<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>@femi_adi &#187; panti rapih</title>
	<atom:link href="http://femiadi.com/tag/panti-rapih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://femiadi.com</link>
	<description>when writing the story of your life, don&#039;t let anyone else hold the pen</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Apr 2012 05:35:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>siap berumur pendek</title>
		<link>http://femiadi.com/2010/10/25/siap-berumur-pendek/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2010/10/25/siap-berumur-pendek/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Oct 2010 11:13:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[femi]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[makan]]></category>
		<category><![CDATA[makan-makan]]></category>
		<category><![CDATA[panti rapih]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=6092</guid>
		<description><![CDATA[saya dan esti, kakak saya, mengolok-olok diri saya sendiri. gara-garanya adalah selembar kertas yang memuat hasil laboratorium yang &#8216;positif&#8217; itu. dem. &#8220;so sorry &#8230;&#8221; katanya. ya, ya, itu ungkapan usai saya mengabarkan sejumlah diet yang harus saya jalani. &#8220;aku sudah membayangkan bagaimana aku mati nanti. ya, siap mati di usia lebih muda. dengan komplikasi jantung, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a title="ImageShack - Image And Video Hosting" href="http://img87.imageshack.us/i/beerzq.jpg/" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" src="http://img87.imageshack.us/img87/7643/beerzq.jpg" border="0" alt="" width="320" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">bye, beer ... </p></div>
<p>saya dan esti, kakak saya, mengolok-olok diri saya sendiri.</p>
<p>gara-garanya adalah selembar kertas yang memuat <a href="http://femiadi.com/2010/10/19/secarik-kertas-positif/" target="_blank">hasil laboratorium yang &#8216;positif&#8217;</a> itu. dem. &#8220;so sorry &#8230;&#8221; katanya. ya, ya, itu ungkapan usai saya mengabarkan sejumlah diet yang harus saya jalani.</p>
<p>&#8220;aku sudah membayangkan bagaimana aku mati nanti. ya, siap mati di usia lebih muda. dengan komplikasi jantung, ginjal &#8230; &#8221; kata saya padanya.</p>
<p>huahahahaha &#8230;</p>
<p>kami membayangkan ibu, yang meninggal di usia yang masih muda, 56 tahun karena komplikasi diabetes, ginjal, dan jantung. hidup pun menggelinding dengan tidak mudah. makan nasi dengan porsi yang secuil, menyingkirkan yang manis-manis, hingga mengkonsumsi obat-obatan sepanjang hidup. termasuk, meninggalkan bir! owh no!</p>
<p>&#8220;udah, ubah pola hidupmu. bawa makan sendiri, no beer, wheat bread, chicken breast only, daripada nanti merembet kemana-mana,&#8221; katanya.</p>
<p>okey. rupanya esti belum siap kalau si bungsu mati. <img src='http://femiadi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>adik ibu saya, om joko, juga terbahak dengan cerita saya yang harus diet. &#8220;wah, kamu sekarang jadi pabrik gula? baguslah, dekat dengan madukismo dong ya?!&#8221; selorohnya. uwh, dem.</p>
<p>saatnya olahraga, kembali yoga, bersepeda dan makan dengan asupan gizi yang pas untuk tubuh saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2010/10/25/siap-berumur-pendek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>gara-gara babi</title>
		<link>http://femiadi.com/2008/09/30/gara-gara-babi/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2008/09/30/gara-gara-babi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 19:25:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[babi]]></category>
		<category><![CDATA[dokter gigi]]></category>
		<category><![CDATA[makan]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[panti rapih]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.com/?p=1206</guid>
		<description><![CDATA[ah, ini gara-gara babi! saya membungkus daging babi seperempat kilo di pasar tradisional (seperti anjuran prabowo subianto). dan saya masak dirumah. babi kecap. rendang babi. sop babi. hasilnya, gigi saya di bagian ujung sakitnya minta ampun. untung dokter stella masih berbaik hati menunggui saya di rumah sakit panti rapih. sekalian menambal yang lawas dan gigi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ah, ini gara-gara babi!</p>
<p>saya membungkus daging babi seperempat kilo di pasar tradisional (seperti anjuran prabowo subianto). dan saya masak dirumah. babi kecap. rendang babi. sop babi.</p>
<p>hasilnya, gigi saya di bagian ujung sakitnya minta ampun.</p>
<p>untung dokter stella masih berbaik hati menunggui saya di rumah sakit panti rapih. sekalian menambal yang lawas dan gigi yang sudah merapuh. juga, membersihkan karang gigi.</p>
<p>besok saya siap makan babi kembali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2008/09/30/gara-gara-babi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>belimbing dan kenangan dengan ayah</title>
		<link>http://femiadi.com/2008/09/21/belimbing-dan-kenangan-dengan-ayah/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2008/09/21/belimbing-dan-kenangan-dengan-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 02:48:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bingkisan]]></category>
		<category><![CDATA[buah]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[panti rapih]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[tipes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/?p=1143</guid>
		<description><![CDATA[jantung saya terasa mau berhenti saat mendapatkan sekeranjang buah dari teman. Belimbing. Ya, belimbing. Bukan belimbing wuluh, tetapi belimbing bintang. Belimbing selalu mendekatkan saya pada ingatan akan ayah. Sejak kepindahan kami sekeluarga 20 tahun silam ke Bumijo, ada pohon yang selalu dirawat dengan baik oleh ayah, yaitu belimbing bintang. Pohon ini ada di ‘rumah kecil’, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>jantung saya terasa mau berhenti saat mendapatkan sekeranjang buah dari teman. Belimbing. Ya, belimbing. Bukan belimbing wuluh, tetapi belimbing bintang.</p>
<p>Belimbing selalu mendekatkan saya pada ingatan akan ayah.</p>
<p>Sejak kepindahan kami sekeluarga 20 tahun silam ke Bumijo, ada pohon yang selalu dirawat dengan baik oleh ayah, yaitu belimbing bintang. Pohon ini ada di ‘rumah kecil’, begitu kami biasa menyebut. Pohon ini dulunya kecil, bahkan saya tak pernah mengira akan berbuah manis hingga ayah tutup usia, dua tahun silam.</p>
<p>Ayah rajin merawatnya, memberinya ruang untuk mengokohkan akar. Hingga batangnya mengeras, dedaunan merindang dan membikin pelataran kecil di rumah kecil menjadi teduh. Sesekali, batang pohon belimbing menjadi latar belakang untuk acara potret keluarga.</p>
<p>Belimbing berbuah. Ayah tak pernah sanggup untuk memetiknya sendiri. Dan ayah membikin ‘sengget’ alias bilah bambu panjang dengan pisau di bagian ujung untuk memotong buah belimbing yang matang agar terjatuh dan bisa ditangkap dengan tangan. Selebihnya, ayah juga yang paling rajin memungut belimbing yang berjatuhan, membersihkannya, dan mengiriskannya untuk kami.</p>
<p>Bunga pohon belimbing kecil, dan sangat mengotori pelataran. Dedaunan yang kuning dan mengering usai musim panen belimbing, tak kurangnya membuat ayah bekerja lebih giat agar pelataran tetap terlihat bersih. Dan ayah tak pernah mengeluh.</p>
<p>Belimbing yang ada di tangan saya ini selalu mengingatkan saya pada ayah. Yang setia pada semua tanamannya. Yang mencintai tanamannya. Yang merawat kehidupan untuk semua tetumbuhannya. Termasuk belimbing. Ulat dalam belimbing yang membusuk disingkirkannya agar kami bisa tetap makan buah belimbing dari kebun sendiri. ayah selalu mengiriskan untuk kami.</p>
<p>Ayah pergi, belimbing pun mati. Bulik tidak seperti ayah. Dia benci tanaman. Semua tanaman ayah dimusnahkan, termasuk belimbing.</p>
<p>Semoga ayah tidak marah ya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2008/09/21/belimbing-dan-kenangan-dengan-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>akhirnya opname juga</title>
		<link>http://femiadi.com/2008/09/19/akhirnya-opname-juga/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2008/09/19/akhirnya-opname-juga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 22:12:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[opname]]></category>
		<category><![CDATA[panti rapih]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>
		<category><![CDATA[tipes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/?p=1131</guid>
		<description><![CDATA[Selembar kertas putih hasil laboratorium sudah memastikan, bahwa saya positif tipes dengan hasil cek imuno 6 alias indikasi kuat infeksi typhoid aktif. “Mau opname di rumah sakit atau rawat jalan?” tanya internis rumah sakit Panti Rapih, dokter Sidharto. Ada opsi rawat jalan, ya saya memilih untuk rawat jalan. Usai mengantongi tiga jenis obat, saya belanja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selembar kertas putih hasil laboratorium sudah memastikan, bahwa saya positif tipes dengan hasil cek imuno 6 alias indikasi kuat infeksi typhoid aktif.</p>
<p>“Mau opname di rumah sakit atau rawat jalan?” tanya internis rumah sakit Panti Rapih, dokter Sidharto. Ada opsi rawat jalan, ya saya memilih untuk rawat jalan.</p>
<p>Usai mengantongi tiga jenis obat, saya belanja asupan sehat. Mulai dari susu beruang, pocari sweat, UC 1000, ayam kampung dan sayuran segar. Saya siap merawat diri saya sendiri di rumah. Konon, penyakit tipes ini hanya butuh istirahat yang sangat istirahat. Pendeknya, ya menjadi pemalas di rumah.</p>
<p>Tapi hitungan saya meleset. Saya bukannya membaik, malah semakin terkapar selama semalaman mencoba rawat jalan. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengerahkan sejumlah teman dekat untuk membantu saya. *thanks untuk yani dan joko*</p>
<p>“Suster, saya minta makan,” kata saya pada suster perawat di ruang transit, usai jarum infus menusuk tangan kiri saya. Dan yani uring-uringan. “Ih, malu-maluin!” lhah, tapi bener. Saya sungguh kelaparan sejak saya memberikan rebusan ayam dan nasi lembek pada bulik, dan penjual gudeg terbalik menyodorkan nasi putih dengan gudeg, pada yani.</p>
<p>Ah, akhirnya saya opname juga, di ruang Carolus 5, kamar 512. Ini pertama kalinya saya opname.</p>
<p>Terima kasih untuk kerabat yang menemani saya selama terkapar di rumah sakit. Paimun, yang dua malam menghabiskan malamnya di ranjang sebelah. Kunto yang membelikan ekstrak cacing dan menjemput saya untuk pulang. Juga kunjungan dari kerabat Galangpress, keluarganya yani, keluarganya mbak ika, keluarganya Lia dan (akhirnya ketahuan juga) kakak-kakak saya.</p>
<p>Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2008/09/19/akhirnya-opname-juga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>medika permata hijau, owh, shoot!</title>
		<link>http://femiadi.com/2008/09/13/medika-permata-hijau-owh-shoot/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2008/09/13/medika-permata-hijau-owh-shoot/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Sep 2008 22:07:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[ragam cuatan]]></category>
		<category><![CDATA[medika permata hijau]]></category>
		<category><![CDATA[MPH]]></category>
		<category><![CDATA[panti rapih]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/?p=1127</guid>
		<description><![CDATA[Pertolongan pertama yang paling dekat dari tempat saya tinggal dan berkantor di bilangan Slipi-Kebayoran Lama adalah rumah sakit Medika Permata Hijau (MPH). Panas tinggi dan keringat dingin tak menentu selama tiga malam, menyurung saya untuk memeriksakan darah di laboratorium MPH. Demam berdarah dan tipes. Juga, sekalian beberapa cek yang lain seperti gula darah sewaktu, kolesterol, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertolongan pertama yang paling dekat dari tempat saya tinggal dan berkantor di bilangan Slipi-Kebayoran Lama adalah rumah sakit Medika Permata Hijau (MPH).</p>
<p>Panas tinggi dan keringat dingin tak menentu selama tiga malam, menyurung saya untuk memeriksakan darah di laboratorium MPH. Demam berdarah dan tipes. Juga, sekalian beberapa cek yang lain seperti gula darah sewaktu, kolesterol, SGPT SGOT. Hasilnya, semua normal. Bahkan demam berdarah dan tipes nya negatif.</p>
<p>Tapi, kedinginan dengan panas tinggi pada pukul 14.00 di Jakarta adalah tidak wajar. Saya menyambangi kembali MPH dan bertemu dengan seorang internis. Saya membawa serta hasil laborat yang baru saya ambil dua jam sebelumnya.</p>
<p>Perbincangan dimulai. Nyatanya, keluhan saya diabaikan. Sebaliknya, si internis justru berceloteh tentang lakunya koran yang kami produksi dan ekonomi yang menyesakkan di negeri ini. ujung-ujungnya, si internis ini bilang, sembari melihat hasil laborat saya, “Kamu pasti demam berdarah itu. muka kamu saja sudah merah begitu. Pelan-pelan, nanti trombositnya pasti akan turun dan haemoglobinnya pasti juga akan drop. Rawat inap ya, langsung masuk &#8230;”</p>
<p>Owh, shoot.</p>
<p>Kebetulan, keesokan paginya, masih ada urusan penting yang harus saya bereskan. “Kasih saja saya pengantar rawat inap dan obat, tapi saya tidak bisa masuk sekarang,” jawab saya. I need second opinion. Bagaimana mungkin hasil lab yang negatif untuk demam berdarah, tapi si internis sudah memastikan saya demam berdarah. Apalagi, si internis tak memperhatikan keluhan saya.</p>
<p>Dan saya pulang dengan sejuta sumpah serapah dan tanda tanya di benak tentang rumah sakit MPH ini.</p>
<p>Esoknya, saya kembali cek darah di rumah sakit Panti Rapih di Jogja. Hasilnya, saya positif tipes dengan hasil cek imuno 6 alias indikasi kuat infeksi typhoid aktif.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2008/09/13/medika-permata-hijau-owh-shoot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>enggan sembuh</title>
		<link>http://femiadi.com/2008/08/02/enggan-sembuh/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2008/08/02/enggan-sembuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 04:08:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[panti rapih]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/?p=1027</guid>
		<description><![CDATA[sudah sejak seminggu yang lalu saya mendaftar di rumah sakit pantirapih. saya memeriksakan tangan saya pada dokter syaraf. sakit sekali. masih sakit. pergelangan tangan kanan, persis di urat sebelah pojok. ini masih rentetan kesakitan akibat ditabrak orang, april lalu. &#8220;fisioterapi ya &#8230;&#8221; kata dokter joko. ah. apa pula ini. panjang sekali mejanya. ditabrak, rontgen, urut, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sudah sejak seminggu yang lalu saya mendaftar di rumah sakit pantirapih.</p>
<p>saya memeriksakan tangan saya pada dokter syaraf. sakit sekali. masih sakit. pergelangan tangan kanan, persis di urat sebelah pojok. ini masih rentetan kesakitan akibat ditabrak orang, april lalu.</p>
<p>&#8220;fisioterapi ya &#8230;&#8221; kata dokter joko. ah. apa pula ini. panjang sekali mejanya. ditabrak, rontgen, urut, dan sekarang fisioterapi.</p>
<p>sesekali sakit itu datang.</p>
<p>saat bangun pagi. saat menyangga tubuh. saat memeras cucian. saat menarikan <em>sothil</em> diatas wajan. saat membuka selai strawberry.</p>
<p>mungkin tak akan sembuh. bahkan, tak bisa sembuh.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2008/08/02/enggan-sembuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>sakramen minyak suci</title>
		<link>http://femiadi.com/2006/08/29/sakramen-minyak-suci/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2006/08/29/sakramen-minyak-suci/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Aug 2006 18:40:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>femi adi soempeno</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[babe]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kanker]]></category>
		<category><![CDATA[panti rapih]]></category>
		<category><![CDATA[RS]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/2006/08/29/sakramen-minyak-suci/</guid>
		<description><![CDATA[pagi tadi, saya memesan sakramen minyak suci untuk ayah. untuk apa? bukan, bukan. bukan untuk mempercepat kepulangannya ke rumah Bapa. tetapi untuk menenangkannya. sudah sejak sabtu malam lalu ayah mengigau dalam tidurnya. saya sudah meminta lihat rekam medik dari suster. kata si suster, igauan ayah tak lebih karena faktor usia dan kejenuhan. catatan medik dokter [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>pagi tadi, saya memesan sakramen minyak suci untuk ayah.</p>
<p>untuk apa? bukan, bukan. bukan untuk mempercepat kepulangannya ke rumah Bapa. tetapi untuk menenangkannya. sudah sejak sabtu malam lalu ayah mengigau dalam tidurnya. saya sudah meminta lihat rekam medik dari suster. kata si suster, igauan ayah tak lebih karena faktor usia dan kejenuhan. catatan medik dokter tak menunjukkan kelainan, lebih2 kelainan operasi.</p>
<p>saya hanya ingin ayah sedikit tenang. untuk itulah saya mengundang romo atas untuk menyambangi ayah. itu juga pintanya pagi tadi, saat ayah merasa ayah sudah di gereja dan nge-drell untuk meminta romo mendokan ayah.</p>
<p>ayah, ayah tenang ya. malam ini ayah sudah di sakramen minyak suci. Tuhan sudah beserta ayah. Tuhan tak pernah meninggalkan ayah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2006/08/29/sakramen-minyak-suci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>gemuruh di pagi itu, 27 mei 2006</title>
		<link>http://femiadi.com/2006/05/28/gemuruh-di-pagi-itu-27-mei-2006/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2006/05/28/gemuruh-di-pagi-itu-27-mei-2006/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 May 2006 18:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>femi adi soempeno</dc:creator>
				<category><![CDATA[asupan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[isu indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[babe]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[femi]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[gempa bumi]]></category>
		<category><![CDATA[gempa jogja]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[panti rapih]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/2006/05/28/gemuruh-di-pagi-itu-27-mei-2006/</guid>
		<description><![CDATA[+ be, femi pulang ya - ya, pulang aja &#8230; Saya bergegas memberesi lemari, meja dan mengangkut beberapa pakaian kotor untuk dibawa pulang ke rumah. Sampah-sampah mulai dari tissue bekas hingga remah-remah makanan, saya masukkan dalam tas kresek hitam bergaris abu-abu. Tak lama, saya mencemplungkan plastik itu ke dalam kotak sampah. Saya lihat, ayah masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><img src="http://img43.imageshack.us/img43/1627/gempajogja2.jpg" alt="" width="320" height="200" /><p class="wp-caption-text">bumi menari; dan pasien RS panti rapih jogja mengungsi ke area parkiran.</p></div>
<p>+ be, femi pulang ya</p>
<p>- ya, pulang aja &#8230;</p>
<p>Saya bergegas memberesi lemari, meja dan mengangkut beberapa pakaian kotor untuk dibawa pulang ke rumah. Sampah-sampah mulai dari tissue bekas hingga remah-remah makanan, saya masukkan dalam tas kresek hitam bergaris abu-abu. Tak lama, saya mencemplungkan plastik itu ke dalam kotak sampah. Saya lihat, ayah masih tenang menanti pagi tiba. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 6 pagi.</p>
<p>Tiba-tiba &#8230;</p>
<p>Lantai yang saya pijak bergoyang. Saya membalikkan badan, di luar, pepohonan juga bergoyang disertai angin yang cukup kencang. Gemuruh menderu. Mirip suara elikopter atau pesawat besar yang mendesing di pinggir kuping. Lampu menari ke kanan dan ke kiri. Isi gelas berhamburan dari wadahnya. Tak lama, saya mendengar semua orang di lantai ini menjerit, menangis dan mulai berlarian keluar gedung. Beberapa bagian saya dengar berguguran, mm, seperti suara bagunan yang mulai menjatuhkan serpihan demi serpihan. Ini adalah gempa.</p>
<p>Saya menarik bantal yang cukup tebal, saya telungkupkan diatas kepala saya dan ayah saya. Butiran 50 rosario dan madah bakti saya pegang. &#8220;Tuhan, apa yang terjadi dengan pagi ini. Ampuni kesalahan kami &#8230;&#8221; pinta saya dalam doa. Saya melanjutkan komat-kamit saya dengan doa salam maria dan bapa kami. Sementara, bumi masih terus bergoncang, seirama degup jantung saya yang juga terus berpacu.</p>
<p>Saya lihat, raut muka ayah saya sangat tenang. Tak tergambar dalam wajahnya rasa panik dan ketakutan yang mencekam. Saat bumi berhenti berguncang, selarik doa saya selipkan. &#8220;Terima kasih, masih melindungi kami ..&#8221; saya mencoba menulis sms. Begini bunyinya: barusan ada gempa besar. Aku takut &#8230;  tetapi sayang, tak satupun bisa terkirim dengan sukses, baik itu pada kakak di jakarta, magelang atau di jogja.</p>
<p>Tak lama, bumi menari kembali. Ah, Tuhan tengah bercanda. Iya, Tuhan mencandai seisi bumi ini. Kembali saya mendekap ayah, dengan sesekali menatap plafon yang diatasnya masih ada lantai tiga dan empat. &#8220;Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu &#8230;&#8221; Semua keluar, tetapi saya tak ingin keluar. Bagaimana ayah kalau saya keluar? Bila harus mati, ya mati saja. Bila harus tertimbun gedung berlantai empat, ya tertimbun saja. Bersama ayah.</p>
<p>Semua menangis. Semua panik. Semua menjerit. Semua bergegas. &#8220;Siapa yang mau turun?&#8221; ujar seorang suster yang usianya sudah separo baya. &#8220;Saya! Saya mau keluar! &#8230; Be, keluar dari sini ya!&#8221; kata saya, pada suster dan ayah saya. Segera, dua orang perawat menarik infus, dan bergegas mengeluarkan ayah dari gedung lantai dua. Jantung saya masih belum berhenti dengan detak yang terus cepat.</p>
<p>Beberapa barang saya kemasi, masuk dalam ransel merah. Pakaian. Beberapa gelas aqua. Kipas. Minyak</p>
<p>kayu putih. Boneka. Sarung. Radio. Jam tangan. Tissue. Gigi palsu ayah. Nyawa ini rasanya menguap sepertiga saat melihat jembatan bangsal elisabet dan carolus retak cukup parah, dengan beberapa bagian yang sudah jatuh mupruli. Antri lift. Ketakutan terus mendera, jangan-jangan ada gempa yang lebih dahsyat setelah gempa kedua.</p>
<p>+ Mbak, disini saja ya!</p>
<p>- Boleh di sebelah sana, suster? (sambil menunjuk ke tempat yang agak jauh dari himitan gedung tinggi)</p>
<p>+ Boleh &#8230;</p>
<p>Ayah diusung mendekati pintu keluar. Saya melihat kepanikan di setiap raut wajah. Takut. Mereka membicarakan gunung merapi yang meletus. Mereka membicarakan gedung tinggi yang mungkin rubuh dalam sekejab. Mereka membicarakan rasa sakit yang mereka rasakan. Mereka membicarakan kepanikan yang tiada terkira dan kekhawatiran gempa lain yang lebih dahsyat ketimbang pagi ini. Saya pun mencari tahu dari abang yang juga wartawan.</p>
<p>+ Mas, ada dimana?</p>
<p>- ada di jalan, dik. Bagaimana?</p>
<p>+ Mas, ini merapi meletus ya?</p>
<p>- sepertinya enggak. Soalnya ada kabar ini datang dari selatan.</p>
<p>+ selatan? Tsunami?</p>
<p>- nggak tahu. Ini aku lagi mau ngecek. Nanti kukabari ya dik &#8230;</p>
<p>+ oke. Aku disini lagi dievakuasi, sama ayah. Hati-hati ya.</p>
<p>Saya lihat, ayah berusaha mencari frekuensi radio yang bertahan dari amukan gempa. Tak satupun</p>
<p>mengudara, kecuali radio swaragama. Fuih! Satu per satu suster mulai menguping dari radio SONY milik ayah. Sau per satu pula, keluarga pasien ikut mencuri dengar informasi yang serba terbatas di radio kampus itu. &#8220;Eh, eyang &#8230; sempat-sempatnya nyahut radio &#8230;&#8221; celetuk seorang suster.</p>
<p>Rasanya ingin menangis melihat ayah. Terlantar di belakang kapel. Tak ada payung yang bakal meneduhinya pagi itu. Tak ada pakaian hangat yang melindunginya dari angin yang menggiggit. Yang ada adalah catatan angka tekanan darah yang melonjak mencapai 150/90.</p>
<p>Saya mencuri lihat sekitar. Seorang nenek renta yang diasuh oleh anak laki-lakinya. Sepertinya nenek itu kesakitan. Ada juga seorang ibu yang ditemani anaknya yang berseragam stella duce. Juga ada pasien yang tanpa keluarga, berusaha ngereh-reh dirinya sendiri sembari memegangi tongkat yang tergantung infus diatasnya. Ada beberapa perempuan yang saya kenali sebagai suster, masih berseragam preman atau sipil. Tak berseragam putih, mereka tetap menarik pasien demi pasien, membagikan minuman dan makanan. &#8220;Be, tenang ya. Femi masih disini. Everything will be ok!&#8221; bisik saya pada ayah saya.</p>
<p>Mentari sudah memamerkan sinarnya. Ayah diusung bersama pasien sebangsal. Bersama dengan seorang lelaki berusia 79 tahun yang jatuh dari kamarmandi. Juga dengan lelaki berusia 60-an yang tengah menderita sakit ginjal. Dan seorang lelaki usia 55 yang barusaja operasi empedunya. Bersama dengan pasien yang sakit itu, ada anak dan famili yang menjagai. Bukan hanya seorang saja seperti saya &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2006/05/28/gemuruh-di-pagi-itu-27-mei-2006/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;I feel better &#8230; awakku kroso enteng &#8230;&#8221;</title>
		<link>http://femiadi.com/2006/05/25/i-feel-better-awakku-kroso-enteng/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2006/05/25/i-feel-better-awakku-kroso-enteng/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 May 2006 18:44:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>femi adi soempeno</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[babe]]></category>
		<category><![CDATA[esti]]></category>
		<category><![CDATA[femi]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[panti rapih]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/2006/05/25/feel-better/</guid>
		<description><![CDATA[sore kemarin, saya sempat cemas. soalnya, ayah merasa jantungnya berdegup lebih kencang ketimbang biasanya. catatan terakhir menunjukkan, tensi ayah 150-70. suster bilang, yang atas terlalu tinggi. tapi rasa panik saya belum hilang. sontak rasa kantuk yang mampir beberapa menit sebelumnya, hilang. saya masih terus bertanya pada suster yang datang lagi untuk memasang termometer di ketiak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://img25.imageshack.us/img25/6506/ayahsakit.jpg" alt="" width="320" height="200" /></p>
<p>sore kemarin, saya sempat cemas.</p>
<p>soalnya, ayah merasa jantungnya berdegup lebih kencang ketimbang biasanya. catatan terakhir menunjukkan, tensi ayah 150-70. suster bilang, yang atas terlalu tinggi. tapi rasa panik saya belum hilang. sontak rasa kantuk yang mampir beberapa menit sebelumnya, hilang. saya masih terus bertanya pada suster yang datang lagi untuk memasang termometer di ketiak ayah.</p>
<p>pada suster yang sedang memeriksa bilik sebelah, saya juga bertanya terus. juga, pada suster yang tengah membuang kencing pasien di kamar ayah, saya nggak berhenti bertanya. &#8220;sus, kok detak jantung ayah kenceng banget? kok lebih cepat dari biasanya? kok &#8230;. &#8221; dan 1001 kok-kok yang lain. kalau mereka sebal dengan kepanikan saya, saya nggak peduli. raut ayah juga murung sesiangan.</p>
<p>lalu oksigen dipasang. ayah bilang, nggak berasa. hingga akhirnya waktu kunjung tiba. satu per satu kerabat menjenguk. kemudian suster menghitung detak jantung ayah. dia bilang 84 per menit, dan itu normal. lalu degup jantung bapak perlahan surut seiring dengan teman-teman yang datang.</p>
<p>hmmhm, mungkin benar kata mas toti, jantung ayah bekerja lebih keras saat melihat suster-suster yang cantik. memang, mereka berseliweran terus di ruang pasien. dan suster yang paling buruk wajahnya itu sedang tak tampak. iya, mungkin itu sebabnya.</p>
<p>saya senang melihat kantong yang menjulur ke bawah. kantong itu adalah pembuangan dari selang yang disedot dari lambung babe. warnanya hitam. sesekali, menggelembung. kalau sudah menggelembung dan seperti mau meledak, harus segera dibuang. baunya nggak enak. saya sempat mencium aromanya saat bapak muntah. nggak enak banget. seperti coca cola yang kadaluarsa itu.</p>
<p>dan pagi ini saya menemukan selang ayah yang lebih bersih. tetapi saya nggak yakin ayah sudah bersih banget. nanti seperti kemarinnn &#8230; dilihat dari selang sudah bersih, lalu selang di copot, dan ayah muntah lagi.</p>
<p>makanya, sampai hari ini ayah masih terus puasa. pada dokter sri (dokter kandungan yang temennya mas yanto dan kadang menengok ayah), ayah  protes, &#8220;dokter, aku wes mbayar larang, ning kok ora dikei pangan ki piye &#8230; malah dikon poso &#8230; &#8221; hahaha &#8230;</p>
<p>dua hari ini memang ayah tidak boleh minum air putih. sama sekali puasa. di mejanya, ada tulisan &#8216;PUASA&#8217;.</p>
<p>baru kemarin sore dokter membolehkan ayah minum. tapi sedikit2 aja, 4 sendok dalam 1 jam. bapak yang semula mensugesti bahwa air aqua lebih baik ketimbang air dari riumah sakit yang diambil dari ledeng dan mengandung tawas, kini mulai berubah. &#8220;bapak nek ngombe seko banyu runah sakit ae, sopo ngerti kuwi tambane. kowe rasah tuku aqua &#8230;&#8221; weh &#8230; dan bapak giat minum karena kerongkongan terasa kering walau nggak berasa haus. hampir setiap jam, bapak minum. semalam, bapak sudah ngabani, &#8220;aku saben jam meh ngguggah kowe, bapak meh mimik &#8230;&#8221;</p>
<p>nah, untuk mewujudkan itu, agak kesulitan soalnya kalau malam karena saya tidur di bawah dan jauh dari bed ayah yang tinggi. ayah minta diambilkan penggaris panjang di rumah kecil di rumah, yang biasa buat ayah mengajar. tapi repot juga kalau malam2 harus mencari penggaris yang saya sendiri nggak tahu bentuknya dan panjangnya. sedangkan ayah bilang, &#8220;garisane nang &#8230; nek ra kleru nang omah cilik &#8230;&#8221; wah, kalau sudah pakai kalimat &#8220;nek ra kleru &#8230;&#8221; itu artinya perut saya akan mengeras karena susah menemukan barang-barang yang primpen disimpen ayah.</p>
<p>maka, sebagai gantinya, saya memilih membawa teken/tongkat bapak yang dulu dibeli sama mbak yayuk di mirota. hahahahaha &#8230; saya selalu ingat dengan cerita esti yang ayah pura-pura berjalan tertatih dengan teken, kemudian begitu dipanggil esti, langsung lari ngibrit dan lupa bahwa ia tengah berjalan dengan teken. hallah &#8230; hahahahaha &#8230;</p>
<p>dan pagi tadi saya dibangunkan ayah jam 4 pagi dengan teken itu. useful, kan? setidaknya, bukan buat jalan, tetapi buat mbangunkan anaknya yang kalo tidur kayak kebo.</p>
<p>tapi pagi tadi setelah minum, bapak kemudian punya niat kecil, &#8220;sesuk bapak nek mlaku meh nganggo teken &#8230;&#8221; hallah &#8230; wong jalannya yo masih jejeg, dan bugar, kok ya pake teken &#8230;</p>
<p>hmmh &#8230; ayah nggak kecil hati dengan dubur buatannya. &#8220;sesuk nek bapak lagi sembayangan, mlaku dhewe nang gowongan, terus ono begal, bapak wis duwe senjata. iki, kantong isi pup-e bapak &#8230; mengko gari diuncalke wae karo begal-e &#8230;&#8221; hahahaha &#8230;</p>
<p>imajinasi itu cukup menghiburnya. dan pada setiap kerabat yang datang dan bertanya dimana bapak mengeluarkan pup besok, bapak kemudian bercerita tentang imajinasinya itu.</p>
<p>pagi tadi sebelum saya pulang, ayah bilang begini, &#8220;I feel better &#8230; awakku kroso enteng &#8230;&#8221; hehe &#8230; syukurlah. jadi inget laginya james brown yang i feel good itu.</p>
<blockquote><p>
<em>I feel good, I knew that I would, now<br />
I feel good, I knew that I would, now<br />
So good, so good, I got you</em></p>
<p><em>Whoa! I feel nice, like sugar and spice<br />
I feel nice, like sugar and spice<br />
So nice, so nice, I got you</em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2006/05/25/i-feel-better-awakku-kroso-enteng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>rumah sakit</title>
		<link>http://femiadi.com/2006/05/19/rumah-sakit/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2006/05/19/rumah-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 May 2006 18:49:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>femi adi soempeno</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[babe]]></category>
		<category><![CDATA[bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[panti rapih]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/2006/05/19/rumah-sakit/</guid>
		<description><![CDATA[adakah yang lebih mengerikan ketimbang rumah sakit? tabung oksigen biru dengan gelembung kecil. infus dan pipa panjang yang menusuk tangan. tempat tidur putih beroda. sprei dan bantal yang serba putih. bau karbol lantai yang menyengat. suara roda tempat tidur yang memecah hening. tangis duka dari kamar jenazah. jeritan nyeri dari UGD. wajah tenang memasuki ruang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>adakah yang lebih mengerikan ketimbang rumah sakit?</p>
<p>tabung oksigen biru dengan gelembung kecil. infus dan pipa panjang yang menusuk tangan. tempat tidur putih beroda. sprei dan bantal yang serba putih. bau karbol lantai yang menyengat. suara roda tempat tidur yang memecah hening. tangis duka dari kamar jenazah. jeritan nyeri dari UGD. wajah tenang memasuki ruang operasi. kabar burung soal suster ngesot. deretan ranjang putih kosong. balutan perban pada kepala dan kaki. buncahan perih yang terdengar di ujung malam. bekas luka. darah yang mengalir.</p>
<p>hmmh &#8230; saya selalu bergidik bila merasai rumah sakit dengan segenap indera saya.</p>
<p>saya merasa takut dengan rumah sakit saat ayah sakit. saat itu saya masih kecil, dan ayah harus opname karena daging yang tumbuh di lehernya. daging itu harus dicabut dari lehernya. katanya, dengan pisau. dengan jarum. dengan pinset tajam. dengan &#8230; orang-orang di sekitar saya menggodai saya dengan mengatakan bahwa seberang kamar ayah adalah ruang jenazah. &#8220;disanalah orang yang sudah mati di rumah sakit dimandikan. dibersihkan. dicuci. kemudian siap dibawa pulang,&#8221; ujar seseorang pada femi kecil. sejak itu, melihat tempat tidur yang terparkir di selasar rumah sakit, saya merasa ada jenazah nganggur disana.</p>
<p>hingga suatu hari saat ibu opname karena patah tulang engsel yang dideritanya, enam tahun silam. saya sungguh berpapasan dengan sebuah jenazah. saya datang dari arah utara, mau ke selatan. sebaliknya, si jenazah datang dari timur, mau ke barat. kami bertemu di persimpangan selasar. rasanya jantung saya berhenti saat dua suster mengaraknya menuju kamar jenazah. mata saya tak bisa lepas dari badan yang teronggok dengan tonjolan di bagian kepala, tangan dan kaki. semuanya tertutup dengan kain putih. .. uhm, nyali saya terasa ciut.</p>
<p>dan tadi malam, sedetik yang mencekam itu datang kembali. saya menuju ke arah pintu keluar rumah sakit. kemudian dari arah yang berlawanan, dari kejauhan saya sudah melihat tempat tidur dengan yang tertutup kain putih. saya mencoba untuk tidak berpikiran macam-macam. &#8220;oh, ada bed kosong &#8230;&#8221; siapa tahu, itu dari bangsal carolus. siapa tahu, itu dari bangsal lukas. siapa tahu, itu dari bangsal elisabeth. hingga detik itu tiba. mata saya tak bisa pergi dari tonjolan di bagian kepala. tangan yang mengatup di dada. dan kaki yang menonjolkan jemarinya. badan itu tertutup dengan kain putih. jantung saya langsung rontok seketika. ling lung. seperti orang hilang. mencoba berjalan cepat. dan sangat cepat. dan terus cepat. dan lebih cepat.</p>
<p>tak hanya itu saja. menuruni anak tangga dari lantai dua ke lantai satu, dari bangsa elisabeth maupun dari poli anak dan laborat, jelas di depan mata jajaran tempat tidur putih. tak ada kasur. kosong. besi-besi terangkai sempurna. terlihat tua dan kuno walau bersih. tapi tetap, saya memilih untuk lari menuruni tangga dengan cepat.</p>
<p>ICU. lorong yang sunyi. panjang. terang, namun terasa singup dengan dinding yang tinggi dan lebar lorong yang tak seberapa. &#8220;mbak, lampu diatas bisa dinyalakan nggak sih? kalau bisa, tolong dinyalakan dong!&#8221; pinta saya pada cleaning service. dengan lampu yang menyala terang, setidaknya bisa sejenak mengusir rasa singup yang hinggap di diri saya.</p>
<p>rumah sakkit mengingatkan saya pada almarhum Rombeng. pompa jantungnya tak mampu menahan dan memperpanjang hidupnya. rumah sakit mengingatkan saya pada almarhum ibu dan mbah putri. nafas terakhirnya berhembus disini. rumah sakit mengingatkan saya pada jeritan kecil rasa perih ibu saat ia tak bisa  berdiri dan berjalan layaknya orang sehat.</p>
<p>jadi, jangan bawa saya ke rumah sakit. indera ini terlalu peka untuk mengingat dan merasai ngerinya rumah sakit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2006/05/19/rumah-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

