Jun 09
Femi Adifriends from heaven, kuliner, plesiran barito, jakarta, kuliner, makan-makan, makanan, mendoan, purwokerto

mengundang ingatan
di seberang bubur ayam barito, mendoan mencatatkan segudang kenangan.
tentu saja, dengan sejumlah kolega dekat. ah, tak terhitung banyaknya. memesan mendoan lima ribu, menunggu dengan sabar sembari menikmati pemandangan di sekitar, dan sesudahnya menyantapnya dengan riang.
si mas penjualnya juga terlihat cihuy. dandannya tak kalah necis dengan ABG jaman sekarang. sneakers, colorful t-shirt dan topi. tak heran, saban bertandang ke sana dan berpakaian apa adanya, sering keki sendiri dengan dandanan si mas penjualnya.
di sebuah sore, sigit menjemput. kami bertemu janji untuk mengunjungi mendoan barito. di sore yang lain, saya juga punya janji kecil dengan xaxa. saat bola raksasa mulai tenggelam di lain hari, mendoan ini saya lahap dengan si soe. gerimis hujan yang merintik juga menyeret saya ke barito dengan abang, atau juga mbakyu.
aih.
“gimana, mau mendoan barito?” tawar abang, semalam, sambil tersenyum mengundang ingatan. ya, ya, ya. saya tahu persis, kami sama-sama mengeduk ingatan pada sebuah malam yang membawa kami ke mendoan barito; dan sesudahnya mencuatlah ujaran, “dulu mbakyumu sering bawa ini …” katanya.
dan lagi, kami menggelak semalam. tanpa harus secara verbal menegaskan memorinya yang tetap saja tertinggal.
ya, mendoan barito, dan kenangan yang menggudang.
Mar 06
Femi Adicerita bumijo, friends from heaven, kegemaran, kuliner gurita, gurita cikeas, jogja, makan-makan, makanan, masakan, sawah resto

gurita rica
saya engga pernah membayangkan makan gurita. rasanya … mmm … yacks!
tapi saya pernah menjajal sekali setelah ‘tertipu’ oleh cihuy nya foto di sushi tei. hehehe … ya, baby gurita kalau engga salah ingat namanya. dan saat menelannya, saya dan yusri, kolega saya, harus buru-buru menggelontorinya dengan air. membayangkan guritanya gitu lo … engga nahan!
tapi, rupanya agak lain dengan gurita yang ini. gurita saus tiram maupun gurita woku dan gurita rica yang bisa dinikmati di Sawah Resto di Jogjakarta. nendangnya ampyun-ampyun! untungnya Sawah Resto sudah mengolahnya menjadi bentuk irisan berbentuk dadu sehingga tidak mengejutkan saat terpajang diatas meja. tapi, tentakel yang melekat pada gurita tetap dibiarkan begitu saja. lihat saja tekstur yang mencuat dari balik rempah-rempah gurita woku di Sawah Resto.
woku memang jamak digunakan untuk memasak seafood. tak hanya gurita, di Sawah Resto pun tersaji kepiting woku belanga yang juga diolah dengan bumbu-bumbu masakan Minahasa yang memamerkan aroma sedap pandan, kemangi dan sereh.
dari namanya, yaitu woku belanga, sudah ketahuan gurita dan kepiting di Sawah Resto dimasak di belanga alias panci. dus, gurita dan kepiting belanga ini berkuah pedas nan segar lantaran kekayaan rempah-rempah yang menyurungnya. misalnya saja, rajangan kasar batang dan daun bawang, sobekan daun kunyit, daun jeruk, daun kemangi. tentu saja, plus rempah rahasia dari sang koki.
pilihan lainnya, gurita maupun kepiting rica atau rica-rica. tahu sendiri, rica atau rica-rica berarti cabe atau lombok. bumbu rica terbilang minimalis. hanya gilingan cabe merah dan cabe rawit, bawang putih dan bawang merah, ditambah sedikit minyak dan kucuran perasan lemon cui. saat bumbu ini dilekatkan pada gurita maupun kepiting, Pidis!
Dec 26
Femi Adicerita bumijo, friends from heaven, kegemaran, kuliner gudeg, jogja, kuliner, makan, makanan, wijilan

gudeg jogja memang oye!
pagi-pagi, si akang sudah menjemput untuk sarapan gudeg di wijilan.
dan whuzzzzz … kami melesat menyambangi warung gudeg yang sarat oleh penyuka gudeg dan pencicip gudeg. lesehan di amben bambum, kami memesan menu yang sama: nasi gudeg komplit!
kelezatan gudeg jogja memang engga bisa diangkut dari gudeg di jakarta atau belahan lain di indonesia. gudeg, ya hanya di jogja.
tapi bisa jadi gudeg ini menjadi lebih enak karena teman makan yang menyenangkan dan perbincangan yang seru. mulai dari menggosipkan teman, membagi cerita tentang keluarga, hingga merangkai puzzle masa depan *wuih, yang terakhir istilahnyeee …* tapi ya memang begitu itu adanya.
seporsi gudeg sudah habis, ditambah seteko teh poci, duh, nyamleng bener.
dan kami menggelak untuk hal-hal yang memang layak ditertawakan. saling pamer produk apple, mm …. buktinya gudeg ini engga berkurang kenyamlengannya.
manis gudegnya. krecek yang sedikit pedas (nyaris engga berasa pedas). areh yang mlekoh dan gurih. mm …
ya, gudeg jogja memang oye. engga bisa diangkut dari permata hijau di jakarta. sumpah!
Dec 26
Femi Adicerita bumijo, friends from heaven, kegemaran, kuliner bakso, jogja, kuliner, makan, makan-makan, makanan, sahabat, teman

Makan bakso dengan nasi. Nostalgia ...
suka makan bakso? uhm. saya juga. hanya saja, saya agak pemilih untuk menyantap bakso ini.
tapi saya berutang budi lidah pada pras, si beib yang mengenalkan saya pada bakso kornel di sosrowijayan, jogja.
*huwww thanks beib* alhasil, bakso kornel ini sering menjadi jujugan saya. dan rasanya engga cihuy kalau engga makan dengan si beib.
bukan, bukan. bukan perkara makan-dengan-siapa. tetapi gosip yang menggelinding disela-sela suapan bakso dan juga pantat yang betah terpaku di di warung bakso itu yang membikin acara menyantap bakso kornel dengan si beib menjadi asoi.
seperti slilit, bakso ini nyempil diantara warung-warung di bilangan sosrowijayan. bukan di pinggir jalan, tetapi masuk ke dalam; persis di depan regol SD Netral.
saya biasa memesan bakso kuah. tanpa mie putih. tanpa mie kuning. selebihnya, irisan tahu dan bakso, juga jeroan. baksonya gurih. sarat dengan kaldu yang menebal pada setiap sruputan kuahnya.
yang makin mencerdaskan lidah saya adalah bungkusan mungil nasi putih yang diletakkan dalam keranjang terpisah. saya leluasa untuk mengambil satu atau dua atau tiga bungkus nasi. mm … biasanya sih dua.
ya, makan nasi dengan bakso adalah gaya-makan-bakso saya waktu masih kecil. ibu tidak akan mengizinkan saya makan bakso tanpa nasi. juga, makan mie rebus (indomie) tanpa nasi. semuanya harus dengan nasi. *jadi kangen ibu*
dan ini menjadi kesukaan tersendiri. hingga saat ini.
warung bakso-bakso lain yang saya jumpai di jogja, ya hanya bakso kornel ini yang menyuguhkan bakso dengan offering tambahan nasi putih. hasilnya, bukan hanya menggoyang lidah, tapi menggoyang-goyang lidah! ow ow ow …
dua minggu lalu, sebelum saya kembali ke jakarta, saya mampir ke warung ini dengan si beib dan totok.. sayangnya, minggu ini saya melewatkan menu lezat ini.
Dec 11
Femi Adicerita bumijo, kegemaran, kuliner gudeg, jogja, makan, makan-makan, makanan

Gudeg yummy di siang hari ...
gudeg kebondalem letaknya engga jauh dari rumah saya.
ibu saya melanggani gudeg bu widodo di kebondalem. dan, kebiasaan ibu ini akhirnya menurun pada saya, dan juga kakak saya.
mencoba memburu gudeg kebondalem siang ini, rupanya lagi engga hoki. saya harus menjajal gudeg lain lantaran gudeg bu widodo tutup. *celakaaaaaa …*
di seberang gudeg bu widodo, ada warung yang desainnya mirip warteg. warung pak sihno. saya menjajal seporsi gudeg dada menthok dengan ampela, plus tahu. saat seporsi gudeg pesanan itu datang, OMG, gede banget!!
saya berusaha menghabiskannya. yah, memang agak aneh saya menyantap gudeg di siang bolong. padahal, gudeg aja engga doyan-doyan banget. *too picky!* ya, saya terus menghabiskannya. saya suka ampelanya karena diolah tepat dengan bumbu pilihan. *jargon banget sih*
humh. akhirnya habis juga.
Older Entries