" alt="" width="320" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">see you soon, mom, dad!</p></div>
<p>ini bukanlah upaya ekstra. tetapi sebuah kewajiban.</p>
<p>ya, saya dan esti, kakak saya, menyambangi rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.</p>
<p>pekarangan dengan tumpukan dedaunan kering. dinding yang melumut. aih, ini rupanya rupa rumah mereka setelah tak kami sambangi lebih dari sebulan.</p>
<p>&#8220;ini bener-bener nyadran &#8230;&#8221; seloroh esti.</p>
<p>bukan hanya bunga khusus yang kami siapkan untuk mereka; bunga anggrek dengan rerimbunan crysant dan juga sedap malam. lebih dari itu, tangan kami berselancar untuk meminggirkan hijaunya lumut yang membubuhi dinding rumah mereka.</p>
<p>dan sore tak menciutkan nyali kami untuk tetap disini. di rumah ayah dan ibu. untuk menaklikkan doa. mengucap syukur. memohon ampun.</p>
<p>saya rindu mereka.</p>
<p>selaksa peristiwa selalu membayang saban acara kunjungan ini datang. taburan bunga ibu di rumah simbah kakung dan simbah buyut; hingga penyesalan ayah soal ketidakhadiran ibu mengiringi kehidupan kami yang mengancik kedewasaan.</p>
<p>saya rindu mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2010/08/01/nyadran-menaklikkan-doa-untuk-ayah-dan-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kangen ayah dan ibu</title>
		<link>http://femiadi.com/2010/02/08/kangen-ayah-dan-ibu/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2010/02/08/kangen-ayah-dan-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 18:32:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ragam cuatan]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=5178</guid>
		<description><![CDATA[agnes yohana dan paulus soempeno. ya, saya begitu menyayangi keduanya. setiap lantunan syukur, adalah rasa terima kasih padaNya atas kehadiran mereka dalam hidup saya. dan mengganti bunga lawas dengan bunga yang segar, adalah salah satu alasan mengapa saya harus menyambangi rumah bumijo. andai ayah dan ibu tahu, betapa saya bosan menjawab pertanyaan atas pertanyaan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a title="ImageShack - Image And Video Hosting" href="http://img39.imageshack.us/i/canon2278.jpg/" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" src="http://img39.imageshack.us/img39/2949/canon2278.jpg" border="0" alt="" width="320" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">bunga pengantar doa</p></div>
<p>agnes yohana dan paulus soempeno.</p>
<p>ya, saya begitu menyayangi keduanya. setiap lantunan syukur, adalah rasa terima kasih padaNya atas kehadiran mereka dalam hidup saya. dan mengganti bunga lawas dengan bunga yang segar, adalah salah satu alasan mengapa saya harus menyambangi rumah bumijo.</p>
<p>andai ayah dan ibu tahu, betapa saya bosan menjawab pertanyaan atas pertanyaan yang itu-itu saja, &#8220;ngapain pulang sih, kan udah engga ada siapa-siapa di rumah?!&#8221; ya, <em><strong>saya sangat benci pertanyaan itu. </strong></em></p>
<p>pulang ke bumijo, bukan hanya perkara ingin pijat di nakamura atau martha tilaar; atau membabati tanaman tetehan ayah. lebih dari itu, saya butuh duduk bersimpuh, berjejeran dengan mereka, di rumah mereka yang baru; mensyukuri hidup yang begitu menggembirakan dan membahagiakan, semata-mata karena mereka.</p>
<p>barangkali yang bertanya &#8220;ngapain pulang sih, kan udah engga ada siapa-siapa di rumah?!&#8221; adalah orang yang engga pernah dekat atau terlibat secara emosional dengan kedua orang tuanya. atau, barangkali terlalu sibuk sehingga hanya sekali setahun mendaraskan doa untuk kedua orang tuanya. atau, barangkali memang jalan pikirnya terlalu modern. atau, barangkali memang belum meninggal. <img src='http://femiadi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>tapi saya benci pertanyaan itu. ribuan kali saya mendengarnya, dan ribuan kali pula saya menjawabnya: mengunjungi ayah dan ibu di rumah mereka yang baru.</p>
<p>ya, saya begitu menyayangi keduanya. ayah dan ibu saya. setiap lantunan syukur, adalah rasa terima kasih padaNya atas kehadiran mereka dalam hidup saya. dan mengganti bunga lawas dengan bunga yang segar, adalah salah satu alasan mengapa saya harus menyambangi rumah bumijo.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2010/02/08/kangen-ayah-dan-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>bertemu om juni</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/10/18/bertemu-om-juni/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/10/18/bertemu-om-juni/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 16:32:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/2009/10/18/pertemuan-kecil-dengan-kerabat/</guid>
		<description><![CDATA[Kami tak bertemu lamaaa sekali. Mungkin setahun; bahkan lebih. Ya, saya dan om saya; adik ibu nomer &#8230; Mmm &#8230; Nomer berapa ya? Belokan ke rumah nenek (likban) langsung mengunci mata saya. Bukan om joko, om yanto atau bahkan tetangga sebelah. Tetapi om juni. Ya, om juni. Kurus. Ini adalah pertemuan kedua saya dengannya; setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kami tak bertemu lamaaa sekali. Mungkin setahun; bahkan lebih. </p>
<p>Ya, saya dan om saya; adik ibu nomer &#8230; Mmm &#8230; Nomer berapa ya? </p>
<p>Belokan ke rumah nenek (likban) langsung mengunci mata saya. Bukan om joko, om yanto atau bahkan tetangga sebelah. Tetapi om juni. Ya, om juni. </p>
<p>Kurus. </p>
<p>Ini adalah pertemuan kedua saya dengannya; setelah sekian tahun yang lalu. Dia adalah kerabat yang bersembunyi dibalik senja jakarta. Menyepi dari kerumunan sanak-saudara. </p>
<p>Saya tak pernah berharap menjumpainya dengan tulang yang mendominasi tubuh ketimbang daging. Saya tak pernah berharap menjumpainya dengan lara yang menggerogoti senyumnya yang hangat. </p>
<p>Andai ibu ada, dia pasti bahagia bertemu dengan adiknya. Tapi kendati ibu tak ada, dia pasti tetap bahagia karena si bungsu membagi hangat padanya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/10/18/bertemu-om-juni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>lembaran baru Rp 2.000</title>
		<link>http://femiadi.com/2009/09/19/lembaran-baru-rp-2-000/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2009/09/19/lembaran-baru-rp-2-000/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 14:46:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[asupan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[plesiran]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[esti]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=2786</guid>
		<description><![CDATA[saya mengusung beberapa gepok duit anyar; pecahan Rp 2.000. sebenarya saya tak tahu siapa yang akan saya bagi nanti; bila bertandang ke rumah likban di kembangarum. saya tak merencanakan untuk berada di kediaman likban pada hari raya; tetapi sebelum dan sesudahnya. entah, tidak bertemu banyak kerabat adalah pilihan terbaik saat ini. tapi saya tetap mengusung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://img525.imageshack.us/img525/6529/femi2000.jpg" alt="" width="320" height="200" /></p>
<p>saya mengusung beberapa gepok duit anyar; pecahan Rp 2.000.</p>
<p>sebenarya saya tak tahu siapa yang akan saya bagi nanti; bila bertandang ke rumah likban di kembangarum. saya tak merencanakan untuk berada di kediaman likban pada hari raya; tetapi sebelum dan sesudahnya. entah, tidak bertemu banyak kerabat adalah pilihan terbaik saat ini.</p>
<p>tapi saya tetap mengusung gepokan lembaran uang anyar itu. uang kertas Rp 2.000 yang bergambar Pangeran Antasari, pahlawan nasional asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. di bagian belakang berlatar tarian adat Dayak.  <a href="http://www.kontan.co.id/index.php/nasional/news/17414/Hari_ini_Uang_Kertas_Pecahan_Rp_2.000_Resmi_Diluncurkan" target="_blank">uang ini sudah mulai berlaku sebagai alat pembayaran yang sah mulai tanggal 10 Juli 2009 lalu. </a></p>
<p>saya ingat persis bagaimana keriangan yang tercipta di masa kecil dulu dengan uang-uang di masa lebaran seperti ini.</p>
<p>saya, dan juga beberapa saudara sepupu dan tante-om keliling ke rumah tetangga di kembangarum. saat itu kami semua masih menggenp. bahkan, perselisihan yang besar nyaris tak kami temukan dalam keluarga besar kami. ayah, ibu, simbah putri, simbah buyut, &#8230;</p>
<p>banyak sesepuh yang harus kami sambangi untuk sungkem, memohon maaf atas kekhilafan selama setahun terakhir. usai sungkeman, biasanya kami mendapat bingkisan khusus, yaitu koin seratusan, atau limapuluhan. dari setiap rumah yang kami datangi, biasanya kami selalu pulang dengan membawa koin; berapapun jumlahnya. bila dijumlahkan, koin-koin itu bisa dibelanjakan dengan barang-barang yang tak terbeli dengan uang saku.</p>
<p>celakanya, yang bikin ayah dan ibu saya malu, saya dan saudara-saudara sepupu yang berusia sebaya selalu menghitung total koin yang berhasil kami gaet dalam perjalanan pulang sungkeman menuju ke rumah! owh! &#8220;saru &#8230;&#8221; begitu kata ibu. maunya ibu, ya menghitungnya begitu nanti kami tiba di rumah. tapi, aww &#8230; mana tahan!</p>
<p>uang hasil sungkeman menjadi bagian dari keriangan setiap lebaran. dan barangkali ini adalah saatnya berbagi &#8216;koin&#8217; seperti dulu saya mendapatkannya. <a href="http://www.kontan.co.id/index.php/keuangan/news/21781/Menkeu_Penerbitan_Pecahan_Rp_2.000_Tak_Akan_Kerek_Inflasi" target="_blank">bedanya, kini berupa lembaran; pecahan anyar Rp 2.000</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2009/09/19/lembaran-baru-rp-2-000/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kembang buat ayah dan ibu</title>
		<link>http://femiadi.com/2008/11/23/kembang-buat-ayah-dan-ibu/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2008/11/23/kembang-buat-ayah-dan-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Nov 2008 13:08:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[babe]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>
		<category><![CDATA[makam]]></category>
		<category><![CDATA[nyekar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=1381</guid>
		<description><![CDATA[seperti biasa, tak pernah berubah. ya, selalu begini: dua buket kembang buat ayah dan ibu. rumah mereka tampak kotor. tak seperti menjelang lebaran yang selalu bersih. kali ini, daun-daun bambu yang mengelinting mengering, menutupi tanah yang menghijau lumut, licin. saya jadi tak khawatir melangkah. beberapa rumah tetangga ayah dan ibu, juga sama kotornya. dari kejauhan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://img17.imageshack.us/img17/1826/makambabe.jpg" alt="" width="320" height="200" /></p>
<p>seperti biasa, tak pernah berubah. ya, selalu begini: dua buket kembang buat ayah dan ibu.</p>
<p>rumah mereka tampak kotor. tak seperti menjelang lebaran yang selalu bersih. kali ini, daun-daun bambu yang mengelinting mengering, menutupi tanah yang menghijau lumut, licin. saya jadi tak khawatir melangkah. beberapa rumah tetangga ayah dan ibu, juga sama kotornya.</p>
<p>dari kejauhan, saya sudah bisa melihat rumah mereka. mungil. dan sedikit kotor oleh dedaunan yang membaur bersama pekarangan yang basah.</p>
<p>buru-buru saya menjumput daun bambu yang mengering itu. saya juga menyeka pekarangan ibu dengan koran pembungkus dua buket bunga ini.</p>
<p>pada mereka saya bercerita tentang semua kelelahan hidup. tentu saja, dengan penuh syukur. saya yakin, mereka sudah melampauinya. mereka sudah melaluinya. saya juga bercerita tentang secuil mimpi yang kian menggelembung dari hari ke hari. ya, saya tahu, saya tak boleh berhenti bermimpi.</p>
<p>saya meletakkan buket bunga, persis di pekarangan mereka.</p>
<p>saya duduk, dan mendaraskan doa buat keduanya.</p>
<p><em>(ps: saya bersyukur pada si pemilik hidup yang mengantarkan saya pada sore yang adem di rumah ayah dan ibu. belakangan, saya kerap memimpikannya)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2008/11/23/kembang-buat-ayah-dan-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>makam tak berbunga</title>
		<link>http://femiadi.com/2008/10/03/makam-tak-berbunga/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2008/10/03/makam-tak-berbunga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 05:28:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[plesiran]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>
		<category><![CDATA[kijing]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[makam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=1124</guid>
		<description><![CDATA[langkah saya terpaku di pelataran makam keluarga besar. saya terdiam. pemandangan didepan mata sungguh membikin saya mendadak sedih. olala. tidak ada bunga di satu kijing pun. tidak di kijing simbah putri dan kakung, juga simbah buyut putri dan kakung. apalagi di makam ayah dan ibu saya. tidak ada. sementara, daun bambu yang mengering, berjatuhan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>langkah saya terpaku di pelataran makam keluarga besar.</p>
<p>saya terdiam. pemandangan didepan mata sungguh membikin saya mendadak sedih. olala. tidak ada bunga di satu kijing pun. tidak di kijing simbah putri dan kakung, juga simbah buyut putri dan kakung. apalagi di makam ayah dan ibu saya. tidak ada.</p>
<p>sementara, daun bambu yang mengering, berjatuhan dan berserakan tak juga membikin makam luas ini menjadi sedikit sumringah di hari lebaran. owsh.</p>
<p>kemana mereka. iringan keluarga yang dulu hangat, berjalan berbaris dari rumah simbah buyut ke makam. ada yang membawa sapu lidi. ada yang membawa ember, ada yang membawa lap. ada yang membawa bunga. seiring kehangatan yang memudar, tradisi ini pun juga beranjak sirna.</p>
<p>tidak ada bunga di makam keluarga kami.</p>
<p>&#8220;semuanya datang kok, kemarin rombongan ke makam,&#8221; kata lik ban, simbah cilik saya. owh, rupanya semuanya sudah datang. tapi, mengapa bunganya mengering sekali.</p>
<p>di sebelah ujung, ada kijing dengan bunga yang mulai mengering. jelas, itu guyuran bunga dua atau tiga hari lalu. sementara ini adalah bunga yang mengering, sebulan lalu. iya, sebulan lalu.</p>
<p>mengapa tidak ada bunga di makam keluarga kami, sementara iringan itu masih ada, meski tak lagi menghangat.</p>
<p>pada ibu saya bilang, masa kecil adalah masa terindah untuk menyambangi makam keluarga begini. semuanya masih akur. hangat. beriringan dengan riuhnya sebagai keluarga besar yang masih utuh. kami mengembangi makam simbah kakung dan simbah buyut kakung, juga kerabat dekat. bahkan, aturan mengembangi dari sisi sebelah kanan makam pun masih ketat diatur oleh ibu. di ujung perjumpaan, kami berfoto keluarga bersama.</p>
<p>saya tahu kenapa tak ada bunga di makam keluarga kami. karena keluarga besar kami sudah tercerai-berai. keluarha besar kami tak lagi akur dan hangat.</p>
<p> </p>
<p><em>ps: rupanya Si Pemilik Hidup tahu persis tak ada bunga di makam keluarga besar kami. gerai toko bunga tak menyediakan mawar buket seperti yang biasa saya bungkus untuk ayah dan ibu saya. makanya, saya harus menggantinya dengan bunga tabur, sehingga bisa menaburi makam keluarga dengan bunga yang saya angkut dari pasar. aih, Tuhan, kehendakMu sungguh agung. terima kasih. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2008/10/03/makam-tak-berbunga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>sebuket mawar</title>
		<link>http://femiadi.com/2008/08/03/sebuket-mawar/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2008/08/03/sebuket-mawar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Aug 2008 04:40:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[plesiran]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/?p=1031</guid>
		<description><![CDATA[nama tokonya &#8216;mawar&#8217;. letaknya di bilangan kotabaru, jogja. sudah lebih dari setahun, gerai ini menjadi kunjungan rutin saya saban pulang jogja. dan pesanannya selalu sama: dua buket mawar merah, atau merah muda. tanpa tali, tanpa pita. hanya diikat dengan perekat saja. tanpa plastik. begitu saja. bersama dua buket mawar itu, saya bersimpuh untuk mendaraskan doa. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://img188.imageshack.us/img188/8953/mawar.jpg" alt="" width="320" height="200" /></p>
<p>nama tokonya &#8216;mawar&#8217;.</p>
<p>letaknya di bilangan kotabaru, jogja. sudah lebih dari setahun, gerai ini menjadi kunjungan rutin saya saban pulang jogja. dan pesanannya selalu sama: dua buket mawar merah, atau merah muda. tanpa tali, tanpa pita. hanya diikat dengan perekat saja. tanpa plastik. begitu saja.</p>
<p>bersama dua buket mawar itu, saya bersimpuh untuk mendaraskan doa. penuh syukur, berterima kasih dan mohon pengampunan. untuk ayah dan ibu. saya tahu persis, Dia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.</p>
<p>&#8220;dongane bapak, bar nyewu kon lungo&#8230;&#8221; kata esti.</p>
<p>ah. saya jadi pengen menangis. harusnya babe ada disini melihat ulah si bungsu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2008/08/03/sebuket-mawar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>mawar merah dan kecoa</title>
		<link>http://femiadi.com/2007/12/02/mawar-merah-dan-kecoa/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2007/12/02/mawar-merah-dan-kecoa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2007 15:55:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[bapak ibu]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[bunga]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>
		<category><![CDATA[mawar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/2007/12/02/mawar-merah-dan-kecoa/</guid>
		<description><![CDATA[saya jijik, geli, takut pada kecoa. meski warnanya cokelat seperti seragam pramuka, tapi enggak deh. saya memilih untuk tidak mendekatinya. lebih baik, mengambil sapu dan mengusirnya jauh-jauh dari saya. ada juga kecoa yang warna cokelatnya lebih muda, dengan corak yang agak bergaris-garis tebal. uwh. hiiiiiiii &#8230; h! siang itu dua buket mawar saya bungkus untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya jijik, geli, takut pada kecoa.</p>
<p>meski warnanya cokelat seperti seragam pramuka, tapi enggak deh. saya memilih untuk tidak mendekatinya. lebih baik, mengambil sapu dan mengusirnya jauh-jauh dari saya. ada juga kecoa yang warna cokelatnya lebih muda, dengan corak yang agak bergaris-garis tebal. uwh. hiiiiiiii &#8230; h!</p>
<p>siang itu dua buket mawar saya bungkus untuk ayah dan ibu. seperti biasa, saya letakkan di pusara. sembari berdoa di depan rumah ayah, saya menjumput mawar, sesekali menciumnya dan memperhatikan segarnya rona merah mawar. tahu sendiri, saya penyuka mawar, apapun jenis dan warna mawar itu. doa pun saya daraskan untuk ayah dan ibu. semoga bahagia di surga.</p>
<p>mentari yang hangat tak urung membikin bunga mawar yang mengelopak indah itu menjadi kian bersinar. apalagi, di sekeliling saya adalah cenderung gelap, dan hijau tetumbuhan pohon bambu. saya suka pancaran warnanya. terang. dari kejauhan, pasti akan menjadi sentral penglihatan.</p>
<p>tiba-tiba, muncul kecoa dari balik daun bunga mawar. aaaaaaaaaaaah! buru-buru saya lemparkan bunga itu ke arah depan. celakanya, kecoanya keburu melompat dan merangsek dengan cepat ke arah saya. saya pun buru-buru berdiri dan beringsut ke belakang dengan cepat. gosh!</p>
<p>dan paha kanan saya mendadak nyeri.</p>
<p>ayah, kenapa kecoa ini harus muncul dari bunga yang si bungsu bungkus untuk ayah? bisa jadi, ini berasal dari sekitar rumah ayah. huwks. ayah, sakit!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2007/12/02/mawar-merah-dan-kecoa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>blumbang</title>
		<link>http://femiadi.com/2007/10/08/blumbang/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2007/10/08/blumbang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 03:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[bapak ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>
		<category><![CDATA[turi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/2007/10/08/blumbang/</guid>
		<description><![CDATA[dari rumah simbah buyut, saya membelokkan kendaraan ke kanan, menuju rumah ayah dan ibu. saya melewati blumbang atau kolam yang cukup besar.  kolam ini sangat alami. air akan mancur dengan sendirinya saat musim hujan. banyak orang mencuci pakaian di blumbang ini. bahkan, anak-anak juga sering berenang hingga ke tengah. sebaliknya, blumbang ini akan kerontang saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>dari rumah simbah buyut, saya membelokkan kendaraan ke kanan, menuju rumah ayah dan ibu.</p>
<p>saya melewati blumbang atau kolam yang cukup besar.  kolam ini sangat alami. air akan mancur dengan sendirinya saat musim hujan. banyak orang mencuci pakaian di blumbang ini. bahkan, anak-anak juga sering berenang hingga ke tengah. sebaliknya, blumbang ini akan kerontang saat musim panas tiba. anak-anak laki-laki akan bermain bola saat blumbang ini meranggas.</p>
<p>pagi tadi, saya melihat 7 bebek berenang dengan penuh keriaan. akur. airnya keruh. selalu begitu. dari dulu, air ini tak pernah bening seperti kolam ikan. wajar saja, dasarnya bukan keramik biru, tetapi tanah. asli tanah.</p>
<p>blumbang ini kenangan masa kecil saya.</p>
<p>ayah, ibu, lik ban dan simbah buyut selalu melarang saya dan saudara-saudara lainnya untuk bermain di kawasan ini. katanya, blumbang ini cukup dalam. mereka khawatir saya akan tenggelam. saat itu, bisa jadi ada benarnya. femi yang mungil akan menjadi sasaran ikan-ikan mungil yang mencubiti seluruh badan.</p>
<p>dari kolam ini, saya mengenal ikan kecil yang gurih yang bernama wader. belakangan, agak susah mencari wader ini. kalaupun ada, harganya juga lebih mahal.</p>
<p>dulu, lik ban sering mencuci di blumbang ini. sambil mencuci, lik ban mencencang jala untuk meraup wader sebisanya. kadang dapat sedikit, tetapi kadang juga banyak. ikannya sebesar satu ruas kelingking orang dewasa, bahkan bisa jauh lebih kecil. sepulang dari blumbang, lik ban akan menggorengkan untuk ibu agar dibawa pulang. kalau tidak, ya dimakan bersama nasi hangat dan cocolan sambal trasi di rumah simbah buyut.</p>
<p>saya melihat blumbang. seperti melihat masa kecil saya yang berlarian mengitarinya sembari diteriaki ibu dan lik ban agar tidak nyemplung ke dalam.</p>
<p>saya kangen ibu. saya jadi kangen wader.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2007/10/08/blumbang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan yang selalu sama</title>
		<link>http://femiadi.com/2007/01/04/jalan-yang-selalu-sama/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2007/01/04/jalan-yang-selalu-sama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jan 2007 18:47:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>femi adi soempeno</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kangen]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/2007/01/04/jalan-yang-selalu-sama/</guid>
		<description><![CDATA[seperti mesin yang otomatis: jalan yang saya lalui selalu sama. jalanan berkonblok itu berkelok, naik turun. lebarnya gang besar itu hanya bisa dimuati dengan satu mobil dan satu rdoa dua. hingga saya menemukan rumah yang letaknya agak tinggi dengan gang kecil di sebelahnya, nah, disanalah kendaraan harus diparkirkan. pulang ke jogja adalah mengasup energi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>seperti mesin yang otomatis: jalan yang saya lalui selalu sama. jalanan berkonblok itu berkelok, naik turun. lebarnya gang besar itu hanya bisa dimuati dengan satu mobil dan satu rdoa dua. hingga saya menemukan rumah yang letaknya agak tinggi dengan gang kecil di sebelahnya, nah, disanalah kendaraan harus diparkirkan.</p>
<p>pulang ke jogja adalah mengasup energi yang datang dari orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya, yaitu ayah ibu, dan aura rumah yang senantiasa hangat.</p>
<p>sejak akhir tahun 2000, aktivitas mingguan saya tak pernah berubah: menjadualkan beberapa jam untuk berjumpa dengan ibu. menjadi 20 tahun rasanya terlalu kecil untuk menjadi anak piatu, berayah namun tak beribu. meski masih ada ayah, tetapi hidup rasanya tak sesempurna bila ada ibu. meski esti, kakak perempuan saya kemudian bermetamorfosis menjadi seorang perempuan dewasa yang tangguh dan bertanggungjawab dengan kehidupan keseharian, rasanya itu belum cukup. yang saya butuhkan adalah ibu, kehadiran ibu.</p>
<p>saya berjumpa dengan ibu bersama dengan esti, maupun ayah. kami mengusung tas biru bikinan ibu dan mengisinya dengan sebotol air keran, kain lap, dupa bali, dan korek api. dulu, tas biru ini sering dgunakan ibu untuk membawa makanan untuk nenek. bentuknya sederhana, tas kecil jinjing. kemudian, kami mampir belanja sekeranjang bunga dari pasar kranggan. sebisanya, kami memilih bunga yang segar yang baru turun dari kendaraan yang membawanya dari bandungan. bunga yang kami pilih adalah bunga yang masih ada di tampah (nampan besar dari bambu).</p>
<p>perjalanan kemudian diteruskan dengan menuju rumah ibu di kembangarum, turi. disana, ibu tinggal. sebelah menyebelah dengan ibu, ada mbahkung, mbahti, lik sum, mbah buyut kakung dan putri, lik sum, dan beberapa kerabat jauh.</p>
<p>gerbang sebuah gang besar yang jamak dijumpai di desa-desa menjadi penanda pintu masuk ke rumah ibu. kami harus berbagi senyum dengan orang-orang yang tengah berjalan sambil mengusung kayu bakar, dengan simbah-simbah yang usai panen salak, dengan orang-orang yang tengah meriung di depn rumah. jalanan berkonblok itu berkelok, naik turun. lebarnya gang besar itu hanya bisa dimuati dengan satu mobil dan satu rdoa dua. hingga kami menemukan rumah yang letaknya agak tinggi dengan gang kecil di sebelahnya, nah, disanalah kendaraan harus diparkirkan.</p>
<p>&#8220;assalamualaikum &#8230;&#8221; kata saya atau kaka saya, sembari meninggalkan dua-tiga bunga mawar merah atau putih, persis di depan rumah ibu. dulu, ibu selalu mengajarkan ritual ini saban mengunjungi rumah simbah.</p>
<p>keceriaan saya, kakak saya dan ayah saya tak pernah berkurang saat berjumpa dengan ibu. kemudian kami saling berceloteh riang tentang warung makan pendowo yang lauknya begitu-begitu saja, atau tentang femi yang paling doyan merajuk, atau tentang esti yang kian menggendut, atau tentang rumah yang atapnya bocor. ayah selalu membisikkan kalimat yang sama pada ibu, &#8220;yo &#8230; sayang kowe ra iso melu menikmati &#8230;&#8221; atau, &#8220;coba kowe isih ono, yo &#8230;&#8221;</p>
<p>saya, esti dan ayah adalah sebuah tim kerja yang bagus saat berjumpa dengan ibu. saat saya menyapu rumah ibu, esti mengelap dinding rumahnya, dan ayah mencabuti rumput liar dan dedaunan yang membusuk di pohonnya. sambil mencelotehi banyak hal soal kehidupan seminggu belakangan, rasanya seperti &#8230; seperti ibu tengah mendengarkan dengan cermat dan duduk manis melihat tingkah kami.</p>
<p>dan setelahnya, kami berdoa.</p>
<p>untuk pengampunan si pemilik hidup atas dosa-dosa ibu. untuk kebahagiaan ibu di alamnya yang baru. untuk kekuatan bagi kami semua.</p>
<p>hidup pun berjalan terus. terus. terus. esti menjadi dosen di jogja. femi menjadi wartawan di jakarta. ayah semakin sibuk dengan murid-muridnya.<br />
hingga beberapa kali, setiap jadual kunjungan ke rumah ibu, ayah kemudian menarikan dan menautkan dua jari telunjuknya membentuk sebuah kotak persegi. &#8220;bapak sesuk nek nang sebelahe ibu isih cukup &#8230;&#8221; atau, &#8220;isih ono nggon nggo bapak nang sebelahe ibu &#8230;&#8221; atau, &#8220;sesuk bapak ditumpuk wae lah karo ibu &#8230;&#8221; atau, &#8220;hmm &#8230; isih cukup &#8230; cukup &#8230; &#8221;</p>
<p>sejak pertengahan tahun 2006, aktivitas mingguan saya tak pernah berubah: menjadualkan beberapa jam untuk berjumpa dengan ibu dan ayah. menjadi 26 tahun rasanya terlalu kecil untuk menjadi anak yatim piatu, tak berayah dan tak beribu. apalagi, esti yang sedarah dengan saya, melanjutkan hidupnya di negeri orang. saya kemudian bermetamorfosis menjadi seorang perempuan dewasa yang harus lebih tangguh dan lebih bertanggungjawab dengan kehidupan keseharian. yang saya butuhkan adalah ibu, ayah, esti. kehadiran ibu, kehadiran ayah dan kehadiran esti.</p>
<p>saya membungkus dua buket bunga dari sebuah toko bunga di kawasan kotabaru, atau dua keranjang bunga dari pasar kranggan. kendaraan roda dua kemudian saya lajukan menuju rumah ayah dan ibu di kembangarum, turi. setiap penanda gerbang besar itu sudah tampak, saya selalu membisikkan dalam hati, &#8220;sudah dekat!&#8221;</p>
<p>jalanan berkonblok itu berkelok, naik turun. lebarnya gang besar itu hanya bisa dimuati dengan satu mobil dan satu rdoa dua. hingga saya menemukan rumah yang letaknya agak tinggi dengan gang kecil di sebelahnya, nah, disanalah kendaraan harus diparkirkan.</p>
<p>saya tahu persis, jalan yang saya lalui ini selalu sama setiap minggu: mengunjungi ayah dan ibu di rumahnya. namun, hati dan jiwa saya selalu mengusung keriaan bila mengunjungi mereka. tanpa beban. tahu kenapa? karena saya segera akan menjumpai mereka dan mencelotehkan hidup seminggu belakangan.</p>
<p><em>(ps: tulisan ini saya bikin buat lelaki tambun yang setia di balik kubikelnya. maaf, saya tak bisa berkunjung ke river-country (kalinegoro). heyh, kamu nggak sendiri kok!) </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2007/01/04/jalan-yang-selalu-sama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(Mbah) Lik Bandiyah</title>
		<link>http://femiadi.com/2006/10/19/mbah-lik-bandiyah/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2006/10/19/mbah-lik-bandiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Oct 2006 21:50:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>femi adi soempeno</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[babe]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kangen]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>
		<category><![CDATA[likban]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/2006/10/19/mbah-lik-bandiyah/</guid>
		<description><![CDATA[saya kangen dengan ayah dan ibu. makanya, sore tadi saya berkunjung ke &#8216;rumah&#8217; mereka di turi. ya, sembari membawa saru keranjang bunga mawar merah dan putih, segar. saya lihat, beberapa orang sudah mulai membersihkan makam. &#8220;hari ini membersihkan, besok juga, dan lusa juga!&#8221; tukas seorang bapak-bapak tua sambil terus menggerakkan seikat lidi nan kuat. ya, saya kangen [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="p1070177.JPG" href="http://femiadi.com/wp-content/uploads/2006/10/p1070177.jpg"></a></p>
<p><a title="p1070177.JPG" href="http://femiadi.com/wp-content/uploads/2006/10/p1070177.jpg"><img class="alignleft" style="width: 311px; height: 224px;" src="http://femiadi.com/wp-content/uploads/2006/10/p1070177.jpg" alt="p1070177.JPG" width="311" height="224" /></a></p>
<p>saya kangen dengan ayah dan ibu.</p>
<p>makanya, sore tadi saya berkunjung ke &#8216;rumah&#8217; mereka di turi. ya, sembari membawa saru keranjang bunga mawar merah dan putih, segar. saya lihat, beberapa orang sudah mulai membersihkan makam. &#8220;hari ini membersihkan, besok juga, dan lusa juga!&#8221; tukas seorang bapak-bapak tua sambil terus menggerakkan seikat lidi nan kuat.</p>
<p>ya, saya kangen dengan ayah dan ibu.</p>
<p>buru-buru, saya membersihkan nisan ibu, mengguyurnya dengan sabun porslen, membilasnya dengan air bersih dan mengusap dengan kain agar kering. saya memungut bunga mawar merah dan putih yang mengering yang saya taburkan dua minggu lalu. &#8220;dad, Im here. Im home &#8230;&#8221; bisik saya pada ayah. saya kemudian bercerita pada mereka soal letihnya deadline dua minggu terakhir, plus rencana liburan lebaran saya. pasti mereka saling bergumam, <em>&#8220;oalah fem &#8230; bocah kok ra nduwe wudel &#8230;&#8221; </em></p>
<p>saya berharap lebaran ini mereka menemani saya.</p>
<p>liburan kali ini sepi rasanya. tanpa ibu, tanpa ayah, tanpa kakak. saudara? ehm, ada, tapi &#8230; ya, andai saya saya masih punya orang tua, dan kakak saya tak bepergian jauh. kira-kira, besok mereka akan ada di rumah simbah tidak ya saat semua kerabat berkumpul?</p>
<p>saya berharap ayah dan ibu menjahili om-om dan tante-tante yang -pernah- berniat tak baik pada mereka. saya berharap ayah dan ibu menumpahkan opor kuning pada kemeja koko dan baju muslim om-om dan tante-tante yang sirik pada keluarga kami. saya berharap ayah dan ibu menjulurkan kaki mereka sehingga om-om dan tante-tante jatuh terjungkal.</p>
<p>hehehehe &#8230;</p>
<p>harapan saya ini buruk nggak ya? eh, tapi ayah dan ibu jangan menjahili mbah lik, atau simbah cilik ya. iya, jangan mengisengi lik bandiyah. mestinya, saya memanggilnya simbah bandiyah. tapi karena ibu biasa memanggilnya dengan sebutan &#8216;lik ban&#8217; saja, maka, saya mengekor ibu memanggil sebutan yang sama.</p>
<p>sore tadi, lik ban memasakkan tempe garit dan jangan gori untuk santap malam. tanpa direncanakan terlebih dahulu, saya membawa pepes pindang dan pepes tahu, plus sambal. tapi saya mesti nunggu nasi hangat yang dimasak dengan ketel di atas tungku kayu. aih &#8230; tak apa.</p>
<p>nikmatnya? tak kira-kira! perut kenyang, hati senang. terima kasih lik ban!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2006/10/19/mbah-lik-bandiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>mimpi-mimpi sebelum ayah pergi</title>
		<link>http://femiadi.com/2006/07/02/mimpi-mimpi-sebelum-ayah-pergi/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2006/07/02/mimpi-mimpi-sebelum-ayah-pergi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jul 2006 11:17:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>femi adi soempeno</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[babe]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kangen]]></category>
		<category><![CDATA[kembangarum]]></category>
		<category><![CDATA[likban]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/2006/07/02/mimpi/</guid>
		<description><![CDATA[mimpi adalah suatu pertanda, barangkali. saya meyakininya demikian. bukan sekadar pelengkap tidur. bukan pula bunga tidur. sebagian mimpi adalah sebuah tanda. pertanda itu datang dari bulik tari, adik ayah yang paling bungsu. pada saya ia mengabarkan kejutan itu. &#8220;hari sabtu, sebelum ayah kamu masuk rumah sakit, bulik mimpi, ayah kamu ada di desa, ndeprok di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><img src="http://img200.imageshack.us/img200/5315/babek.jpg" alt="" width="320" height="200" /><p class="wp-caption-text">be, kenapa kematian menjadi misteriNya?</p></div>
<p>mimpi adalah suatu pertanda, barangkali.</p>
<p>saya meyakininya demikian. bukan sekadar pelengkap tidur. bukan pula bunga tidur. sebagian mimpi adalah sebuah tanda.</p>
<p>pertanda itu datang dari bulik tari, adik ayah yang paling bungsu. pada saya ia mengabarkan kejutan itu. &#8220;hari sabtu, sebelum ayah kamu masuk rumah sakit, bulik mimpi, ayah kamu ada di desa, ndeprok di kuburan. kemudian saat bulik menjenguk ayah kamu yang terakhir, cepet-cepet bulik keluar setelah salaman, soalnya bulik melihat ada peti. semalam sebelum ayah kamu meninggal, bulik doa sama Tuhan, tapi gelap. dua kali, seperti itu &#8230;&#8221;</p>
<p>pertanda lain juga datang dari simbah cilik atau mbahlik saya, namanya lik ban. &#8220;dua malam sebelum ayah kamu meninggal, aku mimpi rak piring di tempatku itu jatuh. semua piring jatuh, dan ada satu yang pecah. aku nanya sama mbokde muh, katanya ada sesuatu yang akan terjadi, sebuah kesedihan. aku juga tanya pada yang lain, katanya itu adalah pertanda akan ada sesuatu yang buruk &#8230;&#8221;</p>
<p>tetapi saya tidak bermimpi tentang apapun. saya tidak bermimpi ayah. saya tidak bermimpi kuburan. saya tidak bermimpi kematian.</p>
<p>sudahlah. ini menggenapi hidup. misteri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2006/07/02/mimpi-mimpi-sebelum-ayah-pergi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

