#funnypic: oouch!

Comments Off

how is it feel?

saya engga tahu apa yang terjadi kemudian setelah kuda dan penunggangnya terjungkal. kemungkinan, si kuda akan menjatuhi si penunggang karena posisinya sangat paralel. oouch!

bromo, negeri diatas awan

Comments Off

liburan cihuy !!!

bromo, membangun gudang memori tersendiri buat saya. disana ada kehidupan, seperti negeri diatas awan.

bromo. menurut catatan, gunung bromo ini memiliki ketinggian 2392 M dari permukaan laut. bromo menjadi incaran turis lokal dan internasional lantaran memiliki lanskap pengunungan yang spektakuler. bromo di wilayah dataran tinggi Tengger berbentuk kubah lava dan dikelilingi lautan pasir dan ditemani gunung Batok (2440 mdpl) dan gunung Kursi (2581 mdpl). satu lagi, Gunung Semeru (3676 mdpl) yang menjadi salah satu gunung paling aktif.

masyarakat tengger yang beragama hindu sangat merawat tradisinya. mereka hidup bercocok tanam di lereng-lereng perbukitan. konon, saat kerajaan Majapahit mulai kehilangan kekuatanya di Jawa, para petinggi dan para bangsawan kerajaan hijrah ke pulau Bali karena desakan agama islam yang semakin kuat. yang tersisa dari keturunan Majapahit akhirnya menyebar dan tersingkir di pengunungan Tengger hinga kini. saban tahun mereka menggelar upacara Kasada dengan proses ritual upacara agama hindu yang meriah oleh masyarakat Tengger. mereka memenuhi seluruh lautan pasir pada saat matahari terbit.

bromo, perjalanan bersama dengan kerabat, perjalanan dengan sahabat. eny, nino, ica; gita dan titi. kami melakoninya dengan sepenuh hati. sembari mencuatkan emosi dan cerita yang membikin ujung bibir ini tertarik keatas sembari menitikkan air mata saking gelinya. tak heran, ica harus protes karena tak bisa mengimbangi perbincangan kami yang menurutnya ‘lawas’. *aduh keponakan, ini memang reuni kecil. jadi maaf kalau kamu harus membayangkan kejadian masa muda kami.*

gita mengawalinya dengan hidup pasca van lith di sekolah kotak sabun di bandung. :) kemalasan, keengganan, nyatanya tetap membungkusnya. ujung-ujungnya, sedikit menyesal kenapa harus keluar dari van lith. perbincangan menggelinding, hingga membincangkan kerabat kami yang lain yang di muntilan dulu. si anu, si anu, si anu. sedap, meski saya tak selalu bisa mengingat semua rautnya.

sembari mengeduk ingatan, nino harus mencadangkan ekstra tenaga dan mata yang membelalak dibalik kacamatanya. perjalanan melalui tumpang harus dibatalkan lantaran ada perbaikan jalan. alhasil, kembali ke malang dan menuju bromo melalui pasuruan.

dan sampai.

orang-orang dari suku tengger mengerubungi kami, menawarkan kamar dan juga perkakas penghangat. dan kami menyewa dua kamar dengan kamar mandi yang terkoneksi satu dengan lainnya. dingin, meski tak sedingin yang kami bayangkan.

pukul 04.00 kami bergerak menuju puncak penanjakan, berebut dengan turis lain untuk menikmati bola raksasa yang menyembul dengan semburat kekuningan buatanNya. klik klik klik klik. saya dan ica berlomba membidik gambar srengenge paling cihuy. sementara eny menemani gita dan titi yang meminta agar AC-nya dikecilkan. :)

rampung, kami menuju bromo melalui segara wedi alias lautan pasir. yoga, supir hartop yang kami sewa memamerkan setiran yang penuh pengalaman. *duh bahasanya* tanjakan dan turunan dibabat dengan penuh kehati-hatian. menurut yoga, tak kurang dari 250 hartop dimiliki oleh orang-orang di kawasan bromo. ongkos sewanya beragam, mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 700 ribu; tergantung musim dan penyewa. musim rame dan musim sepi, dengan penyewa bule dan lokal, banderolnya pasti berbeda.

memasuki area parkir, sejumlah joki menyodori kertas kecil dengan beragam nama. itu adalah label joki yang bisa dipilih oleh penumpang hartop untuk disewa menuju kawah bromo. yoga pun sudah mewanti-wanti jika menyewa kuda harus cermat dan jangan langsung membayar di kaki bromo. “nanti saja, kalau sudah diantar ke sini, baru dibayar.” dan kuda-kuda itu pun berlarian di belakang hartop kami. serasa berkejaran dengan kuda!

eny memilih untuk menemani gita dan titi di bawah. sementara itu, nino, ica dan saya menyewa kuda untuk menjajal menghirup belerang di puncak bromo. kertas yang saya usung ternyata milik ‘karyo’. lucunya, saat saya tanya namanya siapa, dia menjawab ‘woko’. untungnya, dia menopang saya untuk nyengklak ke atas kuda, dan juga menuntun si kuda putih dengan cukup aman dan nyaman sepanjang parkiran-bromo-parkiran.

pulang, kami tewas di atas kasur.

kuda besi

Comments Off

saya sungguh mendapatkannya: kuda besi.

tungganggan itu tampak kokoh. empat kakinya seolah tengah berlari. tak terjatuh. wajahnya garang. rambutnya tersibak ke belakang, seturut dengan sapuan angin. ya, saya sudah mendapatkan kuda besi itu.

“jangan lupa bawa kuda kalau bertemu dia. dia suka sekali kuda,” kata teman saya.

ya, dan saya sudah mengantonginya. ini adalah bekal untuk bertemu dengannya. mungkin mengiris senja, sembari membincangkan rencana 2009. atau, mungkin menghabiskan waktu makan siang bersama, dan menakar keberuntungan 2009. ah, apapun itu.

saya hanya menebak-nebak saja, kenapa dia suka kuda. mungkin sejak dulu dia memang menggemari kuda sebagai tunggangan. entah itu quarter horse, paint dan thoroughbred yang terbilang ‘ringan’ dengan berat 590 kg. atau, siapa tahu malah tungganggannya clydesdale, draft dan percheron yang masuk di kelas kuda ‘berat’ karena beratnya 907 kg.

tapi, shionya juga bukan kuda. lahir tahun 1951, shionya adalah kelinci. ia berada bersama dengan deretan kelinci lainnya, seperti albert einstein, joseph stalin, frank sinatra, bahkan angelina jolie.

soal kuda, ini masih misteri. tapi saya akan mencari tahu, segera.