jeans nomer 82

Comments Off

nomernya 82. puasss?

cerita soal jeans tak pernah usai. iya, cerita diantara saya dan lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah.

pun, saya berhutang kejujuran: potret ukuran celana jeans.

ah. kami selalu menggelak bila membincangkan angka; apapun itu. dus, bukan hanya soal uang yang sensitif, tetapi apapun yang mengerami angka, selalu membikin kami geram dan menudingkan fitnah.

termasuk, soal ukuran celana jeans ini.

dalam sebuah perbincangan panjang di serat-serat elektronik, topik ini menjadi topik yang tak pernah usai dan lalai untuk dibincangkan. kalaupun kelewatan, pasti ada saja yang mengingatkan.

saya mengklaim, ukuran jeans saya lebih mini ketimbang miliknya. bisa saya pastikan, lingkaran tangan saya merapat hangat di tubuhnya yang tinggi dan besar, itu sudah menunjukkan ukuran jeans nya yang lebih besar ketimbang saya.

“ternyata ukuran celananya 82 ya?” katanya, mengomentari foto yang saya kirim. sial.

surat cinta via google translate

Comments Off

mengunduh telepon cinta

Comments Off

jadi semangat!

10.35 wib.

telepon cinta itu datang kembali; dari laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah.

awalannya tak biasa: gelak yang renyah, gembira yang membuncah. tak henti-hentinya, ia terbahak, dan terus menguarkan energi merah jambu untuk saya.

“geli baca emailmu, kamu bilang mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu-nya panjang bener …” katanya. oouch!

dan kami terus membagi cuilan cerita hari-hari kami, setelah butiran bening di sudut mata menggerojok beberapa waktu lalu.

kami membincangkan kesibukan dan juga orang-orang terdekat kami di sini. kami juga membincangkan peterporn. dan sebentar kami bergombal-gambul soal rona merah jambu dan acara berhangat-hangat di beranda hati.

owh, juga soal celana ukuran 85 dan bobot tubuh yang makin bertambah. seperti biasa, klaim ‘aku lebih kurus ketimbang kamu’ itu terus kami desakkan; saling tak mau kalah.

ya, lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah sudah mengawali selasa saya yang menyenangkan. menggembirakan. membahagiakan. entah, berapa lap meja rapat saya kitari untuk membayangkan gelaknya yang liar sekaligus anggukannya yang santun saat saya berucap.

rona merah jambu tak hanya menyapu pipi saya, tetapi juga hati saya.

bergombal dengan pantun

Comments Off

dari djakarta, dengan tjinta ...

saya tidak pandai bikin pantun.

bleki, kolega saya di pabrik kata-kata ini, sering menciptakan bualan dan celaan melalui pantun-pantun. ajaib, dan mengesankan. dan saya selalu ketinggalan.

tapi saya mencobanya. ditengah keisengan dan kerinduan pada laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah, kegombalan itu mendadak muncul melalui larikan pantun.

ikan lele berenang di kali
berenang bersama dengan si uda
aku rindu setengah mati
rindu sama si abang nanda

alih-alih dia, saya pun kegelian dibuatnya. takjub. hepi. “emang wartawan bisa bikin pantun … merayu lagi …” selorohnya. sial. jelas bisa.

ogah terpojok dengan komentarnya, saya pun membikin rayuan gombal lagi untuknya.

bangun pagi rasanya patah pinggang
engga siap menyambut hari baru
senangnya nggombalin nanda tersayang
bikin yang lain pada cemburu

bahkan, bleki pun takjub dengan kebisaan saya. “perlu bersemedi berapa hari pon buat bikin pantun?” gugatnya. sial.

see, saya bisa bergombal dengan pantun. ada yang mau saya gombali dengan pantun lagi?

saya ingin setia seperti pelangi

Comments Off

impending love to a man who wear red ppjamas

ulin, kolega saya, menulis dengan begitu ringannya di twitternya; sungguh aku ingin setia seperti pelangi selalu setia menunggu hujan reda…

maknyes.

hati saya mendadak dingin. adem. anyep. hati saya seperti mendapat gerojokan air hujan di malam yang terccacah oleh butiran bening. butiran air hujan dan butiran yang menetes dari ujung mata.

betapa saya juga ingin menjadi seperti pelangi yang selalu setia menunggu hujan reda. saat hujan hanya meninggalkan embun di setiap pucuk daun, pelangi akan menggurat awan langit.

kesetiaan saya penuh. kesetiaan saya utuh. tapi kesetiaan ini juga berarti kesendirian yang begitu panjang. kesetiaan ini juga berarti membiarkan jarum jam bergerak ke kanan dan terus ke kanan, mengganti kalender tahunan dan menyabari tiupan lilin ulang tahun.

karena kesetiaan tak berujung. karena kesetiaan tak mengenal tenggat.

kesetiaan ini pedih. kesetiaan ini luka. tapi kesetiaan ini juga berarti menjaga kotak rasa itu pada bentuk yang semestinya. menanti kunjungan cinta yang tak datang saban tahun dan telepon cinta yang tak datang saban hari.

karena kesetiaan adalah menunggu hingga rambut memutih dan kulit mengeriput. dan kesetiaan adalah pulasan senyum kebahagiaan usai penantian yang begitu panjang.

(thanks to @ulinyusron yang mencuitkan barisan kata yang tepat pada waktunya. bungkusan kesetiaan ini saya hadiahkan untuk lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah yang malam ini akan kembali ke negeri matahari terbit, dan entah kapan kembali pulang)