recyle paper

Comments Off

kertas bekas 'cui!

saya menyukainya, ya, saya sangat menyukainya!

lihat kan, bayangan hitam dari amplop di samping? amplop itu dibikin dari kertas bekas. dus, jangan protes bil terlihat adanya bayangan menggaris rapi.

amplop itu saya dapat dari kanwil hukum dan ham di jogja, beberapa waktu lalu. itu adalah amplop yang ditujukan pada kepala kantor imigrasi yogyakarta, dari pegawai hukham. isinya, surat rekomendasi agar saya mendapatkan paspor baru.

tapi, ini adalah kemajuan besar.

pemerintah pun tidak membuang kertas bekas, dan justru menggunakannya untuk berurat pada instansi lain.

andai saja semua departemen maupun kantor dinas di daerah juga melakukan hal serupa. recycle. reuse.

jangan sampai kehilangan paspor!

Comments Off

duh, begini ribetnya bikin paspor anyar setelah ilang!

pertama, mesti lapor ke kantor imigrasi dengan membawa surat kehilangan dengan mengisi blanko permohonan paspor anyar dan menyertakan ssemua dokumen untuk membikin paspor. mulai dari ijazah trakir, akte kelahiran, kopi KTP, kopi SPLP (surat perintah laksana paspor), dan C1.  lalu, bikin janji untuk wawancara untuk bikin kronologi kehilangan. sialnya, saya engga bisa langsung wawancara di hari yang sama, tetapi harus bikin janji besok lusa. gosh!

wawancara tiga jam, rupanya petugas di kantor imigrasi engga gitu-gitu bisa nanya. duh, jagoan saya dah kalo urusan nginterogasi. :) bahkan, bosnya yang entah sengaja atau engga sengaja masuk ke bilik wawancara, ikut nimbrung dan ngajarin doi nanya-nanya ke saya. walah. ” … ngerti kan bagaimana celah untuk nanyanya? seperti saya sama mbaknya tadi itu, ngobrol … pasti masih ada yang bisa ditanyakan,” kata si bos.

saya mesti mengklarifikasi lagi kronologi yang diketik oleh si petugas. kalau ada yang salah, saya mesti benerin.

sesudahnya, saya keluar dari bilik dengan membawa surat yang harus saya antar ke kanwil hukum dan ham. nganter, ya nganter aja. saya harus bikin janji di lain hari untuk wawancara dengan petugas di kanwil hukum dan ham. setelah wawancara di hari yang sudah ditentukan, saya harus mengambil surat untuk saya antarkan lagi ke kantor imigrasi.

selesai? belum!

setelah mengantarkan surat dari kanwil ke imigrasi, saya harus sebentar mengecek semua dokumen, dan membayar Rp 475.000. sesudahnya, antri untuk foto, dan wawancara bikin paspor baru.

saat bikin paspor baru, duh, si petugas yang sama dengan petugas yang mewawancarai saya, lupa bilang kalau saya harus menyertakan surat dari pabrik kata-kata tempat saya bekerja. sial. alhasil, saya harus meminta kantor untuk mengirimkan surat rekomendasi via fax. surat itu menjelaskan bahwa saya pegawai di pabrik ini dan memohon paspor anyar. selebihnya, saya harus membikin surat pernyataan diatas materai Rp 6.000 yang saya teken diatasnya.  isinya, saya akan menjaga paspor saya lebih baik sehingga engga akan hilang lagi.

humpfffffffffffffffffff!

Buku kecil hijau

Comments Off

Paspor itu meninggalkan kenangan tersendiri buat saya.

Iya, saya ingat betul bagaimana saya membikinnya bersama ayah saya, setahun silam. Sabtu yang terik, ditingkahi angin yang menggerahkan, saya melaju ke kantor imigrasi di Jogja untuk dua buah buku kecil hijau. Iya, paspor itu. Tukang cendol yang ada di depan kantor imigrasi tak membikin kami bergeming. “enggak ah, nanti minum di rumah saja,” kata ayah saat itu. Tahu sendiri, ayah pemilih soal membeli makanan dan minuman di pinggir jalan. :)

Dan kami melalui proses panjang membikin paspor. Mengisinya satu per satu, mencermati setiap tahap orang-orang lain yang juga membikin paspor. Saat itu kami memiliki secuil mimpi: mereka-reka bagaimana menjejak Singapura dan Malaysia. “Jangan bikin paspor lewat calo, sama saja. Kamu tetap harus membawa ayah ke kantor imigrasi buat foto!” pesan Esti, kakak saya.

Dan kami berdua duduk menghadap petugas imigrasi. Mereka tampak cerewet dan bertanya banyak hal pada kami, tentang rencana kepergian kami. Tentang paspor yang mendadak dibikin untuk kepergian secepatnya. Tentang rencana liburan. Tentang uang simpanan. Tentang pekerjaan. Tentang kesibukan.

“Mau kemana? Ooo … ke Singapura dan Malaysia ya?” tanyanya. Saya hanya mengiyakan saja. Ayah hanya senyum kecil.

“Mau berobat?” tanyanya lagi. Kali ini saya menjawab panjang.

“Enggak, mau liburan saja …” kata saya. Dan ayah meneruskan. “Ini hadiah ulang tahun buat saya, dari anak-anak saya … Usia saya 78 tahun, sehat dan ke negara-negara itu hanya untuk piknik saja kok,” katanya, gagah.

Ceklek. Ceklek.

Kami dipotret. Dan paspor itu menjadi kian istimewa. Dengan senyum ayah. Wajah lelaki yang kian menua. Menipis. Senyumnya datar. Rambutnya dibiarkan memutih. Gurat bekas wajah gemuknya kelihatan. Saya tahu persis, ayah mengurus. Lengkung matanya cekung. Garis mukanya tampak jelas.

Setidaknya, persiapan perjalanan sudah dimulai. Bekalnya adalah buku kecil hijau. Bahagianya.

Dan saya mulai jatuh cinta pada Singapura bersama ayah. Saya juga mulai mengenal Malaysia bersama ayah. Di Singapura, paspor ini ditimang oleh petugas di gerai seven eleven untuk satu unit kartu telepon. Di perbatasan Malaysia-Singapura, paspor tak terbaca. Sesampainya di Jogja kembali, dua paspor milik saya dan ayah disimpan oleh ayah. Rapi.

Dan saya tak pernah menanyakan lagi dimana paspor itu ayah simpan.

Hingga saatnya tiba. Saat ayah mengepel lantai rumah yang terakhir kalinya. Meminta sepasang sandal baru dan celana pendek baru. Menanyakan keadaan rumah usai gempa besar. Hingga Dia menjemputnya.

Saya tak pernah tahu dimana paspor itu disimpan.

Bruk. Bruk. Bruk. Bruk.

Hati saya habis. Membongkar semua dokumen ayah, menatanya ulang. Mencari surat PBB. Mencari dokumen rumah tinggal. Dan saya menemukan dua buku kecil hijau. Paspor.

“Eh, aplikasi course program ini harus menyertakan fotokopi paspor lo!” kata teman saya.

Saya jadi ingat buku kecil hijau itu. Paspor yang saya bikin dengan ayah saat matahari masih hangat, setahun silam.

Barusan saya menjajarkannya, paspor saya dengan paspor ayah. Saya menjumputnya dari tas hitam kaku, tempat ayah biasa menggudangkan dokumen-dokumennya. “Babe tak perlu bawa paspor untuk sampai ke surga, dia sudah memilikinya sepanjang hidupnya. Jadi, paspornya nggak usah dimasukin di dalam peti. Mereka nggak akan menagih paspor yang ini,” kata Esti, sesaat sebelum ayah mangkat.