Feb 13
Femi Adicerita cinta, friends from heaven, kubikel patah hati, sahabat, teman

so sorry to hear that!
pertanyaan itu menguar begitu saja: bagaimana kabar hatimu? dan jawabannya sederhana, simpel, tapi nggerus ati: dempil.
ya, patah hati memang selalu begitu rasanya.
dan patah hati menjelang hari valentine begini, rasanya memang engga cukup signifikan.
tapi, kalau memang harus begitu, ya bagaimana lagi? kecuali bisa memilih untuk tidak patah hati pada momen-momen hari kasih sayang. jadi, yang bisa dilakukan saat ini adalah mencintai diri sendiri sembari menata hati.
setidaknya, pelajaran berharga sudah dikantongi: kesetiaan, kejujuran. that’s life lessons. dan setiap orang pasti memiliki masa untuk mengunduh pelajaran itu. tak harus dengan pasangan, tetapi juga dengan keluarga, dan juga sahabat.
hati yang dempil itu kemungkinan akan makan waktu untuk menumbuh dan merekat kembali menjadi utuh. tapi, ya nikmatilah gelindingan waktu untuk merekatkan hati yang dempil itu. sering kali, kesibukan dan aktivitas justru menjadi lem ampuh untuk itu.
dan yakin, pasti ada rencana indah dibalik ini semua!
(ps: postingan ini ini buat adikku yang lagi dempil hatinya)
image courtesy: flickr
http://www.flickr.com/photos/27256614@N08/2596261434/
Oct 05
Femi Adiasupan gizi, cerita cinta, isu indonesia, renanda ambacang, gempa, gempa bumi, hotel, hotel ambacang, jatuh cinta, jepang, padang, patah hati, renanda, sumatra barat, sumbar
entah, berapa kali saya memutar video pendek mengenai detik-detik runtuhnya hotel ambacang, rabu pekan lalu.
sementara, di sudut dinding ruang mungil di rumah sewa saya, tergantung tag yang tahun lalu tertempel dengan gagahnya di tas sepeda lipat saya. yaitu tag ambacang, kamar 331, bersama dengan tag pesawat garuda —untuk sepeda saya— yang saya tumpangi dari padang ke jakarta.
dan saya tetap membelalak untuk memanggil ingatan saya tentang lorong itu. tentang lobi itu. tentang lift itu.
tahun silam. dan lewat dari setahun sudah.
saya datang hanya dengan mengusung dua tas besar. satu tas travel bag berisi pakaian, buah tangan dan juga perkakas sepeda. selebihnya adalah bungkusan besar hitam berisi sepeda lipat. uda yang berada di front office pun menggiring tas saya ke kamar 331, kamar yang dipilihnya setelah pemesanan saya jauh-jauh hari sebelum saya menjejakkan kaki ke tanah minang.
front office itu. saya sering menyambangi uda yang berjaga, sekadar memastikan perjalanan saya yang tanpa tujuan di kota padang. melancong ke kawasan pecinan. mencicipi rendang padang. berpotret di pantai padang. sejenak melamun di jembatan siti nurbaya. bersujud syukur di katedral padang.
lift dan lorong itu. kami bertautan hangat. untuk mengantarnya sebentar keluar. untuk mengamitnya erat. untuk membikin temu janji di lain waktu. saya mencandanya; padanya saya bilang, saya seperti berjalan bersama om-om. hingga tangan ini melambai pada pagi, mengucap selamat jalan padanya. dan saya harus kembali ke front office, karena kunci kamar saya tertinggal di kendaraannya.
dan kini saya harus mengasup berita yang mengerikan tentang padang dengan ratsan nyawa yang melayang dan ribuan orang yang kehilangan tempat berteduh. tentang ambacang dengan ratusan korban tertimbun dibawahnya.
buru-buru saya menutup komputer jinjing ini. memilih untuk tidur.
Jul 20
Femi Adiasupan gizi, kegemaran, media atmajaya, jakarta, jatuh cinta, jogja, kenangan, patah hati, wartawan
usang.
saya menimang setumpuk cd dengan kenangan usang. cd kla project. dan, hati saya tak menggetar.
saya mengecek semuanya, satu per satu. yaps, asli. baru. licin. kotak transparan dengan kepingan pipih dan balutan sampul cd citarasa lawas itu baru dibukus dari gerai. mungkin di jakarta, mungkin di jogja, mungkin di bandung, mungkin di entah-di-gerai-manapun.
tak ada pesan disana.
di bungkusnya, hanya tertera nama saya. alamat yang dituju. tanpa alamat pengirim. ada sobekan kecil bekas pengait yang menandai paket ini adalah dikirim dengan menggunakan jasa kurir. tapi karena bukan saya yang menerima, bisa dipastikan saya tak tahu bagaimana mengeceknya.
saya hanya tertegun menerimanya. sama sekali tak ada catatan apapun yang bisa menandai si pengirim cd ini.
mungkin lupa; atau mungkin sengaja tidak membubuhi dengan lembaran kertas yang sarat dengan kecupan tengah hari maupun guratan sidik jari. tak membekas. pun, tak ada wewangian kenzo, calvin klein atau sejenisnya di amplopnya.
baik hati sekali dia, membungkus semua kepingan cd milik kla project. saya berani bertaruh, tak cukup satu gerai untuk mendapatkan semua koleksi ini. bisa jadi empat atau lima, bahkan enam gerai harus dia jelajahi untuk membuatnya menjadi lengkap, genap, utuh; sekaligus menyejarah.
padahal di ujung ruangan, saya siap membuang tumpukan kaset sejenis; gulungan pita yang merekam uaran kla project. teknologi sudah berganti. masa pun sudah berlalu. kaset-kaset yang terbungkus plastik transparan dengan kenangan usang; siap diangkut, dan dibuang.
dan saya harus menghadapi setumpuk yang lain. yang sama. kla project.
saya membungkusnya kembali. dan meletakkan begitu saja di sisi plastik transparan yang membalut teknologi dan kenangan lawas.
(untuk kamu yang mengirimkan cd kla project, terima kasih banyak. kamu begitu repotnya menyambangi satu gerai ke gerai yang lain untuk menggenapi koleksi cd saya. cd dengan lagu-lagu yang menggunungkan kenangan. menumpukkan angan. dan menerbangkan asa. tapi saya tak membutuhkannya lagi. sungguh. saya tak membutuhkannya lagi. ya, ya, sesekali saya masih mendendangkannya. ringan. tanpa kenangan. tanpa getir. mendendang begitu saja. anyway, terimakasih.)
Jul 07
Femi Adicerita bumijo, friends from heaven, kegemaran, pit-pitan cinta, cipinang, curve sl, dahon, esti, femi, folding bike, jakarta, jatinegara, kangen, mas offy, patah hati, sepeda lipat, teman
lama tak menjejakkan kaki ke pedal dahon csl.
saya pun menggelindingkan sepeda lipat ini ke cipinang jaya; menyambangi keluarga mas offy. pada mas offy, saya akan menitipkan beberapa barang untuk esti, kakak saya.
15.30 WIB, saya memulainya dari kebayoran lama-palmerah-pejompongan-manggarai-proklamasi-matraman-jatinegara-cipinang pukul 17.17 WIB.
riang, saya menggowes pedal besi saya. matahari masih menggigit kulit saat saya harus membaur dengan injakan pedal gas kendaraan SUV, MPV, bus, bajaj, metromini dan juga roda dua. meski jam kerja belum usai, nyatanya jalanan tak menyusut kepadatannya.
berpeluh, saya melaju mendahului jejeran mercy, bmw, toyota, honda, ford, yang harus sabar mengantri di sepanjang aspalan yang memadat macet. ban mini 16″ harus kencang menands lubang-lubang jalanan; mengisyaratkan bahwa saya harus pandai-pandai mencermati gerusan air dan terik yang mengikis aspal ibukota.
dalam perhentian akhir, saya berbincang dengan seorang teman melalui bb messanger. padanya saya mengabarkan, tumpukan energi ini kian menggunung. kesal, sedih, marah, rindu, sebal, cemburu, benci, kangen. padanya juga saya memamerkan, lebih dari energi amarah yang menggunung ini, saya mancal cangkeme blablabla hingga bisa menggelinding hingga ke cipinang.
“owh, rupanya masih ada yang dendam kesumat,” selorohnya. dan kami pun menggelak; bahwa energi amarah yang berlebih nyatanya bisa dikonversi untuk memberi tenaga pada sepeda yang bebas bahan bakar. yah, energi amarah inilah bahan bakarnya.
saya berharap sore tadi gerimis meluruhkan amarah saya ditengah jejakan pedal besi yang menyemangat.
Older Entries