Jul 15
Femi Adifriends from heaven, kuliner holycow, jakarta, kuliner, makan-makan, radio dalam, steak, steak hotel

sudah mampir kemari?
steak!
“pernah makan steak hotel?” tanyanya. lalu ia menyebut nama lain lagi: holycow.
saya cuma cligak-clinguk saja. steak hotel? yang saya tahu adalah tokio hotel, group band rock asal jerman. hihihi … apalagi holycow; yang saya tahu adalah kalimat dalam saban persimpuhan didepanNya: ” … holy spirit, amen”
dan kami menyambanginya, sore tadi.
ow! what a humble steak! tak bermewah-mewah, steak hotel hanya menghuni pekarangan sebuah bangunan kecil. penerangannya pun tak terlalu terang benderang. deretan bangku panjang yang saban bangkunya memuat dua orang, dengan meja yang hanya memuat total empat orang per meja. nyaris tak ada gang untuk bisa melenggang dengan bergaya.
“waiting list, menunggu tiga antrian. silakan tunggu di samping,” kata si mbak.
okey!
kami menunggu dengan sabar, dan dengan rasa penasaran yang menumpuk. apa yang bikin warung steak ini begitu larisnya. lebih dari sekadar popularitas di social networking, mestinya ada magnet jempolan yang membikin perut-perut lapar rela ngantri.
“speciality nya wagyu steak … ” kata si mas saat kami sudah duduk manis menimang kertas menu.
dan kami memesan dua australian sirloin dengan kematangan yang rare untuk saya, dan well done untuknya. ditambah, green tea re-fill. sedep mantep, pakde!
saat pesanan datang, rupanya penandanya adalah bendera kecil yang memuat pesanan, nama pemesan dan nomor meja. selebihnya adalah akun di twitter, email dan akun di facebook.
australian sirloin, dengan tingkat lemak yang super rendah, saos blackpeper dan dimaska rare … aih, holycow juara! dan pesanan serupa miliknya dengan tingkat kematangan yang well done, steak hotel ini jempol naik dah!
muatan piring keramik (bukan hot plate) bukan hanya daging saja, tetapi juga buncis, kentang goreng, setengah tomat baby, dan saus.
ya, saus nya yang agak encer diwadahkan dalam cawan kecil, dan si empunya rupanya tidak pelit dengan saus ini.
ya ya, sepertinya besok harus kembali kemari lagi. tentu saja, datang lebih pagi biar engga harus waiting list.
“psst, sepuluh bendera ini bisa ditukar dengan satu wagyu lo!” bisiknya. ah, gosip!
Jun 09
Femi Adifriends from heaven, kuliner, plesiran barito, jakarta, kuliner, makan-makan, makanan, mendoan, purwokerto

mengundang ingatan
di seberang bubur ayam barito, mendoan mencatatkan segudang kenangan.
tentu saja, dengan sejumlah kolega dekat. ah, tak terhitung banyaknya. memesan mendoan lima ribu, menunggu dengan sabar sembari menikmati pemandangan di sekitar, dan sesudahnya menyantapnya dengan riang.
si mas penjualnya juga terlihat cihuy. dandannya tak kalah necis dengan ABG jaman sekarang. sneakers, colorful t-shirt dan topi. tak heran, saban bertandang ke sana dan berpakaian apa adanya, sering keki sendiri dengan dandanan si mas penjualnya.
di sebuah sore, sigit menjemput. kami bertemu janji untuk mengunjungi mendoan barito. di sore yang lain, saya juga punya janji kecil dengan xaxa. saat bola raksasa mulai tenggelam di lain hari, mendoan ini saya lahap dengan si soe. gerimis hujan yang merintik juga menyeret saya ke barito dengan abang, atau juga mbakyu.
aih.
“gimana, mau mendoan barito?” tawar abang, semalam, sambil tersenyum mengundang ingatan. ya, ya, ya. saya tahu persis, kami sama-sama mengeduk ingatan pada sebuah malam yang membawa kami ke mendoan barito; dan sesudahnya mencuatlah ujaran, “dulu mbakyumu sering bawa ini …” katanya.
dan lagi, kami menggelak semalam. tanpa harus secara verbal menegaskan memorinya yang tetap saja tertinggal.
ya, mendoan barito, dan kenangan yang menggudang.
Apr 02
Femi Adifriends from heaven, kuliner, plesiran 30 tahun, bandung, gigglebox, jakarta, jogja, kafe, kedai, kereta, kuliner, makan-makan, stasiun, teman, ulang tahun

tapi ... makanannya engga enak!
“aku punya tempat baru, aku sih belum pernah ke sini, jadi mari kita coba ya. tempatnya asik kayaknya …” kata indah.
kami pun bergegas ke gigglebox. kafe ini sarat dengan reriungan anak muda. hangat, dan terlihat bersahabat. sorot lampunya pun kuning-temaram. tjotjok untuk berbincang romantis hingga bergosip! duh …
indah pesan teh hangat dan soup of the day. sementara itu saya memilih pancake dan es lemon tea.
yang datang? teh hangat dilmah tea disajikan tanpa dicelupkan ke cangkir. “sup nya ada yang mrengkel-mrengkel, … kayak sup instan!” teriak indah. sedangkan pancake saya datang tidak seperti yang saya bayangkan: sungguh-sungguh flat like a pancake! ampyun. dadaran pancake dengan es krim yang menumpang biasa diatas dadaran pancake.
yah. penampilan asik dari kedai; investasi jutaan atau bahkan miliaran, rasanya menguap begitu saja usai menikmati sup adem dan pancake yang superflat di gigglebox.
gigglebox, asik sih tapi makanannya engga enak!
Apr 02
Femi Adikegemaran, kuliner 30 tahun, bandung, durian, es durian, jakarta, jogja, kantin sakinah, kereta, kuliner, stasiun, teman, ulang tahun

duh, bikin ngiler niy!
saya engga menyangka akan disambut hangat seperti ini usai menjejak bandung: jajanan khas bandung!
well … mmm, sebenernya agak lucu kalau menandainya dengan ‘khas bandung’. soalnya, bandung juga engga menghasilkan durian. jadi, barangkali lebih tepat disebut: jajanan yang jamak dan kondang dijumpai di bandung.*masih terkesan aneh engga ya?*
saya baru ngeh kalau persis di sebelah gang menuju gerai kartika sari di seberang-menceng stasiun bandung ada kantin anyar. mirip foodcourt, tapi ukurannya agak mini.
ah, whatever it is, yang jelas kantin ini menyediakan beragam jajanan. mulai dari mi kocok, siomay, batagor sampai … es durian mang aip kantin sakinah! OMG! sluurp!
saya engga doyan mi kocok. kalau batagor dan siomay … udah sering dan mudah didapatkan di jakarta atau di jogja. tapi duren mang aip kantin sakinah? ow ow ow … this is the right time!
usai membungkus satu cheese roll di kartika sari, maka durian kantin sakinah inilah destinasinya. aduh mang aip, es durennya enak pisan! nuhun mang …
Mar 04
Femi Adifriends from heaven, kegemaran, kubikel, kuliner KONTAN, kubikel, kuliner, makan, makan-makan, menulis, sahabat, teman, wartawan

thanks to esti
memang hanya esti yang mengerti saya.
lihat saja buah tangan yang dibungkusnya untuk saya: magnet dengan tulisan will write for food. asyem! ini sungguh-sungguh menelanjangi diri saya! hahahaha …
ya, kegemaran makan sebagai lebih-dari-sekadar-kebutuhan-primer memang acap menggoda saya. soal harga, itu pertimbangan nomor 78.654.987,89. yang penting, rayuan dari kerabat dan juga rasa skeptis akibat membaca tulisan soal makanan yang ditulis oleh media.
dan perburuan pun dimulai.
begitulah segala sesuatu bermula, termasuk asal muasal perut saya yang membuncit dan tudingan, “bon, elu tambah gendutan …” dari kolega saya di pabrik kata-kata ini. ah, sial.
tapi saya sungguh mensyukuri ini semua sebagai nikmat hidup yang tiada terperi. bagaimana tidak. sementara ada yang masih mengais rupiah untuk ditukarkan seporsi nasi, saya justru membuang kelebihan saya dengan membelanjakan makanan. ya, ya, ya. saya harus sangat-sangat mensyukurinya.
bahkan, kategori khusus soal kuliner pun saya siapkan di halaman putih ini. semuanya, demi kegemaran makan. aih, andai ayah dan ibu juga bisa saya seret ke kedai maupun restoran yang saya jajal saat ini yah …
Older Entries